Jihan berulang kali menghela napasnya dan sesekali melirik jam tangannya. “Hendra ke mana sih, katanya mau jemput!” gerutu Jihan yang kesal karena tunangannya tak kunjung juga datang menjemputnya, padahal tadi tunangannya sudah berjanji akan menjemputnya. Ting Buru-buru Jihan membuka pesan yang barusan masuk. Hendra : Sayang maaf, aku enggak bisa jemput kamu, mama sakit dan minta dianterin ke dokter Jihan menghela napasnya, lalu jari-jari lentiknya bergerak lincah di atas layar ponsel miliknya. Me : Iya, enggak apa-apa. Aku titip salam sama mama, cepet sembuh. Jihan meng-klik tombol send pada layar ponselnya. Setelah itu Jihan masukan ponselnya ke dalam tasnya. Jihan berlalu dari halaman depan kantor tempat ia bekerja, berjalan ke arah halte bus yang jaraknya lumayan jauh dari temp

