12. Jauh

1271 Kata
Yuda masih setia menunggu Dinda tersadar dari tidur panjangnya, sudah dua hari ini ia tak Masuk bekerja. Semu urusan pekerjaan sudah ia serahkan sepenuhnya kepada Aris membuat pekerjaannya semakin banyak tapi apa boleh buat Aris hanyalah bawahan yang harus selalu mematuhi perintah bosnya.             “Sayang, aku kangen.” Bisik Yuda tepat di telinga Dinda. Tak berselang lama nampak jemari tangan Dinda bergerak, Yuda yang menyadari lekas memanggil dokter. Ketika sedang di periksa oleh dokter Dinda membuka matanya perlahan membuat Yuda sangat bahagia. Yuda segera menghubungi kedua orang tuanya, ia juga mengabari Dewa bahwa Dinda sudah sadar. Tuan Bram dan nyonya Anettapun pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Dinda.             “Kak Dewa.” Lirih Dinda saat pertama kali membuka matanya. Senyuman di bibir Yuda seketika memudar tatkala mendengar nama Dewa yang pertama kali Dinda sebut. Bahkan disaat tidur panjangnya Dinda tak pernah berhenti memikirkan Dewa. Yuda mencoba untuk tetap tegar dan tenang meskipun hatinya terluka.             “Dinda..” Seru Yuda menyapa Dinda.             “A aku dimana ini? Kak Dewa mana?” Tanya Dinda berusaha untuk bangun. Yuda menahan pergerakan Dinda dengan cepat, Dinda masih sangat lemah ia tak boleh banyak bicara dan bergerak itu pesan dokter yang baru saja keluar dari ruangan.             “Dinda kamu tenang duluh. Kamu selamat dari kecelakaan itu dan baru saja sadar.”             “Ba bayiku, bayiku bagaimana?” Tanya Dinda panik.             “Bayi kita selamat sayang, Tuhan masih mengijinkan kita untuk memilikinya.” Jelas Yuda seraya mengusap puncak kepala Dinda.             “Kak Dewa? Dimana kak Dewa? Aku mendengar suara kak Dewa, kak Dewa menangis.” Yuda terdiam, ia bingung harus mulai dari mana menjelaskan pada Dinda.             “Dimana kak Dewa?!” Dinda sedikit meninggikan suaranya. “Katakan! Kak Dewa baik-baik sajakan?” Tanya Dinda begitu memaksa.             “Dinda tenang duluh, Dewa baik-baik saja.”             “Lantas mana kak Dewa, aku ingin melihatnya!” Dinda berteriak ia seperti tak percaya dengan perkataan Yuda. Tuan Bram dan nyonya Anetta yang baru saja tiba cukup terkejut mendengar suara teriakan Dinda yang menyebut nama Dewa.             “Dimana kak Dewa?! Aku harus memastikan sendiri kalau kak Dewa aman, aku denger kak Dewa menangis!” Ya tangisan Dewa sehari yang lalu begitu jelas Dinda dengar meskipun matanya tak bisa terbuka.             “Tolong Dinda tenang duluh.” Titah Yuda.             “Ya Tuhan, ada apa ini?” Tanya nyonya Anetta yang baru saja masuk dengan tuan Bram.             “Ini ma, Dinda maksa harus ketemu Dewa.” Tuan Bram dan nyonya Anetta terdiam, mereka bingung harus menjelaskan bagaimana.             “Pa ma.. dimana kak Dewa?” Seru Dinda, ia menangis karena merasa taka da yang bisa membawanya untuk bertemu dengan Dewa.             “Dewa.. Dewa..” nyonya Anetta bingung.             “Ini nak Dewa menitipkan ini untukmu.” Seru tuan Bram menyodorkan selembar surat yang tadi Dewa titipkan kepadanya sebelum masuk ke dalam bandara. Nyonya Anetta dan Yuda menatap tajam ke arah tuan Bram, mereka rasa ini bukan saat yang tepat untuk memberi tahu Dinda, apalagi kondisi Dinda belum stabil. Tapi sudah terlanjur, tuan Bram merasa ibah melihat Dinda seperti ini jadi ia putuskan untuk memberikan surat titipan Dewa sesegera mungkin.   Dinda menerima surat tersebut dengan tangan bergetar, wajahnya semakin pucat. Segala pikiran buruk muncul dalam pikirannya.             “I ini apa?” Tanya Dinda ragu.             “Bacalah.” Timpal tua Bram. Yuda hanya memandang Dinda dengan tatapan tak berdaya. Dinda membuka anplop putih tersebut lalu mengambil sebuah kertas yang terlipat rapih. Tanpa diminta air matanya lolos begitu saja, seperti sudah mengetahui apa isi surat ditangannya.             “Mana kak Dewa?!” Seru Dinda yang seperti enggan membaca surat itu, ia punya firasat buruk.             “Bacalah sayang, kamu akan temukan jawabannya.” Titah nyonya Anetta. Yuda mengelus lembut pundak Dinda yang bergetar. Setelah merasa yakin Dinda perlahan membuka lipatan kertas tersebut dan air matanya kembali lolos.               “Yang kucintai Natasha Adinda Kusuma. Aku mohon saat membaca surat ini kamu jangan menangis. Maaf aku tak bisa menemanimu disaat kamu sedang dalam keadaan tak berdaya, maaf aku tak bisa menunggumu terbangun dan menjelaskan semuanya. Saat kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh untuk kebahagiaanmu. Aku akan menuruti apa yang kamu minta, tapi bukan berarti aku telah berhenti mencintaimu, aku selalu mencintaimu. Seluruh tempat dihatiku hanya milikmu. Aku ingin kamu bahagia bersama orang yang tepat. Cintailah kak Yuda ia pantas untukmu. Terimakasih sayang untuk cintamu selama satu tahun ini. Aku bahagia sangat bahagia bisa mengenalmu, mencintaimu dan menjadi bagian penting dalam hidupmu. Mungkin sudah saatnya aku melepaskanmu mengejar kebahagiaan yang sesungguhnya. Semua tentangmu akan selalu aku simpan dalam hatiku, kamu adalah kenangan terindah yang pernah Tuhan titipkan untuk aku. Tolong hiduplah dengan bahagia agar akupun bisa bahagia, percayalah aku tidak pernah berhenti mencintaimu seperti mentari yang tak pernah berhenti bersinar menyinari bumi Namamu akan selalu aku bawah didalam doaku Natasha Adinda Kusuma. Yang selalu mencintaimu Dewa.”   Tangis Dinda pecah tak tertahankan, digenggamnya kuat sepucuk surat perpisahan itu. Yuda memeluk Dinda erat memberi penguatan ia tahu saat ini gadis itu membutuhkan penguatan. Ia sedang merasa terpuruk.             “Kak Dewa bukan seperti ini yang Dinda mau! Mana janji kak Dewa untuk jagain Dinda, mana!” Teriak Dinda berusaha memberontak dalam pelukan Yuda. Tuan Bram dan nyonya Anettapun ikut terbawa suasana melihat Dinda yang begitu histeris.             “Sabar nak, kamu harus kuat.” Seru tuan Bram.             “Kami semua akan menjagamu menggantikan Dewa sayang.” Timpal nyonya Anetta seraya menyeka air matanya.             “Kak tolong kasih tahu aku dimana kak Dewa pergi, aku mau nyusulin kak Dewa!” Teriak Dinda pada Yuda.             “Dinda tolong jangan seperti ini, jangan menyiksa dirimu Dinda.” Seru Yuda.             “Semuanya salahku! Aku yang buat kak Dewa pergi! Aku nggak tahu diri menyakiti hati seseorang yang begitu tulus padaku.”             “Nggak itu bukan kesalahanmu, Dewa sendiri yang ingin membuat keputusan seperti ini.” Bantah Yuda.             “Ini salahku! Harusnya aku yang pergi jauh! Kak Dewa….” Teriak Dinda memanggil nama Dewa berharap Dewa tiba-tiba berdiri dihadapannya. Karena keadaannya yang masih lemah tiba-tiba saja Dinda tak sadarkan diri didalam pelukan Yuda. Nyonya Anetta segera memanggil dokter untuk mengecek keadaan Dinda. Setelah memeriksa Dinda dokter berpesan agar Dinda tidak dikejutkan dengan berbagai hal yang membuatnya syok karena Dinda belum bisa menerima semua itu. Biarkan ia memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa tenang dan bahagia. Yuda kembali duduk di samping ranjang Dinda, begitupun dengan tuan Bram dan nyonya Anetta keduanya duduk menunggu Dinda disebuah sofa dengan konsep minimalis.             “Pa, mama khawatir deh sama keadaan Dinda.” Ucap nyonya Anetta sedih.             “Sama ma, papa juga khawatir takutnya nanti membahayakan kondisi cucu kita ma.”             “Apa sebaiknya kita hubungi Dewa dan beri tahu tentang keadaan Dinda biar Dewa kembali kesini aja pa. Mama nggak kuat pa lihat Dinda kaya gini.”             “Nggak bisa ma! Yuda mohon jangan ma! Ini udah keputusan Dewa.” Bantah Yuda yang ikut nimbrung, biarlah orang berpikir bahwa ia egois tapi ia sungguh tak bisa mundur lagi saat kesempatan memiliki Dinda sudah di depan mata.             “Apa kamu nggak kasihan sama Dinda dan adik kamu? Mereka saling mencintai.” Sahut nyonya Anetta.             “Ma, apa mama juga nggak kasihan sama cucu mama? Yuda janji ma akan bahagiain Dinda dan lagi Yuda juga yakin Dewa juga pasti akan menemukan pengganti Dinda dan melupakan Dinda. Nyonya Anetta terdiam tak ingin menjawab lagi, ia bingung dan pusing begitupun suaminya. Yuda kembali menatap wajah sendu Dinda yang begitu pucat.             “Maafkan aku tapi aku berjanji akan membahagiakan kamu dan anak kita.” Gumam Yuda. Ia sudah berjanji pada Dewa dan dirinya sendiri bahwa ia akan memprioritaskan kiebahagiaan Dinda. Ia tak ingin Dewa juga menyesal mengambil keputusan ini. Ia akan melakukan semua yang terbaik demi Dinda dan bayinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN