Perlahan mata Zahra terpejam, seiring batang Pak Wisnu yang menyentuh lebut klittoris kemalluannya, menggesek pelan. “Oooowwgghhh,” Wanita itu melenguh saat Pak Wisnu mulai memberikan tekanan untuk penetrasi. “Paaak, jangan, Hiksss,” Tiba-tiba Zahra memundurkan pinggulnya, menjauhkan batang Pak Wisnu dari bibir vaggina yang menagih untuk dijejali. Tangisnya kembali tumpah. Di saat dirinya berniat untuk menyambut kesenangan yang ditawarkan Pak Wisnu, wajah Rangga hadir bersama percumbuan panas mereka sebelum akhirnya Rangga menghilang meninggalkan dirinya dan Niko. “Saya mohon Paaak, Mengetilah, ini bukan sekedar mencari kesenangan, tapi tentang janji seorang wanita,” air mata Zahra mengalir semakin deras. “Owwwhhh, maaf, saya memang kelewatan, maaf,” Pak Wisnu mengusap-ngusap pundak Z

