Semakin Terkuak

1538 Kata
Arisha duduk lesehan di lapangan, menekuk kakinya dengan tangan yang bertumpu di atasnya. Dia memang mengambil tempat istirahat di pinggir bawah pohon seperti biasanya. Sementara yang lain berkumpul di dekat tiang bendera. Termasuk Intan yang sedang mengambilkan minuman lebih dulu untuknya. Satu menit kemudian, ponselnya kembali bergetar membuat dia menekan tombol hijau itu lemah. "Kamu ke mana aja, Shaaaa? Dari kemarin susah dihubungi. Nggak ada apa-apa, kan?" Ya, itu Fatur. Dari kemarin sore panggilan dari lelaki itu tak pernah Arisha angkat. Pun dengan Tio dan Lastri. Dia hanya ingin menjauh lebih dulu dari gawai. Dan memilih mengurung diri di kamar untuk menyiapkan mental masuk sekolah yang tentunya, pasti bertemu dengan Hadwan. Mengingat lelaki itu, Hadwan sedang mengobrol dengan Anida di undakan anak tangga kedua. Hadwan ... terlihat nyaman. Sakit, sih, sebenarnya jika melihat itu. Namun, akan lebih sakit jika dia bersama Hadwan karena akan terus dihantui bayangan Arian. Kalau sudah sakit oleh seseorang, Arisha memang suka ikut sakit hati kalau melihat orang yang bersangkutan dengan yang menyakitinya. Dan pertanyaan Arisha yang sering muncul saat ini adalah kenapa harus Hadwan!? "Sha?" Fatur memanggil membuatnya tersentak kaget beberapa saat. Lalu, memejamkan mata sambil mengambil napas. "Nggak ada apa-apa, kok, Bang. Kenapa emangnya?" "Suara kamu beda. Abis nangis lagi?" Memangnya suara dia masih kedengaran habis menangis? "Nggak, kok. Kefilter kali sama HP-nya." "Jangan bohong terus bisa nggak? Ini Abang sendiri, masa nggak mau jujur." Arisha berdeham lumayan keras. Matanya tak bisa lepas dari Hadwan dan Anida. Meskipun sesekali membuang muka saat Hadwan menoleh. Lelaki itu pasti merasa kalau tengah diperhatikan. "Abang pulang, deh, yaaa. Sekarang masih di sekolah?" "Iya, masih latihan." "Mau dibawain apa?" "Nggak mau apa-apa. Cuma pengen Abang di sini aja." "Nanti pulang sekolah jam berapa?" "Jam lima kayaknya." "Ya udah, Abang otw sekarang. Jangan lupa makan!" "Iya, hati-hati." Panggilan terputus, seiring dengan Arisha yang menghampiri Intan karena kelamaan. Dia sudah lapar masalahnya. Gadis itu membawa kotak nasi di depan aja seperti lagi jalan ke sudut bumi, lamaaa. "Katanya lo ngefans kan sama si Arian? Ya iyalah si Babang marah. Peka kenapa, peka! Kurangin tuh muji Arian!" Oh, ternyata Intan lagi kecengin teman-temannya yang lain. Barusan yang ngomong itu Luiz. "Nggak bisa. Ya gimana, ya. Si Hadwan aja, adiknya udah ngasih alarm ke gue buat makin bucin ke kakaknya." Hah? Apa katanya tadi? Intan sebenarnya ... sudah tahu tentang status itu? Entah kenapa, dia semakin merasa dibohongi saat mendengar itu. "Intan." Intan menoleh kaget, "Hah? Gimana? Mau dianter beli minum cokelat?" Gadis itu kelihatan panik di mata Arisha. Intan, terlihat menyembunyikan sesuatu. "Nggak usah, nanti aja. Gue laper. Lo lama banget." Intan hanya terkekeh, meminta maaf dan mengajaknya kembali ke tempat tadi. Meskipun orang yang suka kumpul di sana berkurang satu, tempat itu akan menjadi sebuah spot yang tidak akan tergantikan. "Tan, gue boleh tanya?" tanyanya saat mereka sudah duduk kembali dengan berhadapan. "Boleh lah, tanya apa?" Intan membuka kotak nasi bagiannya. "Lo tahu kalau sebenarnya Kak Arian itu Kakaknya Hadwan?" Intan terdiam mendengar pertanyaan itu. Kenapa Arisha tiba-tiba tanya tentang ini? Namun, Intan yang terdiam dan seakan berpikir panjang untuk menjawabnya membuat Arisha langsung sadar kalau jawabannya pasti iya. "Lo tahu, ya?" Intan mendongak pelan, "Iya, tapi gue nggak maksud buat sembunyiin itu, kok. Gue mah cuma disuruh sama dia doang da." "Babang juga tahu?" Arisha semakin mendesak. Karena Intan pasti tidak akan menyembunyikan apapun dari Babang. Gadis itu mengangguk kecil, "Iya, dia tahu." "Ternyata beneran Arian yang buat kakak gue meninggal. Dia penyebabnya kakak gue ... memilih bunuh diri. Lo juga tahu tentang itu, Tan?" "Gue nggak tahu masalah itu." Mata Intan melihat ke kanan. Intan bohong padanya. Wajahnya juga kelihatan beda. Heuh, kenapa rasanya sangat menyakitkan? Kemarahan Arisha yang semula sering dipendam dan dianggap, oke nggak papa, berubah menjadi sebuah bom waktu yang siap ingin meledak. "Bisa nggak jangan bohong, Tan?" Mata Arisha sudah terasa panas. Intan menunduk sebentar, sebelum akhirnya mampu melihat ke arah Arisha kembali. "Iya, gue tahu. Semuanya gue tahu, Ar. Tapi gue beneran nggak maksud." "Dan lo tahu tentang kehamilan Kak Arshi?" tanya Arisha pelan sembari memajukan kepalanya sedikit. Intan yang mengangguk membuat Arisha tersenyum miring. Tatapan itu tak bisa membuat Intan untuk tidak mengambil tangan Arisha dan menenangkannya. Namun, gadis itu langsung menepisnya keras. "Padahal lo udah tahu, gimana susahnya cari kebenarannya!" Arisha semakin menekan setiap kata yang dia lontarkan. "Iya, tapi—" Pembicaraan Intan hanya mencari kebenaran agar tidak disalahkan. Dia memilih berdiri seraya bicara, "Gue ke kantin dulu." "Mau gue temenin?" Intan semakin merasa bersalah dibuatnya. Iya, oke paham dia tahu bagaimana susahnya Arisha mencari setiap petunjuk dan untuk mengorek hidup Arian. Dan begonya, dia ikutan ikut padahal sudah tahu semuanya. "Nggak usah, bisa sendiri." "Arisha." Babang yang baru dari kamar mandi pun sampai bingung melihat keduanya. Arisha yang terlihat tanpa ekspresi—udah biasa—tapi Intan yang menangis dan melihat punggung Arisha sendu, itu yang tidak biasa. Sampai kantin pun, Arisha hanya bisa menunduk setelah mengambil pesanannya di stand biasa. Pada akhirnya, cokelat dingin tetap akan menjadi penyebab moodnya menaik. Dia ... menangis sambil mengaduk minuman. Untungnya kantin sudah sepi dan dengan dia yang memilih meja paling belakang dan menghadap tembok. Jadi, tidak ada yang bisa melihat tangisnya dari arah manapun. "Nggak semuanya yang bersangkutan sama Arian harus lo jauhin dan lo benci." Babang menaruh tisu di atas meja. Lalu, duduk di depannya. Membuat dia menghela napas dan membuang muka. "Cukup Arian aja. Gue juga kesel sama dia. Lo tahu? Gue sampe hajar dia pada saat itu juga. Dia langsung masuk klinik. Tapi ... gue bisa kalau cukup benci sama Arian aja." "Jangan bilang kalau lo juga udah tahu lama?" Arisha mendongak, melihat Babang sinis. "Kenapa, sih, Bang? Gue sepupu lo, kan? Arshi juga sepupu lo. Kenapa lo sembunyiin ini dari gue? Buat apa?" Arisha memajukan kepalanya sedikit sambil berbisik, "melindungi Hadwan? Kompak, ya, lo sama mereka, sampe lupa sama gue." "Bukan gitu, Ar. Kami nggak mau kalau lo sedih, kepikiran, terus pertemanan lo sama Hadwan jadi rusak. Gue ngerti, lo orangnya kayak gimana. Makanya gue sama mereka sembunyiin itu semua dari lo." Babang berdecak saat Arisha masih tidak terima, "Gue inget Arshi, gue kasihan sama dia, kok. Tapi ... nggak perlu marah sama Hadwan karena kelakuan kakaknya yang b***t. Nggak perlu! Dia nggak tahu apa-apa! Dia baru tahu setelah Arshi meninggal. Please, jangan benci yang lain. Lo bukan anak kecil lagi, kan? Lo harusnya paham, kami ngelakuin itu pun buat lo." Arisha menekan telunjuknya pada meja. "Tapi gara-gara ini, gue makin nggak mau ketemu sama kalian." "Lo boleh benci, lo boleh kecewa. Tapi jangan kayak gini." "Kayak gini gimana, sih, Bang? Wajar lah gue marah. Lo sama mereka udah tahu, sementara gue nggak. Gue susah payah cari tahu, padahal sebenarnya temen gue sendiri udah nemu pelakunya." Arisha berdiri, berlalu dari sana dengan seribu langkah yang tak bisa lagi Babang kejar. Baru sampai dekat sekitar lapangan, suara Bisma yang langsung dia dengar. "Arisha sama Babang mana?" Bisma bertanya karena merasakan kalau dua tempat di paling belakang itu kosong. Sontak semuanya membalas tidak tahu, padahal Intan tahu kalau Arisha katanya mau ke kantin. "Maaf, Kak, telat." "Hooh, tadi ada panggilan alam kitaaa." Babang menyambung di belakangnya di ngos-ngosan. Entah sejak kapan lelaki itu ada di sana. Arisha hanya tersenyum kaku tak enak, lalu berdiri di barisannya. Selepas latihan selesai pun,, kentara sekali kalau dia menjauh. Arisha lebih memilih berjalan cepat menuju kelas, sampai tidak memedulikan Intan yang akan menghampirinya. "Udah, Tan. Nanti dia yang bakal minta maaf sendiri. Paling dua hari aja marahnya." Babang menarik bendera semaphore itu. Tentu omongan Babang tadi membuat Intan mendelik. "Dua hari aja dibilang paling. Kita satu rumah, masa diem-dieman atuh, Bang." "Lo nginep lagi dulu aja sama si kembar. Kasih Arisha jeda buat sendirian dulu." Lalu, Babang beralih pada Hadwan yang hanya bisa melihat langkah Arisha yang semakin menjauh dan perlahan menghilang di balik tembok. "Wan, jangan gini laaah. Minta maaf atau apa kek. Jangan sama-sama egois." "Ngapain? Buat apa?" Babang mendengus, seiring dengan Hadwan yang ikutan pergi ke kelasnya untuk mengambil tas. Sebelum Arisha benar-benar pergi keluar sekolah, keduanya sempat berpapasan berlawanan arah di koridor dengan sama-sama tak mau menatap satu sama lain. Wajah keduanya begitu datar dan seolah tak mengenal. • "Kenapa, hm?" Baru juga keluar mobil, Fatur sudah bertanya padanya sembari merangkul Arisha menuju rumah. Gadis itu masih pakai seragam sekolah dan memang baru selesai menyimpan motor di garasi. Tadi dia memang pulang magrib, tapi tak menyangka kalau Fatur akan secepat ini sampai. "Nggak papa. Emang kenapa?" Keduanya duduk di ruang keluarga dengan Arisha yang melepaskan tas dan menyimpannya di atas meja. "Abang mau minum apa? Air putih aja, deh, yaaa." Fatur tersenyum geli, "Ngapain tanya kalo gitu." Arisha hanya tertawa mendengarnya, lalu mengambil air dingin dan kembali duduk di samping Fatur. Dirinya suka menghangat jika abangnya itu ada di dekat dia. "Jangan terus pura-pura, Sha. Abang sadar, kok, cuma jarang bilang aja." Arisha hanya menoleh kaget, tersenyum tipis setelahnya. "Boleh ngomong jujur?" "Ya harus." "Aku capek, Abang." Mata Arisha sudah berkaca-kaca, hidungnya memerah tak bisa tertahan. "Nangis aja, nggak papa." Fatur mengusap surai Arisha lembut. Dan akhirnya, Arisha benar-benar menangis, sampai Fatur menarik dirinya dalam sebuah dekapan yang begitu menenangkan. Jika sedih, Arisha hanya butuh diperlakukan seperti ini. "Capek itu wajar, jangan malu buat bilang ke Abang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN