Lala terdiam mendengarkan ucapan wanita seksi yang ada dihadapannya. Ucapan wanita
ini terdengar nakal, pastinya ia bukan wanita baik-baik.
“Apakah aku boleh masuk baby?” Tanya wanita itu yang sudah berdiri dihadapan Yuda.
“Kamu nggak bisa masuk kedalam! Pak bos sedang sibuk!” Seru Lala masih berusaha mencegah sementara Aris kembali menarik paksa wanita seksi tersebut.
“Biarkan dia masuk.” Titah Yuda lalu masuk kembali kedalam keruangannya.
Aris dan Lala terdiam keduanya saling berpandangan seolah tak percaya dengan keputusan bosnya itu.
“Lepaskan! Sudah aku bilang bosmu itu akan mengijinkanku masuk!” Seru wanita tadi dengan gaya angkuhnya.
Arispun ikut masuk kedalam, ia tak akan membiarkan wanita itu berduaan dengan bosnya.
“Ada keperluan apa kamu datang kemari? Bukankah saya sudah memberikan banyak uang untukmu sebagai imbalan!” Seru Yuda dingin. Sorot mata tajamnya penuh kemarahan. Berani-beraninya wanita biasa dihadapannya ini mengusik ketenangannya.
“Oh baby jangan tegang begitu. Bisakah kita bicara berdua? Bawahanmu ini membuatku mual.” Ucap wanita itu yang tak lain Rebeca Prianti.
“Jaga bicara kamu! Apa hak kamu mengusir asisten saya!” Bentak Yuda semakin kesal.
Aris tersenyum merasa puas bosnya itu membelanya.
“Katakan apa yang membawamu kemari! Saya nggak punya waktu untuk melayani wanita seperti kamu!”
“Kamu nampak terburu-buru baby, sangat berbeda saat sedang bercinta.” Rebeca kembali menggoda Yuda membuat Yuda tak dapat lagi menahan amarahnya.
“Kamu! Aris panggil security!” Titah Yuda dengsh cepat Rebeca menahannya.
“Baiklah, akan aku katakana apa yang aku inginkan.”
“Katakan!” Yuda enggan menatap wanita dihadapannya ini, ia sengaja menyibukan diri dengan memeriksa beberapa berkas yang ada dimejanya.
“Aku hamil!”
“Lantas apa hubungannya dengan saya?!” Tanya Yuda yang mulai geram, ia tahu kemana arah pembicaraan wanita ini begitupula dengan Aris.
“Ini anakmu, kamu harus bertanggung jawab.” Jawab Rebeca seraya menunjuk perutnya yang rata.
“Yan benar saja, jangan menipuku! Dasar murahan!” Ucap Yuda seraya tersenyum kecut.
“Ini buktinya!” Rebeca mengeluarkan sebuah test pack dengan dua garis dari dalam tasnya lalu meletakannya di meja Yuda.
Spontan Yuda mengeluarkan tawanya saat melihat test pack yang diletakan Rebeca.
“Jangan kamu pikir saya bodoh! Dasar wanita licik! Apa kurang uang yang saya berikan?! Saya rasa uang segitu cukup untuk membayar tubuhmu yang nggak suci!”
“Terserah apa katamu baby, yang jelas aku menuntut pertanggung jawabmu.” Jawab Rebeca seolah ingin menantang Yuda.
“Hei! asal kamu tahu, kamu ini wanita yang kesepuluh yang datang kemari untuk menipu tuan Yuda. Trikmu sudah kuno! Sebaiknya kamu pergi dari sini!” Ucap Aris lalu menyeret paksa Rebeca keluar dari ruangan Yuda.
“Lepaskan! Dasar b******k! Aku ingin menuntut pertanggung jawaban bosmu itu.” Teriak Rebeca tak terima ditarik paksa oleh Aris.
Yuda menatap kepergian Rebeca dengan senyuman devilnya. Baginya sudah biasa menghadapi wanita ular seperti Rebeca tadi yang sangat tergila-gila akan harta dan tahtanya. Bagi Yuda wanita seperti itu hanya akan menjadi pemuas nafsu belaka tapi sekarang semenjak ada Dinda ia tak ingin lagi seperti Yuda yang duluh.
“Apa dia sudah pergi?” Tanya Yuda saat Aris baru saja masuk kedalam ruangannya.
“Sudah tuan!” Jawab Aris.
“Dia pikir dia bisa membodohiku.”
“Tapi tuan, bagaimana jika wanita itu nekat melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nama baik tuan.” Seru Aris sedikit khawatir dengan reputasi bosnya.
“Saya rasa nggak mungkin Ris.” Jawab Yuda yakin.
“Tapi tuan wanita ini nampak serius, ia sedikit berbeda dengan wanita-wanita yang sebelumnya.” Jelas Aris penuh perhatian kepada Yuda.
“Kalau begitu cari tahu tentang wanita ini dan kumpulkan semua bukti bahwa ia berbohong. Saya akan mencebloskannya kedalam penjara karena berani mengusik ketenangan saya.”
“Baik tuan, akan saya lakukan. Saya permisi.”
Aris pamit lalu keluar dari ruangan Yuda. Yuda menyandarkan kepalanya dikursi kebesarannya. Ia memejamkan matanya lalu memijit pangkal hidungnya. Wanita tadi benar-benar merusak suasana hatinya yang sedang baik.
“Dasar pengganggu!” Gerutu Yuda kesal.
Di kampus Dinda dan Ana sedang menikmati semangkok bakso pedas kesukaan para penghuni kampus itu. Kantin nampak ramai dipenuhi oleh berbagai jenis suara para pengunjung. Dinda dan Ana duduk di kursi pojok dekat pintu keluar.
“Din, boleh gabung nggak.” Sapa Yasmin teman seangkatan Ana dan Dinda.
“Boleh.” Jawab Dinda lalu sedikit bergeser.
Yasmine duduk tepat disamping Dinda dengan semangkok bakso ditangannya yang masih panas.
“Eh Din gimana keadaan lo?” Tanya Yasmine sekedar basa-basi.
“Baik Min.”
“Eh lo nggak denger ya teman-teman pada ngegosipin lo dari tadi.” Seru Yasmin cuek sembari menyantap baksonya.
“Ehemm.” Ana berdehem sedikit kesel dengan Yasmin yang memang suka bergosip.
“Nggak, terserahlah mereka mau ngomongin apa.”
“Anak-anak pada kepo sama hubungan lo dan kak Dewa, kalian putus ya?” Tanya Yasmin dengan tingkat kekepoan yang tinggi.
“Eh Min kalau makan tuh diem! Ngomong mulu lo!” Bentak Ana makin kesal.
“Galak banget sih lo Na, gue Cuma nanya kali.” Sahut Yasmine tak terima.
“Pasti kalian lagi ada masalahkan makanya kak Dewa pindah.”
Dinda terdiam enggan menjawab, sedang Ana sudah menatap tajam ke arah Yasmin tapi yang ditatap malah memasang tampang sok polos.
“Gue duluhan ya udah kenyang.” Pamit Dinda yang selera makannya sudah hilang karena ucapan Yasmin.
“Elo sih! Kurang kerjaan banget suka ngegosipin urusan pribadi orang!” Bentak Ana lalu beranjak dan mengejar Dinda sahabatnya.
“Din.. tungguin!” Teriak Ana.
Dinda menghentikan langkahnya untuk menunggu Ana.
“Lo nggak apa-apakan?” Tanya Ana cemas.
“Nggak apa-apa Na.”
“Tapi kenapa baksonya nggak dihabisin? Katanya pengen?”
“Udah nggak selera Na.”
“Ya udah nggak apa-apa, ke kelas yuk dua puluh menit lagi kelas kita mulai.” Ajak Ana seraya menggandeng tangan sahabatnya itu.
Keduanya berjalan beriringan. Dinda nampak tidak fokus sehingga tak sengaja ia menabrak seseorang yang juga tengah berjalan.
“Eh maaf.” Seru keduanya kompak.
“Lo nggak apa-apa?” Tanya cowok tinggi dihadapan Dinda.
“Nggak apa-apa, maaf ya.” Seru Dinda.
Ya Dinda menabrak seorang lelaki sepertinya salah satu mahasiswa di kampus itu, tapi entah siapa namanya Dinda tak mengenalinya.
“Lain kali kalau jalan tuh hati-hati.” Bentak Ana tak terima.
“Ia sorry sorry, gue buru-buru tadi.” Ucap cowok tadi tak enak hati.
“Udah Na nggak apa-apa kok.”
Ana kembali menhajak Dinda pergi meninggalkan cowok tadi yang masih terpaku menatap Dinda. Ia sedikit tersenyum memandangi punggung Dina yang semakin menjauh.
“Siapasih cowok tadi? Perasaan aku nggak pernah lihat dia deh.” Tanya Ana sedikit penasaran.
“Nggak tahu, mahasiswa sini kali.” Jawab Dinda seadanya.
“Mahasiswa baru kayaknya.” Timpal Ana. “Lumayan.” Tanpa sadar Ana mengukir senyuman singkat dibibirnya.
“Ih kenapa senyum-senyum kayak gitu?” Goda Dinda yang heran melihat ekspresi sahabatnya.
“Ganteng ya?” Jawab Ana malu-malu, ia membenamkan wajahnya dipunggung Dinda membuat Dinda tertawa geli.
“Cie.. cie.. ada yang lagi ehem ehem ni.” Goda Dinda membuat rona merah di pipi Ana.
“Apaansih Din, masa nggak boleh muji.”
“Muji sih boleh tapi pipinya nggak usah merah kaya tomat gitu Na.” Dinda terkekeh puas menggoda Ana.
“Apaansih Din, mulai ngeselin ya?”
Dinda kembali terkekeh melihat Ana yang semakin kesal dan salah tingkah, jarang-jarangkan bisa menggoda sahabatnya yang suka usil itu, biasanya Dinda yang selalu digoda oleh Ana tapi sekarang sebaliknya.