CHAP 8 – Kunjungan Mak Lampir
Matahari masih malu-malu menyapa melalui tirai ruang tamu. Pegal rasanya badan Nath. Leher seperti mau patah, tapi entah mengapa tidurnya malam ini terasa sangat nyaman. Nath mengerjapkan matanya mengedarkan pemandangan, Ada tangan yang berada di atas pinggangnya. Nath terkejut karena ternyata ia tidur di sofa, dan tepatnya di paha Aldo berselimutkan jas Aldo. Nath langsung tersentak kaget dengan pemandangan yang disajikan pagi – pagi. Aldo tidur bersamanya di sofa. Mungkin memang bukan hal tak senonoh, tapi posisi Aldo tertidur dengan wajahnya semakin mendekat ke wajah Nath. Napas Aldo sangat terasa di kulit wajah Nath dan bibirnya perlahan hampir bersentuhan dengan bibir Nath.
Nath langsung jatuh ke lantai begitu Aldo semakin mendekat. Aldo kaget begitu melihat Nath terjatuh di lantai. Dan dengan sigap ia membantu Nath bangun.
“Kamu gak apa – apa kan?” Aldo membangunkan Nath dari lantai.
“Pak…ngapain tidur di sini sih? Bukannya pulang aja!” Nath menggosok – gosokan kepalanya yang terbentur lantai.
“Namanya juga orang ketiduran Nath. Sama – sama capek kali. Kan saya lembur juga Nath sama kamu.” Jelas Aldo
“Curhat itu termasuk lembur ya?? Andaikan lembur kayak gitu dibayar, tiap hari saya dengerin bapak curhat dah.” Ledek Nath.
“Haha… dasar anak matre kamu, semua ada bayaran.” Aldo mengelus – elus kepala Nath. Terasa sangat nyaman untuk mengelus Nath dan ada rasa tak ingin menyudahinya.
“Sir, I’m not your pet ok. Don’t stroke my head!” Protes Nath. (Pak, saya bukan binatang peliharaan anda. Jangan mengelus kepala saya). Dahulu memang Aldo sering mengelus kepala Diana, dan rasanya masih sama, lembut dan hangat. Seperti kesayangan.
“Maaf, reaksi spontan.” Aldo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya udah.. pulang sana pak.. saya mau siap – siap ngantor.” Usir Nath sambil mendorong Aldo ke pintu.
“Iya… iya, ini juga mau keluar. Gak usah dorong – dorong segala. Dasar berisik amat pagi – pagi gini.” Aldo segera keluar dari unit Nath menuju unitnya dengan berjalan gontai. Maklum ia masih sangat mengantuk.
Nath langsung bergegas menutup pintu dan bersiap untuk mandi. Memang Nath akui, semalam merupakan tidur terindah dalam 7 tahun belakangan. Tidur yang sangat nyaman dengan mencium wangi tubuh Aldo di dekatnya. Wangi tubuh yang Sudah lama tidak pernah Nath rasakan selama ini. Setelah selesai mandi, Nath langsung memilih pakaian dan berdandan dengan make up tipis karena aslinya Nath memang sudah cantik, jadi tidak perlu make up tebal untuk menutupi wajah polosnya. Tidak lupa ia menyemprotkan parfum wangi bubble gum kesukaannya. Bercermin dan melihat dirinya dari atas ke bawah, “Hai Nath, salam kenal.” Ucap Nath saat melihat dirinya di cermin setiap hari. Memang wajahnya sudah berubah banyak karena operasi plastik, tapi mau bagaimana lagi, takdir yang menentukan. Nath hanya bisa mengikuti apa yang sudah terjadi dan akan terjadi di hidupnya.
Rasa lapar sudah mendera, Nath langsung melihat ke kulkas dan yang ia dapati hanya sebuah apel merah. Selama 3 hari berada di Jakarta, Nath memang belum berbelanja kebutuhan sehari – hari, jadi mau tidak mau hari ini ia harus ke swalayan untuk berbelanja. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi, Nath harus bergegas keluar unit untuk mencari sarapan tambahan. Tujuan tercepatnya saat ini adalah minimarket di bawah apartemen.
Setelah sampai ke mini market, Nath langsung mencari roti mocca kesukaannya dan tiba – tiba teringat jika Aldo sangat suka roti keju, terbesit pikiran untuk membeli sarapan untuk Aldo, karena Aldo mungkin juga belum sempat sarapan pagi. Jadi, ya sekalian Nath membelikan roti keju untuk Aldo.
Kira-kira pukul 7.30 Nath sampai ke kantor dan menuju ruangan Aldo. Ia sudah melihat Aldo duduk di kursi kebesarannya sambil berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas di mejanya. Sangat serius sampai tidak mengetahui bahwa Nath sudah masuk ke ruangannya.
"Pagi Pak." Sapa Nath.
"Pagi." Jawab Aldo singkat. Masih berkutat dengan berkas di mejanya.
Nath memberanikan diri untuk bertanya tentang sarapan kepada Aldo yang sangat serius.
"Udah sarapan Pak?" Tanya Nath basa basi.
"Belum, nanti pesan aja sama Cindy. Oh ya, tolong buatkan kopi ya. Ngantuk parah." Pinta Aldo.
"Sip..."
Nath segera bergegas ke pantry membuatkan kopi cinnamon kesukaan Aldo.
"Ini Pak, kopi cinnamon plus roti keju. Pagi-pagi jangan ngopi doank." Ucap Nath pada Aldo sambil menaruh nampan sarapan.
"Thanks ya. Kamu sudah sarapan?" Tanya Aldo yang langsung menuju meja tamu.
"Hmm... ada nich bawa. Roti mocaa." Balas Nath sambil menunjukkan roti yang ia bawa. Nath langsung duduk di kursi kerjanya dan membiarkan Aldo makan sendiri.
"Kamu tau dari mana kalau saya suka roti keju?" Tanya Aldo penasaran, karena tidak banyak orang yang mengetahui makanan kesukaannya.
"Sembarang ambil aja sih, kebetulan roti mocca tadi tinggal 1, jadi ambil yang lain. Taunya bapak belum sarapan, jadi yaaa anggap saja saya traktir bapak sekalian. Buat bayar kemarin bapak traktir saya." Jawab Nath dengan santai.
Aldo sarapan sambil tersenyum sendiri. Nath ini benar – benar mengingatkannya dengan Diana. Hanya Diana yang tau jika Aldo suka kopi cinnamon, roti keju dan wangi parfum bubble gum. Sedangkan mamanya sendiri saja tidak tau bahwa Aldo suka hal kecil seperti ini. Benar – benar kebetulan yang menyenangkan di pagi hari.
oooOOOooo
"Nath." Panggil Aldo.
"Yes Pak, kenapa?" Balasku.
"Ntar meeting sama Akira jadinya jam berapa ya?"
"Jam 1 siang pak."
"Itu Sastria sudah kasih kamu revisi dia belum? Ini kan udah jam 8.30." Tanya Aldo.
"Dia bilang 30 menit lagi baru selesai revisinya pak." Jelasku.
"Ok, nanti kamu periksa ulang semua data revisi dia. Tapi data revisi dia jangan dibawa ke Akira ya."
"Sip,...." Jawab Nath sambil mengacungkan jempol.
Suasana ruangan menjadi hening kembali dan tiba-tiba ada ketukan pintu dari Cindy.
"Permisi pak, ada tamu untuk bapak."
"Siapa?" Tanya Aldo.
"Katanya namanya Citra pak."
"Kamu bilang saya ada di ruangan?" Tanya Aldo berbisik.
"Iya pak...apa saya salah pak?" Jawab Cindy semakin berbisik.
"Lain kali kalo wanita itu datang, kamu buat alasan kalau saya gak ada di ruangan. Alesan aja pergi sama klien." Jelas Aldo.
"Ok pak.. maaf, soalnya ibu Citra datang sama mamanya bapak. Jadi saya gak bisa berbohong." Ucap Cindy minta maaf.
Pintu ruangan langsung terbuka.
"Aldo...haduh lama banget sih. Udah lumutan mama di depan. Masa mama sendiri aja di suruh nunggu di meja sekretaris kamu. Gimana sih." Protes Felicia.
"Maaf ma, tadi Aldo lagi rapat sama Nath." Jelas Aldo melirik Nath yang masih berkutat dengan laptop. Nath bahkan tidak menyadari namanya disebut, ia masih menunduk konsentrasi melihat laptop dan berkas di mejanya.
"Ya udah, mama mau ajak Citra ketemu kamu. Ntar kamu makan siang sama dia ya." Perintah Felicia.
"Lah..ini jam 9 aja belum ma... masa udah membicarakan makan siang. Lagian nanti siang saya ada ketemu klien ma." Protes Aldo.
"Ya sudah kalau tidak bisa makan siang bersama. Citra mama titipkan di sini saja buat bantuin kerjaan kamu. Citra ini.....lulusan luar negri. Pasti pintar dan bisa bantuin kamu." Bujuk Felicia. Felicia sangat gigih untuk mendekatkan Aldo dan Citra. Ia sudah sangat ingin menikahkan Aldo, dan sangat ingin punya cucu. Jadi bagaimanapun caranya, semua harus terlaksana. Apalagi ada isu gay yang melekat pada Aldo, benar – benar gossip tidak menyenangkan.
Melihat dandanan yang sangat menor dan pakaian ya waw, seksi sekali... Nath tak yakin Aldo mau mempekerjakan Citra. Dari cerita Aldo kemarin, ya bukan tidak mungkin Citra akan dipulangkan. Pikir Nath.
"Terserah mama deh, saya udah males ribut. Kerjaan numpuk." Aldo pasrah sambil memberikan kode pada Nath dengan mengedipkan matanya.
Nath sangat bingung, semenjak bertemu Citra, Aldo selalu main kode-kodean. Dan masalahnya, kode itu Nath tak mengerti sama sekali. Apa arti kode lirikan dan kedipan mata yang Aldo berikan, apakah ia disuruh pergi agar tidak mengganggu atau disuruh bantu mengusir Citra?...
Dengan inisiatif sendiri, Nath mencoba Aldo untuk menyingkirkan Citra si Mak Lampir. Semoga saja ia tidak salah mengartikan kode dari Aldo. Sepertinya ada ide bagus yang terlintas di kepala Nath.
"Permisi bu, anda mau minum apa?" Tanya Nath sopan pada Felicia dan Citra. Sebenarnya mengambilkan minum dan lainnya adalah pekerjaan sekretaris, tapi karena ia spontan ingin membantu Aldo, jadinya ya sudah, Nath saja yang kerjakan.
"Teh hangat tawar ya." Jawab Felicia.
"Saya....cappuccino." Jawab Citra.
"Baik bu, segera saya ambilkan." Nath segera ke pantry untuk membuat minuman untuk kedua tamu.
Sesaat kemudian Nath langsung membawakan minuman mereka dan saat meletakkan minuman Citra, Nath dengan sengaja berpura-pura jatuh untuk menumpahkan minuman ke baju Citra yang mungkin harganya mahal.
"Aduh maaf bu, saya benar-benar tidak sengaja. Tadi heels saya patah." Nath berpura – pura gelagapan merasa bersalah dengan bodohnya menumpahkan cappucino ke baju Citra yang mahal. Sebelum masuk ke dalam ruangan Aldo, Nath sengaja mematahkan sepatu heels jimmy choo putih kesayangannya agar bisa menjadi alasan menumpahkan minuman ke baju Citra, dan yes berhasil. Sebenarnya Nath sangat menyesal karena sepatu itu sangat ia sayangi dan lumayan mahal harganya.
Nath bisa melihat rasa kesal dari raut wajah Citra. Sebenarnya Nath senang sekali mengerjai Citra, tapi ia tetap harus berpura – pura menyesal dan bersalah. Fiuh, memang kelas acting harus diikuti jika ada keadaan seperti ini.
"Kamu itu gimana sih....Makanya kalau jalan hati-hati." Maki Citra sambil menunjuk – nunjuk dahi Nath. Bagaimana tidak emosi, Prada Printed poplin dress seharga $3.200 atau hampir Rp. 46.000.000 yang baru Citra beli terkena cappucino.
"Maaf bu, saya beneran gak sengaja. ini ibu lihat heels saya beneran patah." Jawab Nath sambil menunjukkan heelsnya yang patah.
Citra langsung terkesima dengan sepatu yang Nath gunakan, “What…Jimmy Choo tipe Lance. Asisten pribadi seperti apa yang mampu membeli heels seperti ini. Heels yang tidak main – main harganya, sekitar € 1.695 atau sekitar 29 juta rupiah. Harga yang tidak masuk akal yang dapat dibeli oleh seorang asisten pribadi yang baru bekerja.” Pikir Citra.
Citra melirik tampilan Nath dari atas sampe bawah, benar – benar bukan murahan yang Nath pakai. Ia mulai meneliti semua barang branded yang dipakai oleh Nath. Baju Zip Front Logo Dress GIVENCHY, Jam tangan FOSSIL, dan sepatu JIMMY CHOO. Jika ditotal mungkin harga barang yang menempel pada tubuh Nath sekitar 50 juta rupiah. Citra memang sangat menyukai merek – merek tersebut, jadi setidaknya ia tau tipe – tipe barang yang dipakai oleh Nath dan semua itu terlalu hebat untuk seorang asisten pribadi. Atau sebelumnya Nath memang orang kaya, sehingga bisa outfitnya semahal itu. Benar – benar orang yang mencurigakan. Citra kembali dari lamunannya setelah menyelidiki semua outfit Nath, dan kembali lagi ia kesal dengan apa yang terjadi dengan pakaiannya.
"Baju mahal ini, mana baru beli!! Dasar sialan!" Maki Citra kembali.
Felicia yang melihat baju Citra menjadi hitam agak sedikit marah terhadap Nath, tapi saat melihat heels Nath yang patah, dia tidak terlalu marah. Sudah terjadi, mau diapakan lagi. Pikir Felicia.
"Ya udah maafin ya Citra, itu aspri mungkin tidak sengaja. Nanti kita laundry ya, atau kalau gak bisa hilang nodanya, tante ganti yang baru ya." Bujuk Felicia sambil membantu membersihkan dress Citra.
"Ya udah sih gak sengaja... kayak gitu aja di perpanjang, udah sana ganti baju dulu, atau shopping ke mall untuk cari baju baru." Usul Aldo sambil menahan tawa.
"b******k kamu!!!" Maki Citra pelan saat melewati Nath.
Setelah itu Felicia dan Citra langsung pergi dari ruangan Aldo, sepertinya menuju mall untuk mencari baju baru.
Sementara itu di dalam ruangan.......
"Hahahahh....kamu hebat banget Nath. Saya tidak menyangka kamu hebat akting, mungkin kamu bisa dapat piala OSCAR atau Kalpataru?" Tawa Aldo puas.
"Hadeh pak....Ganti ini heels dengan heels yang baru!!! Demi bapak, saya patahkan heels supaya calon bapak tidak curiga." Protes Nath sambil memperlihatkan heelsnya yang ia patahkan. “Ini JIMMY CHOO PAKKKKKKK!!!!!” Rasanya Nath ingin menangis, sepertinya ia salah menggunakan sepatu hari ini. Harusnya ia mencari sepatu yang lebih murah untuk ia patahkan.
“Huauahuahuh…” Aldo semakin tertawa keras melihat Nath yang protes dan cemberut.
“……………….”
"Tenang Nath, nanti sebelum ketemu Akira, kita beli sepatu baru untuk kamu. Mau berapa juga saya beliin. Lain kali kamu harus bantu saya menyingkirkan Citra." Jawab Aldo puas.
Nath masih diam dan kesal melihat JIMMY CHOO nya.
"Nanti setelah Sastria datang, kita langsung pergi ke mall untuk beli heels baru ya." Ajak Aldo.
"Konfirmasi ya pak....saya mau harga berapapun bapak pasti beliin ya... Jangan protes!!!" Konfirmasiku pada Aldo agar tidak jadi salah paham dan protes dari Aldo saat berbelanja.
"Iya harga berapa aja. Tapi satu sepatu saja cukup ya. Jangan banyak – banyak! Bisa bangkut ntar sama kamu!!!" Ledek Aldo.
"Hadeh...dasar pelit.. Ya udah 1 aja udah cukup tapi harga disesuaikan ya!." Jawabku kesal.
Ya... karena heels Nath sudah tidak dapat digunakan, jadi ia meminjam sandal jepit dari Cindy sementara sambil menunggu Sastria datang.
Setelah selesai Sastria memberikan laporan rencana keuangan, Nath dan Aldo langsung pergi ke Plaza Indonesia untuk membeli sepatu sekalian makan siang sebelum bertemu Akira. Nath langsung menuju toko JIMMY CHOO kesayangannya dan menarik tangan Aldo agar cepat – cepat memasuki toko tersebut. Sementara Aldo sibuk menelepon, Nath sibuk memilih sepatu mana yang ia inginkan dan mencoba satu per satu.
"Ini aja pak. Hotfixed Crystals." Pilihanku jatuh pada JIMMY CHOO IVETTE Hotfixed Crystals dengan tinggi sekitar 8 cm.
"Ok, bayar aja...nih kartu kreditku." Jawab Aldo sambil memberikan kartu kreditnya tanpa melihat harga dari sepatu itu yang di price tag nya harga 29 juta rupiah. Harga yang cukup mahal untuk ukuran sebuah sepatu. Tapi tetap saja JIMMY CHOO is number one. JIMMY CHOO harus diganti dengan JIMMY CHOO.
Dengan senang hati Nath menggesek kartu kredit Aldo. Saat akan membayar, Nath melihat Citra sedang melihat juga pada dirinya. Ia juga melihat Citra sedang memfoto dirinya saat bersama Aldo. Dengan segera, setelah membayar sepatunya, Nath langsung menggunakan sepatu barunya dan menggandeng Aldo keluar dari toko JIMMY CHOO.
Aldo kaget saat digandeng oleh Nath, karena tidak biasanya Nath mau menggandengnya, tapi kemudian Nath mendekatkan bibirnya ke telinga Aldo dan berbisik.
“Mak lampir ada di belakang, lagi videoin kita. Mau terus acting atau stop?” Bisik Nath semakin terlihat mesra dengan Aldo.
“Ok, kita acting saja. Lebih mesra juga gak apa – apa.” Jawab Aldo sambil menggoda genit Nath dan mengeratkan dirinya dan menggandeng Nath dengan mesra.
Untuk mengalihkan perhatian Citra agar semakin percaya bahwa Aldo dan Nath ada hubungan, dengan sengaja Aldo mengecup pipi Nath. Nath sangat kaget dengan apa yang Aldo lakukan, sepertinya terlalu berlebihan untuk membuat Citra menjauh. Tapi ia juga sangat senang yang dilakukan Aldo, jadi Nath membiarkan saja Aldo semakin mesra dan merangkul bahu Nath posesif.
Saat menunggu waktu bertemu dengan Akira di Hotel Mulia, Nath dan Aldo menghabiskan waktu dengan berputar – putar dan window shopping. Karena sudah Lelah, akhirnya Nath mengajak Aldo untuk minum di Café terlebih dahulu. Sambil menunggu pesanannya datang, tiba – tiba Nath memberikan bill dari sepatu yang ia beli beserta kartu kredit Aldo.
"Makasi ya pak....sepatu baru uhuy... Bapak is the best dah." Pujiku dengan senyum – senyum dan mengacungkan jempolku.
“What… 29 juta??? Sepatu apa sih Nath yang kamu beli.” Aldo terkejut melihat bill yang diberikan Nath.
“JIMMY CHOO you know pak??????”
“Mau jimmy choo kek…jimmy jimmy an, gila aja sepatu 29 juta. Itu bisa buat kasih makan orang sekampung Nath!” Protes Aldo yang masih dalam situasi shock melihat harga sepatu.
“Hahah….Kan bapak sendiri yang bilang gak masalah harganya, asal saya beli 1 aja.” Nath berkata sambil bermanja – manja dan mengerlingkan mata genitnya.
"Dasar MATRE AKUT!!!!! Kalau bukan karena kamu bantuin aku tadi, mana mau aku diperasssssss gini. Ampun dah." Ledek Aldo. Meskipun dia tidak masalah memberikannya pada Nath, tapi entah mengapa ia senang saat bisa menggoda Nath.
"Gak ikhlas?" Tanyaku cemberut.
"Hmm... sebagai gantinya, kamu traktir saya makan siang!" Pinta Aldo.
"Boleh, tapi jangan mahal-mahal Pak. Tau kan saya belum gajian." Gerutuku.
"Hahah....dasarrrrrr uda matre.. pura-pura miskin sekarat lagi kalau disuruh traktir." Ledek Aldo sambil tertawa terbahak-bahak.
Hadeh...bos sarap. Gumamku dalam hati.
“Eh..kamu pasti ngedumel kan dalam hati. Udah ketebak dari muka kamu tu!” Protes Aldo.
“Wah, bapak peramal ni.” Nath berpura – pura ketakutan sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
“Eh..aku laper nih. Aku gak mau boba terus sama kamu. Mau makan. Makan yang banyak dan kamu traktir!”
“Okeh…kita pilih tempat makan yang enak ya pak.. Yang bapak bisa makan banyak dan lahap.” Jawab Nath dengan seringai jahil.
Akhirnya pilihan makan jatuh ke....Kantin karyawan yang terletak di parkiran, tidak menggunakan AC, hanya memakai kipas angin dan udara bebas.
"Eh cewek pelit...koq kamu malah ajak saya ke kantin karyawan di mall gini?? Bukannya mau traktir makanan resto?" Protes Aldo karena dia sama sekali tidak pernah makan di kantin karyawan yang terletak di mall.
"Kata Cindy, makanan di kantin ini MURAH...ENAK... BERSIH..TERJAMIN." Kata Nath sambil menekankan beberapa hal penting.
"Dasar si pelit. Ya udah kamu pesenin makanan yang menurutmu itu ENAK DAN BERSIH itu" Ledek Aldo.
"Sipooo Pak Bos, saya traktir anda All you can eat... HAHAHAH.” Nath langsung bergegas ke penjual makan prasmanan yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk yang ia pilih dengan Aldo. Setelah menimbag – nimbang dengan seksama, akhirnya pilihan makanan Nath adalah :
1. Nasi Uduk
2. Perkedel
3. Telur dadar
4. Terong Balado
5. Tumis Buncis
6. Tumis kikil
7. Bakwan jagung
8. Teh hangat tawar
Nath mengambil begitu banyak pilihan menu agar Aldo dapat mencicipi semua makanan.
Aldo tercengang melihat pelayan yang membawa banyak makanan dalam nampan. Ia juga bingung bagaimana menghabiskan semua makanan yang dipesan oleh Nath. Walaupun terlihat menggiurkan, tapi Aldo masih takut akan rasa dan kebersihannya.
"Banyak amat menunya Nath." Protes Aldo sambil melirik makanan yang sudah tersaji di meja.
"Ini bukan buat bapak semua, SHARING aja." Jelas Nath
"Sharing???"
"SHARING IS CARING..... tau gak pak??????" Nath tersenyum dan langsung membagikan makanan untuk Aldo dan dirinya.
"Kamu itu bukan sharing karena caring, tapi sharing karena pelit!!! Dasar, alasannya banyak." Ledek Aldo.
"Hahah....itu tau!!" Nath tertawa terbahak-bahak melihat Aldo sedikit cemberut.
Akhirnya mereka makan bersama, dan terlihat Aldo begitu antusias sehingga ia menambah nasi uduk sampai 3 kali dan sayuran semakin banyak yang ia pesan. Saat pembayaran, ternyata Nath hanya membayar Rp. 100.000. Harga yang murah untuk lauk sebanyak itu.
"All you can eat kan pak....Enak kan????" Goda Nath mengerlingkan matanya kepada Aldo.
"Gila deh...saya gak pernah makan makanan seperti itu, rasanya bikin nagih.Lain kali kamu harus traktir saya all you can eat lagi." Jawab Aldo senang.
"Ya ampun pak.....ketagihan sampe segitunya. Iya...saya traktir lagi kalau gajian ya." Nath tertawa puas. Nath memang sudah tau, sejak kecil Aldo tidak pernah diberikan makanan warung atau kantin oleh orang tuanya, karena dianggap tidak bersih. Nath ingin menjadikan makan saat ini adalah pertama kalinya untuk Aldo. Selalu Nath atau Diana yang menjadi pertama kalinya untuk Aldo. Tidak pernah ada yang lain yang berani bereksplorasi dengan Aldo.
Sementara di belakang Nath dan Aldo, Citra tetap bersembunyi merekam aktivitas mereka yang menyenangkan. Dengan rasa kesal sambil menginjak - injak lantai yang ia pijak.
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez