CHAP 15 – Another Question
“Nath....Nath....” Aldo mengetuk pintu unit Nath. Ia sangat tidak sabar untuk bertanya pada Nath, kemana ia semalam. Aldo begitu mencemaskan Nath, tapi sepertinya Nath tidak pulang tadi malam. Hati Aldo semakin cemas, ia takut terjadi sesuatu dengan Nath. Ia takut kehilangan Nath sama seperti ia kehilangan Diana. Tidak... Aldo tidak mau hal seperti itu terjadi lagi. Tidak akan pernah ia biarkan.
Chat Aldo sama sekali tidak dibalas oleh Nath membuat Aldo semakin gusar. Tidak konsentrasi untuk hal apapun yang ia lakukan. Ketakutan semakin membuat liar pikirannya. Ia bingung harus mencari Nath dimana. Ia sangat menyesal mengapa tidak mengikuti Nath sampai akhir. Mengapa ia malah menyerah tiba – tiba. Penyesalan yang sama seperti dulu dia kehilangan Diana. Aldo tidak mencari Diana sampai akhir, hingga ia bisa kehilangan Diana selamanya.
Aldo akhirnya pergi ke kantor terlebih dahulu untuk menyelesaikan tugasnya, meskipun pikirannya tidak ada di kantor, tapi tugas memang harus di jalankan sambil menunggu kabar dari Nath.
Sementara itu, jam 7 pagi, Nath baru bangun dari tidurnya. Tubuhnya sangat terasa sakit. Seperti habis dipukuli banyak orang, terlebih lagi bahunya, sangat pedih. Setelah melihat jam, Nath langsung bergegas untuk ke kantor, takut Aldo mencarinya.
Setelah sampai kantor, Nath begitu dikejutkan dengan Aldo yang uring – uringan. Marah – marah kepada Cindy entah karena apa. Nath langsung memasuki ruangan Aldo karena pintunya tidak ditutup. Aldo yang baru menyadari Nath sudah datang ke kantor langsung menyuruh Cindy keluar dari ruangannya. Ia segera menutup pintu dan menguncinya. Pandangan Aldo langsung tertuju pada Nath. Ia langsung mendekati dan memeluk Nath. Mengecup bibir Nath bertubi – tubi. Sementara Nath sangat bingung dengan kelakuan Aldo.
“Kamu tuh kemana aja? Menghilang bagai ditelan bumi. Aku tuh nungguin di apartemen, dan kamu tidak muncul sampai pagi.” Aldo memeluk erat Nath, takut kehilangan sekaligus lega karena Nath sudah berada di ruangan yang sama dengannya.
“Aku...ouch...jangan peluk erat banget. Gak bisa napas nih.” Protes Nath karena Aldo memeluknya terlalu erat, selain itu juga bekas luka di tangan Nath masih sangat sakit sehingga darah merembes keluar ke kemejanya.
Aldo langsung terkaget melihat darah di bahu kemeja Nath. Ia langsung buru – buru mengambil kotak P3K untuk mengobati Nath. Karena luka Nath ada di bahu, maka sangat sulit bagi Aldo mengobatinya, mau tidak mau, Aldo meminta Nath membuka bajunya untuk mengobatinya. Awalnya Nath menolak untuk diobati Aldo, tapi Aldo bersikeras untuk mengobatinya. Dan tentu saja mau tidak mau Nath harus menurut.
“Udah bukanya segini aja Al. Malu.” Nath hanya membuka 2 kancing kemejanya agar Aldo bisa menjangkau lukanya.
“Mana bisa diobatin kalau Cuma buka segini sayang. Buka semua donk. Aku janji..gak bakal m***m sama kamu. Aku gak bakal pakai otak kotor aku deh.” Aldo mengangkat 2 jarinya untuk menyatakan janjinya tidak akan m***m.
“Ya...buka dah buka...inget otak jangan kotor ya! Ini kantor. Otak jangan dibiasain kotor. Okeh!” Nath langsung membuka bajunya membelakangi Aldo. Terlihat punggung Nath yang mulus dan putih seputih s**u dan bra pink dengan tali kupu – kupu, Aldo meneguk salivanya sendiri. Sepertinya otak mesumnya tidak bisa bekerja sama.”Fokus Aldo..Fokus!! “Teriak batin Aldo
“Ok aku obatin ya.. Haduh ini kena apa sih, koq kayaknya lukanya dalam banget sih.” Protes Aldo sambil mengobati luka Nath perlahan.
“Kena paku di jalan, kemaren jatuh!” Nath mempersingkat pertanyaan Aldo, malas untuk ditanya lebih dalam lagi
“Lagian kamu kemana sih, bisa jatoh kena paku gini.” Aldo semakin khawatir.
“Ketemu temen lah. Siapa lagi.” Nath menahan pedih karena lukanya dibersihkan dengan alkohol dan di tiup oleh Aldo supaya cepat kering.
“Ketemu teman aja bisa jatoh kayak gini. Kamu tuh aneh – aneh aja. Gak bisa jaga diri ya?” Cerocos Aldo seperti emak – emak sambil membubuhkan obat di luka Nath dan meniup luka Nath agar obatnya cepat kering.
“Terus kenapa semalem gak pulang? Aku khawatir banget. Sampai mau lapor polisi tau!” Aldo semakin kesal.
“Ke rumah sakit buat obatin luka, tapi akhirnya ketiduran di rumah teman.” Bohong Nath.
“Terus kenapa chat aku gak dibales?” Aldo seperti wanita yang sedang PMS, banyak protesnya.
“Batre abis.” Nath makin mempersingkat jawabannya. Malas berdebat pagi dengan Aldo.
“Tapi kan.....” Aldo masih mau mencereweti Nath, tapi langsung dipotong. Sebenarnya Nath agak malas berdebat, apalagi bahunya sakit sekali. Energi berdebat dengan Aldo sudah habis.
“Aduh...Al, kamu tuh lagi PMS ya...koq kayaknya ribet banget sih, banyak pertanyaan deh kamu.” Nath langsung membalikan tubuhnya untuk protes kepada Aldo, tanpa ia sadari, bahwa ia tidak memakai kemeja, jadi Aldo dapat melihat gundukan indahnya dibalik bra pink yang Nath pakai. Di sisi lain, terdengar Aldo menelan salivanya berkali - kali karena pemandangan pagi yang indah sekaligus menyedihkan, ternyata di d**a Nath terdapat luka gores yang cukup panjang. Aldo semakin penasaran untuk mengetahui kenapa ada luka lagi di tubuh Nath.
“Astaga Nath...itu d**a kenapa ada luka panjang banget.” Aldo menunjuk d**a Nath.
“Ah di dada...nich di perut juga ada, di paha juga ada, mau lihat?” Nath menunjuk beberapa lukanya.
“Kenapa? Apa yang terjadi sama kamu Nath?” Selidik Aldo.
“Kecelakaan mobil. Haha... Ya rusuk patah sana sini, gak bisa bangun selama 1 bulan gitu deh.” Nath mengingat masa lalunya yang harus diperban dan di gips selama 1 bulan. Ia tidak bisa jalan ataupun bergerak karena banyak rusuknya yang patah saat kecelakaan mobil bersama Marco.
Aldo tercengang mendengar penuturan Nath, begitu mudahnya seseorang memamerkan luka dan penyebab kecelakaan yang menimpanya. Dibalik cantik dan mulusnya Nath, ternyata di dalamnya menyimpan banyak bekas luka. Dari kecil hingga besar.
“Udah gak usah dipikirin betapa sakitnya 1 bulan diperban. Itu pengalaman gak akan terlupakan, tapi buat apa juga diingat kan, sekarang kan aku udah sembuh Al.” Nath mengusap pipi Aldo yang masih tercengang.
“..............” Aldo terdiam mendengar penuturan Nath.
“Udah kan kasih obatnya? Aku mau pakai baju dulu, malu kalau ada orang lain yang lihat. Vulgar bener dah pagi hari ini aku tuh.” Nath segera akan memakai kemejanya kembali, tapi tangan Aldo menepisnya. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya yang masih baru.
“Ini, pakai baju aku aja. Baju kamu ada darahnya.”
“Ok sayang....” Nath langsung memakai kemeja Aldo, dan setelah selesai Nath mengecup bibir Aldo. Bibir yang ia rindukan tadi malam.
“Nath.” Aldo menahan pinggang Nath.
“Can I kiss you again. I miss you so much.” Pinta Aldo
“Sure...Everything you want, just do it. My pleasure.” Nath langsung memeluk dan mendekatkan bibirnya pada Aldo. Aldo sangat tidak kuasa menahan rindu, padahal belum 24 jam ia berpisah dari Nath, tapi rasanya terlalu lama. Sebenarnya Aldo masih curiga dengan luka Nath, tapi ia tidak bisa membuktikan apapun jadi ia tidak bisa bertanya lebih jauh.
oooOOOooo
“Pak... pak, coba baca berita ini.” Teriak Cindy memasuki ruangan Aldo dengan tergesa – gesa sambil memberikan handphonenya kepada Aldo.
Aldo langsung melihat berita bahwa Sastria ditemukan meninggal dengan luka tembak di dahi. Mayatnya di buang di sungai. Miris benar nasib Sastria. Kebenaran untuk proyek Aldo belum terungkap, tapi Sastria sudah meninggal.
Nath yang ikut melihat berita mulai berpikir siapa yang membuang mayat Sastria, karena terakhir kali berpisah di resto The Beach. Apakah anak buah Bram atau Mr.X? Ia tahu bahwa Bram melakukan bisnis kotor, tapi untuk melakukan perencanaan terlalu matang, sepertinya otak dibalik semua ini adalah Mr.X. Nath harus segera menyelidiki Bram.
Aldo langsung menyuruh Cindy keluar dari ruangan dan menatap Nath yang masih melamun.
“Nath, kenapa kamu? Apa ini ada hubungan dengan kamu? Kamu begitu tertegun.” Selidik Aldo yang dalam hatinya merasa ada yang salah dengan kematian Sastria.
“Ya....aku kaget aja Al, kenapa orang yang sedang ingin kita selidiki malah meninggal mengenaskan. Apakah ini ada hubungan dengan perusahaan kita? Kamu tau sesuatu?” Nath berkelit. Untungnya, semua pembicaraan Nath dengan Sastria sudah direkam, sehingga setidaknya ia memiliki data valid mengenai keterlibatan Sastria dan Mr.X.
“Aku juga bingung Nath, kenapa bisa seperti ini. Aku akan coba tanya Akira apakah dia dapat kabar dari orang dibelakang Sastria.” Aldo langsung mengambil handphonenya untuk menelepon Akira. Namun kabar dari Akira, bahwa ia tidak dihubungi siapapun. Sangat sulit menangkap dalang dibalik Sastria. Terlalu licin seperti belut.
“Sudah tenang saja Al, kebenaran pasti terungkap. Berharap ada keajaiban saja.” Nath langsung memeluk Aldo yang masih bingung dengan meninggalnya Sastria.
“Ya Nath, everything will show up at the right time and right moment.” Aldo mendekap Nath. Bukan karena rasa kehilangan Sastria yang membuat Aldo agak takut, tapi ia takut terjadi sesuatu dengan Nath. Masih ada rasa curiga yang sangat banyak tentang kebetulan yang terjadi antara Nath dan Sastria. Aldo tau, bahwa luka baru Nath bukanlah luka paku, tapi seperti tergores peluru. Mengapa Aldo tau? Karena dia pernah belajar menembak dan saat berlatih, tidak sengaja temannya menembak lengannya hingga tergores oleh peluru, sama luka yang ia dapat dengan Nath. Untuk sementara lebih baik Aldo diam dan menyelidiki sendiri. Ia akan berusaha semaksimal mungkin menjaga Nath. Ia takut jika karena masalahnya dengan Sastria, Nath akan diincar oleh orang dibelakang Sastria karena membantunya.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez