Arisha duduk di jendela yang diapit oleh balkon dan kamar. Sungguh kamar yang asing. Dia memilih menginap bersama Fatur di rumah Jefan malam ini. Dia sempat melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya, terdapat banyak notifikasi dari Intan maupun Babang. Lagi-lagi, Arisha hanya bisa terdiam tanpa mau membalas. Gadis itu hanya melihat pesan singkat dari mereka berdua, lalu memilih mem-blok nomor keduanya. Dia hanya butuh ketenangan sejenak.
"Nggak mau cerita?" Dia menoleh saat Fatur duduk di depannya. Mata Arisha kembali sembab karena kebanyakan menangis. Hal itu membuat dia pakai kacamata terus menerus sedari tadi sampai sekarang.
Gadis itu langsung merengut, melayangkan protes pada Fatur agar tidak banyak bertanya lagi. "Lagi sakit hati, dieeeem."
Fatur terkekeh, mengusap surai hitam Arisha yang tergerai indah.
"Cowok?" Tanpa ragu seperti biasanya, Arisha mengangguk kecil sampai mengundang tawa Fatur yang lepas. Apanya yang lucu dari sebuah patah hati karena laki-laki?
"JANGAN KETAWA!"
"Abis, tumben banget. Sejak kapan kamu suka cowok."
"Baaang."
Fatur hanya tersenyum geli, "Masih suka ternyata sama cowok?"
Dih, memangnya dia selama ini suka sama cewek!? Ya tidak dong.
"Iya lah, mana langsung gagal."
Arisha terlalu bersemangat menceritakannya sampai lupa kalau di hadapannya ini adalah lelaki posesif yang pasti langsung melarangnya deketan sama cowok.
"Mau Abang kenalin sama teman Abang nggak?" tanya Fatur santai.
Tunggu, tunggu. Fatur kemasukan apa coba? Abangnya ini habis minum obat apa? Atau karena masuk angin jadi seperti ini!? Arisha sampai memicingkan mata mendengarnya.
"Emang boleh? Biasanya nggak."
Fatur mengangkat bahu tak acuh. "Boleh, asal langsung nikah."
Arisha langsung mendengus kesal. Mana mungkin dia bisa langsung mengambil langkah ke jenjang pernikahan. Meskipun kalau nikahnya baru setelah dia lulus pun, sepertinya dia belum siap. Kecuali kalau pasangannya memang dewasa dan mengerti dirinya yang tidak berguna ini.
"Bangke banget nih. Sekolahku mau dikemanain?"
"Ya tetep berdiri." Ya bener, sih, sebenarnya.
"NGGAK GITU JUGA!"
"Ya udah, salah." Fatur terdiam beberapa saat. Sebenarnya dia sedang mencari waktu tepat yang untuk membicarakan tentang keresahannya selama ini. Namun, suasana hati itu sepertinya masih belum membaik.
"Lagi musuhan sama Athala?"
Fatur bertanya kembali. Tadi, lelaki itu sempat meneleponnya dan mengadu kalau Arisha sedang marah dan sangat susah untuk dibujuk. Arisha langsung membuang muka tak suka, melihat bintang yang kelihatan terang beberapa itu.
"Ngadu, ya, diaaa? Cepu banget!"
"Dia kirim Abang pesen, katanya suruh buka blokir nomor dia."
Padahal, kalaupun Fatur yang bicara sekalipun tidak akan membuat keadaan Arisha pada mereka berubah. Kalau sudah mengambil keputusan A, maka akan tetap A, kecuali dirinya sendiri yang tergerak untuk mengubahnya.
Arisha langsung menolaknya dengan tegas. Suka-suka dia mau gimana lebih dulu.
Fatur menghela napas dibuatnya. Lalu, mengacak rambut hitam legam Arisha kembali. "Nggak papa kalau masih mau marah, tapi jangan kelamaan. Tahu, kan? Athala ngelakuin sesuatu pasti ada sebabnya. Meskipun anaknya gak jelas, dia pasti mikir lebih dulu, Sha."
Arisha langsung menoleh, memasang muka sebal yang jujur saja malah menggemaskan. "Iya, tapi kesel aja gitu. Udah lama nyari, eh dia umpetin. Kan kesel."
"Dia pasti punya alasan. Meskipun nggak sepenuhnya bener."
Perkataan Fatur dari tadi seolah berada pada pihak Babang. Kalau saja lelaki itu tahu mengenai hal yang sesungguhnya, apa akan marah juga? Dia masih belum bisa untuk mengadu tentang masalah ini pada siapapun. Padahal, Arisha sudah mulai lelah dibuatnya.
"Emang dia cerita masalahnya kayak gimana sama Abang?"
"Katanya, awalnya kamu lagi nyari maling. Ternyata maling itu temennya dia. Terus dia umpetin."
Babang freak.
"NGGAK GITU, ABAAAAANG."
"Terus?"
Arisha hanya memilih diam kembali. Sesekali menoleh, melihat Fatur yang mulai bersandar pada jendela. Cukup lama keduanya terdiam, hanya silih beradu napas sembari melihat langit yang sama. Dan tanpa sadar, diam keduanya malah membuat Arisha tenang.
"Papa tuh titip sama abang." Arisha langsung menoleh kembali. "Kalau nggak betah di sini, mending pindah lagi ke Jakarta."
"Kasihan, ibu sendirian."
"Daripada nyiksa batin kamu terus."
Arisha menghela napas mendengarnya. Sebenarnya dia sudah lumayan nyaman di sini. Ralat, sangat nyaman. Namun, dia juga tidak bisa berjauhan terus dengan Fatur dan Tio.
"Aku pikirin dulu."
Fatur mengangguk kecil, sampai keduanya kembali terdiam. Sampai akhirnya, mood Arisha kembali membaik hanya karena dia tawarkan cokelat dua kotak yang sedari tadi Fatur sembunyikan di balik gorden.
"Abang boleh tanya gak? Tapi jangan marah. Kan udah disogok." Arisha berdeham cukup keras sambil makan cokelat itu. "Kalau Abang nikah tahun ini nggak papa?"
Kunyahan gadis itu mendadak memelan. Pernikahan Fatur adalah hal yang paling menakutkan untuknya. Dia pasti akan ditinggalkan setelah ini.
"Abang mau nambah patah hati aku, ya? Makanya datang ke sini?"
"Sha, nggak gitu maksudnya." Arisha kembali menangkapnya dengan salah. Namun, mungkin Fatur juga salah mengambil waktu. Dia datang saat Arisha berada dalam masalah yang membuatnya tertekan. Ditambah, Fatur bertanya seperti tadi. Semakin sesak saja rasanya. Semuanya aja pergi sekalian.
"Tanpa aku kasih tahu, abang pasti udah tahu jawabannya gimana."
"Sha." Arisha berdiri, memeluk kotak cokelat biru tua itu.
"Aku lagi pengen sendiri dulu."
•
"Lo nggak mau nelepon Arisha? Nomor gue diblokir. Dia nggak ada di rumah. Coba lo yang tes."
Babang tak henti-hentinya mondar mandir dari tadi di kamar. Hadwan yang tiduran di kasur pun sampai pusing melihat kelakuan lelaki itu. Babang yang biasanya tidak pernah serius pun mendadak jadi sangat serius dan sensitif.
Hadwan menutup buku, menyimpannya di nakas. "Males."
Babang sampai melotot, duduk di sofa. "Wan, serius gue."
"Gue juga serius."
"Lo nggak capek jauhan gini sama dia?"
Hadwan terdiam beberapa saat. Meskipun dia belum terbiasa dengan keadaan ini, dia pastinya tidak akan memilih jalan untuk menghubungi Arisha kembali. Dia tidak mau berurusan lagi dengan gadis itu, apapun alasannya. Kecuali karena organisasi. Mau bagaimanapun dia harus profesional, bukan?
Bagus-bagus kalau Arisha mengundurkan diri supaya dia tidak dihantui rasa bersalah terus menerus.
"Nggak, nanti juga terbiasa."
Babang sampai berdecak mendengar jawaban lelaki itu. Hadwan, memang benar-benar berubah. Huh, kalau bisa, Babang ingin memukul mereka berdua dengan panci. Masalahnya, dia jadi ikut-ikutan dimusuhi oleh gadis itu.
"Dia ikutan marah sama gue. Pusing. Tapi lo biasa aja lagi."
"Ya ngapain mikirin cewek kayak dia? Biarin aja dia marah." Hadwan lagi-lagi mendelik. Dia masih terlihat biasa saja dengan keadaan ini.
"Maksud lo gimana? Kayak dia gimana maksudnya?" Mata Babang memicing.
"Masih banyak temen yang lebih bermanfaat dari dia. Banyak cewek yang lebih baik dari dia juga. Apaan, sini mau sana mau."
Hah? Babang sampai melempar bantal ke muka lelaki itu. Apaan maksudnya, Hadwan sampai bicara seperti ini? Beneran mau diseleding.
"Gue diam, ya, Wan. Waktu itu emang kalian bercanda. Tapi sekarang lo kelihatan serius. Bangke banget lah, sumpah."
Dengan santainya, Hadwan malah bilang, "Emang serius. Ngapain temenin dia? Egois. So paling bener. Gatel."
Suasana kamar ini mendadak menjadi panas. Padahal, AC pun dari tadi nyala terus.
"Dia sepupu gue, Wan. Gue nggak terima lo bilang gitu. Didikan bokapnya keras. Dia dilarang deket banget sama cowok. Dan lo tahu? Dia cuma deket sama lo doang. Dia cuma mau sama lo meskipun mukanya sering kelihatan tertekan dan kepaksa."
"Dia sering ke Gino."
"Asli, lo buta ternyata."
•
"Sha?"
"Sekolah dulu, Bang." Arisha langsung turun dari mobil dan tak mau melihat Fatur barang sejenak, membuat lelaki itu menghela napas dan memandang langkah lebar Arisha bersalah.
Arisha menjauh dari abangnya sendiri dari tadi malam.
Gadis itu lekas menyimpan tas di kursi dan duduk di bangkunya, tetap di meja biasa, di samping Intan. Terlihat, Intan memang sudah datang lebih awal dan menarik sebuah senyum lebar.
"Lo nggak marah lagi?"
Namun, gadis itu tidak membalas pertanyaan Intan barusan. Dia hanya lekas mengambil buku LKS KWU dari dalam tas dan membacanya. Dia lupa belajar tadi malam. Hm, rekor memang.
"Guys, langsung bagi kelompok buat praktek KWU. Ibu nggak masuk. Jadi, pelajaran hari ini digunain buat diskusi aja." Fikri datang membawa kabar dan berdiri di depan kelas, setah mengambil spidol.
"Berapa orang per kelompok?" Ayang bertanya.
"Dua. Cuma buat kerajinan, kok. Nggak akan makan waktu banyak banget meskipun berdua. KATANYA. Ibu kasih waktu satu minggu."
Intan langsung mengangkat tangan, "Pik, gue sama Ar—"
"Gue sama Ayang, Fik. Tolong dicatet." Namun, Arisha memotongnya begitu saja. Barusan dia mendapatkan pesan dari Ayang dan tentu saja, Arisha tidak akan menolak permintaan untuk satu kelompok itu.
Hah? Intan kaget mendengarnya. Biasanya mereka satu paket, lho.
"O ... ke."
Fikri saja yang bagian mencatat kelompok sempat menganga.
"Bisa pindah dulu nggak? Mau diskusi." Arisha bertanya datar selepas Ayang menghampiri ke mejanya. Intan hanya menghela napas, mengangguk pelan dan pergi ke meja Babang dengan lesu yang menatapnya kasihan.
"Masih marah dia?"
"Iya."
"Biarian aja dulu. Duduk sini."
Belum juga duduk, suara Hadwan yang mengalun di ujung pintu itu membuat sebagian orang menoleh.
"Anak Pramuka cepetan ke lapangan, ya. Ada perubahan soalnya."
Arisha pamit pada Ayang, memilih berjalan sendirian ke lapangan. Sampai di sana pun, dia lebih memilih bergabung bersama Luiz daripada dengan Intan dan Babang yang sama-sama galau dibuatnya.
"Anak Pramuka disatuin dulu sama drum band buat opening. Gerakannya tetap sama, cuma yang ini sambil bawa angklung dulu."
Latihan dimulai. Bermula dari drumbend dan perpaduan dengan anak Pramuka. Setelah bubar, baru akhirnya joget semaphore, anak Pramuka doang. Sayangnya, penempatan Hadwan yang pindah itu malah membuat mereka sering berpapasan saat gerakan melingkar, sampai mirip obat nyamuk itu. Sampai Arisha menubruk lelaki itu beberapa kali.
Hadwan langsung diam, membalikkan badan. Padahal yang lain masih berusaha latihan.
"LO PUNYA MATA NGGAK, SIH, HAH? MINUS, YA? LAGAK LO KAYAK ORANG NGGAK BISA LIHAT. TABRAK SANA, TABRAK SINI."
Arisha langsung ikutan berhenti. Menoleh pada Hadwan dan maju selangkah. Wajahnya kentara sekali tak suka akan ucapan itu.
"DIEM LO."
Kepala dia pusing, makanya nabrak orang terus saat gerakan melingkar itu. Hadwan tidak mengerti.
"APA? EMANG KAYAK ORANG BUTA KAN LO?"
"GUE MASIH BISA LIHAT. NGGAK USAH BACOT KALAU NGGAK TAHU RASANYA." Tangan Arisha mengepal, bahkan gadis itu hampir limbung, tapi untungnya Babang masih mau menahannya dari samping.
Ada setitik rasa bersalah dalam diri Hadwan saat melihat itu.
"Lo pucet. Minggir ke lapangan. Di sana ada air hangat deket tas Bisma," ucap Babang khawatir.
"Nggak usah peduliin gue!" desis Arisha tajam.
Gara-gara keributan itu lah, Bisma menjadi murka. Sampai mereka harus mengulanginya dari awal dan membuat beberapa dari mereka melayangkan protes pada mereka berdua.
"Lo sadar diri bisa nggak, Ar? Lihat kondisi lo sekarang." Babang tidak akan lelah untuk membuat gadis itu sadar akan keadaannya saat ini.
Arisha hanya diam. Sampai gerakan paling terakhir, gadis itu benar-benar tidak kuat lagi. Semua badannya tidak enak, ditambah kepala yang sangat berat. Dan akhirnya, dia limbung menghimpit Firda sampai tak terasa menggelap semua.
Firda yang kaget langsung berteriak, "ARISHAAA."
Hadwan langsung menoleh mendengan teriakan itu. Melihatnya, membuat dia lekas berlari, menarik Babang yang akan membawa gadis itu, dan Hadwan sendiri yang membawa Arisha ke ruang kesehatan. Dia sungguh refleks. Dan kejadian ini sangat de javu bagi mereka bertiga.
"Istirahat dulu!" Bisma kembali berteriak. Sampai mereka bubar ke tepian dan mengambil air mineral dari dus.
Sementara Babang dan Intan langsung berlari ke ruang kesehatan. Di sana, Arisha sedang diolesi minyak kayu putih.
"Nggak bisa dibilangin banget emang cewek satu ini." Babang menggerutu.
"Udah, Bang."
"Eh, kok nggak ada?" Hadwan langsung menoleh. Bukan nadi Arisha kan? Rasa bersalahnya belum pudar. Kalau ditambah Arisha, mungkin dia akan gila.
"Apanya?" tanya Intan panik.
"Obat."
"Oh."
"Dia demam. Kurang istirahat juga. Jangan panik." Tiffany cukup memberikan ketenangan pada Hadwan, meksipun tidak sepenuhnya.