Selalu Ada Awal, Ra.
Hari ini, tepat satu minggu gadis berambut sebahu tersebut memulai harinya di sebuah lingkungan yang tampak asing baginya. Tanpa orang tua, tanpa sahabat, dan tanpa orang-orang yang dikenal baik selama ini. Ia tak bisa menyalahkan takdir atas keputusannya sendiri, sehingga hal yang sangat harus ia lakukan adalah bersyukur. Bersyukur karena dunia barunya tidak seburuk dalam bayangannya, bersyukur karena sejauh ini hanya 3 kali dari seminggu ia menangis karena berjauhan dari keluarganya haha harus tetap bersyukur bukan?
Ingat sekali, pertama kali ia mendapatkan tulisan berwarna hijau dalam sebuah web pengumuman sbmptn ia sangat bahagia maka lingkungan baru harusnya tidak dapat meredupkan bahagianya bukan? namun jawabannya bukan. Karena nyatanya, selalu terbersit dalam pikiran untuk menyerah dan tidak lagi melanjutkan pilihannya ini. Jiwa sosialnya sangat minim sekali sehingga untuk mendapat teman baru merupakan hal tersulit dalam hidupnya.
Tidak jarang ia selalu menyesali tindakannya selama satu minggu terakhir dalam hidupnya, dimulai dari hal sepele seperti cara masuk perpus yang harusnya scan kartu mahasiswa malah mengscan ktp, yang seharusnya masuk kaprodi jurusannya malah memasuki ruangan kaprodi jurusan tetangga, memasuki lift tapi lupa untuk memencet lantai berapa, memberikan uang pas tapi menunggu untuk diberi kembalian, dan banyak hal bodoh lainnya. Sangat jelas sekali, ia tidak terbiasa menghadapi hidupnnya sendirian.
Namun hidup, harus terus berjalan.
Kali ini, untuk pertama kalinya selama satu minggu kehidupan kampusnya ia akan melakukan acara berkumpul bersama teman-teman kampusnya. Tak dapat ia katakan sebagai teman, karena rasanya ia tak punya teman.
Tidak ada wajah bahagia untuknya dalam menghadapi acara tersebut. ia hanya berharap dapat menghadapi kegiatan ini dengan normal tanpa ada hal yang memberi efek setelahnya. Tapi sepertinya, semesta berkata lain..
"Lu Aeera?" Tanya seorang pria dengan wajah tampan berani menghampirinya yang sangat dengan jelas sedang menghindari keramaian. Ia hanya berdiam diri menyaksikan sebuah aquarium ikan yang tampak mencolok dengan cahaya lampunya.
Aeera yang merasa namanya terpanggil langsung menatap lawan bicaranya. Terasa jantungnya dua kali lebih cepat dari biasanya, bukan bukan karena ia jatuh cinta. Namun karena ini pertama kalinya seseorang yang namanya sangat dikenal di kampusnya itu memanggil dan menghampirinya yang sukses membuat harapannya pupus. Bagaimana tidak? tidak ada di fakultasnya yang tidak mengenal nama "Bara Ragendra", seorang pria dengan prestasinya yang sangat gemilang di bidang akademik maupun non akademik. Memang tidak ada manusia yang sempurna, namun Bara merupakan sosok yang mendekati kata tersebut.
Dan inilah, awal dari kehidupan yang tak tenang bagi seorang Aeera Kalisha. Awal baru yang tak pernah ia hadapi sebelumnya. Memang selalu ada awal untuk segala hal.