CHAP 7 - Mak Lampir versi Modern

2450 Kata
CHAP 7 - Mak Lampir versi Modern Setelah menyelesaikan makan malam bersama Aldo di Mall, kemudian Nath langsung ingin berpamitan, Ia ingin menyegarkan diri dengan massage, terlalu lelah hari ini untuk hari pertama kerja. "Pak... saya pamitan dulu ya..ada kepentingan yang urgent banget nich." Nath sedikit tergesa-gesa dan merapikan semua tas dan pakaiannya. "Mau ngapain sih? Uda kelar makan dan di traktir mau main ninggalin aja. Bukannya habis ini mau pulang ke apartemen?" Selidik Aldo dengan sedikit protes. "Mau massage pak... punggung rasanya mau rontok semua. Lelah seharian kerja sama bapak. Kalau gak dipijat, bisa remuk semua ini tulang." Gerutu Nath kesal.  Entah mengapa setiap Nath menggerutu, pasti ia akan mengerucutkan bibirnya. Sikap manja yang biasa Diana lakukan jika kesal ataupun protes pada Aldo. Dan setiap itu pula, rasanya Aldo ingin mencium Diana walaupun ia tahan, dan sekarang sikap yang sama dengan Diana ditunjukkan oleh Nath. Ada rasa penasaran pada diri Aldo mengenai wanita aneh yang ada di depannya. Ada yang menarik tentang Nath yang membuat Aldo senang melihat jika Nath menggerutu. Mungkin akibat masa lalu, kenangan akan Diana. "Ikut donk. Saya juga sudah lama gak di massage, rasanya tegang semua badan nich." Aldo menggerak-gerakan tangan dan pinggangnya seperti olahraga. "Ya udah ayo lah...tapi bapak traktir ya!!" Nath nyengir manja untuk minta traktiran Aldo. Biarlah sekali – sekali genit sama bos sendiri. "Dasar matre, semua minta di bayarin!" Protes Aldo. "Saya kan kelaparan dan pegal karena PE-ER bapak tu banyak banget... Bagaimana saya menghadapi hari esok kalau badan saya sakit semua...." Gerutu Nath kembali mengerucutkan bibir. "Iya...iya....Kamu emank paling hebat kalau menggerutu." Aldo menyerah. Akhirnya mereka berdua pergi ke tempat massage, dan setelah selesai, badan terasa sangat ringan tanpa beban. Mungkin sebaiknya langsung menemui si kasur kesayangan agar dapat bermanja – manja.  Setelah itu, Nath dan Aldo langsung mengarah ke parkiran untuk pulang ke apartemen, tiba-tiba di dalam perjalanan menuju parkiran ada yang memberhentikan mereka. "ALDOOOOOO......" Panggil seorang wanita paruh baya yang ternyata tante Felicia. "Mama......." Jawab Aldo kaget sambil membalikkan badan. Felicia kemudian semakin mendekat, dia bersama seorang wanita cantik seperti ras campuran, berambut hitam legam, wajah tirus dan terawat, tubuhnya seperti gitar spanyol dan bajunya seperti kekurangan bahan. Wanita itu mirip dengan Kim Kardashian. "Aldo, ini siapa?" Tanya Felicia. "Aspri Aldo yang baru, Ma." Jelas Aldo. "Oh aspri baru, bukan wanita yang dekat dengan kamu dalam artian khusus kan?" Selidik Felicia. "Enggak lah. Baru hari ini juga dia kerja." Jelas Aldo menenangkan mamanya. "Koq udah kamu bawa ke mall?" Tanya Felicia lebih penasaran. Karena Aldo tidak pernah terlalu dekat dengan aspri nya. Terlebih aspri perempuan. Sangat aneh apabila Aldo berjalan bersama aspri nya di mall dan terlihat sangat bahagia. Ini mungkin hal pertama yang terjadi selama Felicia mengenal Aldo. "Tadi habis ketemu klien ma. Dia minta ketemu di mall." Bohong Aldo. Nath tersenyum ramah ke arah Felicia. Tapi