CHAP 14 – Sisi Lain Nath

2102 Kata
CHAP 14 – Sisi Lain Nath Hari ini, Nath berencana membuat pertemuan dengan Sastria, tentunya caranya adalah mengirimkan surat kaleng kembali. Seperti biasanya, Nath akan melakukan order kurir online untuk mengirimkan surat cintanya tersebut tepatnya surat ancaman.   TEMUI AKU DI RESTO THE BEACH JAM 8 MALAM! JIKA TIDAK, SEMUA FOTO MU AKAN KUSEBARKAN DI INTERNET. Sastria yang membaca surat kaleng itu, langsung membuka aplikasi w******p dan mengirimkan pesan kepada Mr. X. Mr.X      : Pak, orang tengil itu akan mengajakku bertemu di resto the beach jam 8 malam. Apa yang  harus saya lakukan? Sastria : Temui dia, hancurkan orang itu segera. Aku akan menyuruh anak buahku membunuhnya. Mr.X      : Baik pak.   Nath yang membaca semua chat w******p Sastria langsung bersiap. Ia menghubungi semua temannya untuk membantunya. Teman merupakan mafia yang berhutang budi pada Nath selama ini karena terlalu banyak dibantu oleh Nath sebagai hacker. Tidak lupa Nath juga sudah menyiapkan topeng baru untuk menutupi wajahnya. Dengan peralatan canggih yang Nath punya sebagai mata – mata, tentu membuat wajah baru untuk Nath tidaklah sulit. Wajah asli Nath tidak pernah dikenali temannya yang hacker ataupun mafia, karena ia selalu menggunakan wajah palsu jika bertemu dengan orang lain. Setelah membuat perencanaan matang dengan tim mafia, Nath langsung menyibukkan diri dengan perkerjaan yang diberikan oleh Aldo. Pekerjaan yang benar – benar mengesalkan karena revisi yang harus ia lakukan sangat banyak. Entah karyawan yang mengerjakan ini bodoh atau sengaja untuk menghancurkan perusahaan. Nath benar – benar harus menyelidiki sampai tuntas. Tiba saat nya jam 5 sore, waktunya Nath pulang dan bergegas bertemu dengan Sastria. Namun Aldo mengajaknya makan malam bersama, dan Nath langsung menolaknya. Ia harus cepat dan tidak ada langkah yang salah, maka dari itu, menghindar dari Aldo adalah jalan terbaik. Aldo curiga dengan tingkah laku Nath yang sangat terburu – buru. Pikiran jeleknya mengatakan Nath melakukan hal aneh di belakangnya. Sehingga Aldo mencoba mengikuti Nath dari belakang mobil yang dinaiki Nath. Nath mengetahui Aldo mengikutinya lewat aplikasi yang ia install di handphone Aldo. Sama seperti di handphone Sastria. Dengan cepat, Nath meminta supir berhenti di suatu gang yang sepi, sementara Aldo masih mengikutinya. Nath memang sangat gesit, ia juga sudah belajar berbagai macam teknik bela diri hingga parkour, sehingga sangat mudah baginya untuk melarikan diri dari Aldo. Aldo sendiri bingung kemana Nath setelah memasuki gang sempit itu, ingin mengikuti tapi takut ketahuan Nath, jadinya mau tidak mau Aldo harus pulang ke apartemen dan menunggu Nath pulang. Sementara di sisi lain, Nath langsung memasuki bekas rumah papanya yang masih tersisa di Jakarta. Semua peralatan Nath di simpan di sini. Ia langsung memakai wajah palsu , menggunakan pengganti suara dan berganti baju menjadi baju hitam ketat dengan celana hitam ketat untuk memudahkannya bergerak apabila ada kejadian khusus yang mengharuskan ia bertarung. Tepat jam 8 malam, Nath menunggu Sastria. Sastria datang tergopoh – gopoh mendekati Nath. Wajah Nath sangat tidak ia kenali, begitu asing, sehingga ia tidak bisa menerka siapa sebenarnya wanita yang mengajaknya bertemu. Nath tentu saja tidak bodoh, para mafia yang ia perintahkan sudah mulai menangani anak buah Mr. X yang berjaga untuk menangkap