Setelah mendengar semua pengakuan dan permintaan maaf dari Yuda, tuan Bram tidak
bisa berkata apa-apa lagi. Ia terdiam tak tahu harus apa dan bagaimana. Ia melihat sendiri bagaimana besarnya cinta Dewa kepada Dinda begitupun sebaliknya. Nyonya Anetta yang juga berada di tempat itu tak bisa menahan tangisannya. Mengapa kedua putranya harus terlibat masalah seperti ini. Entahlah keputusan apa yang harus mereka buat.
“Pa ma, tolongin Yuda. Yuda serius cinta sama Dinda, Yuda mau bertanggung jawab. Papa nggak maukan cucu papa lahir kedunia tanpa seorang ayah?” Bujuk Yuda.
“Papa bingung Yuda! Ini bukan masalah sepele! Akan ada yang terluka dengan keputusan ini!”
“Ma please tolongin Yuda ma. Itu cucu mama anak Yuda ma, bagaimanapun Yuda yang paling berhak atas Dinda ma.”
“Kamu bener-bener nggak mikirin perasaan adik kamu Yuda! Kamu lihatkan sekarang akibat perbuatan b***t kamu adik kamu sangat terluka!”
Yuda tertunduk lesu, sepertinya kedua orang tuanya sangat kecewa kepadanya. Tapi tekadnya sudah bulat sesulit apapun rintangannya ia harus bisa memiliki Dinda. Tentang Dewa ia akan berusaha membuat Dewa mengerti. Ya egois memang, cinta membutakan segalanya.
“Pa ma, maaf kalau Yuda lancang. Tapi Yuda akan tetap mempertahankan Dinda dan anak Yuda, Yuda akan mencari cara yang tepat agar Dewa bisa menerima ini. Yuda nggak bisa biarin Dinda sama yang lain!” Tegas Yuda.
“Cukup Yuda! Papa pusing nggak sanggup mikir lagi.”
“Sebaiknya kamu pulang duluh Yud, beri waktu untuk papa dan mama.” Seru Anetta yang juga nampak lelah dengan mata sembabnya.
Yudapun menurut, ia memilih pergi meninggalkan kediaman Dirk. Ia tahu sekarang semuanya masih belum bisa menerima kenyataan yang sesungguhnya. Yuda memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, Aris yang sedaritadi menunggu dimobilpun menurut saja untuk mengantar bosnya kembali ke rumah sakit. Hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil hal itu jelas membuat Aris sedikit merinding. Aura dingin semakin terasa tatkala ia sedikit melirik kepada bosnya. Aris tahu bahwa tadi telah terjadi keributan tapi entah apa yang menyebabkan keributan itu. Setelah lama terdiam Yudapun memulai percakapan berharap mendapat solusi dari asistennya itu.
“Ris apa yang kamu ketahui?”Pertanyaan Yuda tentu saja membuat Aris kebingungan.
“Maksud tuan?”
“Tentang keributan tadi?”
“Maaf tuan, tadi saya memang mendengar sedikit keributan tapi apa penyebabnya saya tidak tahu.” Jawab Aris jujur.
“Saya penyebabnya Ris.” Jawab Yuda lemah.
“Maaf tuan jika saya lancang, memangnya apa yang sudah tuan lakukan?” Tanya Aris sedikit ragu-ragu.
“Dinda itu pacar Dewa, mereka sudah berhubungan selama satu tahun. Tapi sekarang Dinda sedang hamil dan itu bayi saya Ris.”
Terkejut mendengar pengakuan bosnya Aris mendadak mengerem mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Yuda menyadari pengakuannya tentu saja membuat Aris kaget.
“Ma maaf tuan.” Ucap Aris yang juga terkejut dengan apa yang baru saja dirinya lakukan.
“Tidak apa Ris saya tahu kamu terkejut. Saya bingung sekarang harus bagaimana, saya tidak bisa melepaskan Dinda.” Jelas Yuda.
“Semuanya tergantung kepada tuan Dewa dan nona Dinda tuan.” Sahut Aris seraya melanjutkan perjalanan.
“Maksud kamu?”
“Jika nona Dinda dan tuan Dewa memilih mengakhiri hubungan mereka tentu saja peluang tuan besar untuk memiliki nona Dinda, tapi jika tuan Dewa tetap mempertahankan nona Dinda maka semuanya akan sulit untuk tuan.” Jelas Aris.
“Mana bisa seperti itu! Dinda sedang mengandung anak saya apapun yang terjadi saya harus menikahi Dinda.”
Aris terdiam, ia bingung harus menjelaskan bagaimana, ia takut salah dan dimarahi apalagi sekarang mood bosnya itu sedang kacau.
“Apapun yang terjadi Dinda harus saya miliki!”
Aris semakin takut setelah mendengar ucapan terakhir Dewa. Ia tahu betul seperti apa sifat bosnya itu, apa yang diinginkannya pasti harus didapatkannya entah dengan cara apapun.
Aris kembali memarkir mobil diparkiran rumah sakit. Pandangan mata Yuda tak sengaja menangkap sebuah mobil yang dikenalnya. Ya itu mobil Dewa adiknya. Dewa masih berada di rumah sakit tersebut. Yuda memutuskan untuk menunggu di dalam mobil sampai Dewa pergi. Ia belum siap untuk berbicara lagi dengan adiknya, saat ini keadaan masih buruk jika semua sudah cukup tenang barulah ia akan berbicara serius dengan Dewa, yang terpenting sekarang bagaimana harus meyakinkan Dinda agar mau menerimanya, itulah yang Yuda pikirkan.
“Kak maafin Dinda tapi Dinda bisa apa kak? Dinda cuma korban kak.” Jelas Dinda yang masih terus menangis menggenggam erat jemari Dewa. Sedang Dewa hanya tertunduk masih menangisi apa yang saat ini terjadi.
“Kenapa dari awal kamu nggak cerita sama aku? Kamu anggap aku apa Dinda?”
“Maaf kak, Dinda malu! Dinda bingung! Dinda juga takut kakak marah dan ninggalin Dinda, Dinda nggak siap kalau harus kehilangan kakak.” Tangisnya semakin pecah.
“Seandainya kamu ngasih tahu lebih awal aku nggak akan semarah dan sekecewa ini Dinda.”
“Dinda tahu Dinda salah udah nutupin semua ini dari kakak, sekarang apapun keputusan kakak Dinda terima. Dinda tahu Dinda udah nggak pantas untuk kakak. Dinda kotor kak!” Dinda melepaskan tautan tangannya dari Dewa, kali ini ia sudah sangat lelah dan putus asa meyakinkan Dewa.
Dinda sadar terlalu egois bila dirinya masih terus memaksa Dewa harus mengerti dan tetap berada disisinya. Meskipun semua ini terjadi bukan atas kehendaknya tapi tetap saja Dewa terlalu sempurna untuknya yang sudah kotor. Dinda tertunduk lesuh, tetesan air mata jutuh membasahi telapak tangannya yang terbuka. Dewa yang masih bimbang dengan perasaannya langsung memeluk erat tubuh lemah gadis cantik dihadapannya ini. Setelah puas mencurahkan seluruh perasaanya Dewa melepaskan pelukannya lalu beranjak pergi meninggalkan Dinda. Ia tak sanggup jika terus lama-lama menatap Dinda, ia mencintai tapi juga kecewa. Dinda sengaja tak ingin menahan kepergian Dewa, ia tahu saat ini Dewa membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran dan membuat keputusan.
Dewa segera masuk kedalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi, Yuda yang sedari tadi mengawasi Dewa segera turun dan masuk kedalam rumah sakit sedangkan Aris ia biarkan beristirahat di dalam mobil. Saat hendak membuka pintu ruang rawat Dinda, Yuda tak sengaja mendengar suara tangisan yang tentu saja berasal dari Dinda.
“Maafin Dinda kak, Dinda kotor kak!”
Yuda terdiam sejenak dibalik pintu, tangisan Dinda itu terdengar begitu menyakitkan tanpa sadar Yuda sendiri ikut meneteskan air matanya.
Ceklek..
Dinda yang masih larut dalam kesedihannya tidak menyadari suara pintu yang dibuka. Yuda memberanikan diri untuk masuk dan berdiri disamping ranjang Dinda. Dinda masih menundukan kepalanya kedua tangannya ia gunakan untuk menutup wajahnya.
“Dinda nggak akan maksa kakak untuk tetap bertahan sama Dinda, kakak berhak dapatin yang lebih baik dari Dinda.” Seru Dinda yang ditujukan untuk Dewa tapi sepertinya salah alamat karena yang saat ini tengah berdiri dihadapannya adalah Yuda. “Pergi kak! Pergi sejauh yang kakak mau! Tinggalin Dinda sendiri.” Timpal Dinda semakin histeris.
“Dinda..” Suara baritone itu sukses membuat Dinda mengangkat wajahnya.
“Kamu! Pergi!” Seru Dinda sedikit berteriak.
Tentu saja Dinda terkejut saat mendapati Yudalah yang berada dihadapannya saat ini. Meskipun tadi ia berkata membiarkan Dewa pergi tapi itu semua bukan murni dari hatinya, hal itu hanya untuk menutupi kesedihannya, sesungguhnya ia masih berharap Dewa yang berdiri di hadapannya bukan Yuda.
“Dinda, saya tahu kamu tidak ingin melihat saya tapi saya mohon beri saya waktu untuk bicara sama kamu.” Mohon Yuda matanya menatap lekat gadis yang sedang duduk diatas ranjang dihadapannya.
“Apapun yang ingin kamu katakan saya tidak perduli! Pergi!”
“Dinda tolong jangan seperti ini. Oke kalau kamu nggak mau saya ngebahas tentang kita tapi berikan saya kesempatan untuk membahas tentang bayi kita.”
“Cih! Berani sekali kamu berkata seperti ini! Tidak akan pernah ada bayi ini!”
“Dinda kamu boleh membenci saya tapi tolong jangan benci bayi yang tidak berdosa.”
“Apapun yang punya hubungan sama kamu semua patut dibenci bahkan saya membenci diri saya sendiri yang sudah dinodai sama kamu!”
“Dinda!” Yuda mengeraskan rahangnya tatkala mendengar ucapan Dinda yang sangat menyakiti hatinya. Dicengkramnya wajah Dinda dengan telapak tangannya, perbuatannya itu sontak membuat Dinda sedikit meringis kesakitan
“Lepasin! Jangan sentuh saya!”
“Jangan pernah kamu mengatakan hal seperti itu lagi! Tolong berikan rasa sayang kamu untuk calon bayi kita dan rasa hormatmu untuk wanita yang saya cintai!”
“Saya nggak akan pernah menyayangi bayi ini! Bahkan saya nggak ingin dia terlahir kedunia! Dia Cuma sebuah kesalahan yang kamu ciptakan bukan yang saya inginkan dengan cinta!”
Mendengar itu amarah Yuda semakin memuncak. Yuda semakin memperkuat cengkramannya membuat Dinda semakin meringis kesakitan.
“Lepas! b******k kamu!” Seru Dinda menahan sakit.
Yuda segera tersadar dari amarahnya tatkala teriakan Dinda terngiang-ngian ditelinganya, ia melepaskan cengkramannya yang membuat wajah Dinda memerah. Yuda segera memeluk Dinda saat melihat gadis cantik dihadapannya ini merintih kesakitan.
“Maaf sayang maaf.”
“Pergi kamu! Dasar pria b***t! Nggak punya hati!”
“Nggak sayang saya nggak akan pergi, saya masih ingin disini bersama kamu dan anak kita.”
Dinda yang kondisi tubuhnya memang sangat lemah sudah tidak kuat lagi untuk berdebat dengan Yuda, ia hanya pasrah dalam dekapan Yuda. Terlalu lelah untuk terus berteriak.
“Maaf sayang, tolong jangan berkata seperti ini lagi, kamu melukai perasaan saya dengan berkata kasar seperti ini. Saya terima jika kamu membenci dan memaki saya tapi tolong jangan melampiaskan amarahmu kepada bayi kita. Tolong..” Seru Yuda seraya menghujani puncak kepala Dinda dengan kecupan bertubi-tubi.
Dinda sudah terlelap setelah melewati berbagai hal yang menguras emosinya hari ini. Tadi Yuda pergi sejenak meninggalkan Dinda, ia sengaja agar Dinda bisa beristirahat, karena jika ia masih berada di dekat Dinda tentu saja wanita itu tidak akan mau beristirahat hanya akan menangis dan terus marah kepadanya. Setelah Dinda sudah melayang jauh kedalam mimpinya Yuda masuk kembali kedalam kamar Dinda. Ia menatap wajah sendu gadis cantik yang tengah terlelap. Wajahnya pucat dengan mata yang membengkak, hal itu membuat hati Yuda sakit. Semua ini karena salahnya, ia memang pantas dibenci oleh Dinda. Yuda duduk di sebuah kursi yang di letakan di samping ranjang Dinda. Di genggamnya tangan putih Dinda lalu dikecup dengan penuh cinta.
“Aku mencintaimu.” Bisik Yuda.
Setelah puas mencium punggung tangan Dinda, Yuda kembali meletakan telapak tangannya pada perut rata Dinda. Ia mengelus lembut tempat dimana bayinya beristirahat.
“Sayang, maafin papa. Kamu bukanlah kesalahan kamu hadir karena cinta papa untuk mama. Papa akan perjuangkan kamu dan mama. Papa sayang kamu nak.” Yuda mencium perut rata Dinda cukup lama membuat gadis cantik itu sedikit terganggu.
“Kak Dewa maafin Dinda..” Gumam Dinda disela tidurnya sedikit membuat hati Yuda bergetar kecewa, setetes bulir bening jatuh tanpa seijinnya.