3. Bertemu

3323 Kata
Hari ini tepat sebulan sudah Dinda tinggal di kos barunya yang dipilihkan oleh Dewa. Ia Juga sudah berhenti dari club malam tempat ia bekerja sebelumnya, hal itu tentu membuat Dewa bahagia. Dengan bantuan Dewa kini Dinda sudah bekerja di sebuah café milik teman Dewa, Dinda di percayakan menjadi penyanyi di café tersebut. Dinda memang memiliki suara yang merdu dan halus sehingga Dewa memberinya jalan agar ia menjadi penyanyi di café dan dibayar seminggu sekali jika dikumpulkan dalam sebulan penghasilannya cukup lumayan. Semenjak kepulangan Yuda dari kos lama Dinda sebulan lalu dengan berat hati Dinda mengambil keputusan untuk pindah dari kos lamanya. Ia meminta bantuan dari Ana sahabatnya dan Dewa. Jujur saja Dewa cukup terkejut dengan keinginan Dinda dan sempat menanyakan alasan kepindahan Dinda, tentu saja Dinda harus berbohong sehingga Dewapun setuju. “Din, aku lihat seminggu belakangan kamu kelihatan pucet banget.” Seru Ana yang sedang asik menikmati makanannya di kantin bersama Dinda. “Nggak tahu kenapa belakangan ini sering banget pusing terus perut juga nggak enak selera makan juga nggak ada.” Jawab Dinda menjelaskan apa yang dialaminya. “Kamu udah ke dokter?” Tanya Ana semakin cemas. “Belum An, kamu tahukan aku sibuk kuliah dan nyanyi.” “Dewa udah tahu belum?” “Dewa juga sempat ngomong kalau aku pucet banget tapi aku nggak enak kalau harus ngerepotin Dewa terus.” “Hmm kamu tuh ya, Dewanya aja nggak apa-apa direpotin sama kamu ini malah kamu yang negative muluh. Oh ya entar malam jadikan kamu makan malam sama keluarga Dewa?” Timpal Ana mulai kepo dengan rencana makan malam Dewa dan Dinda. “Ya jadilah An, tapi aku takut banget sih An.” “Takut kenapasih Din?” “Orang tua Dewa mau nggak ya nerima kedatangan aku? Secara merekan orang kaya dan terpandang An, sedangkan aku Cuma sebatang kara.” Jelas Dinda seraya tertunduk lesuh. “Din please kamu jangan pernah mikir kaya gitu lagi. Kamu layak bahagia dan keluarga Dewa pasti bisa nerima kamu. Dewanya aja baik dan idaman gitu apalagi keluarganya pasti lebih baik lagi.” Seru Ana berusaha meyakinkan sahabatnya yang mulai ragu. Di tempat yang berbeda Aryuda Putra Dirk CEO sejuta pesona sedang frustasi karena sampai hari ini ia tak kunjung menemukan Dinda wanita yang telah mencuri hatinya mengisi seluruh kekosongan jiwanya. Dinda telah menghilang sebulan lamanya, Yuda sudah berusaha mencarinya bahkan menyewa beberapa orang untuk mencari Dinda tapi tak kunjung di temukannya. Sebelum berhenti bekerja Dinda sudah meminta tolong kepada mantan manajernya untuk merahasiakan identitas Dinda dari siapapun dengan senang hati Dodi mengiyakan permintaan Dinda karena alasan yang Dinda berikan cukup masuk akal dan karena Dinda sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. Dinda juga memblokir semua akun sosial media Yuda ia juga mengunci akun sosial media miliknya. Dinda benar-benar waspada berharap tak bertemu lagi dengan pria yang sudah merampas kesuciannya. “Bagaimana Ris? Kamu sudah menemukan Dinda?” Tanya Yuda penuh harap. “Ma maaf tuan orang suruhan saya belum bisa menemukan keberadaan Dinda.” Jawab Aris sedikit gugup, ia takut kali ini akan kena amukan dari bosnya lagi. “Pergi!” Seru Yuda yang terdengar seperti perintah. “Ba baik tuan.” Aris semakin ketakutan tatkala menatap wajah menahan emosi bosnya itu. Aris keluar dari ruangan yang hawanya terasa mencekam. Bisa mati kalau ia tetap berada di dalam sana. Entah sudah berapa kali Aris menjadi sasaran kemarahan Yuda karena tak menemukan sosok Dinda. “Arghh!! Kamu dimana Dinda! Maafin aku! Aku ingin bertanggung jawab sayang.” Teriakan putus asa Yuda terdengar begitu menyakitkan. Untung saja ruangan itu kedap suara. Yuda mengambil ponselnya, ia melihat kembali foto Dinda yang sempat ia kirim secara diam-diam dari ponsel Dinda. Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi ponsel yang msih dipegangnya. Untuk pertama kalinya seorang Aryuda Putra Dirk meneteskan air matanya hanya karena kehilangan seorang gadis kecil yang telah membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama. “Dinda.. aku akan terus mencari kamu dan menjadikan kamu milikmu. Berlarilah sejauh mungkin sebelum aku menemukanmu!” Gumam Yuda dengan sebuah senyuman devil tersungging diwajah tampannya. Hari ini mata kuliah Dinda selesai lebih awal begitupula dengan Dewa. Dewa dengan setia mengantarkan Dinda pulang seperti biasanya. “Kamu mau makan duluh nggak sayang?” Tanya Dewa seraya menggenggam jemari mungil Dinda. “Hm nggak usah kak, Dinda masih kenyang.” Balas Dinda dengan suara khasnya yang manja. “Ya udah kalau nggak mau, oh ya tolong ambilin papper bag di jok belakang dong sayang.” Seru Dewa seraya tetap focus menyetir. Tanpa menunggu Dinda langsung mengambil papper bag yang diminta oleh Dewa kekasihnya. “Nih kak.” Seru Dinda seraya menyodorkan papper bag ke arah Dewa. “Itu buat kamu sayang.” Dewa mengambil papper bag tersebut dan meletakan di atas pangkuan Dinda. “Dibuka sayang.” Titah Dewa lembut. Dindapun membuka papper bag tersebut dengan sedikit rasa penasaran. Didalam papper bag tersebut terdapat dua buah kotak berukuran sedang dan kecil. “Ini apa kak?” Tanya Dinda yang sedikit ragu-ragu. “Ya dibuka aja sayang biar kamu bisa tahu isinya apa.” Dinda mengambil sebuah kotak berukuran sedang dan dibukanya terdapat sebuah gaun berwarna merah maroon dengan model one shoulder tanpa lengan yang panjangnya sampai di mata kaki ditambah belahan panjang sisi kanan sampai di atas lutut. Dinda terpukau melihat indahnya gaun tersebut yg nampak berkilauan. “Kak gaun ini untuk apa?” Tanya Dinda yang sejujurnya memang bingung untuk apa Dewa memberinya gaun itu. “Kamu pakai ini ya sayang buat acara nanti malam.” “Tapi kak gaun ini terlalu mewah, kitakan cuma makan malam biasa, dan juga Dinda malu kak pakai gaun ini.” “Udah pokoknya malam ini kamu harus pakai gaun ini ya sayang. Please please demi aku.” Bujuk Dewa lagi. “Ya udah Dinda pakai ini kak, makasih ya kak.” “Kamu suka nggak?” Tanya Dewa lalu tersenyum menatap Dinda. “Suka banget kak, pasti mahal. Terimakasih yah kak.” “Ia sayang sama-sama, kamu mau pakai baju murah atau mahal dimataku kamu tetap sempurna.” Goda Dewa membuat rona merah di pipi Dinda. “Oh ya tuh ada satu kotak lagi yang belum kamu buka sayang.” “Oh ia, Dinda buka ya kak.” Ijin Dinda yang sudah merasa tak enak hati. “Silahkan sayang.” Dengan hati-hati Dinda mengambil kotak berwarna maroon tersebut lalu dibukanya. Kali ini Dinda sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, meskipun ia bukan dari kalangan sosialita tapi Dinda tahu betul bahwa kotak kecil yang baru saja dilihatnya ini pasti berisi sesuatu yang mahal. Dinda mengambil kotak kecil tersebut dengan hati-hati, sebelum membuka kotak tersebut sekilas Dinda menatap Dewa yang langsung disambut anggukan dari Dewa. “Kak…” Seru Dinda yang sedikit terjeda sesaat setelah membuka kotak tersebut. Betapa terkejut dirinya melihat sebuah kalung berlian dari fr*nk & co dengan liontin love yang ditengahnya terdapat duah buah huruf D. Kalung berlian tersebut sengaja dirancang khusus sesuai permintaan Dewa. Tanpa sadar setetes bulir bening jatuh dari mata indah Dinda. “Itu untukmu sayang.” Dewa tahu bahwa saat ini kekasihnya itu sedang menahan rasa harunya. Dewa langsung menepikan mobil mewahnya lalu memeluk erat tubuh kekasihnya itu. “ Aku pakein yah sayang?” Seru Dewa dan hanya disambut anggukan oleh Dinda yang masih setia menitikan air mata bahagianya. Dengan hati-hati Dewa memakaikan kalung tersebut. Dinda yang terharu sudah tidak dapat menahan tangisnya lagi, suara tangis bergema dalam mobil berwarna hitam tersebut. Dewa mendekap urut tubuh kekasihnya yang bergetar. Bukan Dinda tak bahagia, tapi karena ia merasa bahagia sekaligus merasa tidak pantas diperlakukan layaknya ratu oleh Dewa. Ingatannya kembali tertuju kepada peristiwa satu bulan yang lalu. “Hei sayang kamu kenapa?” Tanya Dewa setelah melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah cantik Dinda dengan kedua tangannya. “Dinda ngerasa nggak pantas diperlakukan dengan baik seperti ini sama kakak.” Seru Dinda sesegukan. “Kamu kenapa bisa ngomong gini sayang? Kamu sangat pantas diperlakukan layaknya ratu sayang.” Sahut Dewa membuat Dinda semakin tak kuasa mengakhiri tangisannya. “Maafin Dinda kak, Dinda cinta sama kakak.” Dinda kembali memeluk erat tubuh kekasihnya. “Nggak ada yang perlu dimaafin sayang, Aku juga sangat mencintai kamu.” Balas Dewa mengusap mesra punggung Dinda yang di tutupi rambut panjang. Keduanya berpelukan menyalurkan seluruh rasa cinta yang memenuhi perasaan masing-masing. Dewa mengakhiri pelukan keduanya dengan mencium lembut bibir mungil kekasihnya. Setengah jam menempuh perjalanan kini Dinda sudah tiba di kosnya. Dinda segera turun, sampai didalam kamar kosnya Dinda memutuskan beristirahat sejam menghilangkan rasa lelah dan pusing yang sudah seminggu ini menggangunya. Setelah beristirahat satu jam Dinda lekas bangun diliriknya jam yang ada di ponselnya menunjukan pukul empat sore. Dinda bergegas untuk mandi karena tepat pukul enam Dewa akan menjemputnya dan makan malam akan mulai jam tujuh. Tok.. tok.. tok.. “Siapasih pas banget baru juga abis mandi udah ada yang datang.” Gumam Dinda yang baru saja keluar dari kamar mandi. Tanpa menunggu Dinda segera membuka pintu kamarnya. “Selamat sore dengan mba Dinda ya?” Sapa salah seorang wanita dewasa yang berdiri di depan pintu kamar Dinda bersama seorang wanita lagi yang nampaknya sedikit lebih muda. “Ia benar, kakak siapa ya?” Tanya Dinda bingung. “Perkenalkan saya MUA yang diminta sama mas Dewa untuk membantu mba Dinda berdandan.” Jelas MUA tersebut. “Tapi kok saya nggak tahu ya?” “Soal itu mba bisa konfirmasi langsung sama mas Dewa. Mengingat waktu kita terbatas bisakan saya langsung mulai merias mba Dinda sekarang?” Karena tak ingin menghalangi pekerjaan MUA tersebut dan mengingat sejam lebih lagi Dewa akan menjemputnya Dindapun langsung mengiakan permintaan sang MUA. “Aneh deh kak Dewa Cuma makan malam biasa aja harus dimake up sama MUA segala.” Gumam Dinda sedikit bingung. Tak butuh waktu lama wajah Dinda sekarang sudah selesai dirias dengan make up yang elegan dan model rambut simple up do. “Wah mba kamu memang sangat cantik, kenapa nggak jadi artis aja mba.” Puji MUA yang terpesona dengan kecantikan Dinda. “Aduh kakak bisa aja deh.” “Bener loh mba cantik banget. Saya yang cewek aja naksir ngelihat mba.” Timpal asisten MUA. Dinda sedikit terkekeh. “Makasih ya mba udah dandanin saya.” Setelah kepergian MUA suruhan Dewa, Dindapun juga ikut keluar menunggu Dewa. Tak lama menunggu Dewapun tiba tepat waktu untuk menjemput Dinda. Dewa yang baru saja turun dari mobil dan melihat penampilan Dinda sungguh terpukau. Gaun pilihannya sangat cocok dengan make up yang menghiasi wajah cantik Dinda. Belahan yang sedikit panjang menampilkan kaki jenjang Dinda menambah kesan seksi. “Sayang kamu cantik banget.” Puji Dewa yang terpukau dengan kecantikan Dinda. “Kak jangan ngelihatin Dinda kaya gitu dong, malu tahu!” Keluh Dinda sedikit risih dengan tatapan kagum Dewa. “Makanya kamunya jangan kelewatan cantik sayang.” Goda Dewa membuat Dinda semakin merona. “Udah ah kak nanti telat tahu. Eh tapi kakak hari ini beda banget.” Puji Dinda yang memang kenyataannya Dewa memang sangat tampan dengan setelan jasnya. “Beda gimana sayang?” “Udah yuk kak entar telat.” Dinda berusaha mengalihkan pembicaraan yang ia tahu ujung-ujungnya Dewa ingin menggodanya. Dewa dan Dinda pergi meninggalkan kosan Dinda. Di tengah perjalanan Dewa sengaja memutar lagu Melamarmu dari Badai agar memecah keheningan. Lagu itu khusus ia persembahkan untuk menunjukan perasaan cintanya kepada Dinda. Dinda yang memang suka bernyanyi tanpa sadar ikut bernyanyi membuat Dewa tersenyum dalam diam. “Sayang kita udah sampai.” Seru Dewa saat mobilnya sudah terparkir rapih di parkiran sebuah hotel mewah bintang lima. “Loh kok kita ke hotel sih kak? Katanya mau makan malam.” Tanya Dinda bingung. “Ia makan malamnya disini sayang.” “Tapi kemarin kakak nggak bilang tuh mau makan malam disini.” “Maaf ya sayang aku nggak kasih tahu sama kamu takutnya kamu nggak mau ikut, sebenarnya malam ini ulang tahun pernikahan papa dan mama, aku ingin ngenalin kamu sama semuanya.” Jelas Dewa membuat Dinda cukup terkejut. “Ya udah kita masuk yuk.” Dewa dan Dinda berjalan beriringan sambil bergandengan memasuki lobi hotel. Keduanya nampak sangat serasi. Begitu banyak mata yang tertuju pada keduanya. Betapa beruntungnya mereka bisa saling memiliki. Begitu banyak tatapan kecemburuan yang senantiasa melihat kemesraan Dewa dan Dinda. “Ma pa..” Sapa Dewa pada kedua orang tuanya tuan Bram dan nyonya Anetta. “Hai sayang daritadi papa sama mama nungguin kamu.” Sahut bu Anetta lalu tersenyum begitupun dengan pak Bram. Sedetik kemudian pandangan keduanya tertuju pada Dinda yang berada dibelakang Dewa. “Sayang, siapa gadis ini?” Tanya Anetta. “Oh ya kenalin ini Dinda pacar Dewa ma pa.” Jawab Dewa lalu mengajak Dinda untuk berkenalan. “Malam om tante, saya Dinda.” Seru Dinda yang sedikit canggung. “Malam Dinda, kamu cantik sekali.” Puji Anetta. “Malam juga Dinda.” Timpal Bram seraya tersenyum hangat. “Sudah berapa lama kalian bersama?” Tanya Anetta mulai kepo. “Bulan ini genap satu tahun ma.” Jawab Dewa tanpa malu. “Wah kamu ya Wa punya pacar cantik selama satu tahun di umpetin terus nggak dikenalin sama orang tua.” Goda Bram tentu saja membuat wajah Dinda memanas. “Yakan Dewa lagi nunggu momen yang tepat pa, dan sekaranglah saatnya.” “Hmm ia papa percaya deh.” “Malam papa mama..” Saat tengah asik mengobrol santai keempatnya dikejutkan oleh suara baritone, suara tersebut terdengar begitu familiar ditelinga Dinda.Seketika tubuh Dinda bergetar kakinya terasa berat untuk berbalik melihat si pemilik suara. “Wah ini nih yang ditunggu-tungguin datang juga.” Seru tuan Bram saat melihat putra pertamanya yang baru saja datang. “Kemana ajasih kamu lama banget, nggak ingat sama papa dan mama lagi yah kamu.” Timpal nyonya Anetta. “Maaf pa ma tadi ada sedikit kecelakaan kecil tapi semuanya udah beres. Ini siapa Wa?” “Oh ya kenalin kak ini cewekku.” Jantung Dinda berdetak semakin cepat tatkalah ia membalikan tubuhnya untuk menatap pemilik suara yang tak asing ditelinganya. Dinda meremas kuat gaunnya dan saat tatapan matanya bertemu dengan pemilik suara baritone tersebut dunia seakan runtuh. Duarr…. Begitupula yang dirasakan Yuda, gadis yang dicintai dan dicarinya selama sebulan ini kini berdiri tepat dihadapannya dan diperkenalkan sebagai kekasih adiknya. Seluruh tubuh Dinda bergetar hebat ingatan tentang kejadian terlarang itu kembali memenuhi isi kepalanya, wajahnya seketika menjadi tegang, berbanding terbalik dengan Yuda yang sepertinya sangat bahagia bisa melihat wajah Dinda lagi meskipun saat ini status Dinda adalah calon adik iparnya. “Sayang kenalin ini kakak aku, namanya kak Yuda.” Seru Dewa memperkenalkan Dinda sontak membuat telinga Yuda sedikit panas. “Sayang, cih!” Gumam Yuda tersenyum devil menatap Dinda. Yuda mengulurkan tangannya dengan santai meskipun hatinya juga sedikit deg-degan. Sedangkan Dinda rasanya ia enggan membiarkan tangannya disentuh oleh pria seperti Yuda. “Sayang nggak apa-apa kak Yuda orangnya baik kok.” Bisik Dewa karena tak melihat respon yang baik dari Dinda. Mendengar perkataan Dewa membuat Dinda tersadar dan segera menerima uluran tangan Yuda. Yuda menggenggam tangan Dinda cukup lama membuat Dinda merasa tak nyaman. “Adik kamu udah ngenalin kekasihnya sama papa dan mama, kamu kapan?” Goda Anetta pada putra sulungnya yang nampak masih nyaman melajang. “Bentar lagi ma, Yuda bakalan ngenalin calon istri Yuda sama papa dan mama.” Seru Yuda yang tentu saja sengaja untuk menggoda Dinda dengan tatapan mata tajam menatap Dinda. “Bener ya kamu jangan bohong.” Sahut tuan Bram yang sedikit ragu dengan putranya itu. “Wah pas ni kalau lo cepatan marriedkan kesempatan gue buat married juga makin cepat kak.” Timpal Dewa seraya merangkul pinggang ramping Dinda sengaja ingin menggoda Dinda. Dinda hanya bisa tersenyum kaku karena merasa kurang nyaman dengan kehadiran Yuda. “Lihat tuh adik kamu udah nggak sabaran pengen cepatan nikahin Dinda, takut di embat sama orang lain.” Goda tuan Bram lagi seraya terkekeh. Kelimanya mengobrol sambil asik menikmati hidangan yang disediakan. Dinda nampak akrab dengan nyonya Anetta begitupun nyonya Anetta yang langsung jatuh hati dengan Dinda. Selain karena parasnya yang cantik tapi karena kepribadian Dinda yang sangat sopan. “Maaf saya permisi ke belakang.” Pamit Dinda yang jujur saja sudah tak kuasa menahan rasa tak nyaman. “Mau aku anterin sayang?” Tawar Dewa. “Nggak usah kak Dinda sendiri aja, kakak lanjutin makan aja.” Tolak Dinda sopan. “Ya udah hati-hati jangan lama yah nanti aku kangen.” Goda Dewa sontak mendapat suitan dari tuan Bram dan nyonya Aneta. “Huh! Dasar lebay!” Gerutu Yuda yang sudah sangat muak dengan kelakuan adiknya yang seperti sengaja memamerkan kemesraan. Dinda segera berjalan menuju toilet, kini perasaannya campur aduk. “Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang. Pria itu!” Lirih Dinda tak terasa air matanya kembali jatuh. Pikirannya kembali membawa ia berkelana pada kenangan pahit yang Yuda ciptakan. “Kamu harus kuat Dinda, kamu harus segera mengakhiri semua ini!” Gumam Dinda seraya menyeka air matanya. Setelah puas melepaskan segala unek-uneknya Dinda memutuskan untuk kembali, sayangnya belum sempat ia masuk kedalam ruangan tempat acara berlangsung sosok pria tampan dengan tubuh atletis sudah lebih duluh menarik tangannya. “Ahh…” Teriak Dinda yang merasa panik menyadari dirinya ditarik dari belakang. “Lepasin! Lepasin aku! Dasar b******k" Teriak Dinda yang menyadari Yudalah yang memeluk tubuhnya dari belakang. Yuda memeluk erat pinggang Dinda dan membawa gadis cantik itu masuk ke sebuah kamar. Plak… Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yuda. Dinda sudah tak sanggup lagi menahan amarahnya sehingga ia berani menampar Yuda. “Kamu! Apa mau kamu! Belum puas kamu hancurin hidup saya!” “Sssttt.. jangan teriak-teriak sayang.” Goda Yuda. “Cihh! Dasar b******n jangan panggil saya seperti itu!” Balas Dinda sangat kasar. “Lantas seperti apa saya harus memanggil wanita yang kesuciannya sudah saya renggut?” Plak… Sekali lagi tamparan keras mendarat dipipi Yuda. Yuda tersenyum kecut. “Tampar lagi ayo! Tampar saya jika itu bisa membuat kamu senang.” “Lepaskan saya! Saya ingin keluar dari sini!” “Jangan buru-buru sayang, aku sangat merindukanmu.” Kali ini Yuda semakin nekat ia memeluk Dinda dengan paksa. “Aku nyariin kamu selama sebulan ini. Kamu nggak tahu betapa aku mencintai kamu.” Timpal Yuda ia mempererat pelukannya membuat Dinda semakin sulit bergerak dan hampir tidak bisa bernafas. “Lepasin! Dasar cowok gila! Nggak punya moral!” Dinda yang berusaha melepaskan pelukan Yuda tiba-tiba saja merasa pusing pandangannya kabur dan tubuhnya langsung melemah dalam dekapan Yuda. Yuda yang menyadari itu segera melepaskan pelukannya. “Dinda kamu kenapa? Bangun sayang.” Seru Yuda mulai panik ia menepuk lembut pipi mulus Dinda tapi taka da pergerakan dari Dinda. Yuda yang kebingunganpun langsung membawa tubuh Dinda keluar dari kamar hotel. Setelah menghubungi Aris untuk menyiapkan mobil Yudapun membawa Dinda ke rumah sakit terdekat. “Tuan inikan wanita yang tuan cari?” Tanya Aris yang tahu sosok gadis yang Yuda gendong. “Ia Ris ini Dinda, nanti baru saya jelaskan sekarang kita bawa dia ke rumah sakit dekat sini.” Jawab Yuda ditengah kepanikannya. Aris mengemudikan mobil sedangkan Yuda dan Dinda berada di jok belakang. Yuda menatap wajah cantik Dinda yang nampak teduh. Takdir seakan mempermainkannya. Ia harus bertemu dengan Dinda disaat seperti sekarang ini dan sebagai calon adik iparnya. Bagaimana mungkin ia bisa menerima ini, gadis yang telah ia renggut paksa kesuciannya adalah calon adik iparnya. Yuda tidak bisa membiarkan ini terjadi, meskipun harus menyakiti hati adiknya ia terpaksa harus melakukan itu. Aris yang sedang sibuk mengemudi sesekali melirik pada tuannya yang sedari tadi nampaknya tak pernah bosan memandangi wajah Dinda. “Maaf tuan apa yang terjadi dengan nona Dinda?” Tanya Aris mulai penasaran. “Saya juga nggak tahu Ris tiba-tiba saja dia pingsan.” Jelas Yuda masih tak melepaskan pandangannya dari Dinda. “Lantas bagaimana tuan bisa bertemu nona Dinda?” Timpal Aris. “Kalau saya jelaskan kamu pasti akan terkejut Ris.” “Maksud tuan?” “Besok akan saya jelaskan Ris, sampai di rumah sakit kamu tolong hubungi Dewa ya beritahu dia Dinda berada di rumah sakit.” Titah Yuda. “Baik tuan.” “Terimakasih Ris, maaf merepotkanmu.” “Sama-sama tuan, itu sudah tugas saya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN