10. Tuhan Tolong

1678 Kata
Tiga hari berada diluar kota membuat Dewa sangat merindukan Dinda. Setelah memarkir mobil mewah miliknya Dewa bergegas masuk. Sudah pukul empat sore, ia tahu bahwa Dinda pasti sudah kembali dari kampus. Dengan langkah terburu-buru Dewa menaiki anak tangga.             “Eh sayang, baru tiba ya?” Sapa nyonya Anetta yang tak sengaja berpapasan dengan Dewa.             “Ia ma, capek banget! Dewa ke atas duluh ya ma mau ketemu Dinda udah kangen.”             “Emm, Wa..” Seru nyonya Anetta menghentikan langkah kaki Dewa. Dewa berbalik menatap ke arah wanita paruh baya yang berdiri diujung anak tangga.             “Ada apa ma?”             “Dinda lagi keluar sama kakakmu.”             “Keluar?! Kemana ma?” Tanya Dewa terkejut, wajahnya yang ramah seketika menjadi menegang.             “Itu sayang mereka ke dokter buat chek kandungan Dinda. Tadi pulang kuliah Dinda tiba-tiba ngeluh katanya perutnya sakit.” Jelas nyonya Anetta, ia tahu sekarang putranya itu sedang kesal.             “Dokter mana ma?” Tanya Dewa tak sabaran.             “Itu dokter kandungan di jalan XX.”             “Ya udah ma Dewa pergi duluh!” Tanpa menunggu persetujuan nyonya Anetta Dewa lekas pergi tak menghiraukan panggilan dari nyonya Anetta seakan enggan untuk merespon. Dewa berlari terburu-buru menuju garasi mobil. Dengan kecepatan tinggi Dewa melajukan mobilnya. Pikiran burukpun menyeruak, ia tak akan membiarka Yuda punya kesempatan berduaan bersama Dinda. Ia tak mau Yuda mencari celah untuk mendekati Dinda. Bukan dirinya tak percaya dengan Dinda hanya saja ia tahu seperti apa kakaknya itu. Jalanan begitu macet membuat Dewa beberapa kali terus membunyikan klakson mobilnya.             “Sial!” Gerutu Dewa.   Sementara itu di tempat yang berbeda, Yuda dan Dinda sedang menunggu resep vitamin yang diberikan oleh dokter. Dua sepuluh menit yang lalu mereka baru saja melakukan USG, betapa bahagianya Yuda saat pertama kali mendengar detak jantung calon anaknya bahkan ia sempat menitikan air mata bahagia, sedikit berbeda dengan Dinda yang masih bingung akan perasaannya saat ini.             “Dinda..” Seru Yuda membuyarkan lamunan Dinda.             “em i ia kak.” Jawab Dinda gelagapan.             “Kamu kenapa?” Tanya Yuda yang merasa bingung dengan sikap Dinda.             “Nggak apa-apa kak.” Jawab Dinda datar.             “Oh ya menurutmu anak kita nanti cowok atau cewek?” Tanya Yuda antusias berusaha membuat Dinda nyaman.             “Cowok dan cewek sama aja kak, asalkan sehat.” Yuda tersenyum menatap Dinda yang bersikap datar.             “Kamu lagi mikirin apa?” Tanya Yuda mulai penasaran.             “Nggak ada, aku cuma lelah aja.” Bohong Dinda. Sekitar dua puluh menit menunggu, seorang suster memanggil nama Dinda, dengan sigap Yuda lekas berdiri dan mengambil vitamin. Setelah itu keduanya keluar dari tempat praktik tersebut. Dengan sengaja Yuda menggenggam jemari Dinda membuat Dinda cukup terkejut.             “Aku Cuma takut kamu jatuh.” Yuda memberikan alasan saat Dinda terkejut dan menatapnya seolah mengatakan bahwa ia tak ingin digandeng. Dinda tak membantah ia hanya pasrah membuat Yuda tersenyum. Dari kejauhan Dewa yang baru turun dari mobilnya tidak sengaja menangkap pemandangan yang membuat matanya perih.             “Dinda..!” Teriak Dewa saat jaraknya sudah cukup dekat sontak Dinda terkejut dan segera melepaskan genggaman tangan Yuda. Yuda yang tak terima tangannya dilepas begitu saja menarik kembali tangan Dinda dan digenggamnya erat membuat Dewa semakin tak bisa mengongrol amarahnya.             “Apa-apaan ini?!” Teriak Dewa penuh amarah. Dinda terdiam ia nampak ketakutan. Sedangkan Yuda menatap Dewa dengan tatapan santai.             “Berbicaralah yang sopan, gue lebih tua dari pada lo!” Tegas Yuda.             “Tapi kelakuan lo nggak sesuai sama umur lo!” Bantah Dewa. “Ayo pulang!” Dengan sedikit kasar Dewa menarik pergelangan tangan Dinda hingga membuat tautan tangan Yuda dan Dinda terlepas.             “Cukup Wa!” Bentak Yuda tak terima.             “Elo yang cukup! Cukup lo ngedekatin Dinda!”             “Lo yang harus berhenti mencintai Dinda!” Balas Yuda.             “Mabuk lo kak!” Sinis Dewa seraya tertawa mengejek membuat Yuda sedikit kesal.             “Lo tanyain langsung sama Dinda, gue nggak mau ribut.” Dewa terdiam sejenak, lalu menatap Dinda dengan tatapan menuntut seolah meminta penjelasan dari gadis cantik yang tengah berdiri dihadapannya.             “Dinda bisa jelasin sama kakak.”             “Dinda!” Teriak Dewa, napasnya memburu. Nampaknya ia sudah tahu apa yang akan Dinda jelaskan. “Pulang sekarang! Aku nggak mau denger apapun dari kamu!” Dewa berusaha agar apapun itu tak perlu dibicarakan, ia tak siap mendengar apapun. Mendapati Dinda dan Yuda pergi ke dokter bersama saja hatinya sudah seperti terbakar apalagi jika harus mendnegar sesuatu yang mungkin saja tak baik baginya.   Dewa sedikit menarik Dinda membuat Yuda refleks menahan satu tangan Dinda.             “Tolong lepaskan kak, biarkan kami menyelesaikan ini.” Pinta Dinda pada Yuda dengan terpaksa Yuda melepaskan tangan Dinda sementara Dewa mulai merasa ada yang tidak wajar dari cara bicara Dinda kepada Yuda. Ia semakin tak ingin mendengar apapun itu.   Dewa membawa Dinda masuk kedalam mobilnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuat Dinda memejamkan matanya menahan rasa takut. Selama satu tahun bersama Dewa tak pernah bersikap seperti ini kepada Dinda. Dinda berusaha melawan rasa takutnya, ia ingin menyelesaikan semua ini, ia tak ingin membuat Dewa semakin terluka, Dinda ingin Dewa bisa menemukan kebahagiaan yang sejati.             “Kak Dewa, dengerin Dinda mau ngomong.” Dewa semakin menaikan laju mobilnya, ia tak ingin mendengar apapun.             “Kak Dewa, please Dinda mau ngomong.”             “Diam!” Bentak Dewa tanpa sadar membuat air mata Dinda menetes. Yuda yang tengah membuntuti mobil Dewa merasa was-was karena ini kali pertamanya melihat adik kandungnya itu bertingkah sekasar itu. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi menimpa keduanya terutama calon bayinya yang tak berdosa.             “Kak, Dinda sayang sama kakak Dinda mau kakak bahagia!” Dinda sedikit meninggikan suaranya ia tak perduli lagi yang terpenting saat ini ia harus membuat semuanya jelas.             “Dan kebahagiaan aku bersama kamu!” Balas Dewa tak kalah keras.             “Bukan Dinda kak, bukan! Dinda bukan yang terbaik untuk kakak, kak Dewa terlalu sempurna untuk Dinda yang udah kotor.” Seru Dinda mulai terisak. Sungguh menyakitkan harus mengucapkan kata yang tak pernah ingin ia ucap tapi saat ini harus ia ucapkan.             “Siapa yang bilang kamu bukan terbaik?!” Bentak Dewa.             “Maafin Dinda kak, Dinda nggak mau egois.”             “Cukup Dinda! Aku nggak mau dengar apa-apa lagi! Aku lelah Dinda!” Dewa membanting setirnya kasar membuat Dinda berteriak ketakutan.             “Kamu nggak ngerasain jadi aku Dinda! Sakit!” Dewa memukul dadanya. “Tapi aku berusaha untuk menerima semuanya dengan ikhlas karena aku cinta sama kamu! Kamu nggak akan pernah ngerti karena kamu bukan aku!” Jelas Dewa iapun menitikan air matanya, Dinda bisa merasakan betapa hancurnya hati Dewa saat ini. Keduanya saling berpandangan menangisi kisah mereka yang tak semulus seperti apa yang diimpikan selama ini.             “Maafin Dinda, Dinda bukan yang terbaik untuk kakak, kak Dewa berhak bahagia dan pantas mendapatkan yang terbaik. Dinda ingin bantu kak Dewa terlepas dari semua rasa sakit ini.”             “Tolong Dinda jangan seperti ini! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu dan kamu tahu itu!” Dinda masih setia dengan tangisannya, ia tak sanggup lagi. Tuhan tolong ini sungguh menyakitkan. Harus membohongi perasaan sendiri di depan orang yang dicintai. Dewa menggenggam erat tangan Dinda.             “Kamu ingatkan aku pernah berjanji akan membuatmu bahagia selamanya, sekarang akan aku buktikan. Ayo kita menikah.” Ajak Dewa penuh keyakinan.             “Tapi Dinda yang nggak bisa buat kakak bahagia, tolong kak jangan siksa diri kakak seperti ini.”             “Ayo kita menikah! Aku akan urus semuanya.” Timpal Dewa tak perduli dengan ucapan Dinda.             “Cukup kak Dinda mohon, jangan terus seperti ini Dinda lelah!”             “Aku juga lelah! Makanya ayo kita segera menikah agar semuanya berakhir!” Bentak Dewa mulai kehilangan akal sehatnya. Dinda yang lelah berdebat hanya bisa menggelengkan kepala ditengah tangisannya tentu saja membuat Dewa semakin terluka.             “Baik kalau itu yang kamu mau! Seperti janji kita diawal hubungan ini suka dan duka akan selalu bersama, lebih baik kita mati bersama!” Dewa sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. Dewa kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan membuat Dinda ketakutan.             “Kak Dewa berhenti Dinda takut!” Teriak Dinda ketakutan. Dewa tak menggubrisnya ia semakin gila hampir saja menabrak beberapa pengendara yang lain. Yuda yang berada dibelakang mobil Dewapun mulai panik, ia berusaha mengejar mobil Dewa.             “Please Wa jangan gila lo!” Gumam Yuda panik. Tak perduli berapa banyak Dinda berteriak memohon, Dewa sudah tak punya semangat hidup ia lebih baik berakhir dengan kematian, pikirnya. Dewa yang mengemudi tanpa konsentrasi tidak menyadari ada seorang akan kecil yang hendak menyebrang, menyadari itu Dinda merampas setir mobil dan membantingnya ke sembarang arah hingga menabrak sebuah pohon besar.   Brukk…               “Dinda…” Teriak Yuda yang berada di belakang mobil Dewa. Yuda panik ia segera berlari turun dari mobilnya, banyak warga yang datang berkerumun. Yuda syok ketika melihat Dewa dan Dinda tak sadarkan diri dengan darah segar keluar dari kepala Dewa dan Dinda, selain itu juga terdapat memar dilengan Dinda.             “Tolong pak bu! tolong telpon ambulan! Tolong istri dan adik saya!” Teriak Yuda panik. Yuda terus berusaha memanggil manggil Dinda dan Dewa tapi taka da respon dari keduanya. Ia semakin takut.             “Dinda bangun Dinda. Ya Tuhan selamatkan istri dan anakku.” Seru Yuda. “Wa bangun Wa!” Lima belas menit menunggu dua buah ambulan tiba dilokasi kecelakaan. Sepanjang perjalanan Yuda tak henti menitikan air mata, ia begitu takut hal buruk terjadi. Tak lupa ia segera menghubungi kedua orang tuanya. Setibanya di rumah sakit dokter langsung memeriksa keadaan Dewa dan Dinda, sementara Yuda duduk menunggu hasilnya.             “Yuda…” Panggil nyonya Anetta yang baru saja tiba bersama suaminya.             “Ma pa..” Yuda langsung menghambur kedalam pelukan nyonya Anetta, Ia terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang merengek kepada ibunya karena minta dibelikan permen.             “Sabar nak, kita berdoa ya.” Bujuk nyonya Anetta.             “Ma Yuda takut, anak Yuda ma.” Untuk pertama kalinya setelah beranjak dewasa Yuda menunjukan sisi lemah dan melownya.             “Ia ia mama tahu, mama juga khawatir, kita serahkan semua sama Tuhan nak. Bagaimana keadaan adik kamu.” Yuda menggeleng membuat nyonya Anetta menangis, tuan Bram segera memeluk istrinya yang tengah menangisi nasib anak dan cucunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN