Seminggu telah berlalu, Dinda belum juga memberi keputusan yang tepat siapa yang akan
ia pilih untuk mendampinginya. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan kuliah, setelah itu malam ia lanjut bekerja sebagai penyanyi café seperti biasanya. Tuan Bram dan nyonya Anetta sudah meminta Dinda untuk tidak bekerja tapi dengan berbagai alasan Dinda menolak permintaan dari tuan Bram dan nyonya Anetta. Ia tak mau terlalu sering merepotkan keluarga Dirk, apalagi ia belum menjadi menantu keluarga tersebut. Sudah dikasih tempat tinggal yang nyaman dan makan enak setiap hari ia sudah sangat bersyukur. Bahkan Yuda dan Dewa sempat memberinya sebuah kartu debit dan kredit sekaligus untuk ia gunakan memenuhi keperluannya tapi dengan tegas Dinda menolak itu semua, ia tak ingin menjadi beban bagi siapapun. Baginya penghasilan bernyanyinya sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Di kampusnya juga belum ada yang mengetahui tentang kabar kehamilannya selain Ana sahabatnya dan beberapa dosen kenalan tuan Bram yang memang sengaja tuan Bram beri tahu agar bisa mengawasi dan menjaga Dinda.
Beberapa hari ini nampak Dinda sedikit memberi jarak kepada Dewa, semua itu ia lakukan agar muda baginya mengambil keputusan yang tepat untuk dirinya dan juga bayinya. Malam ini Dinda tengah bekerja, tadi ia di jemput oleh Ana, hari ini Ana menemani Dinda bekerja sesuai permintaan Dewa yang tengah pergi keluar kota mengikuti kegiatan kampus. Bukan Dewa tak merasa Dinda seperti memberi jarak kepadanya tapi ia tak perduli baginya apapun yang terjadi ia yang akan bertanggung jawab dan menikahi Dinda. Bahkan Dewa sendiri sudah sering membahas pernikahan dengan Dinda tapi selalu ada saja cara Dinda untuk menghindar.
Ana duduk menyaksikan Dinda bernyanyi dari kejauhan sembari menikmati hidangan café tersebut. Banyak pengunjung yang ikut bernyanyi bersama Dinda. Mala mini Dinda membawakan tiga lagu “Jangan Berhenti Mencintaiku-Titi DJ, My Everything-Glen Fredly dan Kasih Putih-Glen Fredly”. Para pengunjung begitu menikmati alunan music dan suara merdu Dinda, semuanya dibuat terpukau. Dengan wajah cantik dan suaranya yang merdu Dinda mampu menghipnotis para kaum adam yang datang. Tanpa disadari sedari tadi Yuda juga ikut menikmati persembahan manis dari Dinda bersama para pemain band café tersebut. Ini sudah kali ketiga ia diam-diam mengikuti Dinda bekerja, ia hanya ingin melihat bagaimana kondisi tempat kerja wanita yang tengah mengandung itu. Tempatnya nampak nyaman, bersih dan kekinian. Yuda terus tersenyum sambil bernyanyi dengan suara yang hampir tak terdengar. Malam ini Yuda sengaja mengajak Aris agar tak terlihat menyedihkan jika sendirian seperti malam-malam sebelumnya.
“Ternyata selain cantik suara nona Dinda sangat merdu ya.” Puji Aris yang terkagum-kagum melihat penampilan Dinda yang semakin memukau saat bernyanyi.
“Beruntungnya saya bisa memiliki Dinda.” Timpal Yuda yang masih fokus dengan Dinda.
“Wah nona Dinda sudah menentukan pilihannya tuan?” Tanya Aris penasaran.
“Belum! Tapi saya yakin dia akan memilih saya.”
“Apa yang membuat tuan begitu yakin?” Sifat cerewet Aris pelan-pelan mulai terlihat.
“Karena kami akan segera memilik anak.” Jawab Yuda santai dan Aris hanya mengangguk-angguk mengerti. “Kamu masih mau nambah makan nggak Ris?” Tanya Yuda.
“Boleh tuan?” Tanya Aris sungkan.
“Bolehlah Ris, kamukan sudah bersedia menemani saya jadi kamu boleh pesan apa saja yang kamu mau.”
Aris tersenyum sumringah dan langsung memesan makanan dan minuman ronde kedua.
Yuda sengaja tidak mengajak David sahabatnya karena ia tahu David juga mengagumi Dinda sejak saat pertama bertemu namun sayang setelah pertemuan di club David tidak pernah bertemu dengan Dinda lagi, bahkan David sempat meminta alamat kos-kosan Dinda pada Sisil tapi tak didapatnya. David juga belum mengetahui tentang Dinda dan Yuda, jika ia tahu bisa terjadi perang dunia antara keduanya.
Setelah selesai bernyanyi Dinda lekas mengunjungi Ana yang tengah asik dengan makanannya.
“Woi… enak bener ya yang lagi makan.” Goda Dinda membuat Ana cengengesan.
“Nih udah aku pesenin buat kamu, makan yang banyak biar ponakan aku sehat.” Seru Ana seraya menyodorkan sepiring nasi goring special yang khusus dipesannya untuk Dinda.
Keduanya makan dengan lahap, pemandangan itu tak pernah luput dari perhatian Yuda.
“Dinda..” Sapa Yuda yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Dinda membuat Dinda menyemburkan jus melon yang baru diminumnya, untung saja tak mengenai Ana.
Dinda cukup terkejut dengan kehadiran Yuda sehingga membuatnya hanya bisa menatap Yuda dengan tatapan terkejut.
“Maaf yah buat kamu kaget. Aku Cuma mau mastiin kamu bekerja dengan aman.” Seru Yuda langsung mengambil posisi duduk disamping Dinda yang masih kosong.
Ana tersenyum mengejek ke arah Dinda, ia tahu sahabatnya itu sedang merasa gugup karena kehadiran Yuda, ini adalah kesempatan baginya untuk menggoda Dinda.
“Kak Yuda udah makan?” Tanya Ana basa-basi mengusir kecanggungan di antara mereka bertiga.
“Udah barusan sama Aris.” Jawab Yuda ramah.
Ana mengangguk sedangkan Dinda terdiam membisu.
“Din, are you oke?” Tanya Ana lalu tersenyum mengoda.
“O oke kok!” Jawab Dinda gelagapan seraya menatap tajam kea rah Ana sahabatnya. Dinda tahu bahwa saat ini Ana tengah menggodanya.
“Jam berapa pulang?” Tanya Yuda.
“Ya seperti biasa.” Jawab Dinda sealakadarnya.
“Biasanya jam berapa? Saya nggak tahu kan kamu nggak pernah kasih tahu sama saya.” Seru Yuda memancing Dinda untuk mengobrol.
“Biasanya jam sebelas tapi sekarang jam sepuluh soalnya kak Dewa yang minta langsung sama bos.”
“Oh.. ya udah kamu pulang sama saya. Saya nggak tenang kalau ninggalin ibu dari calon anak saya pulang sendirian.”
“Saya pulang bareng Ana kok nggak sendirian.” Tolak Dinda.
“Aduh sorry Din, perut aku sakit banget kayanya nggak bisa deh anterin kamu. Aku balik duluhan ya.” Timpal Ana penuh kebohongan.
Ana sengaja ingin memberi waktu kepada Yuda dan Dinda, ia tahu Yuda begitu sulit untuk bisa menunjukan perhatiannya kepada Dinda dikarenakan Dewa yang tak pernah terpisah dari Dinda. Bukan maksud Ana lebih berpihak pada Yuda, tapi ia ingin Dinda mengambil keputusan terbaik agar kelak ia tak menyesal. Ana sungguh merasa prihatin kepada Dewa, tapi bagi Ana jalan masih panjang Dewa pasti akan mendapatkan kebahagiaannya sendiri meskipun tak bersama Dinda daripada harus menanggung sesuatu yang tak diperbuatnya, Ana percaya hati kecil Dewapun sebenarnya tak sanggup menerima itu. Dewa sosok pria yang baik pasti akan memiliki akhir yang baik, anggap saja saat ini Tuhan sedang mengujinya agar semakin dekat lagi padaNya.
Yuda dan Dinda sudah berada di dalam mobil, Yuda mengemudikan mobil dengan kecepatan sehingga terasa begitu lama. Aris sendiri sudah pulang untung saja tadi ia membawa mobil pribadinya. Suasana terasa hening, Yuda sengaja tak memutar musik agar lebih leluasa mengobrol dengan Dinda.
“Sejak kapan kamu suka bernyanyi?” Tanya Yuda memecah keheningan di antara keduanya.
“Saya nggak tahu pastinya kapan, tapi kata ibu saat saya berusia tiga tahun saya sering minta ayah buat main musik dan saya yang menyanyi.” Jelas Dinda sembari menerawang kenangan masa lalu bersama kedua orang tuanya.
“Pantas saja kamu sudah punya bakat dari kecil.” Puji Yuda.
“Bakat saya diturunkan dari ayah dan ibu.” Tambah Dinda.
“Ibumu pasti sangat bangga memiliki putri yang luar biasa seperti kamu.”
“Tapi saya sudah membuat ayah dan ibu kecewa,.” Sanggah Dinda jelas saja menusuk untuk Yuda.
“Maaf.” Satu kata penyesalan itu lolos dari bibir penuh Yuda.
“Sudahlah.” Balas Dinda tak bersemangat.
Dinda menatap keluar jendela mobil, dilihatnya jalanan yang masih sangat ramai dipenuhi lampu kendaraan. Pikirannya kembali mengingat tentang kejadian pahit yang menimpanya. Rasanya ingin memutar balikan waktu tapi apalah daya semua sudah terjadi, nasi sudah menjadi bubur. Ingin menyalahkan keadaan tapi ia sadar bahwa hari ini semua yang telah terjadi padanya semua atas kehendak dan seijin Tuhan. Yang harus ia lakukan sekarang adalah ikhlas menerima dan menjalani sesuai dengan apa yang sudah Tuhan gariskan.
Kembali pikirannya melayang memikirkan Dewa, ini adalah saat yang tepat pikirnya. Dinda tak ingin semakin lama mengulur waktu yang hanya berujung semakin melukai hati siapapun. Ia sudah siap untuk terluka, itu sudah nasibnya.
“Dinda..” Seru uda menyadarkan Dinda dari lamunannya.
“Eh ia..” Jawab Dinda sedikit terkejut.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Yuda.
Dinda terdiam tak menjawab, ia menundukan wajahnya.
“Ada apa? Kamu bisa berbagi kepada saya.” Tanya Yuda kali ini tangannya dengan sadar menyentuh dagu Dinda lalu sedikit mengangkatnya.
“Dinda, apa nggak ada sedikitpun tempat dihati kamu untuk saya?”
Deg..
Jantung Dinda terasa seperti sedang berlomba.
“Saya sedang berusaha menyelipkan sedikit rasa untuk kak Yuda.” Jawab Dinda lalu kembali menunduk.
Yuda cukup terkejut mendengar jawaban Dinda. Ini untuk pertama kalinya Dinda memanggilnya dengan sebutan KAK dan mengatakan sesuatu yang membuat Yuda terbang tinggi. Yuda segera memberhentikan mobilnya, ia sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Dinda, saya nggak salah dengarkan?” Tanya Yuda memastikan sembari tersenyum.
Dinda mengangguk pelan.
“Apa kamu akan memberi saya kesempatan?” Tanya Yuda lagi.
“Semua ini demi dia.” Jawab Dinda lalu menyentuh perutnya yang masih rata.
Tanpa sadar Yuda meneteskan air mata, ya air mata bahagia. Penantian panjangnya akan menjadi kenyataan.
“Terimakasih Dinda. Saya tahu kamu belum mencinta saya, saya akan sabar menunggu tapi yang perlu kamu tahu bahwa saya sudah mencintai kamu sejak pertama kali melihatmu.”
“Tapi saya bingung! Saya nggak ingin melukai kak Dewa, jujur cinta untuk kak Dewa masih begitu besar.” Seru Dinda jujur.
Yuda terdiam sejenak mendengar kejujuran dari Dinda, sakit rasanya tapi ia berusaha mengerti.
“Saya tahu, saya nggak akan memaksa kamu untuk berhenti mencintai Dewa. Biarkan waktu yang mengatur segalanya.” Tutur Yuda.
“Saya takut akan melukai hati kak Dewa.”
“Biarkan saya yang akan menjelaskannya kepada Dewa, saya yakin Dewa akan mengerti. Dia sangat mencintai kamu dan pasti akan mengerti.”
Dinda bingung harus berkata apa, ia terdiam. Yuda yang sangat bahagia dengan keputusan Dinda spontan memeluk erat tubuh Dinda. Tak kuasa lagi menahan segala beban dihatinya Dinda meneteskan air matanya. Seluruh pengorbanan Dewa terus membayanginya. Apakah ini keputusan yang tepat, pikirnya. Tangis Dinda makin dalam, Yuda tahu itu ia makin mempererat pelukannya menguatkan Dinda.
“Maaf Dinda, maafkan saya. Kamu terluka seperti ini karena keegoisan saya dan maaf untuk terlalu mencintaimu.” Gumam Yuda.
Yuda mengecup puncak kepala Dinda mengakhiri pelukannya.