di samping Felicia ada wanita yang sedikit tidak senang dengan Nath tanpa sebab. Matanya melihat tajam dan sorotnya seperti ingin membunuh. Dan aku tidak tau siapa dia. "Oh ya sudah kalau begitu. Do... kenalin ini Citra, yang mama ceritakan kemarin." Ucap Felicia mengenalkan Citra. Mendekatkan Citra kepada Aldo agar mereka bisa saling berjabat tangan. "Citra..." Sapa Citra sambil memberi tangannya untuk di jabat Aldo. "Aldo..." Aldo menyambut jabatan tangan citra, tapi tak lama kemudian langsung di lepas. Dan Aldo langsung memalingkan mukanya kepada Nath. Seperti memberi kode padanya. Aldo mengedipkan matanya kepada Nath dan sepertinya Nath mengerti akan kode yang diberikan Aldo, bahwa ia harus segera pergi dan tidak mengganggu urusan keluarganya. Nath ingat dengan nama Citra, orang yang akan dijodohkan oleh Felicia kepada Aldo. Ya, mungkin Aldo tidak ingin diganggu dengan keberadaannya. Mungkin Aldo ingin PDKT dengan Citra, jadi sebaiknya Nath pergi saja daripada menjadi nyamuk dalam pembicaraan mereka. Pikir Nath. "Pak, Bu.... saya permisi pulang dulu ya. Semua pekerjaan sudah selesai Pak. Saya pamit ya. Permisi semua." Pamit Nath pada mereka dengan tersenyum dan segera melangkah jauh dari Aldo dan yang lainnya. Sementara Aldo, hanya bisa kesal dengan Nath yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Sepertinya Nath tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan kode yang Aldo berikan. Di sisi lain Felicia dan Citra langsung mengangguk dengan pamitnya Nath. Terlihat sumringah dengan kepergian Nath. “Maunya apa sih nih manusia, tadi kasih kode suruh aku pergi, setelah aku pamitan, dia malah kesal. Dia mau aku pergi atau menyelamatkannya dari Tante Feli dan Citra? Aneh.. lebih baik tinggalkan mereka saja deh, daripada jadi nyamuk. Pria yang aneh.” Nath berbicara sendiri setelah agak jauh dari Aldo. oooOOOooo   Setelah menempuh perjalanan 30 menit dengan taksi, akhirnya Nath sampai di apartemen, langsung saja ia menyalakan air hangat dan sabun bubble gum kesukaannya. Rasanya sangat rileks, setelah di massage, sekarang berendam air hangat. Beban pekerjaan terasa terangkat.  Tunggu, sepertinya ada yang lupa, Nath segera mengingat – ingat apa yang ia lupakan, dan…. “Oh my God, kerjaanku ketinggalan di mobil Aldo.” Nath menepuk dahinya. Pantas saja seperti ada yang kurang saat Nath berpisah dari Aldo. “Hadeh ampun, mana deadline besok pula. Mau gak mau harus tunggu Aldo pulang buat minta kerjaan. Jam berapa pula dia pulang. Hadeh…bos tukang nyiksa nih.” Gerutu Nath sambil memainkan bubble di bath tube nya. Segera setelah selesai mandi, Nath langsung menghubungi Aldo dengan chat w******p agar nanti jika Aldo membacanya, ia bisa membawakan berkas yang tertinggal di mobilnya. Bos  Aldo  : Pak, berkasnya ketinggalan di mobil, Ntar kalau sudah sampai apartemen, tolong kasih ke saya ya... Belum kelar nich. Nath menunggu balasan dari Aldo, sudah 10 menit belum juga tercentang biru. Ya sudahlah, kalau dia gak baca atau terlambat baca, besok saja laporan itu akan ia selesaikan. Daripada menunggu tidak jelas, lebih baik Nath menonton saja siaran TV.  Karena terlalu lelah sehari ini, lama kelamaan mata Nath semakin terasa berat dan ia terlelap di sofa. Tv yang menonton dirinya tertidur saat ini.  "Teeet....teeet....teeet.." Bunyi bel pintu mengagetkan Nath. Nath terbangun dan langsung jatuh ke lantai karena terlalu kaget.  Nath masih tidak menyadari apa yang ia pakai untuk membuka pintu karena terlalu kaget dengan bunyi bel pintu. Ia masih mengenakan bathrobe dan rambut tergerai tanpa menggunakan pakaian lainnya. Ia benar - benar tidak sadar pakaian apa yang ia pakai, dan ia langsung membuka pintu. Rambut yang sedikit acak-acakan karena tadi ketiduran dan bathrobe sedikit longgar, yang menampilkan sedikit p******a Nath yang tidak menggunakan bra. Saat Nath membuka pintu, ia melihat Aldo yang termangu sambil sedikit menelan salivanya. ia sendiri bingung kenapa Aldo diam tak bersuara, hanya memandang dirinya saja...dan seketika Nath sadar melihat pakaiannya sendiri.  "Astaga Bapak.....Lihat apa sih... ampun dah!!! Tunggu sebentar di sana." Perinta Nath sambil langsung menutup pintu. Ia gelagapan karena merasa tidak sadar dengan apa yang ia pakai dan dipandangi Aldo cukup lama. Benar – benar suatu kesalahan fatal, seperti wanita yang ingin menggoda seorang pria. "Eh...kamu itu niat godain saya dengan penampilan seperti itu?" Goda Aldo di balik pintu. Setelah mengganti pakaian dengan lebih sopan, Nath bergegas membuka pintu. "Duh jangan geer deh bapak. Saya itu buka pintu karena kaget, saya ketiduran di sofa nungguin bapak bawa berkas saya." Nath kesal langsung mengambil berkas yang ia tunggu dari tadi. "Haha... ya udah santai aja jawabnya, gak usah nge-GASSSSSS." Balas Aldo sambil tertawa. "Ya udah pak, terima kasih berkasnya, sekarang saya tutup pintu ya. Sudah malam. Capek saya besok harus bangun pagi." Ucap Nath hendak menutup pintu.  "Hei tunggu!! “ Aldo menahan pintu Nath. “Saya itu masih kesal dengan kamu! Karena kamu saya jadi lama dan ketemu mak lampir." Gerutu Aldo kesal. "Lah...mak lampir yang mana? Perasaan bapak ketemu sama mamanya dan calon pacar kan.... mana yang mak lampir." Nath heran. Masa Wanita cantik dibilang mak lampir. Pria aneh. Pikir Nath. "Itu si Citra yang ganjen... Rasa mak lampir modern, yang dandan menor." Protes Aldo yang masih berdiri di depan pintu Nath. "Hahahahhah...." Nath tertawa terbahak-bahak karena sungguh tak kuat mendengar protesnya Aldo. "Eh...saya ini dibiarkan berdiri di depan pintu kamu? Gak diizinkan masuk?" Protes Aldo masih memegangi pintu, takut jika Nath tiba – tiba menutup pintu. "Ya elah pak... unit bapak itu di sebelah saya, Ngapain juga masuk ke unit saya. Sana pulang pak...Mandi!! Uda bau parah! Ntar kalau bau, di datangi mak lampir lagi baru tau rasa." Ledek Nath menjulurkan lidah. "Dasar gak berperikemanusiaan. Udah di traktir makan, traktir massage, sekarang dibuang gitu aja!!!" Protes Aldo sambil cemberut. Seperti anak kecil yang tidak diberi permen. "Idih gak ikhlas. Santai....Ya uda masuk sini." Nath langsung membuka pintu dan mempersilahkan Aldo masuk. "Gitu donk!" Aldo cengengesan saat dipersilahkan masuk. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan Aldo baru saja masuk ke unit Nath. Sebenarnya dalam hati, Aldo tidak mengerti mengapa baru bertemu Nath dalam 2 hari, tapi rasanya sangat akrab, bisa berdebat dan terasa tidak ada jarak. Aldo sangat suka dengan sikap manja Nath yang tidak keterlaluan tapi menyenangkan. Nath yang tidak gengsi saat makan. Biasanya Wanita akan makan sangat sedikit dan sopan jika makan Bersama Aldo, tapi Nath berbeda, ia tidak peduli dengan keberadaan Aldo. Nath seperti tidak peduli dan itu yang membuat Aldo penasaran. Batin Aldo. Setelah mempersilahkan Aldo masuk, Nath langsung duduk di sofa dan sibuk dengan berkas yang diberikan oleh Aldo. Nath terlalu konsentrasi dan tidak ingin membuang waktu. Begitu seriusnya, sampai ia lupa bahwa ada Aldo di unitnya.  “Woy….serius amat kerja, bosnya aja di cuekin gitu. Tawarin minum kek…tawarin makan kek…ajak ngobrol kek… bilang sorry kek udah ninggalin di mall.” Gerutu Aldo. “Ya elah pak…. Unit di sebelah aja rese bener… mau minum ya tinggal balik ke unitnya sendiri, mau makan… balik aje… ngajak ngobrol??? Ini sudah jam berapa? Situ kasih deadline semua berkas besok.. apa situ gak keterlaluan?” Protes Nath sambil mengotak atik berkas dan mengetik di laptopnya.  “Hadeh…. Dasar gak sopan sama bos sendiri.” “Ya elah… manja bener dah.” “Koq kamu gak nanya sih… saya kesal kenapa tadi?” “Penting untuk di tanya?? Deadline negh!!!!!!” Nath menjawab sambil menunjuk berkas yang harus ia selesaikan. Sebenarnya Nath sudah sangat Lelah melihat angka dan tulisan, tapi mau bagaimana lagi. Semua harus diselesaikan bukan. Namanya juga kerjaan kan. “Ya udah saya kasih kelonggaran deh buat kamu. Lusa aja baru kasih saya.” Aldo langsung mengambil berkas di tangan Nath. “Bilang kek dari tadi. Bikin orang stress aja. Ya udah lusa aja baru kasih ke bapak. Jadi sekarang bapak maunya apa? Pulang aja deh pak, saya udah ngantuk banget nich. Pengen ketemu Kasur.” Usir Nath. “Dasar gak sopan!! Deadline udah aku mundurin, kamu masih ngusir juga!” Aldo bertambah menggerutu. “Jadi bapak maunya ngapain supaya saya bisa dibilang sopan????” “Dengerin curhat saya!” Paksa Aldo. “Ya… ya…curhat sana.” Nath pasrah mendengar semua curhat Aldo. Sebenarnya sudah mengantuk tapi terpaksa mendengar. Nath tau, jika Aldo sudah mulai curhat, tidak mungkin dalam 30 menit semua curhatnya selesai. Pasti bisa 2 jam untuk curhat tentang apa yang ia rasakan. Lingkar mata Nath pasti akan semakin hitam jika mendengar curhat Aldo. As usually, like old days.   Flash back on Saat Aldo dan Nath akan pulang bersama ke apartemen, tiba-tiba Felicia memanggil Aldo. Dan ia datang bersama seorang wanita yang bernama Citra. Dari segi penampilan, Citra wanita yang cantik, tapi entah mengapa Aldo tidak suka dari pertama kali melihatnya, maka setelah jabat tangan dengan cepat, ia langsung mengedarkan pandangan ke arah Nath dan yang terlihat hanya Nath yang cantik dan menyebalkan. Aldo memberi kode untuk Nath agar dia bisa memberikan alasan supaya mereka berdua bisa pergi dari 2 orang yang saat ini tidak ingin ia temui. Bukannya mengerti dengan kode Aldo, Nath malah salah mengartikannya. Dia malah pergi sendiri. Benar-benar bukan aspri pengertian. Aldo sangat kesal saat mendampingi Felicia dan Citra. Mereka berbelanja dan Aldo hanya menjadi tukang angkut barang belanjaan mereka. Setelah itu, ia menjadi sopir karena mama menyuruh sopirnya pergi. Aldo mengantarkan mama dulu ke rumah baru setelah itu Citra. Mungkin itu cara mama mendekatkannya dengan Citra.  "Hmm... Ka Aldo seneng gak kenalan sama Citra." Tiba-tiba ada suara memecah keheningan di mobil. "Ya..." Jawab Aldo singkat. Konsentrasi menyetir mobil. "Dih...koq kakak jawabnya singkat banget." Balas Citra manja. "Terus mau jawab apa?" Balas Aldo semakin malas. Rasanya ingin cepat sampai rumah Citra. Supaya wanita ini tidak usah terlalu berkata-kata manja yang membuatnya mual. "Kakak... udah punya pacar?" Tanya Citra penasaran. "Belum." "Kakak...mau jadi pacar aku?" Balas Citra sambil melakukan aksi manja dengan hampir memeluk lengan Aldo. "Enggak..." Jawab Aldo lebih singkat dan segera ingin melepaskan lengannya. "Haha...kakak nich tipe orang yang hard to get ya..." Balas Citra sambil bermain mata dengan Aldo. "Eh.. rumah kamu tu yang mana sih.. uda sampai komplek nya tapi koq kamu gak kasih tau yang mana rumah kamu? Cepetan nich, saya udah capek banget seharian kerja." Gerutu Aldo yang dari tadi hanya berputar-putar komplek karena Citra tidak memberitahukan dimana letak rumahnya. "Aku kira kakak sengaja berputar supaya dekat sama aku...hehehe....rumah aku yang nomor 20, itu yang pagar hitam." Senyum genit bertambah. "Ok, ini uda sampai, silahkan turun ya!" Balas Aldo dengan malas, berharap Citra segera pergi. "Mau masuk dulu ka? Kenalan sama orang tua aku." Ajak Citra. "Gak...terima kasih." Jawab Aldo jengah. Akhirnya Citra turun dari mobil Aldo. "Selamat malam kak...Nanti kita ketemuan lagi ya....senang ketemu sama kakak." Ucap Citra sambil melakukan kiss bye. Aldo sudah malas menjawab ucapan Citra, begitu pintu mobil ditutup, ia langsung bergegas pulang ke apartemen. Setelah sampai parkiran apartemen, ia baru melihat jam sudah menunjukkan pukul 10.30 malam dan ada w******p dari Nath kalau berkasnya tertinggal di mobil. Aldo bergegas ke unit Nath dan entah mengapa ia sangat senang jika harus datang ke unit Nath. Flash back off   Nath tertawa terbahak – bahak mendengar semua curhat Aldo, bukannya tidak bersimpati, tetapi mendengar Aldo menggerutu tentang Citra membuat Aldo terlihat sangat lucu. Dan Aldo yang ditertawai semakin kesal dengan Nath. Bukannya prihatin dengan keadaanya, malah ditertawakan.  Nath sudah menguap berkali – kali, rasanya mata ingin tertutup saja dan tanpa terasa, mata Nath benar – benar terpejam. Ia langsung tertidur di sofa tanpa mempedulikan Aldo yang masih duduk di sofa bersamanya. “Ya ampun bocah, main ninggalin tidur aja, gak tau apa bosnya masih mau curhat.” Aldo masih saja menggerutu, tetapi saat melihat Nath tertidur, rasanya sangat damai. Aldo semakin bingung, kenapa dengan Nath terasa semakin dekat dan tidak ada jarak. Rasanya Nath itu seperti Diana, yang mendengarkan curhatnya bisa sambil tertidur, tanpa tau ia tidur dimana.  Aldo juga sudah Lelah hari ini, sebenarnya ia akan memutuskan Kembali ke unitnya, tapi karena rasa mengantuk terus mendera, ia pikir beristirahat sebentar tidak akan jadi masalah, toh unitnya ada di sebelah, dan akhirnya mata Aldo terpejam juga. Aldo tidur di samping Nath, di sofa.                  See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN