"Eh, gila."
Arisha baru saja sadar, sebuah botol air mineral langsung menghantam kakinya dengan tidak sopan. Pelaku yang tidak malu berbuat seperti itu, tentu Hadwan. Lelaki itu terlihat tidak rela sama sekali. Dan Arisha ingin sekali pergi ke lapangan lagi saat Hadwan kembali melempar obat tablet padanya.
"Udah sadar?" Yang masuk itu adalah Babang dan Intan yang masih setiap di depan ruang kesehatan. Dia tidak bisa melihat tatapan Arisha yang membencinya.
Arisha tidak menjawab itu. Dia hanya segera meminum obat dan berusaha berjalan keluar ruangan itu. Dia sempat berpapasan dengan Intan, tapi Arisha sungguh tidak mau melihat gadis itu. Hati Intan sungguh semakin tergores melihatnya. Andai kata untuk bersama kembali, menatap wajahnya pun, Arisha sampai tidak mau.
"Jujur aja, gue capek gini terus." Babang menendang penyangga pembaringan, berlalu dari sana selepas menatap Hadwan tajam. Dan lelaki itu malah mengambil napas, hanya bisa melihat mereka yang semakin pergi menjauh.
"Lho, anaknya mana?" Tiffany, tadi memang menitipkan dulu Arisha pada Hadwan karena ada panggilan dari pembina. Namun, baru juga balik lagi, anaknya sudah tidak ada entah ke mana. "Seneng banget, buat pasien nggak betah."
Hadwan memutar bola mata malas, "Gayaan lo pasien."
"Biar elit aja nyebutnya."
"Suka-suka lo, deh, Tiffany."
Hadwan berlalu dari sana dengan langkah pelan. Sementara Tiffany hanya mendengus, membereskan kembali kasur tadi dan bersiap masuk kelas.
Sampai lapangan kembali, dia melihat Arisha yang duduk di tepian lapangan seperti biasa dengan Luiz. Sementara Babang dan Intan sungguh mengambil hal nekat dengan duduk tak jauh dari mereka berdua.
Se-frustasi itu Babang saat Arisha marah besar padanya.
"Had, bisa nemenin nonton nggak nanti? Hari ini ada film baru di bioskop. Jadwalnya sore, kok."
Hadwan menoleh ke samping saat Anida menghampirinya tanpa aba-aba. Lelaki itu sempat menatap Arisha sejenak, kedua mata mereka sempat beradu, tetapi Arisha lekas mengalihkan pandangan.
"Hadwan?"
Dan pada akhirnya, Hadwan hanya bisa mengangguk kaku. Padahal, dirinya menolak untuk menonton. Dan dia belum tahu genre apa yang dimaksud oleh Anida.
"Gimana, sih, Bang? Lo yang nyuruh kasih jeda buat dia, tapi lo juga yang kelayapan ganggu room chatnya."
Babang mengacak rambut makin pusing. Iya, sih, bener. Dia bisa kasih saran seenaknya pada orang lain, padahal Babang pun tidak sejalan dengan saran itu.
"Lo diem di sini!" Babang berdiri dan menghampiri mereka berdua yang tampak asyik bercengkrama menceritakan skincare. "Luiz, bisa mengpinggir dulu, nggak? Gue mau ngomong enam mata sama dia."
"H-hah?" Luiz menatap Arisha lewat ekor mata lebih dulu. Namun, tetap saja Arisha menolak dengan raut wajah yang kentara tidak suka. "Lagi sibuk, nih, Bang, kitanya. Nggak bisa diganggu dulu."
"Skincare bisa nanti. Gue butuh banget ruang buat ngomong sama dia."
Terpaksa, Luiz berdiri dan perlahan menjauh, menghampiri Gino yang main game dengan Gio di sudut lapangan. Si kembar beda orang tua itu akhirnya bisa kembali bersatu, setelah Gio jarang muncul di ekstrakulikuler. Mereka memang beda kelas dan jurusan. Jadinya jarang bertemu, kecuali di dalam Pramuka.
"Ar, jangan gini terus, bisa?" Arisha tidak berkutik. Hanya melihat Babang datar. "Oke, gue minta maaf. Gue ngaku, gue salah. Intan juga salah. Tapi tolong inget. Buka mata lo semakin lebar."
"Gue lagi pusing, Bang. Jangan bahas ini dulu. Bisa?"
"Nggak. Masalah ini harus selesai hari ini juga."
Babang ternyata bisa bersikap dengan tegas. Kalau sudah punya masalah, lelaki itu selalu ingin cepat menyelesaikannya supaya tidak mengganggu pikiran tiap hari.
"Tapi gue lagi pusing. Udah lah. Anggap aja masalahnya udah selesai. Kita cukup kayak gini aja!" tekan Arisha tegas.
"Kayak gini gimana? Jauhan? Iya? Masih mau jauhin gue, Intan, Hadwan. Masih mau?" Babang terkekeh karenanya. "Egois, ya, lo ternyata. Katanya pinter. Belajar PKN pasti udah, dong. Sikap egoisme yang lo punya, bisa jadi penghambat."
Kenapa kalau Babang lagi marah malah makin menakutkan, sih? Padahal hanya bicara seperti itu di depannya sambil duduk, seolah lagi santai bicara dengannya jika dilihat dari samping.
"Gue bukan mau egois, Bang. Gue cuma mau memulai menghargai diri gue sendiri. Gue udah sering bilang nggak papa, padahal nyatanya gue benci sama kelakuan yang tiap kali dibuat."
"Tapi nggak gitu caranya, Bege. Ar, please lah. Sumpah, gue capek kalau kita harus jauhan." Babang menghela napas, "Lo inget nggak? Udah berapa lama kita barengan? Satu hari? Dua hari? Enggak, kan? Kita sering lakuin apa-apa barengan. Mandi aja pernah bareng waktu orok."
Kenapa ujungnya malah kayak gitu cobaaaa? Kan kalau harus membayangkannya. Pengen ngakak, tapi gengsi.
"Iya, lo tahu kita sedekat itu, tapi ... lo nyembuiin rahasia besar dari orang yang udah jelas emang udah deket banget sama lo, Bang. Gimana, sih, konsepnya?" Arisha tersenyum getir. "Cukup, ya, Bang. Kita, cuma butuh kayak gini."
"Jadi, maksudnya lo tetap nggak mau lagi sahabatan sama gue? Sama Intan juga nggak mau? Serius?" Babang menatapnya tajam. "Cuma masalah kayak gini doang, lo mau ngerusak persahabatan kita? Ternyata lo b**o banget, ya."
"Cuma kata lo, Bang? Cuma?"
"Iya."
"Gila."
"Lo jangan cosplay jadi Kinan sama Aris deh. Serius. Balik kayak dulu lagi. Masih nggak bisa?" Arisha menggeleng.
"Dan gue nggak mau, bukan nggak bisa."
"Edan!"
Babang masih tidak habis pikir dengan Arisha. Butuh perjuangan apalagi untuk membuat gadis itu luluh dan mau balik lagi pada mereka? Dia harus kayang di tengah jalan pun, pasti Babang lakukan jika Arisha mau. Cuma masalahnya, gadis itu kasih sebuah syarat dengan kode yang tidak bisa mereka tangkap.
Arisha sulit ditebak. Kadang marahnya sebentar, kadang lama. Kadang juga tidak bisa marah.
Dan sepanjang perjalanan, omongan Babang selalu mengitari pikirannya. Di dalam mobil itu pun, Arisha hanya diam melamun sampai Fatur meliriknya beberapa kali.
"Mau ke AP nggak?" Arisha hanya meliriknya sekilas, tidak mau menjawab apapun. "Yakin, nggak mau jawab? Chatime udah menggoda banget, padahal."
Lemah!
"Oke."
"Oke APAAAA?" Fatur tersenyum geli, mengubah arah ke jalanan menuju Asia Plaza. Arisha mencebik pada akhirnya.
"Mau ke sanaaaa. Puas?"
"Banget."
Arisha lagi-lagi mendengus. Sampai di basemen pun, dia seperti terlihat ogah untuk datang, padahal jiwanya sudah meronta ingin beli banyak makanan. Begitu masuk, jejeran jam tangan langsung menggodanya. Duh, dia makin lemah.
"Beli jam dulu buat temen." Arisha tidak bicara apa-apa selain mengikuti Fatur. Namun, tunggu. Kenapa malah bawa jam perempuan?
"Temen atau temen!?" Arisha sudah seperti pawang.
"Temen."
"Nggak mungkin temen, kalau Abang sampai kasih jam gitu." Arisha mendelik setelah itu, lalu membuang muka. Fatur tidak semudah ini untuk memberikan barang pada teman wanitanya. Dan masalahnya, Fatur jarang punya temen cewek. Curiga nih dia.
"Udah, jangan iri dengki gitu. Kamu mau juga?"
"Gak," jawabnya singkat sembari memalingkan muka. Fatur menghela napas, membayar ke kasir dan menghampiri gadis yang terlihat bad mood kembali itu. Fatur merangkul Arisha sampai akhirnya tiba di tempat chatime dan memesan rasa kesukaan gadis itu. Sementara Arisha duduk di kursi tunggu.
"Jangan marah, dong."
Arisha menghela napas, masih tidak mau melihat Fatur kembali. Sampai orang chatime memanggil nama Arisha, Fatur lekas membawakannya dan memberikannya pada gadis itu.
"Udah disogok berapa kali ini tuh. Shaaaa. Ya?"
Arisha tetap tak menggubris.
"Eh, Arishaaa."
Arisha dan Fatur sama-sama menoleh, mendapati seorang gadis yang memakai seragam batik sama dengan Arisha. Di belakangnya ada lelaki yang sama pula.
"Lagi di sini juga?" Arisha menarik senyum simpul. Dia jelas ada di sini, ngapain tanya? "Mau barengan nggak?"
"Barengan?"
"Gue sama Hadwan mau nonton setelah ini. Ikut, yuk, biar rame. Ceritanya bukan tentang bucin sama pasangan doang, kok. Ini tentang sahabat sama keluarga. Lo juga pasti suka."
Arisha menggaruk leher bingung. Mau terima, tidak suka nonton. Mau nolak, tapi tidak enak. Mana ada Hadwan lagi, dia tidak mau.
"Ayo. Arisha pasti mau."
Fatur! Abangnya ini ingin sekali dia kasih cabek sebaskom. Mereka berempat langsung meluncur ke lantai dua. Sampai duduk di kursi dan film sudah dimulai pun, Arisha hanya bisa makan popcorn doang yang bisa dinikmati. Meksipun sesekali dia pun melihat ke layar karena penasaran setelah mendengar beberapa dialog.
Ternyata, film ini menceritakan tentang perjuangan sang kakak yang selalu terlihat tegap walau terluka. Ditambah bumbu persahabatan antara kakak laki-laki itu dengan sahabatnya yang sengklek, tapi ternyata sering membantu. Dan di akhir cerita, si kakaknya itu meninggal karena menyelamatkan adiknya.
Dia lemah kan kalau menyangkut keluarga, sampai pipinya sudah basah tidak henti. Hadwan langsung melirik Arisha, melempar tisu tanpa menoleh barang sejenak.
•
"Udah, udah!" Fatur terkekeh, terus memeluk Arisha dari samping sampai keluar bioskop. Lelaki itu membawanya untuk duduk lebih dulu di kursi cokelat depan mainan anak. Tangannya bergerak mengusap kepala Arisha yang tenggelam pada badannya. "Sekarang, mending makan, yuk."
"Mau beli cokelat nggak?" tanya Fatur lembut.
Hadwan sempat terpaku sejenak melihat interaksi mereka. Katanya, Arisha tidak suka berdekatan dengan laki-laki. Lalu, ini namanya apaan?
"Had, ayo." Anida menarik tangannya menuju arah lain. Setelah sedikit menjauh dari sana, Hadwan melepaskan tangan Anida paksa.
"An, gue mau pulang," ucapnya terlihat sudah tidak betah. Dia tidak bisa untuk memaksakan pura-pura nyaman lebih lama lagi.
"Lho?" Anida menoleh kaget, "Belum makan, kan? Katanya mau makan dulu?"
Hadwan menarik napas. "Mau sampai kapan kayak gini, sih, An?"
"Hm?"
"Stop kejar gue!"
Anida tersenyum. "Belum tentu, Had. Gue cuma mau—"
"Deketin gue, kan? Suka, kan? Gue tahu, Anida. Tapi lama kelamaan, gue nggak suka lihat cara lo." Hadwan selama ini tentu sadar kalau Anida menyukainya. Memang, bisa saja gadis itu mengajaknya jalan hanya sebagai untuk menemani sebagai teman. Namun, sikap Anida makin sini makin beda.
"Kenapa?"
"Gue cuma kasihan. Jangan terus berharap sama gue."
"Salah lo, Hadwan, kenapa suka kasih harapan ke gue."
"Kenapa gue suka kelihatan salah? Kenapa, Hadwan? Lo suka sama Arisha?" Hadwan semakin terdiam mendengar pertanyaan Anida yang terakhir. "Arisha malah dukung gue buat ambil hati lo."
Hah?
Di satu sisi, Arisha menarik kepalanya dari Fatur. Lalu, mengusap mukanya kasar.
"Bang, maafin, ya."
"Iya, nggak papa. Udah. Yuk, mau beli apa?"
Fatur akan tetap menjadi pria idaman untuknya setelah Tio. Penutup sore itu, dijadikan Arisha untuk kembali merajut kisah yang pernah sempat robek bersama Fatur.