Dinda dan Ana berjalan beriringan menuju parkiran, mata kuliah terakhir telah selesai.
Dinda melirik jam di tangannya sudah pukul dua, setengah jam yang lalu Yuda menghubungi Dinda untuk menanyakan jam berapa kuliahnya selesai, pria itu sengaja ia ingin menjemput dan mengajak Dinda untuk makan siang bersama.
“Yakin nih nggak mau bareng?” Tanya Ana saat sudah didepan mobilnya.”
“Ia Na yakin.”
“Ya udah kalau gitu, aku duluhan ya kamu diam-diam disini jangan kemana-mana.”
“Ia ia, bawel ih. Hati-hati ya.”
Setelah kepergian Ana, Dinda memutuskan untuk menunggu Yuda di dekat pos security yang dirasanya cukup aman. Ia tak ingin orang lain melihat itu, apalagi gosip tentang dirinya dan Dewa yang sedang hangat dibicarakan. Baru saja Dinda hendak masuk kedalam pos security mobil Yuda sudah menghadangnya membuat ia sedikit terkejut. Tanpa menunggu lama Dinda segera masuk kedalam mobil, ia tak ingin jika Yuda sampai turun untuk membukakan pintu untuknya.
“Udah lama nunggunya?” Tanya Yuda saat Dinda sudah duduk disampingnya.
“Nggak kok kak.” Jawab Dinda tersenyum canggung.
“Ya udah, kita makan siang duluh ya. Aku laper belum sempat makan siang tadi.” Seru Yuda seraya mengemudikan mobil sportnya.
Dinda hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Yuda mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik ke arah Dinda yang tengah asik bernyanyi dengan suara yang cukup pelan mengikuti lirik lagu yang sedang diputar oleh Yuda.
“Nyanyi yang kenceng nggak apa-apa kok, lumayankan nonton konser gratis.” Goda Yuda.
“Lebay deh kak.” Pipi Dinda merona digoda seperti itu.
“Apanya yang lebay? Kenyataankan suara kamu bagus.” Ucap Yuda menatap Dinda seraya tersenyum manis dan yang ditatap hanya bisa menunduk malu.
“Ya Tuhan perasaan apa ini, kenapa jantungku deg-degan nggak karuan.” Gumam Dinda.
Yuda dan Dinda sudah duduk manis menunggu pesanan mereka datang. Yuda sengaja memilih restaurant yang menyajikan olahan western food karena kemarin ia tak sengaja melihat Dinda yang beberapa kali menelan ludah saat menonton tayangan kuliner yang menyajikan menu steak dan pasta.
“Kak kenapa harus makan disini?” Bisik Dinda agar tak kedengaran pengunjung lain.
Suasan restaurant tersebut memang sangat ramai tapi tak terdengar suara keributan karena para pengunjung lebih banyak menikmati makanan mereka dengan tenang dibandingkan mengobrol.
“Kenapa? Kamu nggak suka?” Tanya Yuda seraya menaikan sebelah alisnya.
“Bukannya gitu kak, tapikan mahal sayang banget uangnya.” Jelas Dinda.
Dinda memang sangat ingin makan steak, tapi tadi setelah melihat harga makanan di buku menu jantung Dinda hampir saja copot. Bagaimana tidak hanya memesan empat menu dan dua gelas minuman saja totalnya mencapai jutaan membuat Dinda menyesali apa yang sudah dipesannya tadi. Lebih baik uang sebanyak itu digunakan untuk membeli makanan di rumah makan padang langganannya duluh lalu dibagikan kepada yang membutuhkan, pikirnya.
“Kamu lucu sayang.” Balas Yuda tertawa kecil.
“Loh kok malah tertawa, kakak nggak ngerasa rugi?” Tanya Dinda bingung.
“Ngapain ngerasa rugi?”
“Ya rugilah harus bayar semahal ini.”
“Bahkan kalau kamu mau aku bisa borong semua makanan disini.” Jawab Yuda masih tertawa.
Dinda hanya menatap Yuda dengan tatapan kesalnya, ia merasa malas jika harus melanjutkan perdebatan dengan Yuda yang pasti tak ingin kalah. Tak lama menunggu pesanan keduanyapun datang. Dinda menatap menu dihadapannya ini dengan tatapan berbinar membuat Yuda bahagia.
“Mau makan yang mana duluh?” Tanya Yuda perhatian.
“Aku boleh milih ni kak mau yang mana?” Tanya Dinda tak percaya.
“Tentu, semua ini untuk kamu.” Jawab Yuda enteng.
“Terus kak Yuda makan apa kalau semua buat aku?”
“Aku makan apa yang kamu makan.” Jawab Yuda penuh arti.
“Maksud kakak?” Dinda nampak bingung dengan jawaban Yuda.
“Sepiring berdua sayangku.” Jawab Yuda sedikit menggoda.
“Nggak mau ah, kan banyak makanan nganggur kenapa harus sepiring berdua? Lagian malu tahu!” Tolak Dinda tak mengerti dengan jalan pikiran Yuda.
“Kan biar romantis, ya udah mau yang mana duluh sayang?” Ucap Yuda seraya menatap Dinda penuh harap.
Dinda mendengus kesal, ia terpaksa menuruti kemauan Yuda yang sangat kekanakan tidak sesuai dengan umurnya. Keduanyapun mulai menyantap hidangan lezat itu benar-benar sepiring berdua. Sesekali Yuda menyuapi Dinda membuat Dinda sedikit malu karena ada beberapa pasang mata yang terus melirik ke arah mereka.
“Enak?” Tanya Yuda ketika menyuapi Dinda potongan steak yang harganya jutaan itu.
Dinda mengangguk sambil terus mengunyah dengan nikmat.
“Kak Yuda makan dong, jangan suapin aku terus. Malu tahu dilihatin sama yang lain.” Keluh Dinda karena Yuda terus bersikap manja membuat mereka jadi bahan tontonan beberapa orang.
“Bodoh amat! Udah tahu orang lagi pacaran masih juga dilihatin.” Jawab Yuda cuek dan terus melancarkan aksinya.
“Ngeselin banget sih, dibilangin juga!” Gerutu Dinda kesal.
Yuda semakin gemas melihat tingkah Dinda ketika sedang ngambek, ia semakin tak tahan ingin mencium bibir ranum Dinda.
“Habis ini mau kemana lagi?” Tanya Yuda seraya meneguk minumannya.
“Pulang aja kak, aku cape.”
“Ya udah kalau gitu, habisin makanannya biar cepat pulang dan istirahat.” Titah Yuda yang memperlakukan Dinda layaknya anak kecil.
Dindapun mengangguk dan kembali menyantap makanan yang masih tersisa setengah. Selesai dengan makan siang mewah keduanyapun pulang dengan perut yang sudah kenyang terisi. Sepanjang perjalanan pulang Dinda tertidur dengan lelapnya tanpa ada rasa malu kepada Yuda. Semenjak mengandung Dinda memang lebih gampang merasa ngantuk apalagi disaat perutnya terasa kenyang. Yuda menatapi wajah cantik Dinda yang tengah terlelap, tak tahan dengan wajah cantik itu Yuda memberanikan diri menyentuh pipi mulus Dinda dengan punggung tangannya. Tak bisa dipungkiri Yuda terpesona memandang wajah cantik nan ayu yang sedang tenang terbawa mimpi.
“Betapa beruntungnya aku.” Gumam Yuda.
Mobil sport hitam itu memasuki pekarangan rumah keluarga Dirk. Yuda yang tak tega membangunkan Dindapun berinisiatif untuk menggendong tubuh Dina, sayangnya belum sempat mengangkat tubuh Dinda dengan sempurna sang empunya sudah tersadar lebih dahulu.
“Kakak mau ngapain?” Tanya Dinda terkejut melihat wajah Yuda yang begitu dekat dengannya. Dinda sedikit memundurkan wajahnya gugup.
“Kita udah sampai tapi kamu tidurnya nyenyak banget. Aku mana tega mau bangunin kamu sayang, makanya aku mau gendong kamu.” Jelas Yuda.
“Tapi sekarang aku udah bangun.” Jawab Dinda lalu segera keluar dari mobil Yuda.
Dinda masuk kedalam rumah bak istana itu dengan langkah santai. Didapatinya tuan Bram, nyonya Anetta dan seorang wanita yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita itu nampak asing bagi Dinda. Nyonya Anetta segera mendekat pada Dinda dan mengajak Dinda untuk segera masuk ke dalam kamarnya membuat Dinda sedikit bingung tidak biasanya nyonya Anetta bersikap seperti itu. Dan yang lebih anehnya lagi wanita asing itu beberapa kali terus melirik pada Dinda dengan tatapan sinisnya.
“Dia siapa ma?” Tanya Dinda penasaran.
“Oh i itu rekan bisnis papa dan Yuda.” Jawab nyonya Anetta sedikit gugup.
“Oh.. cantik ya ma.” Puji Dinda polos.
“Cantikan kamulah sayang anak mama.” Bantah nyonya Anetta membuat Dinda tertawa.
“Jauh cantikan mama sih..” Puji Dinda tak mau kalah.
“Ya udah sama-sama cantik deh mama dan Dinda.” Seru nyonya Anetta.
Di lantai bawah, Yuda yang baru masuk sangat terkejut saat melihat sosok wanita yang tengah duduk bersama tuan Bram papanya. Nampak jelas kemarahan diwajah tuan Bram.
“Kamu!” Bentak Yuda saat ia beradu pandangan dengan wanita yang tak lain adalah Rebeca.
“Hai baby.” Sapa Rebeca membuat Yuda naik pitam.
“Mau apa kamu kemari?!” Tanya Yuda penuh amarah.
“Tentu saja untuk meminta pertanggung jawaban kamu baby.” Jawab Rebeca enteng.
“Cih..! jangan gila kamu!” Ucap Yuda kasar.
“Apa benar yang wanita ini katakan? Papa sangat kecewa sama kamu!” Seru tuan Bram yang sedari tadi berusaha tenang.
“Pa, wanita ini pembohong! Jangan percaya sama kata-katanya!”
“Om untuk apa saya berbohong, saya benar-benar sedang mengandung om, anak Yuda putra om.” Seru Rebeca dengan nada memelasnya.
“Diam kamu! Dasar jalang!” Bentak Yuda tak dapat menahan diri lagi.
“Cukup Yuda! Papa minta kamu jujur sekarang!” Seru tuan Bram mulai tersulut emosi.
Dinda yang sedang mengobrol dengan nyonya Anetta tak sengaja mendengar suara bentakan membuatnya sedikit penasaran, pikirannya mulai tak tenang. Dengan jelas Dinda mendengar suara tuan Bram dan Yuda yang bersahutan seperti sedang bertengkar.
“Ma denger suara papa sama kak Yuda nggak?” Tanya Dinda polos.
“Nggak tuh, mama nggak denger apa-apa.” Bohong nyonya Anetta.
“Dinda dengernya jelas banget ma, Dinda cek ke bawah duluh ya ma takutnya ada apa-apa.” Seru Dinda hendak keluar dari kamarnya.
“Eh jangan sayang.” Cegah nyonya Anetta yang mulai panik.
“Dinda khawatir ma takutnya papa sam kak Yuda ada masalah.” Ucap Dinda jujur.
“Ngga sayang ngga ada masalah apa-apa, percaya sama mama.”
“Tapi ma..”
“Udah lebih baik sekarang kamu ganti baju terus mandi biar bisa istirahat. Mama tinggal duluh ya.” Seru nyonya Anetta lalu meninggalkan Dinda sendirian di kamarnya.
Nyonya Anetta buru-buru turun ke bawah agar dapat melerai keributan yang terjadi. Ia tak ingin Dinda sampai mendengarnya. Sejujurnya nyonya Anetta sama sekali tidak percaya terhadap pengakuan wanita itu tapi sebagai tuan rumah yang baik ia tetap menerima kedatangan Rebeca agar bisa langsung menyelesaikan masalahnya dan Yuda.
“Tante, anda seorang perempuan dan seorang ibukan, tante pasti dapat merasakan apa yang tengah saya rasakan.” Ucap Rebeca memelas.
“Jangan percaya ma! Wanita ular ini sangat pandai berakting!” Bantah Yuda.
“Saya mengenal anak-anak saya dengan baik, saya yakin apa yang kamu katakan saat ini adalah kebohongan.” Jawab nyonya Anetta tegas membuat Yuda tersenyum puas.
“Aku nggak bohng tante! Aku sedang hamil anak Yuda cucu tante dan om.” Tegas Rebeca masih tak mau kalah.
“Hamil?” Seru Dinda dengan suara lembutnya membuat seisi ruangan itu terkejut.
Dinda yang sangat penasaran dengan tingkah aneh nyonya Anettapun memilih untuk turun agar bisa melihat langsung apa yang sedang terjadi. Sungguh terkejut dirinya saat mendengar secara langsung dan jelas tentang pengakuan dari wanita yang tadi sempat dipujinya.
“Siapa kamu?!” Tanya Rebeca pada Dinda dengan gaya angkuhnya.
Yuda, tuan Bram dan nyonya Anetta yang sudah tertangkap basah terdiam bingung harus berbuat apa.
“Apa kamu hamil?” Tanya Dinda lagi memastikan.
“Sayang tadi katanya cape, istirahat ya aku antar ke atas.” Bujuk Yuda seraya merangkul Dinda mencoba menghalangi Dinda untuk berbicara lebih jauh lagi dengan Rebeca.
“Sayang? Wah pas banget.”