Nath. Nath melihat semuanya melalui cctv dari resto sebelum Sastria datang. “Maaf saya terlambat.” Satria terengah – engah dan langsung duduk. Seperti orang tegang dan lelah sehabis lari marathon. “It’s ok Sastria.” Nath duduk santai dengan menatap tajam Sastria seakan mengintimidasi. “Jadi kamu maunya gimana?” “Gampang koq. Kasih tau aja Mr. X mu itu siapa. Mudahkan??” Nath mendekat pada Sastria seakan ingin menggodanya. Dengan gerakan melingkar, ia semakin mendekati leher Sastria, kemudian Nath langsung menusukkan jarum suntik tepat di leher Sastria. Sastria spontan memegang lehernya, ketakutan akan Nath. “Ka...kamu suntik apa di leher saya?” Sastria ketakutan melihat Nath yang tersenyum miring. “Tenang Sas, itu bukan suntik mati koq. Cuma suntikan kejujuran. Dan bila saja kamu tidak jujur, maka detak jantungmu akan semakin cepat, dan juga lehermu akan sakit pada awalnya. Jika semakin banyak kamu berbohong, maka aliran darah ke jantungmu akan dipersempit, dan ya... ucapkan selamat tinggal saja dengan dunia ini.” Nath memperjelas akibat dari suntikannya. Semakin lama semakin menakutkan dengan senyuman Nath yang menekankan akan keseriusannya dalam pernyataannya akan akibat suntikan tadi. Sastria semakin ketakutan, mau bohong tapi takut mati. “Jadi aku ulang pertanyaan pertamaku, siapa Mr.X.” Nath duduk dengan santai. “Mr. X siapa? Aku gak kenal.” Sastria berkilah. Kakinya sudah tidak tenang, terus menerus ia menggoyangkan kakinya di bawah meja. Lama kelamaan lehernya terasa sangat sakit, seperti ada yang menyengat. Nath yang melihat efek dari suntikannya langsung tersenyum miring. “Ah...gak mau ngaku ya.. okeh gak apa – apa. Apa kamu sudah mulai merasakan efeknya di lehermu sayang?” Nath mendekatkan wajahnya ke wajah Sastria dan membelai lembut leher Sastria. Sastria bergidik ngeri, dan ia mulai mempercayai apa yang dikatakan oleh Nath mengenai efek dari suntikan tersebut. “.......” Sastria masih bingung harus mengatakan apa. Berbohong bisa mati, jujur bisa mati oleh Mr.X. benar – benar posisi tidak menguntungkan. Ia sangat berharap anak buah Mr.X akan membantunya pergi dari Nath. Ia sesekali melihat keluar untuk mengecek anak buah Mr.X. Nath yang mengetahui, langsung  menambah ketakutan Sastria. “Kamu cari anak buah Mr. X yang kamu suruh tangkep saya..HAHAHA... udah di....” Nath langsung memperagakan pemotongan leher, membuat Sastria semakin berkeringat dingin. Nath langsung tertawa sumir. “Sa... sa... saya gak tau siapa Mr. X itu.” Sastria menelan salivanya sendiri. Ia sangat takut dan posisinya sangat tidak menguntungkan. Siapa yang bisa menolongnya di sini? “Bagaimana bisa?” Nath lebih mendekat membelai wajah Sastria yang semakin berkeringat. “Saya hanya chat saja dengan dia, tanpa tau siapa dia.” “Okeh... saya menghargai kejujuran kamu. Bagaimana kalau sekarang kita bermain truth or dare? Jika kamu memilih dare, saya akan menusuk salah satu jarimu dengan pisau kecil ini.” Nath memainkan pisau lipatnya yang sangat tajam sambil memegang tangan Sastria di atas meja. Sastria tambah berkeringat dingin dan gemetar. “Pertanyaan kedua. Kenapa kamu mau hancurkan perusahaan Aldo?” “Saya hanya balas budi kepada Mr. X karena membantu keuangan keluarga saya. Tidak lebih.” Sastria menjawab dengan gemetar. “Ok... Pertanyaan ketiga. Sejak kapan kamu bekerja sama dengan Mr. X?” Nath semakin mengintimidasi Sastria. “Sekitar 7 tahun.” Sastria mengelap keringat dengan 1 