“Yuda, mama rasa kamu sedikit keterlaluan sama Dinda.” Ucap nyonya Anetta sebelum
mulai menikmati sarapannya pagi ini.
“Ia Yud, papa nggak setuju kalau kamu sampai ngurung Dinda kaya gini!” Tambah tuan Bram merasa kasihan pada gadis malang itu.
“Pa ma tenang aja, cuma satu atau dua hari ini aja sampai Yuda nemuin bukti.”
“Tapikan nggak kaya gini juga caranya.” Bantah nyonya Anetta menatap tajam pada putranya.
“Ma kalau Yuda nggak ngelakuin ini Dinda pasti bakalan lari dari Yuda, Yuda tahu ma Dinda kaya gimana dia itu nekat orangnya. Yuda nggak mau kehilangan Dinda untuk yang kedua kalinya ma.” Jelas Yuda mempertahankan apa yang menurutnya terbaik.
Tuan Bram dan nyonya Anetta kompak menghelai napas dan memandang lesuh pada Yuda. Semenjak pertengkaran kemarin Yuda terpaksa mengurung Dinda di dalam kamar, pagi ini juga ia tak membiarkan Dinda untuk ke kampus sampai Aris menemukan semua bukti dan menuntut Rebeca. Yuda takut jika ia lengah bisa-bisa Dinda kabur seperti dahulu. Menurutnya ini keputusan yang terbaik. Setelah sarapan Yuda kembali ke kamar untuk melihat keadaan Dinda, ia tahu gadis itu saat ini sangat marah dan kecewa padanya.
“Boleh masuk?” Tanya Yuda memasang tampang polosnya.
Sejenak Dinda melirik pada Yuda kemudian kembali menundukan wajahnya.
“Loh kok belum dimakan sarapannya? Nunggu disuapin?” Goda Yuda.
Dinda tak merespon sedikitpun apa yang Yuda ucapkan, baginya tak ada gunanya menjawab apa yang Yuda tanyakan. Yang ia inginkan agar segera keluar dari kamar terkutuk ini.
“Dasar licik!” Gumam Dinda wajahnya masih ia benamkan diantara kedua lututnya.
“Maaf kalau kamu harus mengalami ini, tolong beri aku waktu.” Seru Yuda mengelus kepala Dinda.
“Dan tolong beri aku waktu untuk sendiri! Aku ingin keluar dari kamar terkutuk ini!” Ucap Dinda acuh.
“Kamar ini tempat yang paling aman untuk kamu sayang, aku nggak mau kehilangan kamu lagi seperti duluh.”
“Kamu egois!” Balas Dinda seraya mengangkat wajahnya, matanya nampak bengkak dan wajahnya sembab. Semalamam ia tak bisa tidur hanya menangisi keadaannya sedang Yuda begitu pulas tertidur disebelah Dinda.
Tadi malam Yuda memutuskan untuk tidur dikamar Dinda, meskipun sudah diusir Dinda agar tak berada dikamarnya tapi Yuda enggan untuk pergi ia malah memilih naik ke atas ranjang Dinda, hal itu juga yang membuat Dinda semakin takut untuk mengistirahatkan tubuhnya.
“Aku suapin ya, setelah ini kamu bersih-bersih dan lanjut istirahat. Kamu kurang tidur semalam.” Ucap Yuda tanpa rasa bersalah.
“Sialan! Aku kaya gini gara-gara kamu!” Maki Dinda dalam hatinya.
“Ingat kamu harus banyak makan dan istirahat biar bayi kita juga sehat.” Ucap Yuda sembari menyendokan nasi dan lauk untuk Dinda. “Ah…” Yuda refleks membuka mulutnya hendak membujuk Dinda untuk makan.
“Aku nggak akan makan sebelum kamu bebasin aku!” Tolak Dinda menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
“Okelah kalau kamu nggak mau makan.” Seru Yuda ia meletakan kembali sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi yang begitu menggugah selera.
Yuda mendekatkan wajahnya ke arah Dinda lalu menarik paksa tengkuk Dinda membuat gadis cantik dihadapannya terkejut.
“Ka kamu mau apa?!” Bentak Dinda gugup.
“Kamu nggak mau makankan?” Tanya Yuda tersenyum devil.
“Ia!”
“Ya udah sini aku cium biar selera makan kamu bagus.” Jawab Yuda enteng seraya menarik paska tengkuk Dinda agar semakin mendekat padanya.
“Ih nggak! Nggak mau! Dasar gila!” Teriak Dinda memberontak, ia mendorong tubuh Yuda dengan sisa tenaga yang dirinya punya membuat Yuda tertawa geli.
“Kalau nggak mau dicium makan sekarang!” Seru Yuda mengubah raut wajahnya menjadi serius.
“Ia ia! Aku bakalan makan, tapi kamu pergi sana! Aku nggak suka lihat cowok b******k!”
Yuda terkekeh mendengar ucapan Dinda, ia sama sekali tidak marah kepada Dinda baginya tingkah gadis yang ia cintai itu sangatlah lucu dan membuat moodnya sedikit baik ditengah keadaan yang menjengkalkan.
“Baiklah aku pergi duluh, butuh sesuatu tinggal telepon ke lantai bawah atau telepon aku.”
“Tunggu!” Teriak Dinda membuat Yuda menghentikan langkahnya.
Yuda berbalik tersenyum menatap Dinda.
“Kenapa sayang? Masih nggak rela aku pergi?” Goda Yuda membuat Dinda bergidik.
“Aku mau ke kampus!” Ucap Dinda memberanikan diri menatap tajam pada Yuda.
“Untuk hari ini kamu lebih aman diam disini!” Jawab Yuda tersenyum memperlihatkan barisan gigi putihnya.
“Tapi hari ini ada kuis!” Kesal Dinda mencebikan bibirnya.
“Kamu tenang ya sayang, semua sudah aku urus kamu bisa ikut kuisnya kapan aja.” Jawab Yuda santai. Yuda segera keluar dari kamar Dinda dan mengunci kembali kamar tersebut dari luar membuat Dinda yang berada didalamnya berteriak histeris merasa frustasi.
“Arghh! Sial! Dasar cowok gila!” Teriak Dinda melempar sebuah bantal yang tak berdosa ke arah pintu.
Yuda melangkah dengan gaya angkuh sejuta pesona disepanjang lobi kantor yang megah miliknya. Banyak mata yang mengagumi ketampanan dan pesona miliknya. Pantas saja Rebeca sangat ingin menjadi miliknya agar status sosialnya naik seratus persen jika bisa memakai nama Dirk dibelakang namanya. Seluruh karyawan di kantornya belum mengetahui tentang Dinda yang sebentar lagi akan resmi menjadi nyonya Dirk sehingga banyak dari mereka beranggapan bahwa Yuda masih sendiri dan memiliki peluang untuk mendekati sang CEO muda itu.
“Bagaimana? Kamu sudah menemukan semua buktinya?” Tanya Yuda setelah duduk di kursi kebesarannya.
“Sudah tuan.” Jawab Aris tersenyum.
Aris menyerahkan semua bukti yang ia dapat lewat orang suruhannya. Ternyata memang benar wanita itu tenga berbadan dua tapi yang pasti itu bukan anak Yuda. Rebeca tinggal di sebuah apartment sederhana dengan seorang pria yang merupakan kekasihnya berdasarkan bukti-bukti yang dibeberkan oleh beberapa saksi dan foto-foto kedekatan mereka. Aris juga menggali informasi di tempat Rebeca bekerja, wanita itu sudah menjalin hubungan cinta dengan pria yang tinggal bersamanya sekitar satu tahunan. Pria tersebut tidak punya pekerjaan tetap, Rebecalah yang lebih banyak menafkahinya. Dengan begitu jelas sudah Rebeca sengaja mengganggu Yuda agar bisa hidup mewah jika rencananya ini berhasil.
Yuda tersenyum penuh kemenangan, akhirnya masalah yang membuatnya pusing akan segera selesai dan ialah pemenangnya.
“Kamu sudah membuat laporan ke pihak kepolisian?”
“Sudah tuan, kemungkinan sekarang wanita itu sedang berada di kantor polisi.”
“Baiklah. Kerja bagus Ris, sejam lagi saya transfer bonus untukmu.” Ucap Yuda tersenyum puas.
“Terimakasih tuan.” Seru Aris membungkukan badannya.
Setelah kepergian Aris dari ruangannya, Yuda memutuskan untuk menghubungi kedua orang tuanya ia bermaksud memberi tahu kabar baik kepada tuan Bram dan nyonya Anetta yang dari kemarin juga cemas memikirkan kebenaran dari masalah putra mereka. Tuan Bram dan nyonya Anetta yang baru saja mendapat kabar baik itupun turut senang, tapi mereka enggan memberi tahu hal tersebut pada Dinda atas saran Yuda. Yuda ingin ia sendirilah yang menyampaikan kabar baik itu pada Dinda.
Tepat jam makan siang Yuda memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia sudah tak sabaran untuk bertemu Dinda memberi tahu Dinda bahwa dirinya tidak pernah menghamili wanita licik itu. Sepanjang perjalanan senyuman tak pernah pudar dari wajah tampan Yuda. Yuda yang sudah tiba di kediaman Dirk lekas masuk dan menuju kamar Dinda. Di bukanya pintu kamar Dinda pelan-pelan dan didapatinya Dinda yang sedang tertidur lelap dengan mata yang bengkak. Yuda tersenyum menatap wajah gadis yang begitu tenang itu. Yuda memberanikan diri mengelus pipi Dinda dengan lembut tak puas hanya dengan mengelus Yuda kembali mendaratkan kecupannya di kening Dinda membuat Dinda sedikit menggeliat. Melihat itu Yuda semakin gemas, kecupannya ia lanjutkan dibibir Dinda spontan membuat yang empunya terkejut dan langsung mendorong tubuh kekar Yuda yang dibalut setelan jas navy.
“Selamat siang.” Sapa Yuda menggoda Dinda.
“Ka kamu ngapain?!” Tanya Dinda gugup.
“Aku punya kabar baik untukmu sayang.” Ucap Yuda tak menggubris pertanyaan Dinda.
“Apa?!” Tanya Dinda tak berselera.
“Aku sudah memiliki bukti yang kamu inginkan dan sekarang wanita itu sedang diperiksa oleh pihak kepolisian, aku akan menuntutnya.” Seru Yuda penuh kesombongan.
Dinda tidak memberikan reaksi apapun, ia diam saja menatap kesembarang arah membuat Yuda sedikit kesal karena Dinda tak memberikan respon seperti yang diharapkannya.
“Hei, ada apa?” Tanya Yuda bingung.
“Nggak!” Jawab Dinda singkat.
“Aku udah kasih bukti sesuai keinginan kamu tapi kenapa malah diam?” Tanya Yuda sedikit kecewa dengan sikap cuek Dinda.
“Terus aku harus gimana? Lompat-lompat kegirangan?!” Cibir Dinda.
“Ya kasih aku pelukan atau nggak ciuman gitu, aku lelah nyari buktinya.”
“Cih omong kosong! Paling juga kak Aris yang nyariin buktinya!”
“Ya sama aja sayang, kan Aris asistenku itu udah tugasnya.”
“Kalau gitu sekarang aku udah bisa keluar dari sinikan?” Tanya Dinda masih dengan sikap acuhnya.
“Nggak kamu nggak boleh keluar dari sini.” Cegah Yuda.
“Kamu udah nemuin buktinyakan? Jadi sekarang aku bebas!”
“Kamu kenpasih sayang? Aku udah kasih bukti buat kamu, tapi kayanya kamu nggak senang.” Tanya Yuda sabar.
“Ia makasih ya atas buktinya tapi tetap aja kamu dan dia pernah ngabisin malam bersama! Puas?!” Seru Dinda penuh kekesalan.
Dinda kembali membaringkan tubuhnya dan menarik bed cover menutupi seluruh tubuhnya agar tak terlihat oleh Yuda. Yuda tertawa geli mendengar ucapan Dinda membuat Dinda bingung tapi ia berpura-pura tak perduli.
“Sayang, kamu cemburu ya?” Goda Yuda.
“Udah keluar sana! Biarin aku disini selamanya!” Teriak Dinda dari balik bed covernya.
“Aku udah berubah sayang nggak kaya duluh lagi.”
“Terserah! Aku nggak perduli!” Balas Dinda acuh.
“Kata orang kalau cemburu tandanya cinta.” Timpal Yuda seraya terkekeh. Entah apa yang ia rasakan, yang jelas saat ini hatinya begitu berbunga-bunga mengetahui gadis itu cemburu padanya.
“Aku nggak cemburu!”
“Ia ia kamu nggak cemburu sayang, jadi kita baikan?”
“Pergi!”
Yuda menghela napasnya, ia memilih menuruti keinginan Dinda, biarlah gadis itu menenangkan dirinya duluh. Yang terpenting saat ini ia sudah memiliki bukti yang kuat. Tinggal bagaimana caranya membujuk gadis kecilnya agar tak marah lagi kepadanya. Yuda keluar dari kamar Dinda, ia memutuskan untuk menikmati makan siang bersama kedua orang tuanya tanpa Dinda. Biarkan gadis itu meluapkan kekesalannya sampai puas, pikirnya.