Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang akhirnya Dinda bisa beristirahat dengan
tenang dikamarnya. Tadi setelah selesai makan siang dan menikmati cemilan sore ada sedikit keributan yang membuat Dinda sangat lelah. Nyonya Anetta dan tuan Bram sudah menyiapkan sebuah kamar khusus untuk Dinda yang berada disebelah kamar keduanya. Mereka sengaja menempatkan Dinda berdekatan dengan keduanya agar menghindari kericuan antara Yuda dan Dewa selain itu agar nyonya Anetta bisa merasa lebih tenang saat bisa mengontrol penuh aktivitas Dinda. Tapi sayangnya ide kedua orang tua itu dibantah oleh Yuda dan Dewa. Yuda tak ingin berjauhan dari Dinda tapi Dinda tak ingin berdekatan dengannya, sedangkan Dewapun begitu ingin berdekatan dengan Dinda tapi status keduanya hanya sebatas kekasih bukan pasangan suami dan istri jelas saja tak diijinkan oleh tuan Bram dan nyonya Anetta. Keputusan terakhir yang di ambil kamar Dinda berada ditengah antara kamar Yuda dan Dewa yang berada di lantai dua kediaman Dirk. Awalnya kamar itu milik Yuda tapi agar lebih adil tuan Bram memindahkan Yuda ke kamar disebelahnya agar Dinda berada ditengah-tengah.
“Ya Tuhan aku lelah. Sampai kapan akan terus begini.” Gumam Dinda seraya duduk ditepi ranjang.
Dinda merasa tak sanggup lagi berada dalam situasi seperti ini, ia terdiam sejenak coba merenungkan langkah apa yang harus ia ambil agar keadaan lekas membaik atau mungkin semakin memburuk. Dinda memutuskan untuk menghubungi Ana untuk meminta saran dari sahabatnya itu.
Diraihnya ponsel yang masih berada dalam mini backpacknya yang merupakan pemberian dari Dewa. Lekas ia mencari nomor Ana kemudian menghubungi sahabatnya itu. Tepat di dering kedua sambungan terhubung.
“Halo Din..”
“Halo Na, kamu lagi apa?”
“Aku lagi nonton drakor ni, kamu lagi apa? Gimana keadaan kamu? Aman?” Tanya Ana penasaran.
“Hmm, kalau soal aman jelas aku aman Na, tapi sekarang aku benar-benar bingung Na! Aku lelah!” Keluh Dinda seraya menghembuskan napasnya.
“Aku udah bisa nebak sih apayang terjadi sama kamu sekarang. Kamu yang sabar ya.”
“Menurut kamu aku harus gimana Na?”
“Din kamu serius mau dengar saran dari aku?” Tanya Ana memastikan.
“Ia Na bantuin aku, aku bener-bener lelah Na. rasanya ingin menghilang saja!”
“Din kamu harus segera memilih di antara kak Yuda dan kak Dewa.
“Kamu pasti tahukan siapa yang akan aku pilih dan sudah kupilih, tapi masalahnya sat ini pria gila itu tidak mau melepaskanku!”
“Din aku ingin kamu memilih bukan hanya untuk perasaanmu saja tapi pertimbangkan juga bayimu saat ini dan kak Dewa.”
“Maksud kamu Na?” Tanya Dinda bingung.
Ana menarik napasnya sebentar menjeda ucapannya.
“Kelak bayimu akan membutuhkan sosok seorang ayah meskipun kak Dewa bersedia bertanggung jawab tetap saja akan terasa berbeda Din karena ayah dari bayi itu masih hidup dan ada didekatmu. Kak Dewa mencintai kamu setulus hati dan selalu menjaga kamu Din aku tahu kak Dewa belum pernah menyentuhmu sejauh kak Yuda menyentuhmu. Apa kamu bisa tahan menjadi adik ipar dari pria yang memberimu anak? Apa kamu yakin kamu sanggup?Jika aku jadi kamu Din aku nggak akan egois karena rasa takut kehilangan.” Jelas Ana panjang lebar.
“Jadi kamu ingin aku memilih Yuda?!” Seru Dinda mulai kesal.
“Bukan begitu Din. Maksud aku kak Dewa masih bisa menemukan kebahagian lainnya tanpa harus bersama kamu. Apa kamu tega melihat dia menanggung apa yang tidak diperbuatnya? Aku yakin Din perasaan kak Dewa sampai saat ini masih sangat hancur sekalipun kak Dewa tetap mempertahankanmu tapi rasa sakit seumur hidup akan terus menghantuinya. Kelak rasa sakit kak Dewa akan menghilang saat ia sudah menemukan kekasih sejatinya.”
Dinda terdiam mencerna setiap ucapan yang dikeluarkan Ana sahabatnya. Bulir-bulir bening sudah menggenang dimata indahnya.
“Halo Din, kamu dengar akukan?” Tanya Ana yang tidak mendapat jawaban sama sekali dari Dinda. “Kamu marah Din?”
“Eh so sorry Na, nggak kok aku nggak marah. Makasih ya na, aku istirahat duluh.”
