“Ya sudahlah,semoga ini bisa membantu,tapi jangan dipelototin paak, saya maluu,” dengan jantung bergemuruh, Zahra menurunkan celana leginsnya, memamerkan panttat mulus berhias celana dalam mungil. meski sadar ini sudah terlalu jauh, tapi kondisi memaksa melakukan itu. “Makaaassiiihhh, Bu, Aaaawwhhh, Buuu,” Tanpa membuang waktu Pak Wisnu segera menjejalkan batangnya kelipatan paha tepat didepan bibir vaggina gemuk yang tertutup kain tipis. “Aaaaggghhh, Paaak, lubangnya jangan disundul paaaak,” Kini giliran Zahra yang mulai kelabakan. Berkali-kali batang Pak Wisnu yang keras menghentak bibir vagginanya,membuat sebagian kain celana dalamnya masuk ke dalam lipatan vaggina. “Aaaaghhh, Aaaanghh, Aaaangghh,” bibir Zahra terpekik setiap batang Pak Wisnu menggasak kain tipis yang menjadi pelind

