Dinda terdiam, ia masih menatap wanita bertubuh ramping dihadapannya ini. Nyonya
Anetta dan Yuda sudah berulang kali berusaha membujuknya agar lekas pergi dan tak mendengarkan Rebeca tapi Dinda enggan beranjak, sepertinya ia ingin tahu lebih banyak.
“Om tante, siapa wanita ini?” Tanya Rebeca tak tahu malu.
“Dia putri kami!” Jawab tuan Bram tegas. “Jika sudah tidak ada urusan lagi cepat pergi dari sini!” Titah tuan Bram muak.
“Dia siapa ma?” Tanya Dinda masih penasaran.
“Dia Cuma orang asing sayang.” Bohong nyonya Anetta.
“Ia saya orang asing untuk tante dan om tapi saya nggak asing untuk Yuda kami pernah menghabiskan malam bersama dan sekarang saya mengandung darah dagingnya, iakan baby?” Ucap Rebeca genit, ia sengaja mengucapkan itu karena ia tak yakin tentang status Dinda sejauh penglihatannya Dinda bukan hanya seorang putri untuk keluarga Dirk.
Ucapan Rebeca tentu saja membuat Dinda terkejut bak disambar petir dan memancing kemarahan Yuda.
“Dasar jalang! Tutup mulut kotormu itu! Aku bisa menuntutmu!” Bentak Yuda dengan satu jari menunjuk ke arah Rebeca.
“Apa benar yang dia katakan?” Tanya Dinda dengan tubuh bergetar. Air mata sudah memenuhi seluruh bola mata indahnya.
“Dia berbohong sayang, kamu harus percaya sama aku. Dia cuma wanita yang tergila-gila sama hartaku.” Jelas Yuda seraya memegang kedua tangan Dinda tapi segera ditepis oleh Dinda.
“Untuk apa saya harus berbohong? Ini buktinya.” Ucap Rebeca sembari menunjukan test pack dengan dua garis.
Melihat test pack yang dipegang Rebeca hati Dinda makin sakit. Air matanya jatuh, hati wanita siapa yang tak akan sakit jika menjadi dirinya. Tak tahan dengan apa yang dilihatnya Dinda memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia menerobos Yuda yang mencoba menahannya. Dinda mengunci pintu kamarnya, ia tak ingin bertemu dengan siapapun, hatinya sakit dan masih syok.
“Dasar murahan kamu!” Ucap Yuda seraya menyeret paksa Rebeca agar keluar dari rumahnya.
Yuda tak tahan lagi dengan wanita itu, ia sudah membuat kekacauan yang pastinya akan sulit diatasi. Rebeca terus memberontak agar Yuda tak mengusirnya sayangnya kekuatan yang ia miliki tak sebanding dengan kekuatan Yuda. Dengan kasar Yuda mendorongnya keluar dan berpesan kepada security di rumahnya agar tak lagi menerima Rebeca datang ke rumahnya. Perasaan kesal dan malu bercampur jadi satu, beberapa kali Rebeca meneriaki kalimat ancaman agar Yuda takut tapi tentu tak berhasil. Dengan berat hati dan malu Rebeca pergi meninggalkan kediaman keluarga Dirk, ia berjanji akan kembali lagi dengan berbagai cara. Yuda kembali kedalam rumahnya, ia memijit kepalanya yang pusing karena ulah wanita yang pernah menemaninya semalam.
“Yuda!” Panggil tuan Bram.
“Ada apa lagi pa?” Tanya Yuda tak b*******h.
“Duduk! Papa mau ngomong!”
Tanpa berlama-lama Yuda segera duduk, ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan papanya itu.
“Papa minta kamu jujur, apa benar yang wanita tadi katakan?” Tanya tuan Bram memasang wajah penuh amarah.
Yuda terdiam sejenak bingung bagaimana harus menjelaskan kepada orang tuanya terutama pada Dinda nanti.
“Pa ma, dia berbohong dia itu perempuan licik pa.”
“Bukan itu jawaban yang papa butuhkan!” Bantah tuan Bram dengan wajah yang memerah.
Tuan Bram sangat tidak menyangka akan ada seorang wanita yang datang ke kediamannya dan meminta pertanggung jawaban atas ulah putra sulungnya, sementara di rumah itu sudah ada wanita lain yang sebentar lagi akan resmi menjadi menantunya yang juga tengah mengandung. Jika sampai ada orang luar yang mengetahui tentang masalah ini bisa hancur nama keluarga Dirk yang terhormat.
“Tolong jawablah dengan jujur nak, kamu harus ingat sekarang ada hati yang sedang terluka.” Seru nyonya Anetta yang sedari tadi berusaha tenang.
“Oke oke. Yuda memang pernah bersama wanita itu tapi cuma semalam dan itu udah lama pa sekitar dua bulan yang lalu. Yuda juga nggak pernah punya hubungan apa-apa sama wanita tadi. Setelah bertemu Dinda jujur Yuda nggak pernah ngelakuin hal yang aneh-aneh lagi.” Jelas Yuda jujur.
Bruk…
Sebuah tote bag yang sedang di pegang Dinda terjatuh menimbulkan suara membuat ketiga orang yang tengah membahas masalah Rebeca terkejut. Dinda menatap tajam ke arah Yuda sementara Yuda bingung juga khawatir, ia takut apa yang baru saja diucapkannya didengarkan oleh Dinda.
“Kamu harus bertanggung jawab kak!” Ucap Dinda diikuti dengan jatuhnya setetes air mata.
“Sayang kamu salah paham, dengerin duluh penjelasan aku.” Sahut Yuda seraya berdiri menatap pada Dinda yang juga menatapnya menunjukan rasa kecewanya.
Dinda berjalan mendekati Yuda, rasanya sangat lelah untuk mendnegarkan semua alasan yang akan Yuda berikan.
“Aku udah denger semuanya. Pa ma Dinda pamit.” Seru Dinda hendak melangkah namun segera dicegah oleh Yuda.
“Kamu mau kemana?” Tanya Yuda tangannya sudah memegang erat pergelangan tangan Dinda agar tidak pergi.
“Ia sayang kamu mau kemana? Kamu baru aja nyampai di rumah.” Tanya nyonya Anetta berusaha mencegah.
“Dinda ingin sendiri ma, Dinda lelah.”
“Kamu nggak bisa pergi! Kamu harus dengerin penjelasan aku dan aku nggak ngijinin kamu untuk pergi kemanapun!”
“Ia Dinda sebaiknya kamu di rumah saja nak, ingat kata dokter kamu nggak boleh kecapean.” Timpal tuan Bram.
“Maaf pa Dinda nggak bisa Dinda harus pergi.” Dinda menatap segan ke arah tuan Bram. “Lepasin!” Dinda berusaha melepaskan pegangan tangan Yuda tapi Yuda semakin kuat mencengkramnya.
“Sudah aku bilang kamu nggak boleh kemana-mana, kamu harus dengerin penjelasan aku. Aku sama wanita itu nggak ada hubungan apa-apa!”
“Oh ya?! Lantas kenapa dia bisa mengandung anak kak Yuda?!” Balas Dinda kasar.
“Dia berbohong! Dia Cuma wanita licik yang bermimpi ingin menjadi menantu keluarga Dirk.”
“Dia nggak bohong! Kak Yuda yang bohong!”
“Tolong kamu percaya sama aku.”
“Biarin aku pergi! Aku lelah sama kak Yuda!”
Yuda terdiam bingung harus berkata apa lagi, ia menatap kedua orang tuanya seolah meminta pertolongan.
“Pa ma, jangan khawatir serahin semuanya sama Yuda.” Ucap Yuda dan langsung mengangkat tubuh Dinda lalu menggendongnya ala bridal style membuat Dinda, tuan Bram dan nyonya Anetta.
“Turunin! Turunin aku!” Teriak Dinda tak suka dengan perlakuan Yuda sedang kedua orang tua itu hanya menatap bingung dengan apa yang dilakukan oleh putra mereka.
“Turuni aku! Dasar kamu cowok jahat!” Bentak Dinda memberontak.
Yuda membwa Dinda masuk kedalam kamar yang sebelumnya adalah miliknya lalu ia lekas mengunci pintu kamarnya dan memasukan kunci kamar tersebut kedalam kantong celananya.
“Dasar gila! Buka pintunya sekarang aku mau pergi!” Teriak Dinda geram.
“Kamu nggak akan kemana-kemana! Aku nggak akan kehilangan kamu lagi seperti duluh!”
“Tapi kamu pantas kehilangan aku! Kamu laki-laki b***t!”
“Nggak sayang, kamu pantasnya ada disamping aku. Jangan percaya sama wanita ular itu, dia hanya ingin merusak kebahagiaan kita.” Seru Yuda sembari menahan dua tangan Dinda yang terus berusaha memukulnya.
“Aku jijik sama cowok kaya kamu! Cowok hidung belang yang suka celap-celup sembarangan!”
Yuda menyeringai licik mendengar perkataan Dinda, ia tahu calon istrinya ini sedang marah dan juga cemburu.
“Itu duluh sayang semenjak sama kamu aku nggak pernah seperti itu lagi.” Seru Yuda sedikit menahan senyum dibibirnya.
“Aku nggak perduli! Sekarang lepasin aku! Aku nggak mau ada didekat kamu!”
Lelah berdebat dengan Dinda tanpa aba-aba Yuda langsung menerkam bibir mungil Dinda, diciumnya dengan rakus dan yang empunya sekuat tenaga melakukan perlawanan terhadap serangan dadakan dari Yuda. Yuda terus menciumi gadis yang ia cintai tanpa perduli terhadap penolakan Dinda, Dinda yang kewalahanpun menyerah enggan memberontak. Semakin lama ciuman itu berubah menjadi sebuah lumatan lembut. Satu detik.. dua detik.. tiga detik.. Dinda mendorong tubuh Yuda kuat saat pria itu sedang lenga. Yuda tersentak beberapa saat kemudian tersenyum nakal berbeda dengan Dinda, ia mengusap kasar bibirnya bekas cumbuan Yuda.
“b******k!”
“Siapa yang b******k?” Tanya Yuda kembali mendekatkan tubuhnya ke arah Dinda membuat Dinda memundurkan langkahnya. “Sebentar lagi kamu akan resmi menjadi istriku dan kamu juga sedang mengandung anakku jadi sah-sah saja aku melakukan itu kepadamu.
“Aku nggak mau menikah sama cowok seperti kamu! Aku nyesel udah milih kamu!”
“Dinda! Jangan buat aku kehilangan kesabaranku! Sudah aku jelaskan kalau wanita itu berbohong, tolong kamu percaya!”
Dinda tersenyum kecut menatap Yuda, rasanya ia sangat ingin menampar pria dihadapannya ini.
“Kalau kamu ingin aku percaya buktikan bahwa ucapan wanita tadi hanya sebuah kebohongan!”
“Oke akan aku buktikan, beri aku waktu.”
“Dua hari! Jika dalam dua hari kamu nggak bisa membuktikannya tolong biarkan aku pergi!” Ucap Dinda tegas.
“Nggak, aku nggak setuju!”
“Kamu harus setuju! Mendengar bahwa kamu pernah tidur bersamanya aja udah sangat menyakitkan untuk aku, apalagi kalau sampai kamu nggak bisa kasih bukti yang selamanya akan aku anggap bahwa kamu memang menghamili wanita tadi.”
“Oke aku pastikan akan membawa bukti itu dan kamu nggak akan bisa lepas dari genggamanku!”
Dinda menatap tajam ke arah Yuda dengan sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Hatinya sangat sakit mengetahui kebenaran tentang Yuda yang pernah bersama wanita itu. Entah karena ia cemburu atau memang tak ingin berbagi, yang jelas mendengar itu rasanya sangat sulit untuk bernapas.