Dinda membenamkan wajahnya perkataan Ana terus terngiang. Sudah saatnya Dinda mengambil keputusan. Ia tahu sekarang apa yang harus ia lakukan. Tentu aka nada hati yang terluka tapi ia percaya seiring berjalannya waktu luka itu bisa disembuhkan. Sudah satu jam Dinda berusaha memejamkan matanya berharap ia bisa tertidur dengan nyenyak tapi usahanya sia-sia. Dinda membuka jendela kamarnya, kamar itu dilengkapi dengan balkon yang cukup luas. Udara malam itu sangat dingin. Dinda duduk pada sebuah kursi yang ada di balkon itu sembari memangku sebuah gitar. Tadi saat hendak ke kamar mandi Dinda tidak sengaja menemukan sebuah gitar yang terletak rapih di atas sofa di ruangan walk-in closet milik Yuda. Karena ia begitu rindu dengan pekerjaannya sebagai penyanyi café, Dinda memutuskan untuk bernyanyi sambil memetik gitar di balkon. Dilirknya jam sudah pukul sebelas malam, pastilah semua sudah tertidur pikirnya.
Dinda memainkan sebuah lagu lawas berjudul Masih ada-Warna. Duluh saat kedua orang tuanya masih ada mereka sering berkumpul bersama untuk sekedar bercerita atau bernyanyi. Ibu Dinda memiliki suara yang merdu dan diturunkan pada Dinda sedangkan ayah Dinda sangat jago bermain music gitar, piano dan drum. Lagu masih ada sering dinyanyikan oleh ibunya karena pernah menjadi soundtrack salah satu sinetron kesukaan ibunya.
Dinda mulai memetik gitar yang bunyinya sangat bagus. Ia lantas mengeluarkan suara merdunya mengisi keheningan malam. Sementara itu disebelah kamarnya Yuda juga tak bisa terlelap. Ia terus memikirkan Dinda, ingin rasanya ia pergi menemui Dinda. Lain halnya dengan Dewa yang kini tengah terlelap karena jujur saja tubuhnya sangat lemah ia butuh istirahat yang cukup untuk saat ini.
Yuda yang tengah asik melamun tiba-tiba saja terkejut saat mendengar suara nyanyian dan petikan gitar yang begitu merdu. Pikirannya tertuju pada Dinda.
“Haruskah kuteteskan air mata di pipi, haruskah kucurahkan s’gala isi di hati, oh haruskah kau ku peluk dan tak kulepas lagi agar tiada pernah ada kata berpisah”
Sepenggal lirik yang begitu menyentuh hati. Yuda tak tahan lagi ia segera keluar menuju balkon dan benar saja matanya mendapati sosok Dinda yang tengah asik bernyanyi dengan merduya sehingga menyentuh hati para pendengarnya. Yuda sengaja tak menyapa Dinda, ia ingin membiarkan Dinda menyelesaikan nyanyiannya. Rasa kagum semakin bertambah tatkala mengetahui talenta yang dimiliki Dinda. Selain berparas cantik dan ayu suaranya juga begitu merdu.
“Sungguh sempurna ciptaanMu Tuhan.” Gumam Yuda seraya tersenyum menatap Dinda.
Spontan Yuda bertepuk tangan saat Dinda mengakhiri nyanyiannya. Dinda yang baru saja tersadar akan kehadiran Yuda nampak salah tingkah.
“Terimakasih untuk konser yang begitu indah.” Seru Yuda memecah keheningan di antara keduanya.
Dinda terlihat gugup, pipinya merona saat dipuji seperti itu.
“Betapa beruntungnya anak saya akan terlahir dari ibu seperti kamu, kelak suaranya pasti akan semerdu suaramu Dinda.” Goda Yuda menatap lekat wajah Dinda.
“Terimakasih.” Ucap Dinda tertunduk malu.
Deg…
Jantung Yuda serasa dipompa dengan cepatnya saat mendengar ucapan terimakasih dari Dinda. Untuk pertama kalinya Dinda tak berkata kasar kepadanya. Dan yang lebih mengejutkan lagi Dinda memberikan sedikit senyuman untuk Yuda meskipun senyuman itu terkesan dipaksakan. Detak jantung Yuda semakin tak terkontrol rona kebahagiaan nampak jelas terlihat pada wajah tegasnya.
“Maaf saya permisi.” Seru Dinda lalu beranjak pergi.
Yuda mengangguk tapi tak dilihat oleh Dinda. Yuda memutuskan untuk masuk juga kedalam kamarnya, ia terus tersenyum. Betapa bahagianya mendapat senyuman dari Dinda. Mala mini Yuda akan tidur dengan nyenyak dan bermimpi indah.
Dinda yang sudah terbiasa bangun pagi segera turun kelantai bawa. Ia memutuskan untuk membantu para asisten untuk menyiapkan sarapan. Pagi ini Dinda memutuskan untuk masuk kuliah setelah beberapa hari absen.
“Selamat pagi bi.” Sapa Dinda kepada dua orang wanita paruh baya yang sedang sibuk dengan urusan dapur.
“Pa pagi non.” Jawab keduanya cukup terkejut mendapati Dinda yang menyapa mereka.
“Non butuh sesuatu?” Tanya bi Ina ART yang paling senior dikediaman Dirk.
Dinda menggeleng.
“Ada yang bisa saya bantu bi?” Tanya Dinda membuat keduanya terkejut.
Bagaimana tidak terkejut ini baru pukul lima pagi, dan Dinda sudah berada di dapur dengan penampilannya yang bersih hendak ingin membantu.
“Kok diem bi?” Tanya Dinda seraya tersenyum.
“Bukan apa-apa ya non, inikan masih pagi banget non istirahat aja udah tugas kami buat nyiapin sarapan.” Tolak bi Ina.
“Bi, saya Cuma pengen bantu. Saya udah biasa bi bangun pagi dan melakukan pekerjaan rumah. Boleh ya bi?” Pinta Dinda memasang tampang memelasnya.
Bi Ina dan bi Sari terdiam sejenak saling menatap lalu mengangguk pasrah.
“Makasih ya bi.” Seru Dinda senang.
Selesai dengan urusan dapur Dinda kembali ke kamarnya untuk mandi. Dilirknya jam dinakas menunjukan pukul setengah tujuh, Dinda lekas mandi dan bersiap setelah itu ia turun kembali ke lantai bawah hendak membantu menata makanan di atas meja.
“Selamat pagi sayang.” Sapa nyonya Anetta saat melihat Dinda yang tengah sibuk menyusun makan di atas meja.
“Selamat pagi ma.” Balas Dinda sedikit canggung.
“Kamu kok udah rapih sih jam segini?” Tanya nyonya Anetta.
“Eh gini ma Dinda mau masuk kuliah jam sembilan, nggak enak juga udah absen beberapa hari banyak yang tertinggal ma.” Jelas Dinda sedikit gugup.
“Apa nggak sebaiknya kamu ngambil cuti aja sayang?” Sahut nyonya Anetta yang memang menginginkan Dinda untuk cuti sampai melahirkan.
“Nggak usah deh ma, nanti kalau emang udah waktunya Dinda pasti bakalan ngambil cuti.” Jawab Dinda tertunduk.
“Ya udah kalau emang itu mau kamu.”
Semua sudah berkumpul di meja makan, seperti biasa Dinda berada diantara keduanya. Sarapan saat ini nampak lebih tenang dan hening. Yuda tidak menimbulkan kekacauan apapun begitupun Dewa, tapi tetap saja Dewa selalu menunjukan perhatiannya. Dinda sedikit canggung.
“Pa hari ini Dinda masuk kuliah.” Seru nyonya Anetta saat selesai menyantap makanan dihadapannya.
“Bener Din?” Tanya tuan Bram.
Dinda mengangguk tersenyum.
“Apa nggak sebaiknya kamu cuti aja?”
“Ia pa Yuda setuju, sebaiknya kamu cuti demi kesehatan bayi kita.” Tak ada niatan Yuda untuk memancing emosi Dewa saat berucap seperti itu hanya saja ia memang mencemaskan keadaan bayinya.
“Nggak apa-apa pa, Dinda jenuh kalau Cuma di rumah. Nanti kalau udah nggak kuat lagi Dinda pasti ngambil cuti.” Jelas Dinda di angguki tuan Bram.
“Tapikan..”
“Udah Yud nggak apa-apa daripada Dindanya stress Cuma di rumah seharian.” Potong tuan Bram sebelum Yuda menyelesaikan ucapannya.
“Ya udah sayang kita berangkat, sejam lagi kamu masukkan?” Ahak Dewa yang memang sudah hafal jam mata kuliah Dinda.
Yuda berusaha sekeras mungkin menahan amarahnya agar tidak mengacaukan suasana hatinya yang dari semalam sedang berbunga-bunga. Dinda mengangguk setuju lalu berpamitan kepada tuan Bram dan nyonya Anetta. Saat hendak melangkah meninggalkan ruang makan, Yuda dengan cepat menarik pergelangan tangan Dinda hingga membuat Dinda sedikit bergerak. Dinda menghentikan langkahnya begitupula Dewa yang hendak mengeluarkan amarahnya.
“Lo apa-apaan kak main nar…”
Dewa tak sempat lagi menyelesaikan ucapannya tatkala mendapati Yuda seperti dengan sengaja menarik Dinda lalu mencium kening gadis itu dengan santainya. Tuan Bram dan nyonya Anettapun ikut terkejut dengan aksi Yuda.
“Hati-hati, ingat kamu membawa bayiku.” Seru Yuda setelah melepaskan kecupannya lalu mengusap perut Dinda yang masih rata.
Dinda terdiam membisu tak dapat berkata apa-apa, bibirnya keluh tubuhnya kaku mendapat perlakuan manis secara spontas dihadapan banyak orang.
“Gila ya lo!” Teriak Dewa tapi tak dihiraukan oleh Yuda, pria tampan itu berlalu pergi begitu saja menimbulkan kekesalan untuk Dewa.