6. Bimbang

2057 Kata
Dewa duduk termenung di tepi danau. Suasananya sunyi sepi, maklum saja ini sudah pukul dua belas malam. Saat ini yang Dewa butuh hanyalah ketenangan, ia enggan kembali ke rumah belum siap berbicara dengan kedua orang tuanya. Bimbang itulah yang Dewa rasakan. Dewa sangat mencintai Dinda bahkan saat kenyataan pahit ini terkuak rasa cinta Dewa tak berkurang sedikitpun tapi ia juga hanya manusia biasa. Ia kecewa dan terluka semua tak bisa dijelaskan lewat ucapan. Cintanya untuk Dinda tulus tanpa syarat.             “Tuhan kenapa harus Dinda! Kenapa!” Teriak Dewa ditengah keheningan. Dewa membaringkan tubuhnya di atas rerumputan. Ia sudah berusaha agar tak mengeluarkan air matanya tapi semua percuma. Bayangan Dinda bersama Yuda terus menghantui pikirannya dan membuat hatinya semakin terluka.             “Apa salahku Tuhan? Sakit!!” Teriakan itu terus terulang keluar dari bibir Dewa. Untuk pertama kalinya dalam hidup Dewa ia menangisi seorang wanita, jika bukan karena cintayang tulus Dewa tidak akan mungkin sesakit ini.               Sudah dua hari Dinda dirawat di rumah sakit. Tuan Bram dan nyonya Anetta selalu datang mengunjungi, begitupula dengan Yuda dan Ana sahabat Dinda. Nyonya Anetta sangat perhatian pada Dinda, apapun masalahnya sekarang yang nyonya Anetta pikirkan hanyalah kesehatan Dinda dan calon cucunya. Sedang Dewa sudah dua hari ia tak pulang, orang suruan yang diperintahkan tuan Bram mengatakan bahwa Dewa saat ini sedang menginap disebuah hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit. Dewa memilih beristirahat di hotel karena ia sungguh tidak siap menghadapi semua kenyataan bertemu dengan orang tua dan Yuda kakaknya. Ia juga tidak pergi mengunjungi Dinda karena ia belum siap menatap wajah gadis yang dicintainya itu.   Dewa yang masih terlelap dikejutkan oleh dering ponsel yang sudah berbunyi sedari tadi. Dewa mengambil ponsel di nakas, dilihatnya nama yang tertera “SAYANG”. Melihat nama itu sedikit senyum terukir dibibir Dewa. Tak dipungkiri dirinya memang sangat merinduka Dinda walaupun ada rasa sakit yang masih setia menyelinap dihatinya. Saat hendak menerima panggilan tersebut tiba-tiba saja bayangan Dinda dan Yuda kembali menari-nari dipikirannya. Dewa mengurungkan niatnya ia tak ingin menerima panggilan dari Dinda. Ponsel Dewa masih terus berdering, Dewa sudah tak kuasa lagi ia merindukan Dinda mencintai Dinda ia tak bisa terus berpura-pura menjauhi Dinda.             “Hallo..”Terdengar sahutan diseberang sana sukses membuat Dinda meneteskan air matanya. Sakit, ia merindukan malaikat pelindungnya itu yang selama dua hari tak dilihatnya. Dewa mendengar dengan jelas suara tangisan Dinda diseberang sana dan itu membuatnya terluka. Tanpa meminta persetujuan Dinda ia langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.               “Ana….” Seru Dinda sambil terisak. Dinda menangisi Dewa yang sepertinya sudah sangat membencinya sehingga tak ingin mendengar suaranya.             “Gimana kak Dewa bilang apa?” Dinda menggeleng lalu menangis didalam pelukan sahabatnya yang saat itu tengah datang berkunjung. Ana bisa merasakan betapa sakitnya berada diposisi Dinda hanya dengan mendengar suara tangisannya.             “Din udah dong jangan kaya gini lagi. Sedih aku lihat kamu kaya gini.”             “Aku mati aja Na, aku mau nyusul ayah sama ibu aja.”             “Hei jangan ngomong kaya gitu! Tega kamu ninggalin aku sendiri.” Keduanya berpelukan erat menyalurkan kasih sayang dan penguatan.   Ceklek..   Ditengah suasana yang penuh rasa haru, tiba-tiba saja berdiri sesosok pria yang sudah dua hari ini Dinda rindukan. Ya Dewa, Dewa berdiri tepat di depan kamar Dinda. Sebuah senyuman kerinduan terukir jelas diwajahnya. Tanpa menunggu lama Dewa beranjak dari posisinya menghampiri Dinda yang sedang duduk di atas ranjang menatap tak percaya akan kehadirannya. Dipeluknya erat tubuh Dinda, keduanya berpelukan sembari menangis. Ana yang juga berada disitu tak kuasa menahan tangisnya menyaksikan adegan romantis dihadapannya saat ini. Dewa mengusap lembut punggung Dinda sesekali dikecupnya puncak kepala Dinda rasanya ia tak ingin melepaskan pelukannya. Ia tak sanggup jika harus kehilangan Dinda. Tanpa disadari keduanya, tuan Bram, nyonya Anetta dan Yuda kini tengah berdiri menatap adegan romantis itu. Ana yang sudah tahu akan kehadiran orang tua Dewa dan Yuda memilih diam. Yuda mengepalkan tangannya melihat adegan romantis itu. Tuan Bram melirik sekilas ke arah putra sulungnya itu, ia tahu bagaimana perasaan putranya itu. Tuan Bram menepuk pelan pundak Yuda memberi kekuatan. Bagaimanapun juga Dinda masih kekasih Dewa dan mereka saling mencintai. “Maafin Dinda kak. Dinda egois Dinda takut kehilangan kakak.” Lirih Dinda diselah isak tangisnya dalam pelukan Dewa. “Kamu nggak salah sayang, aku yang salah terlalu mencintai kamu. Jangan tinggalin aku sayang.” Seru Dewa sukses membuat Dinda semakin terhanyut dalam tangisan. Dewa semakin mempererat pelukannya, ia sungguh merindukan gadis kecilnya. Gadis yang telah membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Gadis yang selama satu tahun ini menghiasi hari-harinya dengan ketuluan dan kesederhanaan.             “Ehemm..” Suara deheman Yuda membuyarkan adegan romantis yang baru saja ditampilkan. Nyonya Anetta mencubit pelan lengan putranya itu karena telah mengganggu Dewa dan Dinda yang memang saat itu butuh waktu untuk menyelesaikan masalah mereka. Dewa segera melepaskan pelukannya dan menatap ke sosok yang baru saja mengeluarkan suara. Yuda dan Dewa saling bertatapan secara intens, tatapan penuh kemarahan. Jelas Dewa begitu marah wanita yang dicintainya dinodai oleh kakak kandungnya sendiri. Sedangkan Yuda marah karena merasa cemburu melihat Dewa dan Dinda berpelukan apalagi saat Dinda berkata takut kehilangan Dewa.             “Lo nggak perlu bertanggung jawab sama Dinda, karena gue nggak akan ninggalin Dinda. Gue akan bertanggung jawab atas semua perbuatan b***t lo kak!” Ucap Dewa menahan amarah. Ucapan Dewa sukses membuat emosi Yuda meledak. Yuda mengeraskan rahangnya tangannya terkepal. Sedang tuan Bram dan Nyonya Anetta cukup terkejut dengan apa yang baru saja mereka dengar.             “Lo nggak usah repo-repot bertanggung jawab karena gue nggak akan biarin itu terjadi!” Balas Yuda angkuh.             “Cih! Lo emang b***t kak nggak punya malu! Lo itu Cuma pengganggu yang datang ngerusak kebahagiaan gue sama Dinda!”             “b******k!” Teriak Yuda yang sudah siap melayangkan pukulan ke wajah adiknya itu, untung saja tuan Bram segera menahan Yuda.             “Yuda! Dewa! Cukup! Mama sedih lihat kalian kaya gini!” Bentak bu Anetta yang frustasi.             “Maaf ma.” Seru keduanya kompak. Yuda dan Dewa kompak melayangkan tatapan tajam seperti singa yang ingin menerkam mangsanya.             “Kita kesini buat jengukin Dinda, jadi papa mohon bersikaplah dewasa dan tenang. Dinda butuh istirahat dan ketenangan bukan keributan!” Tambah tuan Bram yang memilih netral tidak memihak kepada siapapun.             “Dinda bisa tenang kalau lo pergi dari sini!” Sindir Dewa pada Yuda. Tentu saja Yuda tak terima dengan ucapan Dewa yang seakan mengusirnya untuk pergi.             “dimanapun istri dan anak gue berada gue juga akan selalu didekat mereka.” Balas Yuda tersenyum Devil yang langsung disambut umpatan oleh Dewa.             “Dinda bukan istri siapa-siapa dia masih jadi cewek gue dan selamanya akan tetap jadi milik gue!” Balas Dewa tegas.             “Oh ya? Kita lihat aja nanti siapa yang lebih pantas buat dampingin Dinda.”             “Yang pasti itu bukan lo! Lo b***t nggak pantas buat Dinda yang selama ini udah susah pay ague jagain!”             “Udah! Cukup ya, mama pusing! Ingat Dinda butuh istirahat dan ketenangan! Mama nggak mau cucu mama kenapa-kenapa gara-gara kalian berdua!”   Deg…   Jantung Dinda serasa dipompa begitu cepat mendengar ucapan nyonya Anetta.             “Cucu..” Gumam Dinda masih tak percaya bahwa saat ini ada satu nyawa yang hidup didalamnya. Ana yang tahu suasana diruangan itu semakin mencekam memutuskan untuk pamit pulang, ia tak mau ikut campur terlalu dalam dengan urusan keluarga tuan Bram, ia cukup tahu diri.             “Dinda gimana keadaan kamu sayang?” Tanya nyonya Anetta perhatian seraya mengelus lembut punggung Dinda. Dewa dan tuan Bram berdiri disamping ranjang Dinda berhadapan dengan nyonya Anetta sedang Yuda berdiri tepat di ujung ranjang otomatis leluasa menatap tepat pada wajah cantik dihadapannya.             “Sa saya baik tante.” Jawab Dinda gugup.             “Jangan panggil tante dong, mulai sekarang panggil mama ya sayang.” Pinta nyonya Anetta seraya tersenyum penuh ketulusan.             “Ia nak, mulai sekarang belajarlah memanggil kami papa dan mama sama seperti Yuda dan Dewa.”             “Ta tapi om…”             “Udah nggak ada tapi-tapian, ini perintah loh!” Timpal nyonya Anetta sedikit berguyon. Dinda tersenyum canggung, ia sungguh bingung dengan keadaannya saat ini. Sedari tadi ia selalu berusha menghindari tatapan mata Yuda yang tak pernah lepas darinya.             “Bagaimana keadaan bayi kita?” Tanya Yuda sontak memancing amarah Dewa.  Entah apa yang dipikirkan Yuda sampai ia bisa bertanya seperti itu dihadapan Dewa. Dinda terdiam enggan menjawab, tatapan matanya langsung beralih kearah Dewa seolah memberi isyarat. Suasana kembali menjadi canggung.             “Salah ya saya bertanya seperti ini? Apa seorang ayah tidak boleh bertanya tentang keadaan calon anaknya?” Kembali Yuda membuat suasana semakin memanas.             “Kami baik.” Jawab Dinda singkat, ia tak ingin ada keributan lagi lebih baik jawab saja agar Yuda tak bertanya lagi. Yuda tersenyum merasa puas seraya melirik Dewa dengan tatapan devilnya. Dewa mengepalkan tangannya menahan emosi.             “Baguslah. Jagalah anak kita baik-baik.” Yuda kembali berucap tentu saja semakin menyakiti hati Dewa.   Dewa yang kepalang emosi tak tahan lagi dan memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut.             “Kak Dewa..” Cegah Dinda tapi tak dihiraukan Dewa. Dinda kembali menetskan air matanya.             “Dasar nggak punya hati!” Gumam Dinda yang ditujukan untuk Yuda. Tuan Bram dan nyonya Anetta tak bisa berbuat apa-apa, mereka juga sudah sangat lelah menangani kedua putra mereka yang sama-sama keras kepala. Awalnya Yuda ingin berbicara baik-baik dengan Dewa meminta pengertian tapi karena adegan penuh cinta yang ia saksikan tadi seketika membuyarkan semua rencana awalnya dan berubah menjadi perang dingin.             “Dinda, papa sama mama balik duluh ya. Papa masih ada kerjaan di kantor, kamu nggak apa-apakan kami tinggal?”             “I ia pa nggak apa-apa.” Jawab Dinda ragu, jujur saja ia tak ingin ditinggalkan hanya berdua saja dengan pria dihadapannya ini, takut itulah yang masih ia rasakan.             “Jangan lupa diminum susunya terus makan buahnya ya sengaja udah mama kupas dan potongin dari rumah. Besok kamu juga udah boleh pulang tadi Yuda udah ketemu juga sama dokternya.” Jelas bu Anetta.               Setelah kepergian pasangan suami istri tersebut, Yuda merubah posisinya. Kini Yuda sudah berdiri tepat disamping Dinda. Ia ingin menggenggam tangan Dinda tapi dengan cepat ditepis oleh Dinda.             “Saya ingin sendiri!”Ketus Dinda tanpa ingin menatap Yuda.             “Saya ingin menemani calon ibu dari bayi saya!” Perkataan Yuda sukses membuat Dinda terdiam tak mampu berkata apapun.             “Saya tahu kamu mencintai Dewa adik saya tapi jangan lupa kamu akan menjadi seorang ibu kamu tentu harus lebih mencintai anak kamu dibandingkan pria lain yang statusnya masih pacar saja!”             “Maksud kamu apa?” Tanya Dinda dengan wajah datarnya.             “Apa kamu mau anakmu terlahir tanpa seorang ayah disisinya?”             “Kak Dewa sudah berjanji dia akan bertanggung jawab menutupi semua perbuatan b***t kamu!”             “Kamu pikir bisa?” Ucap Yuda seraya tersenyum kecut. “Jika sampai itu terjadi, kamu akan menjadi seorang wanita yang sangat egois! Demi keegoisanmu kamu rela mengorbankan kebahagian orang lain hanya karena kamu takut kehilangan!” Kata-kata Yuda terasa perih didengarkan oleh Dinda, Yuda seolah ingin memberitahu bahwa Dinda sudah tak pantas untuk Dewa, dan Dewa berhak untuk mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Dinda.             “Kak Dewa melakukan itu karena dia mencintai saya! Kami saling mencintai.” Ucapan terakhir Dinda terus terngiang ditelinga Yuda membuatnya kesal.             “Dewa saja rela melakukan itu demi cintanya sama kamu tapi kenapa kamu tega kepada Dewa? Kalau kamu benar-benar mencintai adik saya seharusnya kamu bisa merelakannya untuk mendapatkan kebahagiaan sejatinya bukannya malah bertanggung jawab atas apa yang tidak dilakukannya.”             “Cukup!” Tetesan bening kembali membasahi wajah pucat Dinda. Yuda menyadari bahwa ucapannya memang menyakiti hati Dinda tapi terpaksa ia lakukan demi bisa memiliki Dinda.             “Kamu yang membuat saya menjadi nggak pantas untuk kak Dewa!”             “Kamu akan pantas bila bersama saya, pikirkanlah! Kalau kamu benar-benar mencintai Dewa ikhlaskanlah Dewa dia berhak menemukan kebahagiaannya bukan menanggung beban untukmu.” Tangis Dinda semakin tak terkontrol, Yuda juga sakit harus membuat air mata kembali jatuh diwajah Dinda tapi semua ia lakukan karena dirinya sendiri tak akan sanggup kehilangan Dinda.             “Baiklah saya akan kembali ke kantor. Kamu istirahatlah besok kita akan pulang.” Ucap Yuda mengusap lembut punggung Dinda lalu beranjak pergi. Perkataan Yuda terus terngiang-ngiang dalam pikiran Dinda, entah apa yang harus ia lakukan sekarang. Sungguh melelahkan, ia butuh tempat untuk bersandar.             “Ayah ibu.. hiks.. hiks..”             “Maafkan aku sayang.” Gumam Yuda yang ternyata masih berada didepan kamar Dinda, ia mendengar dengan jelas suara isakan tangis Dinda yang sedari awal disebabkan oleh dirinya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN