2. Kehilangan

2958 Kata
Seperti malam biasanya Dewa dengan setia mengantarkan Dinda ke tempatnya bekerja. Sebuah mobil mewah BMW M3 berwarna hitam terparkir rapih disebuah parkiran khusus karyawan di sebuah club malam terbesar di kota tersebut. “Sayang malam ini aku nggak bisa nemenin kamu kerja, nggak apa-apakan?” Seru Dewa memecah kesunyian. “Ia kak nggak apa-apa, lagian kakak juga nggak usah repot-repot nemenin Dinda setiap malam, kakak juga harus mikirin diri kakak sendiri.” Balas Dinda dengan suaranya yang sedikit manja. “Hmm nggak apa-apa sayang aku ikhlas dan senang ngelakuinnya. Untuk kamu apapun itu bakal aku lakuin.” Dewa tersenyum seraya mengelus lembut puncak kepala Dinda. Mendengar perkataan Dewa tanpa sadar sebuah senyuman manis terukir dengan jelas diwajah cantik Dinda. Gadis mana coba yang tidak akan luluh dengan perlakuan Dewa, rasanya Dinda seperti akan terbang ke langit ketujuh. “Ya udah kak Dinda masuk duluh ya, takut telat.” Dinda segera melepaskan seat beltnya. Sebelum ia sempat membuka pintu mobil Dewa terlebih duluh menahan pergelangan tangannya. Dengan penuh kelembutan Dewa mengecup sekilas bibir ranum Dinda. Entah mengapa malam ini Dewa sangat ingin memiliki Dinda seutuhnya tapi berusaha ditahannya demi janjinya kepada Dinda. Dinda masuk kedalam club dengan perasaan yang berbunga-bunga membayangkan kecupan singkat dibibirnya. Jelas saja Dinda sampai seperti itu, hampir satu tahun berpacaran keduanya sangat jarang berciuman. Dewa yang tidak ingin menyakiti Dinda berusaha menahan hasratnya meskipun terkadang sering kebobolan tapi itupun bisa dihitung. “Ehemm.. kenapasih senyam senyum kaya gitu.” Goda Sisil salah satu waiters yang cukup dekat dengan Dinda. Mendengar suara Sisil membuat Dinda bertingkah gelagapan seolah sedang tertangkap basah mencuri. “Mmm nggak apa-apa kok!” Sahut Dinda berbohong. “Nggak apa-apa tapi kok pipinya merah kaya tomat?” Goda Sisil lagi. “Ih please deh Sil ini tuh blush on makanya merah-merah gini.” Bantah Dinda dengan kebohongan yang makin melebar. “Wah tumben banget kamu pakai blush on, nggak biasanya loh.” Dinda hanya tersenyum mendengar godaan Sisil ia tak ingin merespon lagi, karena ia tahu tidak akan ada habisnya jika terus meladeni temannya itu yang notabene cukup cerewet. Setelah bersiap semua sudah mulai bekerja melayani para tamu yang berdatangan. “Eh guys kita disuruh kumpul tuh sama pak Dodi.” Seru salah seorang waiters menginformasikan bahwa manajer club tersebut ingin mereka segera berkumpul. Semua waiters sudah berkumpul di dalam ruangan manajer, masing-masing saling berbisik menanyakan alasan apa mereka di kumpulkan di ruangan bosnya. “Selamat malam semua, maaf mengganggu pekerjaan kalian.” Seru pak Dodi selaku manajer club tersebut. “Malam ini kita kedatangan tamu istimewa salah seorang CEO muda terkaya di kota ini, beliau membooking beberapa room untuk bersantai bersama rekan bisnisnya, jadi saya akan memilih dua orang terbaik yang akan melayani beliau dan empat orang lagi melayani karyawan beliau yang juga ikut.” Jelas Dodi. Mendengar penuturan Dodi membuat suara bisik-bisik semakin terdengar jelas. Banyak yang merasa penasaran siapa sosok tamu istimewa yang dimaksud Dodi. Dodi segera memilih dua orang terbaik untuk melayani tamu istimewanya yaitu Dinda dan Sisil. Terdengar suara protes dari beberapa gadis yang tak terima dengan pilihan Dodi. Banyak yang merasa bahwa Dodi begitu menganak emaskan Dinda dan Sisil. Tapi tentu saja tidak ada yang dapat membantah perintah dari Dodi. Dinda dan Sisil tengah menyusun minuman yang hendak diantarkan untuk tamu istimewa mereka malam ini. Pelan-pelan Sisil mendorong pintu ruangan VIP tersebut dan diikuti Dinda dari belakang. Saat pintu terbuka nampak dua orang sosok pria muda yang sungguh mempesona berbalut setelan jas mahal. “Selamat malam tuan.” Seru Dinda dan Sisil kompak. Kedua pria tersebut hanya mengangguk tanpa menjawab. Dinda merasa tidak begitu nyaman, lantaran salah seorang pria dengan mata sayu dan bertubuh atletis terus memandanginya. Dinda dan Sisilpun mulai melakukan tugas mereka menuangkan minuman kedalam gelas kedua pria tampan tersebut. “Siapa nama kalian?” Tanya David pria dengan wajah khas orang Indonesia kepada Dinda dan Sisil. “Nama saya Sisil tuan.” Jawab Sisil tersenyum ramah. “Nama saya Dinda tuan.” Timpal Dinda seraya menunduk. “Duduklah!” Titah David mempersilahkan keduanya duduk di hadapan mereka. Dinda dan Sisil duduk bersebelahan. Sedaritadi Dinda hanya menundukan wajahnya saja berbeda dengan Sisil yang menatap lurus kedepan. Maklum saja Sisil sudah bekerja di club itu hampir tiga tahun sedangkan Dinda baru setahun jadi pengalaman Sisil lebih banyak dari Dinda. Sisil sudah pernah melayani berbagai jenis tamu dan semuanya di atur dengan baik. “Hm, Dinda berapa usiamu? Kamu nampak masih sangat muda.” Tanya David pada Dinda. “Sa saya tuan?” Dinda balik bertanya dengan gugup. “Ia kamu.” Balas David singkat lalu tersenyum. “Sembilan belas tahun tuan.” Jawab Dinda lalu kembali menundukan wajahnya. “Masih sangat muda. Kenapa kamu memilih bekerja di club ini? Apa orang tuamu tahu?” Timpal David yang nampaknya tertarik dengan Dinda. “Sa saya yatim piatu tuan. Saya bekerja karena harus menyambung hidup dan membiayai kuliah saya.” Jawab Dinda. “Oh.. maafkan saya. Saya tidak bermaksud..” “Tidak apa-apa tuan, saya mengerti.” Potong Dinda sebelum David menyelesaikan ucapannya. Percakapan keduanya tak luput dari pendengaran Yuda pria tampan pemilik mata sayu yang berada disebelah David. Yuda dan David adalah sahabat yang juga membangun kerja sama di antara perusahan masing-masing. Malam ini keduanya merayakan keberhasilan perusahan mereka yang sukses bekerja sama. Selain itu ini adalah bentuk ucapan terimakasih David kepada Yuda karena sudah banyak membantunya disaat perusahannya hampir saja gulung tikar. David mengajak Yuda bersenang-senang dengan mengundang beberapa staf Yuda yang saat ini tengah berada di ruangan VIP yang lain. Sedaritadi Yuda terus mengamati gerak-gerik dari Dinda. Ia merasa cukup tertarik dengan gadis yang usianya terpaut tujuh tahun darinya. Gadis muda dan pekerja keras selain itu memiliki paras cantik bak seorang model. “Minumlah!” Seru Yuda seraya menyodorkan sebuah gelas berisi minuman beralkohol kepada Dinda. “Ma maaf tuan saya tidak bisa meminum minuman ini.” Tolak Dinda sopan. “Saya tidak suka penolakan!” Bantah Yuda yang tidak terima atas penolakan Dinda. Sebut saja dirinya cukup jahat memaksa seorang gadis remaja untuk minum minuman terlarang yang belum pantas bagi gadis seusianya. Tapi karena rasa penasarannya pada gadis cantik dihadapannya ini terpaksa ia melakukan itu. “Tapi tuan..” “Baiklah! panggilkan manajer kalian pelayanan waitersnya sangat buruk!” Sanggah Yuda membuat Dinda dan Sisil ketakutan dan saling pandang. “Udah Din minum aja daripada kita kena masalah, kamu tenang aja ada aku disini.” Bujuk Sisil yang tak ingin mendapat masalah atau teguran dari pak Dodi. Dinda hanya bisa mengangguk pasrah seraya menerima gelas berisi minuman terlarang dari tangan Yuda. Malam ini untuk pertama kalinya Dinda harus mengkonsumsi minuman terlarang itu atas paksaan Yuda tamu istimewa club mereka. Entah apa yang Yuda inginkan Dinda tak mengerti. “Sudah tuan.” Seru Dinda setelah meletakan gelas kosong di atas meja dengan raut wajah yang sulit di artikan. “Kamu baru pertama kali minum?” Tanya Yuda yang memang sengaja memancing percakapannya dengan Dinda. “Ia tuan.” Jawab Dinda yang menahan rasa aneh di lidahnya. “Enak?” Tanya Yuda lagi. “Rasanya aneh tuan, saya tidak akan pernah minum ini lagi.” Balas Dinda jujur membuat David tersenyum geli. David menatap wajah sahabatnya itu, ia merasa ada yang aneh dengan Yuda. Ini kali pertamanya memaksa seorang gadis untuk minum. Entah sudah gelas keberapa Yuda memaksa Dinda untuk minum, Dinda sudah menolak dengan berbagai alasan tapi Yuda selalu dapat membantah alasan yang diberikan Dinda. Dinda yang sudah tidak sanggup lagi untuk minum berbaring lemah tidak berdaya disamping Sisil. Sisil yang melihat keadaan Dinda merasa panik, ia ingin menolong teman kerjanya itu tapi segera dicegah oleh Yuda. “Biar saya yang membawanya pulang, dimana alamatnya?” Tanya Yuda pada Sisil yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Sisil segera memberi tahu alamat kos-kosan Dinda. Setelah itu Yuda dengan sukarela menggendong tubuh Dinda ala bridal style. David yang melihat itu mentap Yuda tak percaya, sungguh suatu keajaiban bagi Yuda yang notabene seorang pria dengan sikap dingin dan angkuh. Sudah begitu banyak wanita dengan berbagai profesi mendekatinya tapi semuanya hanya ia anggap angin lalu, jika sedang ingin memuaskan hasratnya barulah ia merespon salah satu dari banyaknya wanita yang menggodanya. Dengan hati-hati Yuda membawa tubuh Dinda setelah berada di dalam mobil Yuda langsung melajukan mobil sport kesayangannya dengan kecepatan tinggi. Mobil Sport itu terparkir rapih disebuah kompleks apartment mewah dengan harga beli yang fantastis. Katakanlah saat ini Yuda memang jahat karena berbohong kepada Sisil, ia tak membawa Dinda pulang ke kos-kosan seperti yang Sisil beritahukan. Kini Dinda sedang terbaring tidak berdaya di atas ranjang king size milik Yuda. Yuda tersenyum puas menatap tubuh indah Dinda di atas ranjang miliknya. “Cantik.” Gumam Yuda. Dengan hati-hati Yuda melepaskan semua pakaian yang menutupi tubuh indah Dinda, sesekali Dinda menggeliat karena kedinginan tapi ia sungguh kehilangan kesadaran sehingga tidak menyadari apa yang tengah Yuda lakukan padanya. Yuda menatap penuh takjub keindahan tubuh Dinda gadis cantik dihadapannya. Dengan tak sabaran ia segera melepaskan pakaiannya hingga tak bersisa. Gairah yang sudah memuncak membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. Yuda menerkam tubuh Dinda tanpa ampun dan yang empunya sesekali hanya mengeram entah karena rasa sakit atau kenikmatan yang Yuda berikan. Begitupun Yuda yang begitu b*******h malam ini, belum pernah ia merasa senikmat ini saat bercinta. Saat melakukan penyatuan Yuda sangat terkejut melihat darah segar yang mengalir dari area intim Dinda. Ada rasa bersalah yang berkecamuk dihatinya tapi tak dipungkiri sebuah senyuman mengembang dibibir seksi Yuda menyadari ialah yang pertama bagi wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dinda yang merasakan sakit diarea intimnya sedikit berteriak namun masih dengan minim kesadaran. Yuda terus melakukan penyatuan sambil terus memanggil nama Dinda berkali-kali diselah desahannya. Sejam lebih Yuda melakukan aktivitas bergairahnya akhirnya ia tumbang juga. Yuda berbaring penuh keringat bercucuran disamping Dinda. Ia melingkarkan tangan kekarnya pada tubuh polos Dinda yang hanya dibalut bedcover. Sebelum terlelap Yuda sempat mencium kening Dinda dan setelah itu terhanyut dalam mimpi bersama Dinda. Tepat pukul enam pagi Dinda merasakan sesuatu yang bergejolak didalam perutnya, pelan-pelan ia berusaha membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya. Dinda merasakan sesuatu yang berat yang sedang menekan perutnya. Perlahan ia membuka matanya menatap sekeliling, saat kesadarannya sudah benar-benar terkumpul Dinda begitu terkejut, menatap langit-langit kamar yang berbeda. Dinda sadar ini bukan kamar kosnya. Ditatapnya tubuhnya yang terbalut bedcover ada sebuah tangan kekar yang memeluknya erat. Dinda mulai panik dan disaat memeriksa kondisi tubuhnya sebuah teriakan tak dapat ditahannya lagi. Dinda berteriak sehisteris mungkin mendapati tubuh polosnya dan sosok seorang pria yang sedang memeluk erat tubuhnya dalam keadaan yang sama polos dengannya. “Ahhh….!!” Teriak Dinda seraya melepaskan tubuhnya dari pria yang sudah diingatnya. Yuda yang mendengar teriakan Dindapun terbangun dari tidurnya. Ia mengumpulkan seluruh kesadarannya lalu menatap Dinda yang kini juga tengah menatap dirinya dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. “Kamu! Apa yang kamu lakukan kepada saya!” Teriak Dinda histeris menyadari kesalahan yang terjadi pagi ini. “Aww..” Pekik Dinda yang merasakan perih di area sensitivnya saat hendak melangkah. “Maaf, tapi kita bisa bicarakan ini.” Jawab Yuda asal karena masih sangat lelah. “b******k! b******n kamu!” Teriak Dinda masih histeris air matanya tak bisa di ajak kompromi masih terus berderai. “Hei.. dengarkan! Saya akan tanggung jawab.” “Cih! Saya tidak butuh tanggung jawab kamu! Lebih baik saya mati! Kamu b******n!” Seru Dinda semakin histeris semakin tidak bisa mengontrol amarahnya. Yuda yang melihat Dinda seperti orang kesetanan segera memakai pakaiannya lalu memeluk tubuh gadis cantik itu dengan erat. Ia takut jikalau Dinda nekat melukai dirinya sendiri. “Hei maaf! Maaf saya salah. Saya akan menikahi kamu.” Bisik Yuda. “Lepas! Jangan sentuh saya dengan tangan kotor kamu! Dasar b******n!” Bentak Dinda. Yuda tak mengindahkan permintaan Dinda, ia tetap memeluk tubuh Dinda dengan erat. “Tolong maafkan saya, saya akan bertanggung jawab.” “Lepaskan saya! Singkirkan tubuh kotor kamu dari hadapan saya! b******k!” Dinda memberontak berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan erat Yuda. Karena masih dalam keadaan yang lemah Dindapun jatuh pingsan tak sadarkan diri. Kejadian yang menimpanya ini sangat membuatnya terluka sehingga tak bisa mengontrol amarah dalam dirinya. Dengan sigap Yuda segera mengangkat tubuh Dinda dan diletakan kembali di atas ranjang miliknya. Sekejap Yuda menatap wajah sendu Dinda yang nampak kelelahan, rasa bersalah kembali menari-nari dalam hatinya. Tapi semua sudah terjadi, awalnya ia pikir setelah kejadian ini semua akan baik-baik saja dan Dinda akan dengan senang hati bertekuk lutut dihadapannya seperti kebanyakan gadis, tapi dugaannya meleset. Penolakan keras dari Dindalah yang ia dapatkan. Setelah membiarkan Dinda beristirahat di apartmentnya Yuda segera bersiap untuk bekerja. Yuda menulis sepucuk surat untuk Dinda yang isinya memberitahukan bahwa ia sudah membelikan sepasang pakaian ganti dan sudah menyiapkan sarapan untuk Dinda. Tak lupa ia juga menyimpan nomor handphone Dinda. Semalam sebelum pergi Sisil juga menitipkan tas dan ponsel Dinda kepada Yuda. Setelah hampir dua jam Dinda tak sadarkan diri akhirnya dengan segenap tenaganya yang tersisa Dinda berusaha membuka matanya dan menatap sekeliling. Perasaan hati yang hancur kembali menari-nari dalam ingatannya tatkala melihat tubuh polosnya berbalut bedcover. Air matanya kembali menetes, sakit yang ia rasakan saat ini sungguh tak bisa diobati. Dalam tangisnya ia teringat akan sosok kedua orang tuanya dan juga Dewa sang kekasih. “Ayah ibu, maafin Dinda. Kak Dewa Dinda udah hancur. Dinda kehilangan hal yang paling berharga yang seharusnya Dinda persembahkan untuk kak Dewa kelak.” Lirih Dinda dalam tangisnya. Tak ingin berlama-lama diruangan yang menyimpan kenangan buruk untuknya, Dinda segera mengenakan pakaian setelah itu mengambil tas dan ponselnya kemudian pergi. “Eh non sudah bangun ya.” Sapa salah seorang pelayan yang bekerja di apartment Yuda. Dinda cukup terkejut tatkala mendapat sapaan dari wanita paru baya yang sedang menatapnya. “Mm ia bu, saya permisi.” Seru Dinda yang sudah tidak ingin berlama-lama di tempat itu. “Maaf non tapi bibi sudah siapkan sarapan, kata tuan Yuda kalau non bangun harus sarapan duluh biar bibi hubungi tuan Yuda duluh. Begitu pesan beliau.” Jelas bi Tuti. “Maaf bu saya harus pergi dan tolong jangan beri tahu tuan anda.” Seru Dinda sembari menyeka air matanya. “Ta tapi non..” Tanpa ingin mendengar ucapan bi Tuti lagi Dinda segera pergi meninggalkan apartment Yuda. Bi Tuti yang kebingunganpun segera menghubungi Yuda untuk memberitahukan bahwa Dinda sudah pergi meninggalkan apartmentnya. “Halo tuan muda ini bi Tuti.” Seru bi Tuti saat sudah terhubung dengan Yuda. “Halo bi, Dinda sudah bangun?” Tanya Yuda langsung pada intinya. “Su sudah tuan tapi non Dindanya baru saja pergi tidak mau sarapan. Non Dinda juga perginya sambil menangis.” Jelas bi Tuti yang langsung memancing amarah Yuda. Yuda memutuskan sambungan telepon, ia berteriak frustasi. Dinda sangat sulit untuk ditaklukan. Tanpa menunggu lama Yuda langsung menghubungi nomor Dinda, dering pertama masuk tapi tak di angkat. Yuda tidak putus asa kali ini ia mencoba lagi dan sayangnya Dinda sudah mematikan ponselnya. Hal itu membuat Yuda semakin kesal. Yuda mulai kehilangan akal sehatnya, sesegera mungkin Yuda memanggil asisten pribadinya Aris untuk menyiapkan mobil karena ia akan segera mencari Dinda di kos-kosan Dinda sesuai dengan alamat yang Sisil berikan. Dilain tempat Dinda sudah tiba di kos-kosan, ia segera masuk ke kamarnya melepaskan seluruh pakaiannya lalu membersihkan seluruh tubuhnya. Dinda tidak ingin ada bekas sentuhan Yuda yang gtersisa ditubuhnya. Masih dengan tangisan yang sama Dinda terus meratapi nasib buruknya. Cukup lama membersihkan tubuhnya Dindapun segera memakai pakaian. Tiba-tiba saja dia teringat akan Dewa. Dinda mengambil ponselnya untuk menghubungi Dewa karena tadi sebelum ia menonaktifkan ponselnya terdapat beberapa chat dari Dewa kekasihnya. Setelah menghubungi Dewa kembali Dindapun berniat untuk menghubungi Sisil ia meminta Sisil untuk menyampaikan kepada pak Dodi bahwa dirinya sakit dan tidak dapat masuk bekerja selain itu Dinda juga meminta kepada Sisil untuk merahasiakan semua informasi tentangnya kepada siapapun yang bertanay. Sisil cukup heran dengan permintaan Dinda tapi iapun menuruti permintaan Dinda. Dinda yang sangat kelelahan memutuskan untuk kembali beristirahat, siapa tahu setelah bangun perasaannya akan menjadi lebih tenang lagi. Tok.. tok.. tok.. Baru saja Dinda hampir terbawah mimpi ia harus di ganggu lagi oleh suara ketukan pintu. Sebelum membuka pintu Dinda mengintip sedikit dibalik jendela kamarnya. Dan betapa terkejut dirinya saat melihat sosok Yuda dan seorang pria lagi yang tengah berdiri di depan kamarnya. “Dinda…” Terdengar suara baritone yang memanggil namanya, siapa lagi kalau bukan Aryuda Putra Dirk sang CEO muda dengan seribu pesona kakak kandung dari Sadewa Putra Dirk kekasih Dinda yang saat ini belum Dinda ketahui. Kedatangan Yuda membuat penghuni kos putri tersebut menjadi ramai. Para gadis asik berbisik-bisik saat melihat sosok Yuda. Ada sebagian dari mereka yang mengenal sosok Yuda ada juga yang belum mengenal Yuda. “Maaf apa Dinda ada di dalam?” Tanya Yuda kepada salah seorang penghuni kos disamping kamar Dinda. “Kayanya ada deh kak, sejam yang lalu saya dengar suara air kaya orang mandi.” Sahut gadis berponi tersebut. Dinda yang menengar percakapan Yuda dan teman kosnya semakin was-was. Ia sangat takut untuk bertemu Yuda selain itu rasa bencinya kepada Yuda membuatnya enggan untuk bertemu sosok CEO tampan tersebut. “Mau apalagi sih itu orang! Apa dia nggak puas udah hancurin hidupku!” Gumam Dinda, tanpa sadar tetesan bening kembali jatuh dari kelopak mata indah Dinda. “Dinda saya tahu kamu di dalam. Saya ingin bicara sama kamu, tolong buka pintunya. Berkali-kali Yuda mengetuk pintu dan memanggil nama Dinda tapi yang diharapkan tak kunjung keluar. Yuda tidak ingin terlalu memaksakan Dinda ia tahu saat ini Dinda masih butuh waktu, pikirnya. Yuda memutuskan untuk pulang besok ia akan coba kembali lagi untuk bertemu Dinda.Kali ini Yuda sungguh serius dengan ucapannya akan bertanggung jawab, karena ia sudah jatuh hati pada Dinda saat pertama kali menatap wajah gadis polos itu, di tambah lagi saat mengetahui Dinda yang masih suci. Yuda kagum terhadap Dinda saat bekerja di club seperti itu tapi ia masih bisa mempertahankan kesuciannya. Ia yakin Dinda adalah gadis baik pekerja keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN