4. Pengakuan

1757 Kata
Kini Dinda sedang berada didalam ruangan UGD, ia sedang diperiksa oleh dokter dan suster. Yuda dan Aris masih setia menunggu Dinda. Tak lama setelah dihubungi oleh Aris, Dewa bersama tuan Bram dan nyonya Anetta tiba di rumah sakit tempat Dinda dirawat. “Kak Dinda mana?” Tanya Dewa yang sangat khawatir. “Dinda masih didalam lagi diperiksa sama dokter.” “Aduh Dinda kenapa ya kok sampai sakit kaya gini.” Gerutu nyonya Anetta yang juga panik. Ia merasa prihatin dengan Dinda apalagi tadi setelah mendengar kisah hidup Dinda yang diceritakan oleh Dewa. “Kak lo kok bisa sama Dinda?” Tanya Dewa yang penasaran. “Tadi gue nggak sengaja ngelihat Dinda pingsan di dekat toilet karena panik gue langsung bawa aja kesini.” Jelas Yuda berbohong. “Kak thanks banget ya. Kalau nggak ada lo gue nggak tahu lagi nasib Dinda gimana.”   Aris yang mendengar percakapan keduanya merasa bingung, ia sangat ingin segera mendapat jawaban atas rasa penasarannya tapi tak mungkin jika ia memaksa bosnya untuk bercerita sekarang yang ada dirinya akan dimarahi habis-habisan.               Tiga puluh menit menunggu diluar, seorang dokter wanita yang nampak sederhana keluar dari ruangan UGD. Buru-buru semuanya menghambur mendekati dokter tersebut.             “Dok gimana keadaan Dinda?” Tanya Dewa.             “Maaf kalau boleh tahu suami dari bu Dinda mana ya?” Tanya dokter tersebut.             “Suami? Maksudnya gimana dok? Saya pacarnya Dinda dok dia belum menikah.” Jelas Dewa nampak bingung begitupun dengan yang lainnya.             “Oh maaf saya pikir nona Dinda sudah menikah.”             “Nggak apa-apa dok, gimana keadaan Dinda?” Seru Dewa sudah tak sabaran.             “Maaf apa saya bisa bicara berdua dengan anda tuan?” Ajak dokter tersebut kepada Dewa.             “Ia bisa dok.”             “Mari ikut saya.” Dewa melangkah mengekori dokter tersebut. Setelah sampai diruangannya Dewa dipersilahkan untuk duduk.             “Gimana keadaan pacar saya dok?”             “Nona Dinda tidak apa-apa tuan, dia hanya kecapaian saja efek dari hamil muda.”   Duar…   Penjelasan dokter tersebut bagaikan petir yang menyambar Dewa.               “Maksud dokter?” Tanya Dewa sekali lagi ingin memastikan bahwa ia tak salah mendengar.             “Nona Dinda sedang mengandung tuan, usia kandungannya sudah memasuki minggu keempat.”             “Nggak mungkin dok! Dokter pasti salah!” Bantah Dewa yang sangat terkejut.             “Saya sudah memastikannya tuan, nona Dinda memang sedang mengandung makanya tadi saya sempat bertanya dimana suaminya.” Timpal dokter tersebut.             “Ba baiklah dok saya permisi.” Pamit Dewa dengan perasaan yang susah ditebak.               Dewa kembali keruangan Dinda dengan langkah gontai. Wajah tampannya sudah dibasahi dengan air mata. Hatinya sungguh hancur setelah mendengar penjelasan dokter. Entah apa yang harus ia lakukakan. Marah ya tentu saja ia sangat kecewa tapi rasa cintanya yang begitu besar membuatnya bimbang harus bagaimana.             “Wa, gimana keadaan Dinda?” Tanya Yuda dan nyonya Anetta kompak. Dewa terdiam dengan tatapan kosong tak mampu menjawab pertanyaan. Bibirnya terasa keluh, tubuhnya lemas tak kuat dengan kenyataan yang di dengar.             “Kamu kenapa Wa?” Tanya tuan Bram yang merasa aneh melihat putranya nampak seperti kebingungan.             “Dinda ma Dinda..” Dewa tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya, dipeluknya erat tubuh wanita yang telah menghadirkannya kedunia ini.             “Dinda kenapa nak?”             “Dinda kenapa Wa?” Timpal Yuda yang juga nampak panik. Tanpa menjawab pertanyaan Dewa segera masuk kedalam ruangan UGD. Yuda, tuan Bram dan nyonya Anettapun turut mengikuti Dewa. Nyonya Anetta tampak cemas melihat Dewa yang terlihat kacau. Dewa sudah berdiri disamping ranjang Dinda, disampingnya ada nyonya Anetta dan tuan Bram sedangkan Yuda berdiri di sisi sebelahnya.             “Sayang apa salah aku? Kenapa sayang?” Tangisan Dewa semakin pecah tatkala memeluk tubuh Dinda yang sedang berbaring. Dinda yang merasa tubuhnya diguncang perlahan membuka matanya.             “Kak Dewa, kakak kenapa?” Tanya Dinda yang baru saja sadar. Dewa tidak sanggup menjawab pertanyaan Dinda ia malah memeluk erat tubuh wanita yang ia cintai.             “Kakak kenapa? Jangan buat Dinda panik kak.” Semua mata saat ini tertuju kepada Dewa, daritadi Dewa tidak menjawab pertanyaan yang mereka berikan. Yuda yang sedaritadi menanti jawaban dari adiknya itu mulai berpikiran yang tidak-tidak.             “Lo kenapa Wa! Jangan buat semua orang panik!” Bentak Yuda yang mulai emosi dengan sikap Dewa yang enggan memberitahu apa yang sebenarnya Dinda alami.             “Yuda kamu apa-apaan! Ini urusan Dewa dan Dinda kita nggak berhak ikut campur. Kalau Dewa nggak ingin memberi tahu kita jangan paksain!” Timpal tuan Bram yang sedikit kesal dengan Yuda yang terlalu ingin ikut campur.   Suasana ruangan itu menjadi tegang. Yuda yang ditegur tuan Bram merasa tidak terima.             “Dewa ayo katakan Dinda kenapa? Kenapa kamu nangis kaya gini?” Bujuk nyonya Anetta. Dewa menarik napasnya berat kemudian menghembuskannya pelan.             “Sayang tolong jawab aku dengan jujur.” Seru Dewa berat dan diangguki Dinda. Perasaan Dinda mulai tidak tenang saat mendengar permintaan Dewa. Sepertinya sesuatu yang buruk sudah terjadi tapi Dinda berusaha bersikap setenang mungkin. Dilirknya sekilas ke arah Yuda dan yang dilirik ternyata sedang menatap tajam ke arah Dinda.             “Siapa yang sudah melakukan ini sama kamu?!” Tanya Dewa menahan amarahnya.             “Maksud kakak?” Dindapun semakin bingung dibuat Dewa begitupun dengan semua yang saat ini tengah berada didalam ruangan tersebut.             “Kamu hamil!” Duar… Perkataan Dewa baru saja terasa seperti panah yang dilepaskan tepat pada jantung Dinda, tak hanya Dinda begitupula Yuda yang jelas mendengar ucapan adiknya.             “Dewa jangan main-main kamu!” Bentak tuan Bram.             “Untuk apa Dewa main-main pa!”             “Ya Tuhan Dinda, siapa yang tega melakukan itu sama kamu?” Timpal nyonya Anetta yang juga tak kalah terkejut. Dinda terdiam tak mampu menjawab pertanyaan Dewa. Air matanya kembali mengalir, apa yang harus ia katakana. Pria yang sudah merampas kesuciannya saat ini berdiri tepat disampingnya.             “Jawab Dinda! Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku! Setahun aku jagain kamu dengan sepenuh hati aku!” Bentak Dewa yang sudah kepalang terluka.             “Kak maafin Dinda, Dinda nggak pernah ngehianatin kakak sama sekali.” Seru Dinda seraya menggenggam kuat jemari Dewa.             “Tapi kenapa ini bisa terjadi Dinda?! Apa salah dan kurang aku!” Dinda terdiam masih belum bisa mencerna semuanya. Tuan Bram dan nyonya Anetta yang menyaksikan itu merasa tak bisa ikut campur.             “Jawab Dinda!” Bentak Dewa membuat Dinda ketakutan.             “Dewa! Lo nggak berhak memperlakukan Dinda dengan kasar!” Seru Yuda yang mulai tersulut emosi melihat Dewa yang semakin tak bisa menahan amarahnya.             “Lebih baik lo diam kak! Lo nggak usah ikut campur ini bukan urusan lo kak! Lo nggak ngerasain ada diposisi gue, gue yang ngejagain Dinda tapi orang lain dengan gampang ngancurin Dinda!”   Deg..   Ucapan Dewa baru saja langsung menembus jantung Yuda.               “Jelas ini urusan gue!”             “Maksud lo apa!” Teriak Dewa penuh amarah.             “Udah udah stop! Kak Dewa dengerin Dinda apapun yang terjadi Dinda nggak pernah ngehianatin kakak sedikitpun, dihati Dinda Cuma ada kak Dewa. Dinda juga nggak ingin semua ini terjadi. Ini sebuah kesalahan yang nggak disengaja kak!” Jelas Dinda yang langsung mendapat pelotototan dari Yuda.             “Ini bukan kesalahan!” Timpal Yuda sukses mencuri seluruh perhatian seisi ruangan.             “Diam kamu!” Bnetak Dinda yang tak ingin mendengar pengakuan dari Yuda.             “Kak ada yang ingin lo jelasin sama gue?” Tanya Dewa yang sudah mengalihkan perhatiannya kepada Yuda.             “Maafin gue Wa, sebenarnya..”             “Diam kamu! Kamu nggak ada hak buat ikut campur!” Bentak Dinda yang benar-benar panik.             “Jangan bilang kalau..” Dewa menggantung ucapannya ia tak sanggup melanjutkannya karena takut dengan kebenarannya.             “Gue yang hamilin Dinda.”   Duar…   Jantung Dewa terasa hampir copot mendengar pengakuan dari kakaknya.               “Nggak kak jangan percaya kak.” Bantah Dinda histeris. Plak…   Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yuda, nyonya Anetta tak habis pikir dengan putra sulungnya itu. Seumur hidupnya ini adalah pertama kali ia menampar putra sulungnya.             “Apa benar yang kak Yuda bilang?” Tanya Dewa yang sudah tak kuasa lagi menahan sesak di dadanya.             “Dinda bisa jelasin kak, ini semua nggak seperti yang kakak bayangin, tolong dengerin penjelasan Dinda kak.” Pinta Dinda dengan suara paraunya.             “Gue yang hamilin Dinda gua yang cinta sama dia, Dinda nggak salah apa-apa. Semua salah gue dan gue bakal bertanggung jawab!” Timpal Yuda memandang lekat wajah Dinda yang terlihat stres. Dinda tertunduk lemas mendengar pengakuan Yuda sedangkan Dewa yang tak dapat menahan kekesaln langsung meninju wajah kakaknya itu. Persetan dengan sikap kurang ajar, Dewa sudah tak perduli lagi.             “b******k lo kak! Tega lo sama gue! Gue tahu lo b***t lo sering mainin banyak cewek diluar sana tapi kenapa harus Dinda cewek yang gue cinta! Kenapa?!” Teriak Dewa penuh amarah.   Tuan Bram dan nyonya Anetta berusaha melerai kedua putra mereka agar terhindar dari pertengkaran sengit. Yuda yang dipukuli hanya bisa terdiam dan menerima ia sadar dalam hal ini dirinyalah yang paling bersalah, ia tak relah jika Dinda harus disalahkan.             “Mama nggak nyangka kamu setega ini sama adik kamu sendiri!”             “Papa nggak pernah ngajarin kamu untuk jadi pria b***t seperti ini Yuda!”             “Maafin gue Wa, gue nggak tahu kalau Dinda ini cewek lo. Gue benar-benar cinta sama Dinda.” Jujur Yuda.             “Diem lo kak! b******k lo! Bisa-bisanya lo bilang cinta sama cewek gue!”             “Tapi sekarang Dinda lagi ngandung anak gue!”   Plak…   Sebuah tamparan keras dilayangkan tuan Bram tepat pada wajah tampan Yuda. Tuan Bram tak habis pikir dengan kelakuan putra sulungnya ini.               “Kamu benar-benar buat papa malu Yuda!”             “Maaf pa, tapi Yuda ingin bertanggung jawab pa.”             “Nggak! Saya nggak akan pernah mau nerima kamu!” Balas Dinda menolak permintaan Yuda secara tegas.   Perawat yang mendengar keributan itu segera datang dan menegur karena kenyamanan pasien lain akan terganggu. Selain itu malam ini juga Dinda sudah dipindahkan ke ruangan rawat inap VIP. Dokter menyarankan agar Dinda bed rest selama tiga hari karena kondisi tubuhnya yang cukup lemah. Setelah cukup lama berdebat akhirnya tuan Bram memutuskan untuk mengajak Yuda pulang karena ia ingin berbicara secara khusus dengan Yuda, hal itu disetujui oleh nyonya Anetta. Sedangkan Dewa masih ingin berada disisi Dinda karena ada banyak hal yang ingin ia ketahui langsung dari mulut Dinda.             “Kak Maafin Dinda udah nggak jujur sama kakak, Dinda takut dan bingung kak.” Lirih Dinda diselah isak tangisnya.             “Jadi ini alasan kamu pindah dari kos lama dan berhenti kerja di club?” Tanya Dewa yang masih tak ingin menatap mata Dinda. Ia tak kuasa bila harus melihat wajah gadis cantik yang sekarang membuatnya terluka. Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Dinda hanya mampu menggangguk tanpa bersuara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN