Tuan Bram beralih pada Yuda yang sedang duduk bersandar dengan wajah sendunya. Yuda
tak bertenaga, setelan jas abu-abunya kotor terkena darah segar Dinda, apalagi kemeja putihnya yang terbalut jas nampaknya sudah tak bisa dibersihkan lagi. Tuan Bram memperhatikan puteranya ibah lalu memilih duduk disamping Yuda.
“Kita harus sabar Yud. Dewa dan Dinda pasti selamat.” Tutur tuan Bram seraya menepuk pundak putranya.
Yuda kembali membayangkan saat dirinya memanggil Dinda dan Dewa tapi keduanya tak sadarkan diri, sehingga ia memutuskan untuk memecahkan kaca mobil Dewa karena mobil terkunci. Tubuhnya bergetar hebat, ia panik dan ketakutan melihat darah yang begitu banyak mengalir. Air matanya kembali menetes, segala pikiran buruk menghantuinya.
“Apa yang terjadi sampai bisa begini?” Tanya tuan Bram seraya melirik sekilas istrinya yang juga sedang duduk dengan tatapan kosong.
“Dewa marah pa sama Yuda.”
“Apa penyebabnya?” Tanya tuan Bram masih belum mengerti.
“Dinda udah buat keputusan pa.”
Tuan Bram menghela napasnya, kini ia tahu apa yang membuat keadaan jadi seperti ini, pastinya Dinda telah membuat keputusan yang membuat Dewa terluka tapi apa boleh buat cepat atau lambat semua ini akan terjadi.
“Kita sama-sama berdoa.” Seru tuan Bram lalu beranjak.
Setelah hampir satu jam menunggu, salah seorang perawat keluar dan memanggil anggota keluarga dari Dewa dan Dinda. Ketiganya masuk kedalam untuk melihat kondisi keduanya. Nampak Dewa tengah duduk di ranjangnya sedangkan Dinda masih terbaring tak sadarkan diri dengan beberapa peralatan medis yang melekat pada tubuhnya. Dewa menatap sendu ke arah gadis cantik yang tengah berbaring tak berdaya. Air matanya jatuh, ia menyesal.
“Dewa..” Seru tuan Bram dan nyonya Anetta kompak.
“Pa ma” Balas Dewa langsung menghambur kedalam pelukan nyony Anetta.
Yuda langsung mengambil posisi di samping ranjang Dinda.
“Semua salah Dewa pa ma. Dewa nggak akan bisa maafin diri Dewa kalau sampai terjadi sesuatu sama Dinda.” Ucapnya seraya menitikan air mata.
“Udah! Jangan salahin diri kamu semua ini udah kehendak yang di atas.” Tuan Bram mencoba menguatkan dan mendapat anggukan dari nyonya Anetta.
Percakapan mereka terhenti ketika seorang datang wanita datang.
“Selamat malam pa bu.”Sapa dokter ramah.
“Malam dok, gimana keadaan anak-anak saya dok?” Seru tuan Bram.
“Untuk mas Dewanya sendiri tidak ada gejala-gejala yang terlalu serius, luka dikepalanya juga sudah kami jahit, jadi hanya perlu beristirahat malam ini besok sudah bisa pulang tapi ingat obatnya dihabiskan ya agar proses pemulihannya lebih cepat.” Jelas dokter tersenyum.
“Lalu dok bagaimana dengan keadaan putri saya?” Timpal nyonya Anetta, Yuda masih setia berdiri disamping ranjang Dinda.
“Ini sungguh mujizat pa bu, bayi di dalam kandungan bu Dinda selamat. Hanya saja keadaan bu Dinda cukup parah karena benturan keras dan luka dikepalanya cukup dalam, juga terdapat memar di beberapa bagian tubuhnya tapi ibu Dinda sudah melewati masa kritisnya tinggal menunggunya sadar.” Jelas dokter tersenyum.
Semua yang berada didalam ruangan tersenyum lega berbeda dengan Dewa yang nampak murung.
“Terimakasih banyak dok sudah menyelamatkan putri kami.” Ucap tuan Bram dan di angguki dokter.
Nyonya Anetta dan tuan Bram memutuskan untuk pulang setelah mengurus administrasi dan kamar inap untuk Dinda dan Dewa. Dewa secara khusus meminta untuk ditempatkan berada di dalam satu kamar bersama Dinda. Yuda juga saat ini sedang pulang untuk berganti pakaian dan mengambil barang-barang Dinda, karena sepertinya Dinda akan menginap lebih lama dibandingkan Dewa. Yuda sudah meminta bantuan Aris agar menunggu di rumah sakit karena ia khawatir jika meninggalkan Dinda sendirian tanpa pengawasan, ia tak bisa mengandalkan Dewa sepenuhnya.
Dewa duduk bersandar menatap Dinda yang belum sadarkan diri. Tak puas hanya memandang ia memutuskan untuk turun dari ranjangnya lalu duduk disamping Dinda. Dipandangi Dinda secara lekat dengan mata sembabnya. Hatinya remuk saat melihat wanita yang ia cintai terbaring lemah melawan maut akibat perbuatannya. Dewa menggenggam tangan lemah Dinda lalu mengecupnya perlahan. Yuda yang baru saja datang tak sengaja menangkap pemandangan haru itu, ia memutuskan untuk tetap berada dibalik pintu.
“Maaf.. maaf sayang. Karena aku kamu jadi seperti ini, aku egois! Kamu harus kuat demi nyawa lain yang membutuhkanmu sayang. Aku memang nggak pantas untukmu aku nggak bisa jagain kamu.” Dewa menjeda sedikit ucapannya, ia menyeka air matanya yang deras mengalir. Yuda yang menyaksikan itupun juga ikut terbawa ia turut menitikan air matanya. Dewa mengusap perut Dinda yang masih rata. “ Maafin om udah buat kamu dan mama menderita, om akan biarin kalian bahagia, om nggak akan egois lagi. Kamu harus jagain mama ya.” Dewa kembali menyeka air matanya. “Kalian berhak bahagia.” Seru Dewa lemah.
Dalam keadaan tak sadarkan diri tiba-tiba saja air mata Dinda menetes, Dewa cukup terkejut melihat itu.
“Aku tahu kamu denger apa yang aku omongin, aku mau kamu bahagia sayang. Aku selalu mencinta kamu Dinda, terimakasih untuk kebahagian yang kamu berikan selama ini.” Dewa mengecup kening Dinda mengakhiri percakapan sepihaknya. Saat ia berbalik Yuda sudah berdiri dihadapannya dengan mata sembab.
Yuda memeluk erat adik laki-lakinya itu, tanpa segan Dewapun membalas pelukan sang kakak. Sudah lama sekali keduanya tidak pernah seintim ini lagi, apalagi semenjak Yuda pinda ke apartment keduanya jarang sekali bertemu.
“Maafin gue kak, gue egois udah jadi penghalang buat kalian berdua.” Seru Dewa.
“Gue yang salah Wa, gue yang udah ngerusak dan jadi penghalang cinta kalian.”
“Lo yang berhak dampingin Dinda kak, anak kalian butuh lo kak butuh ayahnya.”
“Maafin gue Wa, gue bukan kakak yang baik buat lo.” Yuda mempererat pelukannya.
“Jaga dia kak, jagain Dinda biar gue bisa bahagia. Jangan buat dia nangis kak jangan sakitin Dinda. Gue akan bahagia kalau Dinda bahagia. Jagain Dinda dengan segenap jiwa lo kak.” Ucap Dewa rasanya begitu perih ia harus menahan segalanya.
Yuda melepaskan pelukannya, ia memandang adiknya dengan sedikit senyuman dibibirnya.
“Pasti Wa, gue bakal jagain Dinda. Terimakasih karena lo udah mau ngalah Wa.”
Dewa mengangguk seraya tersenyum.
Hari ini Dewa sudah diperbolehkan pulang, tuan Bram dan nyonya Anetta secara khusus menjemput putranya itu sekalian melihat kondisi Dinda. Yuda sengaja tak masuk kerja ia ingin menjaga Dinda yang belum sadar dari semalam.
“Pa Dewa mau lanjutin kuliah di Australia.” Seru Dewa kepada tuan Bram.
“Kamu ada masalah sayang?” Tanya nyonya Anetta yang terkejut atas permintaan puteranya itu.
“Nggak ada ma, Dewa ingin suasana yang baru aja.” Jelas Dewa tenang.
“Terus gimana sama Dinda?” Timpal tuan Bram seperti ingin memastikan sesuatu.
“Dewa yakin kak Yuda bisa jagain Dinda.”
Tuan Bram dan nyonya Anetta tersentak mendengar jawaban Yuda, apakah ini berarti Dewa sudah mengikhlaskan Dinda. Keduanya saling bertatapan.
“Mkasud kamu Wa?”
“Dinda akan lebih bahagia bersama kak Yuda, Dewa yakin semua keputusan Dinda bukan hanya karena dirinya tapi juga karena bayi yang dikandungnya. Dewa akan berusaha mengikhlaskan Dinda walaupun terasa berat.”
Tuan Bram menepuk pelan pundak Yuda dan dibarengi pelukan dari nyonya Anetta.
“Papa bangga Wa sama kamu!” Seru tuan Bram begitu terharu mendengar penuturan Dewa.
“Mama juga bangga banget sama kamu, hatimu luar biasa sayang. Mama percaya kamu akan bahagia.” Nyonya Anetta menjadi mellow ia merasa bersyukur memilik putra seperti Dewa.
“Papa dan mama bantuin Dewa ya.”
Keduanya mengangguk mereka tahu putranya itu membutuhkan waktu untuk melupakan segalanya, maka dari itu mereka menyetujui keinginan Dewa walaupun rasanya cukup berat harus berjauhan dengan putra bungsu keluarga Dirk itu. Tuan Bram lekas menghubungi asistennya untuk mengurus kepindahan Dewa, tidak butuh waktu lama besok pagi Dewa akan berangkat ke Australia, tiket pesawat sudah dibooking oleh asisten tuan Bram dan surat-surat lainnya akan menyusul. Tuan Bram segera mengabari Yuda tentang keputusan Dewa, Yuda cukup terkejut ia sungguh tak tega sebegitu besar pengorbanan adiknya itu untuk dirinya, ia merasa belum menjadi kakak yang baik untuk Dewa.
Dewa masuk kedalam kamarnya, dilirknya foto yang berada di nakas. Ya foto dirinya bersama Dinda. Di dalam foto itu nampak Dewa yang tengah memeluk erat Dinda dari belakang. Dewa mengambil foto tersebut dipandanginya secara intens, ia kembali terisak mengingat semua kenangan indahnya bersama Dinda. Dewa memasuka foto itu kedalam koper yang terdapat beberapa potongan baju yang tadi sempat ia masukan. Dewa beralih ke sebuah lemari, ia mengambil sebuah topi berwarna hitam dengan ukiran huruf D, ya itu adalah pemberian Dinda saat hari kasih sayang, Dewa juga meletakan topi tersebut didalam kopernya, setelah itu ia mengambil satu buah jaket denim dan satu pasang sneakers yang juga pemberian Dinda saat ulang tahun Dewa. Dewa kembali teringat saat Dinda memberinya kado, wajahnya nampak malu-malu. Sungguh rasanya Dewa ingin kembali ke masa itu. Dinda adalah sosok wanita yang begitu sempurna dimata Dewa, kesederhanaannyalah yang membuat Dewa begitu mencintai Dinda.
“Kak Dewa, maaf ya Dinda Cuma bisa ngasih ini karena uang Dinda Cuma cukup buat beliin kak Dewa ini. Ini harganya murah kak nggak seperti barang-barang yang selalu kak Dewa beliin buat Dinda, tapi Dinda harap kak Dewa suka ya?” Itulah kalimat yang Dinda ucapkan saat memberi barang tersebut dengan mata yang terpejam tak berani menatap Dewa. Dewa tersenyum mengingat semuanya, ia bersyukur bisa mengenal dan mencintai gadis polo situ.