Bulan malam ini bersinar begitu indah, setelah makan malam bersama Yuda dan Dinda
Memilih bersantai sejenak di taman belakang sembari menikmati sejuknya hembusan angina malam.
“Bulannya indah ya?” Seru Dinda sedikit canggung.
“Secantik kamu.” Seru Yuda sedikit berbisik.
Dinda tersenyum malu, ia tentu saja mendengar apa yang Yuda ucapkan.
“Terimakasih.” Lirih Dinda.
“Bagaimana perasaanmu hari ini?” Tanya Yuda seraya menatap Dinda yang tengah duduk disampingnya.
“Baik, semua berkat kakak. Terimakasih ya kak udah ngajakin Ana kesini.” Seru Dinda tersenyum menatap Yuda.
“Sama-sama, apapun yang membuatmu bahagia pasti akan aku usahakan.”
Keduanya kembali fokus dengan pikiran masing-masing, sampai saat ingin bebricara keduanyapun kompak.
“Kak Yuda ngomong aja duluhan.” Dinda mempersilahkan Yuda untuk berbicara terlebih dahulu setelah tadi kompak ingin berbicara.
“Ladies first Dinda.” Ucap Yuda menaikan kedua alisnya.
“Oke baiklah!”
Dinda menarik napas perlahan lalu membuangnya, ia meremas kuat dress pink yang dikenakannya.
“Aku sudah memikirkan semuanya kak, aku ingin memulai dari awal bersama kak Yuda.” Seru Dinda sedikit gugup.
Yuda mendongakan wajahnya saat mendnegar apa yang Dinda ucapkan, ia tersenyum sudah tahu kemana arah pembicaraan itu.
“Aku akan membuka hatiku sepenuhnya dan belajar menerima kakak demi bayi kita.” Timpal Dinda menunduk karena teramat malu.
“Apa kamu serius Dinda?” Tanya Yuda memastikan, ia masih tak percaya dengan semua yang Dinda ucapkan saat ini.
Dinda mengangguk lalu tersenyum malu-malu, Kali ini Yuda tak dapat menahan rasa bahagianya, dipeluknya Dinda kemudian menghujaninya dengan kecupan bertubi-tubi untuk mencurahkan rasa bahagianya.
“Terimakasih Dinda terimakasih! Aku sangat bahagia.”
Yuda melepaskan pelukannya ia kembali menatap Dinda, diraihnya kedua tangan mungil Dinda untuk di genggamnya.
“Apakah ini berarti kamu setuju dengan pernikahan kita?” Tanya Yuda.
“Ia kak, tentukanlah tanggalnya aku akan menyetujui semua keputusan kaka.”
“Baiklah! Bagaimana kalau minggu depan saja.” Jawab Yuda tanpa pikir panjang.
“Ih kakak! Masa langsung nentuin sendiri secepat itusih, kita harus bicarain duluh sama papa dan mama.” Tolak Dinda.
“Kamu tenang aja sayang, semua keputusan ada ditanganku. Lagian kita menikah semua akan diurus sama aku jadi kamu, papa, dan mama tinggal terima beres aja.”
“Ya udah terserah kakak aja.”
“Besok kita bicarain lagi sama papa dan mama.”
Dinda yang sudah lelah dan ngantuk memutuskan untuk kembali ke kamarnya tapi segera ditahan oleh Yuda.
“Sayang, apa malam ini boleh aku tidur bersamamu.”
“Maaf kak nggak bisa, kita belum resmi menjadi suami istri.” Tolak Dinda tegas.
“Tapi aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu sayang, Cuma tidur aja nggak lebih.” Bujuk Yuda memasang tampang memelasnya.
“Nggak! Sekali nggak bisa tetep nggak bisa! Udah aku ngantuk.”
Yuda mengekori Dinda dari belakang, ia masih berharap Dinda berubah pikiran sampai akhirnya Dinda menghilang dan masuk ke dalam kamarnya. Yuda menatap pintu kamar itu dengan rasa kecewa. Semenjak kejadian malam itu sampai saat ini Yuda tak pernah lagi bermain-main dengan wanita diluaran sana bahkan ia rela menahan hasratnya hanya karena janjinya yang hanya akan melakukan itu bersama Dinda.
Yuda kembali ke kamarnya, ia tak bisa tidur sama sekali. Sudah satu jam Yuda hanya bergerak kesana kemarin membolak balikan tubuhnya di atas ranjang empuk.
“Argh! Sial! Kenapa jadi nggak bisa tidur kaya gini.” Gerutu Yuda.
Sementara dikamar sebelahnya, Dinda tidur begitu pulas sehingga terdengar sedikit dengkuran halus. Setelah kepergian Dewa harus diakui bahwa Dinda menjadi tak berselera makan dan sulit tidur, tapi malam ini semuanya berubah. Dinda menghabiskan makanannya dan ia juga tertidur dengan lelap, semua berkat nasihan Ana sahabatnya.
Setelah membersihkan tubuhnya Dinda lekas turun ke lantai bawah, pagi ini ia ingin membantu para asisten rumah tangga untuk menyiapkan sarapan seperti sebelumnya saat masih ada Dewa.
“Selamat pagi semua.” Sapa Dinda tentu saja membuat bi Sari dan bi Ina terkejut.
“Eh non Dinda, udah bangun.”
“Bi Dinda bantuin ya.” Pinta Dinda tersenyum ramah.
“Bo boleh non, silahkan.”
Bi Ina dan bi Sari saling berpandangan merasa ada yang aneh, semenjak kepergian tuan muda Dewa Dinda nampak seperti seseorang yang kehilangan arah tapi tiba-tiba saja pagi ini Dinda tampil dengan wajah cerianya seperti saat masih ada Dewa.
“Syukurlah kalau non Dinda sudah bisa bangkit lagi.” Bisik bi Ina pada bi Sari.
“Ia mba, kan gini jadi enak dilihatnya.” Timpal bi Sari.
Selesai membantu kedua ART itu, Dinda memutuskan untuk kembali ke kamarnya, hari ini ia memutuskan untuk masuk kuliah. Ia sudah merasa cukup sehat dan tentu saja sangat jenuh berada di rumah seharian tanpa melakukan apapun. Selesai bersiap Dinda kembali turun kebawah dengan menenteng tote bag hitamnya. Di meja makan sudah ada tuan Bram dan nyonya Anetta.
“Pagi nak, udah rapih banget mau kemana emangnya?” Tanya tuan Bram saat melihat Dinda yang sudah tampil mempesona.
“Pagi pa, ma. Dinda mau ke kampus.” Jawab Dinda lalu mengambil posisi duduk.
“Loh kan Yuda udah minta ijin sama pihak kampus biar kamu bisa istirahat selama dua minggu sayang.” Seru nyonya Anetta.
“Iasih ma, tapi Dinda bosen kalau dirumah terus nggak ngapa-ngapain.”
“Ya udah kalau gitu, tapi janji yah kamu harus hati-hati mama nggak mauloh sampai kenapa-napa sama cucu mama. Iakan pa?” Sahut nyonya Anetta seraya meminta persetujuan suaminya.
“Ia Dinda kamu harus ekstra hati-hati.”
“Pati pa ma, terimakasih untuk perhatiannya.” Balas Dinda seraya tersenyum.
Tuan Bram dan nyonya Anetta saling tersenyum mereka merasa ada yang aneh dengan tingkah Dinda pagi ini, tapi jujur saja keduanya merasa bersyukur karena Dinda sudah bisa bangkit dari kesedihannya.
“Pagi semua.” Sapa Yuda yang baru saja ikut gabung.
“Tumben telat.” Tanya nyonya Anetta.
“Yuda bangunnya kesiangan ma.”
Semuanya menikmati sarapan pagi mereka dengan hening sampai selsai, setelah selesai Yudapun berniat untuk memberi tahu tentang pembicaraannya bersama Dinda tadi malam, ia rasa ini saat yang tepat.
“Pa ma, ada yang mau Yuda omongin.” Seru Yuda saat semua sudah menghabiskan sarapannya.
Dinda yang duduk disamping Yuda mulai merasa gugup, Yuda tahu itu ia lantas menggenggam tangan Dinda.
“Ya udah ngomong aja Yud.”
“Yuda dan Dinda akan melangsungkan pernikahan minggu depan.” Jelas Yuda tersenyum.
Tuan Bram dan nyonya Anetta nampak belum percaya keduanya saling bertatapan.
“Bener Dinda?” Tanya tuan Bram memastikan langsung pada yang bersangkutan.
Dinda mengangguk malu, pipinya merona membuat nyonya Aneta dan tuan Bram tersenyum menatap keduanya.
“Apa nggak terlalu cepat Yud, kaliankan butuh waktu untuk persiapan ngurus berkas-berkas sebelum menikah belum lagi untuk persiapan acaranya.” Saran tuan Bram.
“Tenang aja pa, hari ini juga Aris akan urus semuanya, untuk persiapan acaranya Yuda udah minta sekertaris Yuda untuk mengurusnya.” Jelas Yuda penuh keyakinan.
“Ya udah kalau gitu, papa sih yang penting semuanya aman dan beres papa selalu dukung yang terbaik untuk kebahagiaan kalian berdua.” Ucap tuan Bram tersenyum senang.
“Mama juga akan selalu ngedukung semua keputusan baik yang kalian ambil. Semoga semua lancar sampai hari pernikahan.”
“Makasih pa ma, dukungan papa dan mama sangat berarti untuk Yuda dan Dinda.”
Semuanya mengakhiri sarapan pagi ini dengan hati yang bahagia, Dinda ia juga bahagia walaupun masih terselip sedikit kesedihan yang sekarang sedang ia coba lupakan. Yuda segera mengantar Dinda ke kampus, keduanya nampak serasi saat berjalan beriringi. Yuda menggandeng tangan Dinda dengan memasang senyuman termanisnya, berbanding terbalik dengan Dinda yang nampak malu-malu. Dunia serasa milik berdua begitulah ungkapan yang tepat menggambarkan hati Yuda saat ini.