1. Prolog

766 Kata
    Natasha Adinda Kusuma gadis berambut panjang yang memiliki paras cantik nan ayu, ia bekerja di sebuah club malam ternama sebagai seorang waiters. Gadis remaja yang baru menginjak usia Sembilan belas tahun itu harus mengalami kerasnya hidup sebagai sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal tepat satu tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil. Kehidupannya yang semula bahagia berubah menjadi pilu, setelah seminggu kepergian kedua orang tuanya ia harus mengalami kepahitan lain, beberapa orang petugas rentenir datang dan menyita seluruh harta benda peninggalan keluarganya. Dengan berat hati ia harus merelakan semua peninggalan berharga kedua orang tuanya. Dinda harus pergi meninggalkan rumahnya yang menyimpan banyak kenangan indah bersama orang yang dicintainya. Lengkaplah sudah penderitaannya. Entah dosa apa yang ia perbuat sehingga hidupnya semenyedihkan ini. Bukan ia tak memiliki keluarga, tapi keluarganyalah yang tidak menginginkannya karena pernikahan kedua orang tuanya terjadi tanpa restu dari keluarga ayah Dinda dikarenakan ibu dari Dinda adalah seorang yatim piatu.               Dinda tak ingin terus bersedih ia menata kembali hidupnya yang penuh keterpurukan. Ia memilih tinggal di sebuah kos-kosan yang berukuran sedang, cukuplah untuknya yang sebatang kara. Ia melanjutkan pendidikannya dengan sisa tabungan yang sempat diberikan kepada ibunya sehari sebelum meninggal seperti sebuah pertanda. Setelah mendapat tempat tinggal ia melamar pekerjaan di sebuah club malam tanpa lama menunggu ia langsung di terima karena parasnya yang cantik dan ayu.               Pekerjaannya berjalan lancar begitupula dengan pendidikannya. Dinda diterima kuliah di salah satu universitas terkenal di kota tersebut. Berkat kepintarannya ia mendapatkan beasiswa penuh dari pihak yayasan. Semuanya  berjalan lancar segala urusannya dimudahkan. Kini Dinda juga sedang menjalin hubungan asmara dengan salah seorang mahasiswa di kampus tempatnya menempuh pendidikan. Sadewa Putra Dirk, pria tampan yang saat ini tengah mengisi kekosongan hati Dinda. Panggil saja Dewa pria berwajah tampan putra dari Bram Clementius Dirk pria asal Belanda yang lama menetap di Indonesia dan Gloria Anetta keturunan Indonesia dan Korea. Dewa merupakan kaka tingkat dari Dinda keduanya sama-sama mengambil jurusan bisnis dan manajemen, hubungan keduanya hampir genap setahun. Dewa begitu mencintai Dinda, sehingga banyak gadis yang merasa sangat iri kepada Dinda. Dewa adalah salah satu putra dari pengusaha terkenal di kota mereka. Selain memiliki paras tampan, ia juga di anugerahi otak yang cerdas dan keluarga yang memiliki harta berlimpah tak akan habis tujuh keturunan.               Semenjak kehadiran Dewa hidup Dinda menjadi lebih berwarna. Dewa banyak membantu Dinda sehingga membuat Dinda sering tak enak hati. Jujur saja Dewa cukup keberatan dengan pekerjaan yang Dinda jalani saat ini. Dewa selalu merasa khawatir dan cemas setiap kali Dinda sedang bekerja, ia mencemaskan keamaan kekasihnya itu. Dengan paras cantik bentuk tubuh yang indah dan berkulit putih bukan tak mungkin jika banyak lelaki buaya yang akan terpesona dengan kecantikan kekasihnya. Sebisa mungkin saat Dinda bekerja Dewa dengan senang hati selalu menunggunya. Dewa akan memesan sebuah meja hanya untuk menunggu Dinda yang jam kerjanya dari jam tujuh malam sampai jam sebelas malam. Semua ia lakukan dengan senang hati asalkan kekasihnya selalu aman. Perlakuan Dewa itu tentu saja membuat rekan kerja Dinda merasa cemburu, betapa beruntungnya menjadi Dinda, itulah yang selalu dipikirkan oleh rekan kerja Dinda tanpa tahu kepahitan apa saja yang sudah Dinda lalui. Dewa benar-benar menjadi sosok pelindung bagi Dinda yang tidak memiliki siapaun lagi di dunia yang begitu kejam ini. Dewa selalu memperlakukan Dinda layaknya seorang tuan putri hal itu membuat Dinda begitu mencintai Sadewa dan merasa begitu berhutang budi dengan semua kebaikan yang Dewa berikan. Dewa bahkan pernah ingin membelikan sebuah rumah minimalis dan kendaraan roda dua untuk Dinda tapi langsung di tolak oleh Dinda. Dinda tidak ingin ada yang berpikiran bahwa dirinya hanya ingin memoroti harta Dewa.               Hubungan Dewa dan Dinda terbilang sehat dan masih dalam batas wajar. Dewa sangat menjaga dan menghargai Dinda sebagai kekasihnya. Dewa percaya semua akan ada waktunya untuk memiliki Dinda seutuhnya, hal itu yang membuat Dinda semakin yakin akan ketulusan Dewa. Perlahan Dinda mulai bisa menerima kenyataan hidupnya yang pahit karena kehadiran Dewa yang menguatkannya. Tidak bisa Dinda bayangkan bila hari-harinya harus dilalui tanpa sosok Dewa.               Selain memiliki Dewa sebagai pemanis hidupnya yang pahit, Dinda juga memiliki seorang sahabat bernama Ana. Keduanya bersahabat sejak duduk di bangku SMA. Ana memiliki paras yang ayu dengan kulit kuning langsat khas wanita Indonesia. Keduanya begitu dekat, Ana selalu menjadi pendengar setia untuk Dinda begitupun sebaliknya. Mereka selalu mensuport satu sama lain layaknya saudara kandung. Kehidupan Ana jauh lebih beruntung dari Dinda. Meskipun bukan berasal dari keluarga yang setara dengan keluarga Dewa tapi orang tua Ana termasuk dalam kategori orang yang berkecukupan.               Hari-hari Dinda yang begitu indah tentu tidak bertahan lama saat sebuah peristiwa menyakitkan menimpa hidupnya. Semua kebahagiaannya berubah dalam sekejap menjadi penderitaan. Bagaimana Dinda harus bertahan dalam kerasnya hidup yang ia alami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN