Mobil sport yang dikemudikan Yuda berhenti tepat di parkiran kampus. Ia sengaja
mengantar Dinda sampai kedalam kampusnya, entahlah apa yang membuatnya sampai berani seperti itu. Dinda yang merasa malu sempat menolak untuk turun dan minta putar balik agar ia diturunkan di depan kampus saja tapi Yuda tak mempedulikan keinginan Dinda.
“Salah ya kalau aku mau mastiin istri dan anakku selamat sampai ditujuan?” Tanya Yuda nampak sedikit kecewa.
“CALON ISTRI.” Tekan Dinda mengingatkan.
“Sama aja sayang, tinggal beberapa hari lagi kamu sudah resmi menjadi nyonya Aryuda Putra Dirk.” Seru Yuda penuh rasa percaya diri.
“Tapi kak, aku nggak enak sama teman-teman kampusku. Semua tahunya..”
“Ya udah nggak perlu dilanjutkan lagi.” Dengan tampang kusut Yuda keluar dari parkiran kampus.
Seperti keinginannya, Dinda turun di dekat gerbang kampus. Bagaimanapun Dinda sudah bisa menebak seperti apa reaksi teman-teman kampusnya sebentar saat melihat kehadiran Dinda.
“Aku masuk duluh ya kak, makasih.” Ucap Dinda hendak membuka pintu mobil dengan cepat Yuda mencegah gerakan tangan Dinda.
Yuda memegang sebelah lengan Dinda lalu ia mengucap bibir Dinda sekilas membuat Dinda membulatkan kedua bola matanya karena rasa terkejut. Tubuhnya seolah distetrum oleh aliran listrik, ia tak mampu berkata apa-apa. Setelah melepaskan kecupannya Yuda memandangi Dinda dengan tersenyum.
“Ini balasannya karena akuharus putar balik lagi.” Seru Yuda tersenyum genit.
Dinda tak menjawab sepatah katapun, ia lekas turun dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus. Yuda memperhatikan tingkah lucu Dinda, ia tertawa gemas di dalam mobilnya.
“Gila tuh orang main nyium-nyium aja!” Gerutu Dinda seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dinda melangkah dengan cepat masuk kedalam kampusnya, ada perasaan deg-degan yang ia rasakan saat ini, ia takut akan mengingat kembali sesuatu yang tengah ia usahakan untuk dilupakan.
“Dinda…”
Dinda membalikan tubuhnya, didapatinya Ana yang sedang berlari ke arahnya.
“Tega ya kamu udah masuk tapi nggak ngabarin aku.” Seru Ana saat sudah berada dihadapan Dinda sahabatnya.
“Maaf Na, aku juga masuk dadakan. Harusnyakan aku masih istirahat di rumah.” Jelas Dinda sembari menarik hidung Ana membuat sang pemilik memekik.
“Kamu yakin udah bisa ikut kelas hari ini?”
“Yakinlah Na, aku udah sehat kok.” Jawab Dinda yakin.
“Kandungan kamu gimana?” Timpal Ana masih belum yakin.
“Aku beruntung banget Na nggak ngalamin hal-hal aneh seperti yang aku baca-baca di internet dan penjelasan dokter, nggak ada mual-mual atau ngidam yang terlalu aneh paling kalau agak capek baru berasa pusing.” Jelas Dinda seraya tersenyum.
Ya Dinda sungguh merasa bersyukur kehamilannya ini tidak membuatnya menderita seperti kehamilan pada umumnya yang ia baca di internet, tapi harus diakui ia lebih rentan merasa lelah dan pusing selain itu tidak ada keluhan yang parah.
“Syukurlah Din, ponakan gue emang pintar dia nggak mau ngerepotin ibunya bangga gue.” Seru Ana membuat keduanya tertawa geli.
Ana dan Dinda berjalan beriringan, beberapa mata memandangi keduanya sambil berbisik-bisik membuat Dinda merasa tidak nyaman. Ana menyadari hal itu tapi ia cuek saja. Bukan Ana tak tahu belakangan ini semenjak kepindahan Dewa banyak gosip-gosip miring beredar tentang hubungan Dinda dan Dewa, tapi ia memilih diam. Semua tahu bahwa Dewa begitu bucin terhadap Dinda, hingga saat Dewa memutuskan pindah banyak pemikiran negatif muncul dalam pikiran teman-teman Dinda. Ada yang berpikir keduanya putus karena Dinda mengkhianati Dewa, ada juga yang berpikiran bahwa Dewa tidak mencintai Dinda lagi, da nada juga yang berpikiran bahwa keluarga Dewa tak menyetujui hubungan keduanya dan Dewa sengaja dipindahkan ke luar negeri agar jauh dari Dinda. Ana sendiri tidak memberi tahu Dinda tentang apa yang ia ketahui, Ana takut itu akan memengaruhi pikiran dan kandungan Dinda. Tapi sepertinya tanpa Ana beri tahu Dinda sudah bisa merasakan hal tersebut akan terjadi.
“Cuek aja Din, takjub kali mereka sama kecantikan kamu.” Seru Ana mengalihkan perhatian Dinda dari beberapa mahasiswi yang sedang memandangi Dinda.
“Ia Na, aku udah tahu kok ini semua bakal kejadian.” Jawab Dinda murung.
Ana mengelus lembut punggung Dinda memberikan penguatan, ia tahu Dinda gadis kuat dan tanggu tidak akan mudah terluka hanya karena omongan orang yang belum tentu kebenarannya.
Yuda yang baru saja tiba di kantornya melangkah dengan tegap dan gagah membuat setiap mata tertuju padanya dengan tatapan kagum dan serakah ingin memilikinya. Aris yang berada disampingnyapun juga ikut ketularan mempesona. Inilah hal yang paling disukai Aris saat berjalan beriringan dengan Yuda pesona seorang Aryuda Dirk mampu membuat siapa saja yang berjalan di dekatnya ikut naik level.
“Pak bos sangat menawan, aku sangat ingin memilikinya.” Seru salah seorang karyawan wanita dengan tatapan genitnya.
“Langkahi duluh mayatku kalau kamu ingin memilikinya.” Timpal salah satunya tak ingin kalah.
“Udah-udah! Cuma aku yang paling pantas sama mas Yudaku yang tampan.” Sahut wanita berambut pendek dengan gayanya yang sangat percaya diri membuat semua yang berada disekitarnya merasa jijik.
Sesekali Yuda tersenyum membalas sapaan dari para karyawannya, hal itu tentu saja memunculkan berbagai macam pemikiran, karena sebelumnya Yuda begitu jarang tersenyum apalagi sekedar tersenyum untuk membalas sapaan stafnya. Karyawan dikantornyapun dibuat terkejut dan bertanya-tanya, bos mereka ini sedang kesambet apa.
Yuda duduk dikursi kebesarannya dengan wajah yang berserk-seri membuat Aris juga ikuit tersenyum.
“Tuan nampaknya tuan sangat bahagia.” Ucap Aris dan langsung mendapat tatapan dari Yuda.
“Saya belum pernah merasa sebahagia ini Ris.” Jawab Yuda kembali tersenyum.
“Saya turut senang mendengar kabar dari tuan.”
“Bagaimana sudah kamu urus yang saya perintahkan?” Tanya Yuda.
“Sudah tuan, orang suruan saya sedang mengurusnya. Untuk persiapan acara semua sedang diurus Lala.” Ya Lala sekertaris Yuda.
Saat sedang asik mengobrol keduanya dikejutkan oleh suara keributan diluar ruangan Yuda. Terdengar suara Lala seperti berteriak kepada seseorang.
“Ada apa itu.” Tanya Yuda penasaran.
“Tunggu sebentar tuan, saya cek duluh.” Aris melangkah keluar dari ruangan Yuda hendak melihat apa yang sedang terjadi dengan Lala.
“Lala, ada apa ini?” Tanya Aris ketika melihat Lala yang hendak merentangkan tangannya menghalangi seorang wanita.
“Ini pak, wanita ini memaksa masuk dan ingin bertemu pak bos.” Jelas Lala tetap merentangkan tangannya.
“Minggir kamu!” Teriak wanita itu berusaha mendorong Lala. “Kamu, tentu kamu ingat siapa saya bukan?” Tanya wanita tersebut seraya menunjuk kea rah Aris.
“Maaf kamu siapa? Saya rasa kita nggak saling kenal.” Aris balik bertanya karena memang tidak mengenal wanita dihadapannya ini.
“Kelab XXX! Bagaimana apa kamu ingat?” Seru wanita itu seperti memberikan sebuah klu.
Sontak Aris membulatkan bola mata, nampaknya ia tengah mengingat sesuatu dipikirannya.
“Nampaknya kamu sudah mengingatku bukan? Sekarang biarkan akau bertemu Yuda!” Ucap wanita itu dengan rasa percaya diri, ia mendorong tubuh Lala hingga sedikit mundur ke belakang.
“Kamu nggak bisa bertemu tuan Yuda!” Ucap Aria tegas seraya mencengkram erat lengan wanita dengan berpakaian yang sangat terbuka itu.
“Kenapa nggak bisa?!”
“Karena tuan Yuda sibuk beliau nggak sembarangan menerima tamu!” Jawab Aris tegas.
“Tapi aku bukan tamu sembarangan, aku ini wanita yang..”
“Cukup!” Bentak Aris sebelum wanita itu menyelesaikan perkataannya.
Yuda yang merasa Aris begitu lama akhirnya menyusul keluar.
“Ada apa Ris?” Tanya Yuda saat baru keluar dari ruangannya.
Mendengar suara Yuda, waniat itu dengan cepat membalikan tubuhnya lalu tersenyum nakal kea rah Yuda.
“Hai baby..” Sapa wanita itu genit.
“Siapa kamu?!” Tanya Yuda kesal karena ada yang berani memanggilnya dengan kata manja seperti itu.
“Apa kamu lupa padaku wanita yang pernah menghangatkan malammu?” Goda wanita itu seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Aris dan Lala jijik.
“Kamu!” Bentak Yuda ketika berhasil mengingat wanita yang tengah berdiri dihadapannya.