tangannya yang masih bebas. “7 tahun? Apakah ini ada hubungannya dengan papa?” Pikir Nath dalam hati. Ia harus menggali terus kebenaran dengan Sastria. Ia takut salah langkah jika ia menghancurkan Aldo. Mungkin ada orang dibalik semua ini yang mau menghancurkan keluarganya dan keluarga Aldo. Nath kemudian membantu mengelap keringat Sastria dengan tissue, mengelap keringat yang sangat menyeramkan bagi Sastria. “Good...Pertanyaan keempat. Proyek apa saja yang sudah kamu manipulasi?” “Proyek Farmasi, Pabrik besi, Hotel di Australia, Real estate di Lombok dan Hotel di Bali.” Sastria menjawab dengan sangat cepat. “Bagus sayang...kamu bisa jujur sekarang. Ada lagi gak sayang?” Nath masih mengelus pipi Sastria dengan pisau lipatnya. “Gak...Cuma itu yang saya manipulasi.” Sastria tidak merasakan kesakitan dalam tubuhnya saat ia berkata jujur. “Good sayang..... Ok pertanyaan kelima, Proyek Farmasi apakah berhubungan dengan Dito Wijaya?” Nath semakin mengelus pipi Sastria dengan pisau lipatnya. “I...iya....Saya membantu Mr. X menghancurkan Dito.” “Ok..coba ceritakan sayang!” Nath semakin penasaran dengan cerita Sastria, Nath sudah menduga ada orang dibalik kehancuran papanya. “Sa...saya hanya..” Tiba – tiba Sastria terkulai ke meja dengan darah di dahinya. Ada sniper yang beraksi untuk mengagalkan rencana Nath dengan membunuh Sastria. Nath dengan sigap langsung melarikan diri. Ia tau bahwa ada yang akan mengikutinya dari belakang.  Tapi Nath tidak kalah cepat dari orang tersebut, ia langsung bersembunyi di sebuah rumah kosong dan gelap. Ia menunggu orang yang mengejarnya. “Hai manis..aku tau kamu di sini.” Pria misterius berteriak di rumah kosong tempat Nath bersembunyi. Pria itu mengokang pistolnya untuk bersiap menembak Nath. Nath masih bersembunyi dan memperhatikan gerak gerik dari pria itu. Nath percaya, bahwa pria itu adalah suruhan dari Mr.X dan juga yang tadi menembak Sastria. Dengan cepat Nath melemparkan shuriken (senjata rahasia seperti pisau yang bisa dilempar, bisa berbentuk seperti bintang. Berasal dari jepang) kepada pria misterius itu. Sayang tidak mengenai pria itu dan pria itu segera menembakkan pistolnya ke arah Nath. Dengan sigap Nath berguling untuk menghindar dan melempar shurikennya kembali. Dan keberuntungan berada di tangan Nath saat ini. Shuriken Nath tepat mengenai tangan pria itu, tepat di tangan yang menggenggam pistol. Pistol itu terjatuh. Nath segera berlari mengambil pistol pria tersebut dan menodongkan pistol itu tepat di kepala. “Hai sayang, bagaimana jika kita bermain dulu.” Kata Nath sambil menembakkan pistol ke kaki pria itu. Nath tidak boleh sembarangan membunuh karena ia harus mengorek informasi terlebih dahulu. Pria itu melawan Nath dan ingin melumpuhkan Nath walau hanya dengan 1 kaki yang masih ia bisa gunakan, dan dengan cepat Nath menghindar kemudian menembak kaki pria itu satu lagi. Sehingga pria itu lumpuh total di kakinya. Nath segera mencari tali untuk mengikat tangan pria itu dan mendudukannya di salah satu kursi. “Hai manis, sudah nyaman?” Goda Nath sambil mengelus pipi pria itu. Pria itu tidak menggunakan penutup wajah. Ia hanya menggunakan pakaian serba hitam dan topi hitam.  Nath dengan sigap langsung menyuntikkan cairan kejujuran pada leher pria itu. Sama seperti yang ia lakukan pada Sastria tapi dosis di perbesar, karena Nath tau, pembunuh bayaran seperti ini sudah biasa diberikan cairan kejujuran. “Ouch...” Pria itu langsung mengaduh. Sakit karena tusukan suntikan Nath. “Kamu pasti udah tau donk ini suntikan apa sayang. ” Nath semakin mengelus mesra leher pria itu. “Okeh...pertanyaan pertama sayang.. Siapa namamu?” “......” Pria itu tidak menjawab. Dengan terpaksa Nath bermain lebih keras dengan mengeluarkan pisau lipatnya. Di tusuknya pria itu pada bagian paha. “Ahhhhhh.....” Pria itu teriak, menjerit kesakitan. “Vino...aku vino.” Vino adalah seorang sniper sewaan Mr.X yang ditugaskan untuk membunuh Nath. Vino sendiri tidak menyangka bahwa Nath seperti psikopat. Yang bisa menghalalkan cara untuk mencari jawaban. Vino baru bergabung di sniper sekitar 2 tahun, belum banyak pengalaman yang ia dapatkan dari tugasnya. Ini adalah tugas yang paling berat yang pernah ia terima. Biasanya ia hanya membantu, bukan jadi pelaku utama. “Siapa yang menyuruhmu?” Nath masih mengarahkan pisau lipatnya ke arah paha Vino yang satu lagi. Vino tau bahwa Nath tidak bermain – main dengannya. Nath pasti bisa dengan mudah membunuhnya. Vino seperti amatir di depan Nath. Sungguh salah memilih pekerjaan, tepatnya salah memilih musuh.“Mr. X” “Kamu tau Mr.X seperti apa?” “Tidak...aku hanya mendapat perintah dari bosku untuk menanganimu. Hanya itu yang aku tau.” “Good sayang.....Siapa nama bosmu?” “Bram...” “Ah ha.....Bram...ternyata dia berani bermain denganku.” Nath tau siapa Bram. Orang yang pernah berurusan dengannya. Meminta bantuan Nath untuk memata-matai seorang klien dan mengambil informasi dari klien itu. Tapi Nath menolak, ia merasa tugas itu tidak penting dan tidak sebanding dengan bayarannya. Just business nothing personal. Nath tau bahwa Bram memang melakukan banyak bisnis kotor, dan semua informasi tentang Bram dengan mudah Nath dapatkan dan jika mau, Nath bisa langsung menghancurkan Bram. Tapi Nath lebih suka menghancurkan pelan sampai ke rusuk. “Baiklah Bram, akhirnya kita bertemu kembali.” Gumam Nath dalam hati. “Ok sayang...sepertinya kamu sudah tidak aku butuhkan lagi. Aku tak akan membunuhmu, tapi hidup atau mati terserah padamu. Bye...” Nath melepaskan ikatan tangan Vino dan langsung meninggalkan Vino seorang diri di dalam rumah kosong itu. Dengan luka tembak dikedua kakinya dan satu luka tusuk di pahanya. Nath memang tidak suka membunuh secara langsung, tepatnya ia lebih suka menyiksa. Jika Vino cukup pintar, pasti ia bisa keluar sendiri dari rumah kosong itu, apalagi insting seorang mata- mata haruslah bekerja di kondisi gawat. Jika Vino memang amatir, mungkin ia akan mati membusuk karena kehabisan darah. Nath segera pulang ke rumah papanya, mengganti baju, dan menaruh seluruh perlengkapannya. Ternyata ada luka tembak yang meleset di bahu Nath yang ditembakkan oleh Vino sehingga lukanya seperti tergores tetapi cukup dalam. Perih sekali rasanya, ya memang seperti ini pekerjaan sebagai mata- mata, selalu ada yang terluka saat pulang. Setelah mengobati lukanya, Nath langsung tertidur di kamarnya, kamar masa kecilnya. Sementara di apartemen, Aldo berjalan mondar mandir menunggu kabar dari Nath. Chat Aldo sama sekali tidak dibaca oleh Nath, membuat pria ini semakin khawatir jika terjadi sesuatu dengan kekasihnya. Ingin melapor polisi, tapi takut salah. Tidak lapor, hidup jadi tidak tenang. Terlalu lama menunggu Nath membuat Aldo tertidur di sofanya.      See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez             
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN