Rhea ingat betul dengan pemuda arogan yang pernah membuatnya dimarahi oleh manajer restoran tempat dia bekerja, kemarin. Gara-gara Deva berbuat ulah di tempat kerjanya, dia jadi dipecat.
Tanpa aba-aba Rhea menjatuhkan tubuh Deva ke tanah. Dia merasa menyesal sudah menolongnya barusan.
"Aaaaw ...! Sialan kamu!" umpat Deva setelah pantatnya mencium tanah dengan cukup keras. Dia berdiri sambil meringis kesakitan dan sebelah tangannya mengusap-usap bagian tubuhnya yang sakit.
"Sedang apa kamu di sini? Datang ke rumah orang dan mencelakai aku," tanya Deva dengan nada ketus dan mata melotot.
"Aku datang ke sini tidak ada urusannya sama kamu," balas Rhea yang masih menyimpan rasa marah dan benci kepada Deva. Karena pemuda dia jadi pengangguran dan tidak bisa membantu perekonomian keluarganya. "Lagian, siapa yang sudah mencelakai kamu? Kamu itu jatuh sendiri dari atas."
"Kalau kamu tidak berteriak mengagetkan aku seperti tadi, maka aku tidak akan terjatuh!" teriak Deva.
Pertengkaran keduanya dilihat oleh Opa Jaya dan Pak Sakti. Mereka pun mendekati kedua orang yang masih beradu mulut.
"Kalian berdua sudah saling kenal sebelumnya, ya?" tanya Opa Jaya—pemilik Perusahaan DARMA JAYA COMPANY, yang merupakan kakeknya Deva.
Rhea menundukkan kepala ketika melihat orang yang datang adalah atasannya. Dia harus bisa bersikap baik, agar tidak dipecat. Apa kata dunia, jika dia dipecat saat ini, setelah beberapa menit yang lalu baru saja dinyatakan diterima kerja.
"Disebut kenal, tidak juga, Opa. Lebih tepatnya, kita pernah bertemu," jawab Deva dengan nada datar.
"O ...." Opa Jaya mengangguk. "Mulai Senin besok sepertinya kalian akan sering bersama-sama."
Baik Rhea mau pun Deva sama-sama melirik. Keduanya mencerna ucapan Opa Jaya. Detik berikutnya ekspresi wajah mereka berubah.
"Opa, jangan bilang kalau dia adalah orang yang akan menggantikan posisi Satria!" Deva terkejut dan rasanya tidak akan betah punya asisten pribadi seperti Rhea yang menurutnya cerewet dan kasar. Kemarin mereka sempat terjadi perdebatan tentang uang ganti rugi atas pakaian dan sepatunya yang jadi kotor dan rusak. Lalu, barusan bertindak kasar kepadanya.
"Jadi, si tuan muda arogan adalah majikan yang harus aku layani?" batin Rhea merasa frustrasi karena nanti dia yang akan mendampingi Deva sehari-hari dan melayani kebutuhannya selama bekerja.
"Iya. Dari semua calon yang melamar, Rhea adalah yang terbaik. Dia akan menjadi orang yang bisa kamu andalkan dalam segala hal. Dia itu orangnya multitalenta dan cekatan," jawab Opa Jaya memuji Rhea, sehingga membuat gadis itu tersipu malu.
Deva tidak bisa membantah keputusan kakeknya. Namun, di dalam hatinya dia percaya kalau Rhea tidak akan mampu menjalankan tugas seperti Satria.
***
Rhea memberi tahu keluarganya kalau sudah mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang besar. Namun, dia harus bekerja selama 12 jam dari pukul setengah enam pagi sampai pukul setengah enam sore, dari Senin sampai Jumat. Jika dia masih dibutuhkan untuk mendampingi atasannya, maka akan dihitung lembur.
"Syukurlah, akhirnya kamu tidak jadi pengangguran!" ucap Mama Rinjani senang.
"Dengan begini, kamu tidak perlu malu ketika bertemu dengan keluarga calon suamimu besok," ucap Papa Rajasa tersenyum lebar.
"Apa yang dikatakan oleh Papa itu benar," lanjut wanita paruh baya itu mendukung sang suami.
Mendengar perjodohan itu membuat mood Rhea ambyar lagi. Baru saja dia mendapatkan kabar yang menggembirakan, orang tuanya malah menghancurkannya.
"Kamu tidak bisa menolak perjodohan ini. Karena ini adalah wasiat dari kakek. Apa kamu tega membuat nama baik kakek hancur gara-gara kamu tidak mau melaksanakan titahnya?"
Rhea merasa mendapat tekanan dari ayahnya. Karena bagi dia pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral dan ingin melakukan itu sekali seumur hidup.
"Baiklah," balas Rhea pada akhirnya. "Tapi, aku ingin mengenal terlebih dahulu siapa laki-laki yang akan menjadi suamiku. Jika, orangnya malah membuat aku hidup pada kesengsaraan, aku akan membatalkan perjodohan itu."
Kedua mata Papa Rajasa langsung berbinar seraya menjawab, "Iya, tentu saja kamu bisa melakukan itu. Karena papa jamin dia adalah laki-laki terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu."
Sepertinya Rhea lupa dengan ucapan orang tuanya kemarin. Kalau orang yang akan dijodohkan dengannya adalah anak dari golongan atas.
"Aku malah berharap perjodohan itu batal," batin Rhea.
***
Keesokan harinya, Rhea mentraktir Eva sebagai tanda ucapan terima kasih karena sudah membantu mendapatkan kerja. Dia juga curhat mengenai perjodohannya dengan cucu sahabat baik kakeknya.
"Aku tidak mau menikah, masih ingin menikmati masa mudaku," ucap Rhea sambil mengaduk jus Alpukat menggunakan sedotan.
"Kenapa? Siapa tahu laki-laki yang akan dijodohkan sama kamu itu adalah orang yang baik dan pantas dijadikan suami?" tanya Eva yang malah terlihat mendukung perjodohan itu karena calon suami Rhea merupakan orang kaya.
"Kamu tahu, 'kan? Kalau aku itu masih trauma menjalin hubungan dengan laki-laki," jawab Rhea berdecak kesal.
"Kejadian itu sudah sangat lama. Sudah saatnya kamu move on. Kapan kamu bisa mendapatkan kebahagiaan, jika terus saja terjebak dalam masa lalu yang kelam?" ujar Eva dan itu terasa menampar Rhea.
Seharian itu Rhea bersenang-senang dengan Eva. Mereka jalan-jalan, nonton di bioskop, dan belanja beberapa pakaian formal untuk Rhea bekerja nanti.
Suara dering telepon membuat Rhea terkejut. Terlihat ada nama Papa Rajasa di layar. Tentu saja gadis itu terkejut ketika melihat jam yang tertera pada benda pipih itu.
"Halo—"
"Rhea, kamu di mana? Cepat datang ke Restoran Lezat!" Papa Rajasa memotong ucapan Rhea.
"Ini, baru selesai belanja di mall, Pah," jawab Rhea yang kini buru-buru pergi menuju ke restoran yang ada di sebrang mall. Begitu dia keluar, terlihat langit sudah gelap. Dia pun berlari sekuat tenaga ke restoran yang ada di sebrang jalan.
Napas Rhea terputus-putus ketika sampai. Sebuah ruang room private yang akan menjadi tempat pertemuan dua keluarga. Dia menatap kedua orang tuanya yang kini berwajah seperti mayat hidup.
"Apa-apaan penampilan kamu ini, Rhea!" Papa Rajasa melotot kepada putrinya yang memakai celana jeans sobek-sobek, kemeja berukuran jumbo yang dijadikan luaran untuk menutupi kaus bergambar tengkorak di dalamnya.
"Kenapa, Pah? Aku nyaman dengan pakaian ini," ucap Rhea tersenyum lebar.
"Tidak. Sekarang juga kamu cepat beli baju yang pantas di mall depan dan berdandanlah!" titah Papa Rajasa.
"Tidak mau. Uangku sudah habis, tadi," balas Rhea menolak.
Di tengah perdebatan ayah dan anak itu, datang keluarga dari pihak calon mempelai laki-laki. Mereka semua terkejut dalam artian yang berbeda-beda, ketika saling beradu pandang.
"Loh, kamu!" Rhea dan Deva tidak menyangka akan bertemu dalam pertemuan penting keluarganya.
"Kalian keluarga Pak Agung?" tanya seorang wanita berpenampilan anggun dan menawan. Dia adalah maminya Deva—Mami Alicia.
"Iya, benar," jawab Papa Rajasa dengan sopan.
Kedua orang tua Deva mengerutkan kening sampai alisnya hampir menyatu, ketika melihat penampilan calon menantu keluarga Darmawangsa. Terlihat raut rasa tidak suka, terutama pada ibunya Deva.
"Sepertinya kita harus membatalkan perjodohan ini," ucap Mami Alicia. Wanita itu pun melirik kepada sang suami agar mendukung ucapannya.
"Ya, benar kata istriku," kata Papi Mahendra. Karena menilai gadis yang ada di depannya tidak beretika.
Terlihat wajah kecewa dan sedih pada Papa Rajasa dan Mama Rinjani, karena pihak calon besan menolak perjodohan setelah melihat calon menantunya. Namun, berbeda dengan Rhea yang bersorak-sorai dalam hati.
"Yes! Yes! Yes! Perjodohan ini dibatalkan. Ternyata calon suamiku adalah si tuan muda arogan. Mana mau aku jadi istrinya," batin Rhea.
"Aku menerima perjodohan ini!" kata Deva dengan nada tegas dan tatapan terarah kepada Rhea.
"Apa?" Kedua orang tua Deva terkejut dengan keputusan putranya. Seharusnya mereka tidak terkejut karena pemikiran dan keputusan Deva sering bertolak belakang.
"Apa dia gila?" batin Rhea yang merasa kecewa. Dia sudah sengaja berpenampilan tomboi seperti ini agar calon suami dan keluarganya ilfil kepadanya, sehingga perjodohan ini batal.
Deva tersenyum miring sambil menatap ke arah Rhea. Dia sedang menyembunyikan sesuatu dalam pikirannya.