Hari ini Yuda sudah mengijinkan Dinda untuk kembali berkuliah setelah keduanya
berbicara dari hati ke hati menyelesaikan masalah yang masih mengganjal selama beberapa hari kemarin. Butuh banyak perjuangan agar Dinda mau memaafkannya dan menerima semua masa lalu kelam yang memang akan sulit untuk Dinda terima. Keduanya juga berjanji agar saling jujur dan terbuka satu sama lain jika ada masalah yang menimpa tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Untuk masalah Rebeca Yuda sudah mencabut berkas tuntutannya atas permintaan Dinda. Ya gadis cantik itu memang berhati mulia, alasannya ia juga seorang wanita yang saat ini sedang mengandung. Ia mengerti mengapa Rebeca sampai nekat melakukan hal gila seperti itu, pastinya ia ingin bayinya terlahir ditengah keluarga yang berkecukupan dan hidup layak mengingat ayah kandung dari bayi itu tak memiliki pekerjaan tetap. Rebeca sangat merasa bersyukur atas kebaikan hati Dinda, ia juga secara khusus langsung menemui Dinda dan berterimakasih karena sudah mau memaafkannya. Rebeca juga meminta maaf atas semua kekacauan yang diperbuatnya, ia merasa malu dan menyesal. Yuda sangat kagum kepada wanita yang dipilihnya, ia memang tak salah menjatuhkan hatinya kepada Dinda. Tak hanya itu Yuda juga semakin dibuat kagum oleh Dinda tatkala gadis itu secara khusus meminta untuk mempekerjakan ayah dari bayi yang dikandung Rebeca, Doni. Demi cintanya kepada Dinda yang begitu besar Yudapun mengiakan permintaan calon istrinya itu dengan menempatkan Doni di salah satu bagian yang cukup penting di perusahannya.
Hari ini Yuda Dinda akan fitting baju pengantin di salah satu butik terbaik di kota mereka, setelah fitting baju keduanya akan mengambil cincin berlian pesanan Yuda yang di desain sesuai permintaan Yuda tentu dengan harga yang fantastis. Yuda ingin pernikahan sekali seumur hidupnya ini berlangsung dengan sempurna meskipun akan dilangsungkan secara tertutup sesuai permintaan Dinda.
“Sayang mau makan duluh atau langsung ke butik?” Tanya Yuda pada Dinda tetap fokus menyetir.
“Langsung ke butik aja kak, Dinda masih kenyang. Masih jam sebelas juga ini.” Dinda sengaja ijin lebih awal agar bisa pergi bersama Yuda.
Entah mengapa jika akan pergi bersama Dinda, Yuda selalu memutuskan untuk menyetir sendiri tanpa ditemani sopir pribadi. Ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Dinda lebih banyak lagi, jika memakai jasa sopir rasanya kurang nyaman jika dirinya ingin bermanja-manja ria dengan Dinda, maklum Dinda cukup pemalu.
“Ya udah, selesai fitting kita langsung ambil pesanan cincin sekalian langsung makan siang di mall yang sama.”
“Ia terserah kak Yuda aja.” Jawab Dinda yang fokus dengan ponselnya.
“Lihat apasih? Serius banget.” Tanya Yuda sedikit kesal karena Dinda sedikit cuek padanya.
“Ini loh kak, coklat devil cakenya enak banget.” Seru Dinda dengan tatapan menuntut pada layar ponselnya.
“Pulang dari butik kita beli ya di toko kue langganan mama.” Ucap Yuda seraya tersenyum mengusap puncak kepala Dinda. Yuda tahu gadis cantik disampingnya ini sedang ngidam.
“Beneran dibeliin kak?” Tanya Dinda dengan mata berbinar-binar.
“Ia sayang, apapun yang kamu suka akan kamu dapatkan.” Seru Yuda tersenyum tulus menatap wajah ayu calon istrinya.
“Makasih kak, aku seneng banget.” Saking senangnya Dinda sampai menggenggan kuat jemari Yuda membuat jantung Yuda berdegup kencang. “Sabar ya nak sebentar lagi kita bakalan makan coklat devil cakenya dibeliin sama papa.” Ucap Dinda polos seraya mengelus perutnya yang mulai nampak.
Ucapannya tentu saja membuat hati Yuda berbunga-bunga, ini kali pertamanya Dinda menyebut dirinya sebagai papa saat berbicara dengan bayi didalam kandungannya.
Dinda sudah di ajak oleh pemilik butik untuk melakukan fitting sementara Yuda duduk menunggu Dinda dengan sabar. Tak lama menunggu tirai putih dihadapan Yuda dibuka menampilkan sosok gadis cantik yang sangat mempesona dibalik gaun pengantin dengan model vintage berwarna putih. Saking cantiknya penampilan Dinda mata Yuda sampai tak berkedip. Yuda terpesona sungguh terpesona melihat indahnya ciptaan Tuhan yang tenga berdiri dihadapannya saat ini.
“Bagaimana tuan Yuda?” Tanya Vera si pemilik butik yang juga desainer terkenal.
“Cantik sangat cantik!” Ucap Yuda dengan mata yang tak berkedip.
Mendengar ucapan Yuda seketika pipi Dinda merona, Vera yang juga mendengarnya langsung menggoda Dinda membuat gadis itu semakin salah tingkah.
“Ya udah aku mau ganti duluh.” Seru Dinda kembali menutup tirai putih tersebut dan diikuti oleh Vera.
“Kalian pasangan yang serasi nona.” Ucap Vera memuji.
“Terimakasih tante.” Ucap Dinda sedikit canggung.
“Berapa umurmu?” Tanya Vera penasaran yang melihat wajah dan penampilan Dinda yang seperti gadis remaja.
“Sembilan belas tahun tante.” Jawab Dinda dengan senyuman tipis di bibirnya.
“Wah masih sangat muda, kamu sangat beruntung bisa dinikahi oleh tuan Yuda CEO muda terkaya sebaliknya tuan Yuda juga sangat beruntung mendapatkan istri cantik yang masih remaja seperti kamu.” Timpal Vera sembari melepaskan gaun pengantin ditubuh Dinda.
Selesai dari butik Vera keduanya menuju sebuah mall terbaik dikota itu untuk mengambil pesanan cincin yang dibuat hanya dalam waktu tiga hari. Yuda sangat puas saat melihat hasil cincin pesanannya yang sangat sesuai dengan ekspektasinya, memang kualitas dan harga tidak pernah berbohong. Bagi Yuda tak masalah meski harus mengeluarkan banyak uang untuk sepasang cincin itu, karena Dinda layak mendapatkannya setelah apa yang sudah ia renggut dari gadis cantik yang saat ini sedang ia genggam tangannya.
“Bagaimana tuan apa anda suka?” Tanya manajer toko perhiasan.
“Sangat memuaskan cincin yang indah.” Puji Yuda membuat senyuman lebar di wajah sang manajer terukir.
“Terimakasih tuan.”
Yuda menunjukan sepasang cincin itu kepada Dinda membuat Dinda membelalakan matanya melihat cincin berlian yang begitu indah. Seumur hidupnya Dinda belum pernah melihat apalagi memiliki cincin seperti itu. Ada perasaan segan dan rasa tak layak yang tiba-tiba saja timbul dalam hatinya.
“Bagaimana sayang apa kamu suka? Ini dibuat khusus untuk hari pernikahan kita.” Ucap Yuda seraya menatap lekat wajah Dinda.
“Semua yang kak Yuda pilihkan nggak pernah salah, tapi apa ini nggak berlebihan kak? Aku rasa cincin ini harganya sangat mahal.” Jawab Dinda jujur.
“Sayang kamu pantas mendapatkannya bahkan ini tak sebanding dengan kesucian yang sudah aku renggut paksa darimu.” Seru Yuda kembali mengingat kejadian itu membuatnya merasa sedikit bersalah pada Dinda.
Dinda tertunduk mendengar perkataan Yuda yang dirasanya begitu tulus membuat Dinda tanpa sadar menitikan air matanya.
“Hei kamu kenapa sayang? Kamu nggak suka sama cincinnya?” Tanya Yuda panik.
Dinda menggeleng lalu mengusap air mata yang jatuh dipipinya.
“Aku suka kak, suka banget. Terimakasih.” Ucap Dinda dan langsung mengecup pipi Yuda membuat jantung pria dewasa yang kini berdiri menatap tak percaya padanya seperti ingin meloncat keluar.
Yuda terkejut sangat terkejut begitu juga dengan Dinda yang tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Pipinya memerah dan terasa panas sedang Yuda yang tak kuasa menahan rasa bahagianya memeluk erat tubuh Dinda seakan tak ingin melepaskannya. Yuda tak perduli lagi dengan tatapan para pengunjung yang tak pernah lepas dari dirinya dan Dinda, ia sangat bahagia jadi menganggap yang lain tak ada. Dinda yang merasa malu spontan mendorong tubuh Yuda ke belakang, ia tak ingin jadi tontonan gratis di tempat itu.
“Kak Yuda! Malu tahu.”
“Lebih malu mana dipeluk apa dikecup pipinya di depan umum?” Goda Yuda membuat wajah Dinda semakin panas.
“Ih kak Yuda! Udah ah aku laper mau makan!” Ucap Dinda seolah sedang ngambek.
Yuda semakin gemas melihat tingkah manja Dinda, ia mencubit kedua pipi Dinda membuat gadis itu merintih kesakitan.
“Kak Yuda sengaja ya mau bikin pipi aku jadi makin chubby?!” Kesal Dinda.
“Abis kamu gemesin banget sayang.”
“Emang aku anak bayi apa ngegemesin!”
Yuda terkekeh menatap wajah cemberut calon istrinya itu.
“Ya udah kita makan duluh ya, selesai makan kita beli cake yang kamu suka.” Ajak Yuda seraya menggandeng tangan Dinda.
Keduanya berjaan beriringan dengan tangan yang saling bertautan, Yuda merasa dirinya seperti kembali ke masa-masa remaja. Sungguh bahagia hati Yuda saat ini, rasanya tak ingin hari ini berakhir. Sesekali Yuda melirik menatap wajah Dinda seperti candu baginya, jika ini di apartment atau di rumahnya mungkin saat ini Dinda sudah di terkam oleh Yuda tanpa ampun.
“Mau makan apa sayang?” Tanya Yuda yang sedang membaca daftar menu.
“Samain kaya punya kakak aja.” Jawab Dinda.
Yuda memesan menu yang sama untuk keduanya, sembari menunggu pesanan datang Yuda mengajak Dinda untuk mengobrol santai. Ia dan Dinda jarang sekali mengobrol santai, karena ujung-ujungnya akan selalu terjadi pertengkaran kecil karena ulah Yuda.
“Jadi kapan kamu mau ngambil cuti?” Tanya Yuda.
“Belum tahu kak, aku masih sanggup buat kuliah.”
“Ya tapikan kamu juga perlu banyak waktu untuk istirahat dan jangan kebanyakan stress biar anak kita sehat.”
“Aku nggak stress kok.”
“Tapi aku sering denger kamu ngeluh kalau dapat banyak tugas.” Seru Yuda.
“Kalau itusih stress ala anak kuliahan udah biasa.” Balas Dinda seraya nyengir.
“Kamu tuh ya susah banget dibilangin, kalau udah menikah kamu harus nurut sama kata suami.” Goda Yuda.
“Siap calon suami!” Seru Dinda terkekeh membuat Yuda ikut terkekeh.
“Makin nggak sabar ni nunggu hari pernikahan tiba.” Timpal Yuda disela tawanya.