13. Rindu

1746 Kata
Seminggu setelah kepulangannya tak banyak yang berubah, Dinda masih sering terdiam, ia selalu mengurung dirinya didalam kamar. Saat makanpun tak pernah dihabiskan, saat di ajak berbicara ia hanya akan tersenyum ataupun mengangguk. Nyonya Anetta takut jika terus seperti ini kandungan Dinda dalam kondisi yang tidak baik dan mental Dinda pasti akan terganggu.             “Yuda, bisa mama bicara sebentar?” Tanya nyonya Anetta saat selesai makan malam. Dinda tak ikut makan malam bersama katanya belum lapar, ya Dinda selalu beralasan seperti itu.             “Apa yang ingin mama bicarakan?”             “Begini nak, mama sangat cemas memikirkan keadaan Dinda, ia seperti tak bersemangat. Mama memikirkan keadaan bayi kalian nak.” Jelas nyonya Anetta.             “Ma Yuda juga khawatir ma, tapi Yuda percaya cepat atau lambat Dinda pasti akan membaik. Semua wanita pasti mengalami ini saat putus cinta dan berpisah.”             “Tapi ini beda Yud, Dinda itu sedang dalam kedaan mengandung. Dia jangan stress seperti itu nggak baik.” Nasihat nyonya Anetta cemas.             “Hm, baiklah ma besok Yuda coba ajak Ana sahabat Dinda main ke rumah, udah lama juga mereka nggak ketemu apalagi Dinda belum masuk kuliah.”             “Baiklah, semoga idemu berhasil.”   Yuda kembali ke lantai atas, sebelum masuk ke kamarnya Yuda berhenti sebentar di depan kamar Dinda. Ia memutuskan untuk masuk mengecek keadaan Dinda.             “Dinda..” Panggil Yuda saat tak melihat sosok Dinda di kamarnya. Yudapun masuk dan mendapati Dinda yang sedang menangis di balkon dengan memegang sebuah foto.             “Dinda..” Sapa Yuda lagi. Dinda terkejut mendapati sosok pemilik suara, spontan ia membalikan foto tersebut menutup agar tak terlihat oleh Yuda.             “Kak Yuda ngapain ke kamar aku?” Tanya Dinda seraya menyeka air matanya.             “Kamu sedang apa?” Tanya Yuda seolah tak tahu.             “Mm aku bosan didalam jadi nyari udara segar.” Bohong Dinda.             “Kenapa nggak mau ikut makan malam?” Tanya Yuda perhatian.             “Aku belum laper.” Jawab Dinda singkat.             “Tapi bayi kita pasti lapar, kamu makan ya?” Bujuk Yuda penuh sabar. Dinda menggeleng tatapannya kosong.             “Dinda, aku tahu ini semua berat tapi kamu udah janji sama aku akan belajar menerimaku.”             “Ia aku ingat.”             “Lantas kenapa sekarang kamu jadi seperti ini, nggak menepati ucapanmu?” Pancing Yuda.             “Maaf.” Balas Dinda enggan.             “Mm, aku akan selalu memaafkan kamu.” Goda Yuda. Dinda melirik sekilas kepada Yuda lalu kembali menatap kosong kedepan.             “Hari ini pekerjaan di kantor begitu banyak membuatku lelah, tapi aku begitu bahagia saat waktu pulang tiba, kamu tahu kenapa?” Dinda menggeleng lagi.             “Karena aku ingin cepat bertemu kamu, lelahku akan langsung hilang saat melihatmu.Tapi sedari tadi sampai makan malam kamu nggak pernah menunjukan wajahmu.”             “Maaf.” Kata maaf lagi yang Dinda ucapkan. Yuda tersenyum merasa gemas dengan tingkah Dinda.             “Sekarang makan ya?” Bujuk Yuda tak menyerah. Dinda mengangguk membuat Yuda merasa senang bujukannya berhasil.             “Aku akan membuatmu mencintaiku Dinda.” Gumam Yuda tersenyum.   Dinda sudah duduk manis disamping Yuda dengan sepiring nasi dan lauk pauk yang lezat. Tuan Bram dan istrinya mengamati dari kejauhan, keduanya tersenyum lega melihat Dinda yang menurut pada Yuda.             “Makanlah yang banyak biar bayi kita tumbuh sehat.” Dinda tersenyum lalu mulai menyendokan makanan kedalam mulutnya.             “Bagus.” Goda Yuda seakan Dinda seorang anak kecil, ia mengelus lembut kepala Dinda.             “Kak Yuda aku bukan anak kecil ya.” Tolak Dinda kesal karena Yuda membuatnya terlihat seperti seorang anak kecil. Yuda terkekeh geli karena berhasil menjaili Dinda.             “Kalau bukan anak kecil terus apa dong namanya kalau makan harus dibujuk duluh?” Goda Yuda.             “Ihh kak Yuda nyebelin banget.” Dinda memngerucutkan bibirnya kesal. Yuda semakin tertawa tanpa henti, ia benar-benar gemas melihat tingkah Dinda, rasanya semakin ingin cepat-cepat menikahi Dinda.   Setelah makan Dinda kembali ke lantai atas sedang Yuda masih berada di lantai bawah sedang menerima telepon dari rekan bisnisnya. Dinda memilih duduk dan bersandar di ranjang king sizenya yang duluh adalah ranjang milik Yuda. Bayang-bayang Dewa kembali me ghantuinya, rindu ya rindu yang teramat besar ia rasakan. Ia memang iangin mengakhiri semuanya tapi bukan dengan cara seperti ini, kalau dittanya apakah Dinda menyesal jawabannya sedikit. Ia menyesal karena sikapnya Dewa memilih pergi menjauhnya meninggalkan keluarganya tapi. Yuda lekas naik ke lantai atas saat tak mendapati Dinda di dekatnya.             “Boleh aku masuk?” Tanya Yuda yang sedikit memasukan kepalanya dibalik pintu. Dinda mengangguk tersenyum.             “Apakah kamar ini sangat nyaman sehingga kamu selalu berlama-lama dikamar ini?” Goda Yuda.             “Ya, semua kamar di rumah ini nyaman.” Jawab Dinda alakadarnya.             “Dinda, boleh aku bertanya sesuatu yang serius?” Seru Yuda meminta persetejuan.             “Boleh, mau nanya apa?” Yuda menjeda sesaat ucapannya, ia menatap lekat pada wajah Dinda sebaliknya Dinda sengaja membuang mukanya ke sembarang arah karena merasa deg-degan ditatap intens seperti itu.             “Aku ingin kita segera menikah, apa kamu setuju?” Tanya Yuda mantap. Dinda terkejut sehingga refleks ia membulatkan kedua bola matanya.             “Dinda, aku ingin secepatnya menikah karena aku tulus mencintaimu dan lagi semua ini demi bayi kita. Semakin hari perutmu akan semakin membesar jika kita terus menunda-nunda pernikahan pastinya tidak akan baik untuk kamu.” Jelas Yuda seraya menggenggam kedua tangan Dinda berharap Dinda dapat memahaminya. Dinda terdiam sejenak menarik napasnya perlahan.             “Aku mengerti, beri aku waktu sedikit lagi.” Yuda mengangguk dan tersenyum.             “Percayalah Dinda aku sangat mencintaimu dan akan membuatmu bahagia.” Dinda tersenyum singkat.             “Kak aku ingin istirahat.” Seru Dinda yang memang sudah sangat mengantuk.             “Ya udah kamu istirahatlah, mimpi indah.” Yuda menutup tubuh Dinda dengan bed cover setelah itu ia mematikan lampu dan keluar dari kamar Dinda.               Pagi ini setelah sarapan Dinda memilih untuk duduk bersantai pada sebuah gazebo di taman belakang dekat kolam renang. Nyonya Anetta sengaja membiarkan Dinda untuk bersantai sendirian, sedangkan Yuda dan tuan Bram setelah sarapan mereka segera ke kantor. Dinda belum masuk kuliah, Yuda sengaja meminta ijin dari pihak kampus agar selama dua minggu Dinda bisa beristirahat di rumah untuk tugas bisa dikirimkan via emal tentu dengan alasan kondisi Dinda yang belum cukup pulih pasca kecelakaan itu. Pihak kampus sudah mengetahui kecelakaan yang menyebabkan Dinda tak sadarkan diri selama dua hari, semuanya merasa ibah dengan keadaan Dinda. Suasana dikediaman Dirk memang terasa berbeda semenjak kepergian Dewa ke Australia, itulah yang dirasakan seluruh penghuni rumah tersebut.             “Permisi non.” Sapa bi Sari seraya membawa nampan berisi sepiring buah-buahan segar yang sudah dipotong kotak-kotak.             “Ia bi..”             “Ini non buahnya, tadi nyonya minta dibawakan untuk non.” Bi Sari meletakan sepiring buah disamping Dinda.             “Terimakasih ya bi.” Ucap Dinda tersenyum.             “Bibi pamit ke dapur duluh non.”             “Ia bi.” Dinda mengambil sepotong buah melon segar lalu memakannya, saat sedang asik menikmati sepiring buah segar Dinda dikejutkan oleh suara teriakan yang begitu dikenalnya.             “Dinda…” Senyuman terukir jelas dibibir Dinda saat mendapati sahabatnyalah yang saat ini memanggilnya.             “Ana..” Dinda segera berdiri menghadap Ana keduanya berpelukan begitu erat lalu bertingkah layaknya anak kecil.             “Na aku kangen banget tahu!” Seru Dinda manja.             “Aku juga kali Din, gimana keadaan kamu?” Keduanya saling melepas pelukan. Dinda mengajak Ana duduk di gazebo yang tadi ia duduki.             “Ya seperti yang kamu lihat Na.” Jawab Dinda lalu tersenyum.             “Badan kamu kurusan Din, naikin lagi nggak bagus buat kandungan kamu.” Titah Ana penuh perhatian.             “Ia ia aku usahin deh.”             “Harus ya! Aku nggak mau ponakanku kenapa-napa.” Dinda mengangguk lalu tersenyum, tanpa mereka sadari Yuda dan nyonya Anetta tengah mengamati keduanya sembari tersenyum lega.             “Ternyata kedatangan Ana mampu membuat Dinda kembali bersemangat.”             “Ia ma, Yuda jadi lega.” Hampir sepuluh menit duduk mengobrol, bi Sri datang dengan membawa dua gelas jus jeruk dan sepiring coklat cookies untuk menjamu Ana. Ana tersenyum ramah saat bi Sri meletakan minumann disampingnya.             “Terimakasih ya bi.” Seru Dinda dan Ana bersamaan. Dinda mempersilahkan Ana untuk menikmatan cemilan yang dibawakan bi Sri, keduanya sangat menikmati waktu bersama.             “Na kamu kok bisa disini sih? Bukannya sekarang lagi ada kelas?” Tanya Dinda penasaran.             “Kamu mau tahu apa mau tahu banget?” Goda Ana membuat Dinda sedikit kesal.             “Mulai deh jahilnya.” Ana tertawa gila melihat wajah cemberut Dinda.             “Aku tadi datang barengan sama kak Yuda, kamu tahu nggak kak Yuda secara khusus jemput aku dan minta ijin langsung sama semua dosen mata kuliah hari ini. Hebatkan?” Penjelasan Ana baru saja sukses membuat Dinda terkejut tak percaya, untuk apa Yuda melakukan itu, pikirnya.             “Pati kamu terkejutkan dan nanya sama diri kamu sendiri untuk apa kak Yuda melakukan semua ini, iakan?” Timpal Ana seperti seseorang yang memeliki indera keenam.             “Kok kamu bisa tahu sih?” Tanya Dinda heran.             “Ya tahulah! Kelihatan banget dari wajah kamu Din. Nih asal kamu tahu semuanya ini demi kamu, kak Yuda banyak cerita sama aku sepanjang perjalanan menuju kemari.” Jelas Ana sembari menikmati coklat cookies.             “Hm, dia cerita apa aja?” Tanya Dinda penasaran.             “Gini ya Din, sebagai sahabat kamu aku Cuma mau bilang kamu harus belajar membuka hati dan menerima kak Yuda bagaimanapun dia ayah dari bayimu dan dia juga tulus mencintaimu. Kamu jangan sia-siain pengorbanan besar kak Dewa untuk melihatmu bahagia.”             “Tapi Na, kamu tahukan nggak akan mudah untuk ngelupain kak Dewa. Sampai sekarang masih sakit Na, aku rindu banget lelah Na menahan semua ini.” Tiba-tiba saja Dinda menitikan air matanya dengan lembut Ana memeluk dan mengusap punggung Dinda.             “Ia Din, aku mengerti aku juga nggak maksa kamu buat lupain kak Dewa tapi seenggaknya cobalah untuk membuka hatimu untuk kak Yuda, aku percaya Din dengan sendirinya kamu akan mulai terbiasa tanpa kak Dewa.”   Yuda memperhatikan dari kejauhan sama-samar ia mendengar percakapan keduanya.               “Pikirin bayi kamu juga Din, kasihan bayi yang nggak berdosa ini.” Dinda tertunduk lemah mendengar penuturan Ana, benar juga apa yang dikatakan Ana.             “Din, jodoh udah di atur sama yang di Atas. Mau berpuluh-puluh tahun kamu berpacaran sama kak Dewa mau kamu cinta mati sama kak Dewa tapi kalau Tuhan bilang dia bukan jodohmu kamu bisa apa coba?” Timpal Ana semakin membuka pikiran Dinda. “Jangan menentang kehendak Tuhan Din.”   Dinda kembali terisak ia memeluk erat tubuh Ana merasa apa yang Ana ucapkan itu benar. Yuda yang samar-samar mendengar ucapan Ana merasa lega karena Ana sudah cukup membantunya.               “Na, terimakasih ya kamu benar-benar sahabat terbaikku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN