Titan tertawa terbahak saat Ammar terus saja mencium seluruh wajahnya. Sejak tadi mereka terus saja bercanda di atas ranjang dengan saling menjahili satu sama lain. Ajakan Ammar untuk melakukan percobaan pembobolan benteng pertahanan di tawar oleh sang istri. Titan ingin sebelum melakukan malam pertama yang tertunda. Mereka harus merasa rileks agar jalan menuju kenikmatan lancar jaya tanpa hambatan. “Sudah, Boo. Titan capek.” “Belum diapa-apain masak sudah capek?” “Mecum ih,” omel Titan. “Maksud aku capek ketawa terus.” “Aku kira capek tidak memiliki tenaga untuk olahraga malam.” Titan menarik hidung mancung suaminya. Dia gemas sekali dengan Ammar yang terus saja berkata vulgar padanya. “Mau mulai sekarang?” tanya Titan. “Boleh? Aku selalu siap kapan saja.” “Titan juga sudah siap

