Bab 4. Hari Pertama Kerja

1135 Kata
"Aku terima perjodohan ini dan akan menikah dengan Rhea!" kata Deva dengan tegas, tetapi sorot matanya seakan tidak bisa menyembunyikan apa yang ada di dalam hatinya. "E ...?" Kesenangan hati Rhea atas penolakan calon mertuanya hanya beberapa saat saja. Senyum yang sempat menghiasi wajahnya langsung hilang. Dia tidak menyangka kalau Deva malah ingin perjodohan itu dilaksanakan sesuai dengan keinginan sang kakek. "Tapi, Deva ...." Mami Alicia ingin memprotes, tetapi dikejutkan dengan kedatangan mertuanya. Opa Jaya dan Oma Sartika datang bersama Pak Sakti. Mereka datang dengan kendaraan berbeda karena tempat tinggalnya berbeda. Deva sudah terbiasa tinggal bersama kakek-neneknya sejak kecil sampai sekarang. "Ada apa ini? Kenapa kalian semua berdiri?" tanya Opa Jaya yang merasa heran dengan orang-orang yang ada di ruangan itu. Bukan hanya orang tua Deva yang terkejut dengan kedatangan Opa Jaya. Rhea dan keluarganya juga ikut terkejut dengan kedatangan orang paling kaya di kota ini. Pak Sakti menarik kursi untuk Oma Sartika dan Opa Jaya, duduk. Lalu, dia berdiri di belakang merek. Semua orang pun ikut duduk di kursi masing-masing. "Senang sekali bisa bertemu dengan kalian semua. Sudah lama sekali aku mencari keluarga Agung. Ternyata sekarang kita tinggal di kota yang sama, ya?" ucap Opa Jaya tersenyum lebar sambil menatap ke arah keluarga Papa Rajasa. "Kebetulan pekerjaan aku dipindahkan ke kota ini sekitar tujuh tahun lalu, Tuan Jaya," jawab Papa Rajasa. "Rhea sudah besar, ya? Kemarin aku sempat ragu saat bertemu dengannya. Apa dia adalah cucunya Agung atau bukan. Ternyata benar, soalnya Sakti tidak memberikan foto terbaru dari Rhea," ujar Opa Jaya tertawa kecil. "Benar, Tuan. Sekarang Rhea sudah dewasa dan sudah layak untuk menikah," balas Papa Rajasa dan Rhea membelalakkan matanya. Gadis itu sebenarnya belum siap untuk menikah. Raut wajah Mami Alicia terlihat dingin dan tatapan tajam. Kini Rhea tahu kalau ekspresi wajah Deva itu mirip dengan ibunya. Terkesan angkuh, sombong, dan arogan. Pembicaraan antar kedua keluarga pun terjalin hangat. Opa Jaya dan Oma Sartika yang banyak berinteraksi dengan pasangan Mama Rinjani dan Papa Rajasa. Berbeda dengan kedua orang tuanya Deva yang terlihat tidak begitu perduli. Karena merasa kecewa dengan calon menantu yang jauh dari ekspektasi. Janji ikatan pertunangan pun terjadi. Deva menyematkan cincin berlian berwarna putih pada jari Rhea. Akhirnya kedua keluarga menyetujui perjodohan itu. "Jadi, sekarang kita tentukan kapan waktu Rhea dan Deva menikah," ucap Opa Jaya. "Lebih cepat itu lebih baik," balas Papa Rajasa. "Aku tidak setuju, jika pernikahan dilakukan secara terburu-buru," pungkas Mami Alicia. "Aku setuju dengan usulan Mami Alicia," balas Rhea. "Sebaiknya beri kita waktu untuk saling mengenal satu sama lain." Calon mertua dan menantu itu kompak tanpa mereka sadari. Hal itu hanya disadari oleh Deva. "Mami dan gadis barbar itu bisa satu pemikiran? Ajaib!" batin Deva. Orang-orang pun berpikir. Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Mami Alicia dan Rhea. Tidak perlu buru-buru yang penting bisa terealisasi dengan baik. "Baiklah, kita beri mereka waktu untuk saling mengenal. Apalagi sekarang Rhea sudah menjadi asisten pribadi Deva, jadi bisa selalu bersama setiap harinya dari pagi sampai sore," balas Opa Jaya. "Kira-kira berapa lama waktunya? Karena kita harus mempersiapkan administrasi untuk pernikahan dan pestanya juga," tanya Mama Rinjani. "Kita tinggal bayar wedding organizer saja untuk mengurus pesta. Aku dan suamiku sibuk dengan urusan bisnis jadi tidak punya waktu untuk mengurus hal itu," jawab Mami Alicia dengan nada dingin. Deva memicingkan mata, melirik kepada ibunya. Inilah alasan kenapa dia lebih memilih tinggal bersama Opa Jaya dan Oma Sartika. Sejak dahulu, kedua orang tuanya terlalu sibuk sampai tidak tahu perkembangan anaknya sendiri. Mama Rinjani mengerutkan kening karena merasa aneh dengan pemikiran calon besannya. Kebanyakan orang selalu antusias ketika mengurus pernikahan anaknya. Apalagi ini pertama kali untuk kedua keluarga itu. "Kalian tidak perlu mengeluarkan biaya satu rupiah pun. Karena semua biaya pernikahan Deva dan Rhea akan ditanggung oleh aku," kata Opa Jaya. Keluarga Rhea yang merupakan keluarga biasa-biasa saja, tentu saja sangat senang. Karena mereka tidak punya banyak uang untuk mengadakan pesta besar-besaran. "Pernikahan kalian akan dilakukan enam bulan lagi!" lanjut Opa Jaya tidak ada bantahan lagi semua menurut keinginannya. *** Hari ini merupakan hari pertama Rhea bekerja sebagai asisten pribadi Deva. Gadis itu harus berada di kediaman keluarga Darmawangsa sebelum jam tujuh pagi. Dia memakai baju formal yang merupakan setelan celana panjang dan blazer yang berwarna kopi s**u. Kesehariannya Rhea lebih nyaman memakai celana, kaus oblong, atau kemeja daripada memakai rok atau gaun. Mungkin karena dia terbiasa memakai baju model unisex yang bisa tukeran dengan Bhumi. "Nona Rhea, Anda sudah datang. Kamar Tuan Muda Deva ada di lantai atas. Mari saya antarkan. Tolong urus segala keperluannya!" ucap Pak Sakti ketika bertemu dengan Rhea. Keduanya menaiki lift karena kamar Deva ada di lantai tiga. Rumah kediaman Darmawangsa terdapat lift untuk memudahkan Opa Jaya naik turun ke kamarnya. Laki-laki tua itu sering mengalami sakit lutut jika naik tangga. "Ini kamar Tuan Muda Deva. Jangan sampai lupa!" ucap Pak Sakti karena di rumah itu banyak sekali ruangan dan bisa saja tersesat. Terlebih lagi bagi orang yang baru pertama kali datang ke sana. Rhea masuk ke dalam setelah Pak Sakti membukakan pintu. Mata Rhea mengedar ke segala penjuru ruangan mewah itu. Luasnya berkali-kali lipat dari kamar miliknya. Dia melihat ada orang yang sedang tidur di atas ranjang. Tugas dia dimulai dari membangunkannya dan mengurus segala keperluan sehari-hari sang majikan. "Deva, bangun! Hari sudah siang," ucap Rhea berdiri di samping ranjang emas. Karena tidak bangun juga, Rhea menarik selimut yang menutupi tubuh Deva. Dia juga menarik guling yang sedang dipeluk pemuda itu. Walau sudah ditarik selimut dan gulingnya. Deva masih saja tertidur pulas. "Aku tidak boleh kena marah Opa Jaya karena tidak bisa mengurus cucunya. Dia juga sudah memberi aku kuasa untuk melakukan apa pun kepada cucunya selagi tidak membahayakan keselamatan nyawanya," batin Rhea. Lalu, dia menarik bantal yang dipakai Deva sehingga membuatnya terbangun. "Siapa yang sudah berani menggangu tidurku!" Deva duduk terbangun dengan marah. Kedua orang itu saling beradu pandang. Sama-sama memasang wajah galak. "Ini sudah siang, cepat mandi! Karena kamu harus segera sarapan dan pergi ke kantor," ucap Rhea sambil menunjuk pada jam tangannya. Deva berdecih. Asisten pribadinya kali ini ternyata lebih galak dan tidak ada toleransi kepadanya. Dengan kesal dia turun dari ranjang. Namun, saat akan melangkah kakinya kesandung kaki sendiri sampai dia akan jatuh. Refleks tangan Deva mencari pegangan. Dia menggapai tubuh Rhea. Keduanya terjatuh ke lantai beralaskan karpet tebal. Kedua tangan Deva menyentuh dua buah benda yang menonjol milik Rhea. Laki-laki itu belum menyadarinya. Sementara itu, Rhea yang jatuh ketiban tubuh Deva yang lebih tinggi darinya, merasa kesakitan di bagian belakang tubuhnya. Sedetik kemudian, matanya melotot dan amarah langsung menguasai hatinya. Dia tidak terima laki-laki itu memegang aset bagian atas badannya yang empuk. "Apa yang kau lakukan?" jerit Rhea sambil membanting tubuh Deva ke samping, lalu menduduki perutnya. "Aaaaa!" teriak Deva kesakitan. Dia membalas cengkeraman Rhea dan kini keduanya saling menatap dalam jarak kurang dari sejengkal. Embusan napas juga bisa dirasakan oleh masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN