
“Ahhh….!!” Teriak Dinda seraya melepaskan tubuhnya dari pria yang sudah diingatnya.
Yuda yang mendengar teriakan Dindapun terbangun dari tidurnya. Ia mengumpulkan seluruh kesadarannya lalu menatap Dinda yang kini juga tengah menatap dirinya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.
“Kamu! Apa yang kamu lakukan kepada saya!” Teriak Dinda histeris menyadari kesalahan yang terjadi pagi ini. “Aww..” Pekik Dinda yang merasakan perih di area sensitivnya saat hendak melangkah.
“Maaf, tapi kita bisa bicarakan ini.” Jawab Yuda asal karena masih sangat lelah.
“b******k! b******n kamu!” Teriak Dinda masih histeris air matanya tak bisa di ajak kompromi masih terus berderai.
“Hei.. dengarkan! Saya akan tanggung jawab.”
“Cih! Saya tidak butuh tanggung jawab kamu! Lebih baik saya mati! Kamu b******n!” Seru Dinda semakin histeris semakin tidak bisa mengontrol amarahnya.
Yuda yang melihat Dinda seperti orang kesetanan segera memakai pakaiannya lalu memeluk tubuh gadis cantik itu dengan erat. Ia takut jikalau Dinda nekat melukai dirinya sendiri.
“Hei maaf! Maaf saya salah. Saya akan menikahi kamu.” Bisik Yuda.
“Lepas! Jangan sentuh saya dengan tangan kotor kamu! Dasar b******n!” Bentak Dinda.
Yuda tak mengindahkan permintaan Dinda, ia tetap memeluk tubuh Dinda dengan erat.
“Tolong maafkan saya, saya akan bertanggung jawab.”
“Lepaskan saya! Singkirkan tubuh kotor kamu dari hadapan saya! b******k!” Dinda memberontak berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan erat Yuda.
Karena masih dalam keadaan yang lemah Dindapun jatuh pingsan tak sadarkan diri. Kejadian yang menimpanya ini sangat membuatnya terluka sehingga tak bisa mengontrol amarah dalam dirinya. Dengan sigap Yuda segera mengangkat tubuh Dinda dan diletakan kembali di atas ranjang miliknya. Sekejap Yuda menatap wajah sendu Dinda yang nampak kelelahan, rasa bersalah kembali menari-nari dalam hatinya.

