Ana membantu Dinda mengemas barangnya, hari ini Dinda sudah diijinkan untuk pulang
tapi dengan syarat harus tetap menjaga kondisinya dengan istirahat dan makan makanan yang bergizi. Yuda yang sudah tiba di rumah sakit segera membayar tagihan administrasi. Hari ini Dewa tidak bisa menjemput Dinda, sudah dua hari ia absen kuliah dan hari ini sedang ada kuis, Dinda sendiri yang tak ingin merepotkan Dewa. Dewa sudah terlalu banyak berkorban untuknya hingga melupakan kebahagiaan diri sendiri.
“Kamu balik kemana Din?” Tanya Ana yang sedang memasukan baju-baju Dinda kedalam tas.
“Balik ke kosanlah Na.” Jawab Dinda seraya menyisir rambut hitam panjangnya.
“Kita akan kembali ke rumah.” Sahut Yuda yang tiba-tiba saja sudah berada di depan pintu kamar Dinda membuat kedua sahabat itu terkejut.
“Saya punya tempat tinggal.”
“Mulai sekarang kamu tanggung jawab saya!” Bantah Yuda membuat Dinda terdiam.
Ana melirik Dinda sekilas dengan tampang bingungnya, Kedua sahabat itu saling bertatapan kebingungan harus apa.
“Sudah semuanya?” Tanya Yuda sedikit tersenyum.
“Eh su sudah kak.” Jawab Ana gelagapan.
“Ya sudah kamu sekalian ikut biar saya anter pulang sekalian.”
“Enggak usah kak saya naik taxi aja, duluhan ya kak.” Pamit Ana terburu-buru meninggalkan Dinda sendiri. Ana cukup takut bila berhadapan langsung dengan Yuda yang notabene pria dingin dan angkuh.
“Temen kamu aneh! Dibantuin malah nolak.” Seru Yuda basa-basi mengusir kecanggungan di antara keduanya. “Ayo pulang, Aris udah tungguin di lobi.” Ajak Yuda hendak menggandeng tangan Dinda.
“Saya bisa balik sendiri, terimakasih untuk tawarannya.” Dinda lekas mengambil tas hitam miliknya hendak melangkah pergi tapi segera dicegah oleh Yuda.
“Saya hanya ingin melakukan kewajiban saya sebagai calon ayah, apa itu salah? Nggak masalah jika kamu belum bisa menerima saya. Tapi biarkan saya melakukan ini demi bayi kita.”
Dinda menghentikan langkahnya, diam itulah yang ia lakukan sampai Yuda menggandeng tangannya dan pergi meninggalkan kamar serba putih yang ditempati Dinda selama tiga hari. Dinda enggan membantah lagi, ia lelah untuk berdebat.
Aris melajukan mobil mewah milik Yuda dengan kecepatan sedang. Sesekali Yuda melirik kea rah Dinda yang duduk begitu berjauhan darinya seperti cicak yang sedang menempel di dinding seperti itulah posisi duduk Dinda yang menempel pada pintu mobil. Aris melirik sekilas ke arah bosnya kemudian secara diam-diam tersenyum mengejek.
“Aris!” Tegur Yuda sontak membuat Aris kelabakan.
“I ia tuan maaf!” Lekas Aris minta maaf ia sudah tahu jika bosnya itu menyadari tingkah konyolnya.
“Mau makan duluh?” Tanya Yuda lembut.
“Saya mau langsung pulang saja. Oh ya kak Aris ini alamat kos-kosan saya.” Seru Dinda seraya memberi sepotong kertas kepada Aris tapi segar dirampas oleh Yuda yang kemudian meremas dan membuangnya keluar.
“Langsung pulang ke rumah papa ya Ris.” Titah Yuda.
“Baik tuan!” Patuh Aris.
Dinda menatap Yuda penuh kekesalan, Yuda menyadari itu dan berbalik menatap Dinda yang langsung membuat nyali Dinda menciut dan membuang pandangannya ke sembarang arah.
“Saya hanya ingin calon bayi saya hidup layak.” Seru Yuda menatap lurus kedepan.
Dinda enggan menyahuti tampangnya sudah uring-uringan.
“Mama nyiapin acara kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan menantu dan cucunya.”
“Saya nggak minta!”
“Berarti kamu mengakui dong kalau kamu menantu keluarga Dirk?”
“Siapa yang bilang saya mengakui?!”
“Barusan kamu bilang kamu nggak minta, kan saya bilang buat nyambut menantu sama cucunya kenapa kamu sewot?” Goda Yuda seraya tersenyum mengejek.
“Udah saya cape mau istirahat!”
Dinda memejamkan matanya, ia semakin kesal karena digoda oleh Yuda sementara Yuda dan Aris kompak senyum-senyum tidak jelas.
“Ris nanti kalau udah markirin mobil langsung masuk ya, kita makan duluh mama udah masak banyak.” Ajak Yuda saat mobil mewahnya memasuki pekarangan rumah bak istana keluarga Dirk.
Dinda yang awalnya hanya ingin berpura-pura tidur untuk menghindari Yuda malah benaran ketiduran.
“Din.. Dinda” Panggil Yuda seraya menepuk lembut pipi gadis cantik dihadapannya.
Dinda yang tertidur pulas tak terganggu sekalipun dengan panggilan Yuda, ia benar-benar merasa lelah. Perjalanan dari rumah sakit menuju kediaman Dirk memakan waktu satu jam membuat Dinda merasa mengantuk.
“Cantik banget ya bos nona Dinda, tuan Dewa emang nggak salah pilih.” Celetuk Aris langsung mendapat pelototan dari Yuda.
Tanpa menunggu persetujuan Dinda, Yuda langsung menggendong tubuh Dinda dan segera membawanya masuk. Sayangnya belum juga sampai di dalam rumah kesadaran Dindapun terkumpul. Betapa terkejut dirinya saat melihat dirinya tengah berada didalam gendongan Yuda. Dinda memberontak membuat Yuda segera menurunkan tubuh Dinda dari dalam gendongannya.
“Ngapain kamu gendong saya!” Bentak Dinda tak terima.
“Kita udah sampai tapi kamu nyenyak banget tidurnya dan saya nggak tega buat..”
“Udah nggak usah banyak alasan! Ini dimana?” Tanya Dinda yang langsung memotong ucapan Yuda tak ingin mendengar penjelasan Yuda yang menurutnya hanya sebuah kebohongan.
“Kita di rumah, mama udah nungguin didalam.” Seru Yuda kemudian langsung masuk karena masih kesal dengan Dinda yang selalu menganggapnya buruk.
Dinda masih terdiam di depan pintu sampai tiba-tiba kedatangan Aris mengejutkannya.
“Nona Dinda nggak masuk?” Tanya Aris sopan.
“Saya mau pulang aja!” Balas Dinda sedikit ketus.
“Jangan dong nona, kasihan nyonya udah siapin ini semua dari semalam.”
Dinda terdiam mendengar ucapan Aris.
“Ya udah kak, kita masuk sama-sama aja. Saya nggak enak mau masuk kedalam, lagian ini bukan kos-kosan saya.”
Keduanya masuk bersamaan dan langsung disambut oleh sang pemilik rumah, Yuda terlihat kesal karena Dinda lebih memilih masuk bersama Aris asistennya dibandingkan dirinya.
“Ris bulan ini bonus kamu saya potong!”
“Loh kok gitu tuan? Salah saya apa?”
“Pikir sendiri!” Jawab Yuda ketus.
Nyonya Anetta langsung memeluk erat tubuh Dinda, ia sangat bahagia karena Dinda mau ikut bersama Yuda, awalnya ia rasa mustahil Dinda akan ikut bersama Yuda tapi setelah melihat kedatangan Dinda perasaan cemasnya seketika menghilang.
“Mama senang kamu mau pulang ke rumah ini.” Seru nyonya Anetta tanpa sadar meneteskan air mata membuat Dinda merasa sedikit bersalah karena sedari tadi ia terus menolak untuk ikut bersama Yuda.
“Papa juga senang nak, dengan begini kamu lebih bisa terurus.” Timpal tuan Bram tersenyum ramah.
Kata terurus sedikit membuat Dinda tersentuh. Dia tersenyum ramah menanggapi ucapan pasangan suami istri itu.
“Ya udah ya pegel berdiri kelamaan, kita langsung makan siang aja. Udah mama siapin.” Seru nyonya Anetta seraya merangkul lengan Dinda.
“Eh maaf tan eh mama, Dinda mau nungguin kak Dewa pulang duluh.” Tolak Dinda sopan.
Seketika rahang Yuda mengeras, Dinda selalu memprioritaskan Dewa tanpa memikirkan perasaannya. Terluka, ya itulah yang dirasakannya saat Dinda selalu memikirkan Dewa sementara Dinda tak pernah berusaha menerima kehadirannya. Tuan Bram menyadari perubahan raut wajah putranya, ia lekas menepuk pelan pundak Yuda seraya tersenyum.
“Ya udah nggak apa-apa, mama juga hampir lupa. Kita duduk duluh yuk sambil nonton.” Ajak nyonya Anetta.
“Kamu yang sabar. Posisi kamu memang sulit Yud papa nggak bisa banyak bantu kamu.” Seru tuan Bram menguatkanketika tinggal mereka berdua saja.
Satu jam menunggu akhirnya yang ditunggupun tiba. Dewa memasuki kediamannya dengan langkah gontai. Ia nampak lelah. Maklum saja karena masalah yang menimpanya saat ini ia tak bisa tidur dengan nyenyak makanpun tak teratur membuat bobot tubuhnya sedikit menurun. Kantung mata menghitam dengan bola mata yang sedikit memerah.
“Ni yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.” Seru tuan Bram menyadarkan Dewa dari lamunannya.
Saat menengadakan wajahnya Dewa sangat terkejut mendapati sosok kekasihnya yang sedang duduk dengan sopan tengah tersenyum ke arahnya.
“Sayang kamu kok bisa disini?” Tanya Dewa seraya mendekati Dinda, jangan ditanya lagi reaksi Yuda telinganya sudah keluar asap, suasana kembali menegang.
“Mulai hari ini Dinda akan tinggal disini Wa, biar lebih aman aja papa dan mama juga bisa lebih tenang.” Jelas tuan Bram.
“Bagus dong pa biar aku bisa lebih ketat lagi ngejagain Dinda dari orang b***t!” Sindir Dewa langsung mendapat pelototan dari Yuda.
Sejujurnya Dewa cukup was-was dengan kehadiran Dinda dikediamannya, ia takut jika kakaknya itu sedang menyiapkan rencana untuk merebut Dinda darinya.
“Udah-udah! Mending kita makan sekarang nanti makanannya keburu dingin.” Ajak nyonya Anetta.
Semuanya sudah mengambil posisi di meja makan, Dinda berada di antara Dewa dan Yuda hal itu membuat Dinda merasa tak nyaman tapi enggan ia utarakan. Apalagi saat Dewa dan Yuda sama-sama berusaha menunjukan perhatian mereka.
“Oh Tuhan tolong hilangkan hambaMu ini.” Gumam Dinda frustasi.
“Sayang, kamu mau rendangnya nggak? Enak loh rendang buatan mama.” Tanya Dewa membuat suasana terasa panas untuk Yuda.
“Makasih ya kak tapi ini aja udah cukup kok.” Balas Dinda tersenyum.
Yuda tersenyum mengejek membuat Dewa kesal, berbagai umpatan Dewa keluarkan dalam hatinya.
Semuanya makan dengan tenang. Aris yang tengah asik menyantap makanan lezat dihadapannya sesekali melirik ke arah bosnya dan juga Dewa.