Hari ini mungkin menjadi hari yang lumayan asing untuk Arisha. Dimulai dari Intan yang tidak menginap di rumahnya karena harus menemani si kembar yang lagi marahan sampai harus bawa motor kembali, meskipun diam-diam dari Tio. Dia memang menyuruh Pak Endang untuk menyembunyikannya. Begitupun dengan Dion. Dan sekarang, keasingan itu pada Gino si pelit yang tiba-tiba memberinya minuman kembali.
"Buat lo." Gino mengulurkan cup cokelat hangat pada Arisha. Gadis itu menatap bergantian antara muka Gino dan minuman itu. Akankah minuman ini akan ikut dia benci? Karena melihatnya, mengingatkan dia pada Hadwan. Sepertinya, semua yang Arisha suka pasti akan membuatnya ingat pada Hadwan.
"Makasih, nanti gue minum." Arisha tersenyum sambil mengambil cup. Sebelum akhirnya dia keluar sekretariat karena ditarik oleh Intan agar segera menuju lapangan. Pun dengan Gino yang mengikuti mereka dari belakang. Padahal, Bisma dan yang lain pun masih sibuk makan. Tentu Bisma tidak mau membuat mereka kelaparan di lapangan nanti dan membuat performa latihan jadi tidak optimal.
"Lo nggak sama si Gio? Kembaran nggak tulen lo baru balik, bukannya disambut malah ditinggalin." Luiz yang hendak berjalan berlawanan dengan mereka pun berhenti mendadak selepas melihat Gino yang ngekor di belakang gadis-gadis.
"Tapi gue—"
"Udaaaaah, ayoooo." Luiz beralih pada Intan dan Arisha. "Duluan aja, yaaa. Nanti kami nyusul."
Arisha hanya mengangguk kecil, sementara Intan membalas, "Yoi." Sampai keduanya beranjak dari sana dengan Gino yang selalu didorong oleh Luiz supaya lebih cepat jalannya.
"Lagi ada apa, sih, sama Hadwan? Serius banget masalahnya?" tanya Intan pelan selepas mendekatkan kepalanya pada kepala Arisha. Gadis itu hanya menarik senyum sangat tipis sembari menatap Intan, lalu membuang muka ke depan dengan helaan napas yang tidak bisa lagi ditahan.
Jujur, mengingatnya membuat d**a Arisha kembali merasakan sesak luar biasa. Matanya kerap ingin mengeluarkan air yang tak mau dia lepaskan saat itu juga di depan banyak orang.
"Nggak, kok. Tenang aja."
Intan hanya memicingkan mata mendengar itu. Sikap Arisha kali ini berbeda sekali. Pun dengan lelaki itu. Wajah keduanya pun kerap kali terlihat sendu. Iya, Intan sedari tadi sebenarnya selalu memerhatikan keduanya jika silih membuang muka saat beradu pandang. Kalau Arisha sering mendelik dan menatap tajam itu sudah biasa, tapi tadi ... tatapan itu begitu beda.
"Kalau ada masalah teh, jangan dipendam sendirian, Ar. Apa gunanya gue di sini atuh? Manekin? Nggak, kan? Gue sahabat lo."
"Iya, nanti gue cerita di rumah kalau udah siap."
Intan hanya bisa mengusap bahu Arisha beberapa kali. "Terlepas dari masalah apapun itu, semoga bisa dibicarain baik-baik, yaaa."
"Semoga."
Semoga. Omongan Hadwan yang sering diucapkan oleh lelaki itu jika dia kalang kabut dan bertanya yang padahal, Hadwan pun tidak tahu jawabannya.
Baru satu hari, bagian dari Hadwan menjadi sangat membekas dalam dirinya.
"Si kembar gimana? Udah baikan? Kenapa, sih, emang? Tumben banget." Sebenarnya dia hanya mengalihkan pembicaraan dalam perjalanan menuju lapangan ini. Yang sebenarnya, pertanyaan itu jatuhnya mengorek kehidupan orang lain. Dia jadi kepo kelihatannya.
"Makanya, gue aja kaget pas Bunda ngabarin. Dua hari ini mereka sampai pisah kamar tahu nggak!?"
Berarti masalahnya bukan lumayan serius lagi, tapi serius banget. Menimbang kalau keduanya jarang marahan. Karena salah satunya yang sering mau ngalah.
"Udah, Bang?" Intan bertanya pada Babang saat mereka sudah sampai lapangan dan menemukan kedua lelaki itu yang ternyata baru menyimpan sound di anak tangga.
"b**o, pake tanya. Lihat sendiri baru disimpen padahal."
Intan hanya tertawa karena itu, lalu duduk di undakan kursi beton kedua.
Sementara Arisha hanya bisa berdiam diri di dekat tiang bendera. Kentara sekali kalau tidak mau bergabung ke sana. Masalahnya, Hadwan duduk di samping Intan. Dia tidak mau berdekatan.
"Arisha, sini lo. Ngapain sendiri di sana? Kayak anak nggak dianggap sama gue jatohnya," ucap Babang saat sudah menyiapkan sound dengan benar. Dia menghampiri gadis itu.
"Tumben pake kacamata lagi." Arisha mendengus mendengar komentar Babang. Kalau dia pakai kacamata lagi setelah sekian lama tidak memakainya, ya sudah jelas kalau pandangan dia semakin blur.
"Muka lo blur di gue soalnya, Bang."
"Nggak pake kacamata juga, muka dia mah emang udah blur." Intan tergelak dengan Babang yang menatap seakan bilang: awas, lo.
"Mata lo kok merah, sih? Makin parah?"
Hadwan langsung nengok setelah mendengar omongan Babang tadi. Memang Arisha kenapa? Bukannya cuma minus? Dia ingin sekali bertanya sedari tadi saat melihat mata Arisha yang bengkak. Seperti habis menangis. Ya jelas, sih, kemarin gadis itu menangis histeris saat di taman.
"Emang lo kenapa, sih?" Intan bertanya.
"Nggak tahu, mata dia bengkak dari tadi. Dikucek mulu lagi."
BABANG COMEL. Padahal dia cuma baru nangis doang, tidak kenapa-kenapa. Iya, dia baik-baik saja, kok, walaupun kesannya memaksakan.
Hadwan ingin sekali memberikan obat, tetapi ... dia tidak bisa. Dia harus segera benar-benar pergi dari kehidupan Arisha sebelum akhirnya menorehkan harapan lebih dalam. Dan membuat Arisha semakin terluka.
Padahal ... Hadwan sudah menaruh harapan lebih dalam padanya, termasuk luka yang semakin membekas.
"YUK, LATIHAN, YUK!" Bisma tiba-tiba datang sembari menepuk tangan dengan jeda yang cukup lama. Di belakangnya banyak rombongan yang menyusul.
Hal itu membuat Arisha lekas ikut berbaris di banjar paling terakhir sembari memasukkan bendera semaphore ke sela rok, lalu melirik tempat Hadwan yang masih kosong.
Begitu mendongak, lelaki itu masih bicara dengan Bisma. Kemudian baru berjalan ke arahnya dengan air muka yang kentara terlihat kesal.
Arisha membuang muka saat lelaki itu semakin mendekat sampai akhirnya berdiri di barisan samping dirinya. Keduanya sama-sama kaku dengan posisi ini.
Saat latihan dimulai pun, gerakan Arisha tak sebebas biasanya. Beberapa kali tongkat mereka harus silih beradu saat keduanya kompak menarik tongkat itu dari belakang punggung.
Biasanya, Hadwan selalu marah setelah kejadian itu. Dia dibilang tidak bisa dan tidak konsentrasi karena sering memikirkan lelaki itu. Dan sekarang ... rasanya sungguh sepi.
"ARISHA, yang bener dong." Firda yang kebagian di samping sebelah kirinya itu protes saat ketabrak. Dia sudah jengah melihat latihan gadis itu yang sudah tidak fokus. Suara yang memekik tersebut sampai membuat suasana hening, seiring dengan Gio yang mematikan sound.
"Iya, maaf-maaf."
Firda hanya bisa mendelik, berdeham setelahnya meskipun tidak ikhlas.
"Buruan kalau mau pindah."
Arisha menoleh sigap mendengar itu.
Hadwan ingin pindah?
"Oke, sorry ngerepotin."
Dia hanya bisa melihat punggung Hadwan yang semakin menjauh dan akhirnya berdiri di belakang Anida sembari melambaikan tangan dan tersenyum jahil.
Sebuah senyum yang biasanya selalu Hadwan munculkan untuknya.
•
"Gue ke kamar mandi dulu. Nitip, dong." Arisha melempar bendera pada Babang yang untungnya langsung dia tangkap dengan sigap.
"Kebiasaan, punya sepupu." Dan berakhirlah dengan Babang yang menggerutu.
Arisha berlari kecil ke kamar mandi depan lapangan. Lalu, menarik napas dalam saat melihat kaca. Dia hanya ingin cuci muka dan menyiapkan mental. Kenapa dia jadi lembek seperti ini pada laki-laki!? Dia tidak suka dengan dirinya yang sekarang. Arisha yang dulu seperti sudah punah saat Hadwan telah datang ke kehidupannya dan merecokinya.
"Makasih, ya, udah buka peluang buat gue."
Arisha melihat pantulan perempuan yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Hadwan balik lagi ke gue, Arisha."
"Tanpa gue kasih peluang pun, kayaknya dia pasti jadiin lo pelampiasan terus, kok, An." Arisha menoleh sembari memasukkan kedua tangan ke saku rok. "Nggak sadar, ya? Lo cuma pelampiasan, Anida. Lo mau nyari apa di Hadwan, sih?"
Arisha kasihan saja melihatnya.
"Hadwan itu satu-satunya orang yang bisa buat gue bertahan hidup."
"NO!" Arisha terkekeh, tersenyum miring. "Itu cuma anggapan lo, An."
"Tolong diinget aja, dia bakal pergi ke lo kalau hanya saat marahan sama gue doang. Usaha lo kurang giat." Itu yang Arisha lihat selama ini. Namun, setelahnya gadis itu malah menghela napas berat. Lalu, melihat Anida datar.
Oke, mungkin omongannya memang salah. Anida pantas jika bersama Hadwan.
Arisha menepuk bahu Anida sekali saat telah berdiri di sampingnya, "Mainnya yang cantik, ya, Cantik. Gue dukung lo."
Anida bingung melihatnya. Padahal, Arisha memang tak sejahat yang Anida kira. Jikalau Anida sangat dekat dengannya, maka Arisha pasti akan mundur dan tidak mau berurusan dengan Hadwan walaupun sekadar makan bareng di kantin. Atau kalaupun mau, dia akan mengajak Anida.
"Semangat. Jagain dia, yaaa. Kalau lagi stres, kasih aja dia es krim cokelat dicampur yogurt peach. Dia pasti langsung tenang dan bawel lagi. Terus dengerin dia kalau dia curhat, jangan dipotong atau dibandingkan sama kisah lo. Dan jangan memulai bahas soal keluarganya, kecuali dia yang bahas duluan, dia nggak suka."
Arisha menarik senyum simpul.
"Nitip Hadwan, An," lanjutnya sebelum benar-benar keluar kamar mandi. Tak ada lagi celah untuk dia tetap berada di dekat Hadwan. Dia tidak bisa lagi menjadi teman curhat lelaki itu. Sungguh tidak bisa. Dan Anida, mungkin bisa menjadi pengganti dirinya.
"Ternyata lo lebih tahu tentang Hadwan, Ar." Anida membatin. Selama ini dia sering bersama Hadwan dan lelaki itu tak pernah terbuka padanya.
"Aw!"
Siapa badan tinggi yang menghalangi langkah Arisha ini!? Begitu mendongak, mata Arisha melotot melihatnya, seakan ingin lepas dari tempat sebenarnya. Mungkin bisa dibilang wajar saat Hadwan tidak sengaja menabraknya karena ini belokan yang terhalang tembok. Namun, kenapa Hadwan harus ikut diam, bukannya menghindar?
"Lo mau—"
Omongan Hadwan tiba-tiba terhenti dengan sebuah ingatan: kalau dia sedang menjauh dari Arisha. Beuh, kenapa dia sampai melupakan itu? Ternyata, terlalu lama berada di samping Arisha setiap hari membuat dia pikun.
Arisha tidak memikirkan itu kembali, dia malah lekas berjalan cepat ke lapangan lagi dan mengambil minuman dari Gino tadi yang dia simpan di atas kursi beton pertama. Disusul oleh Intan yang langsung menghampirinya dan meminta minuman itu.
Arisha sempat melirik Hadwan kembali sekilas dengan ekor matanya. Ternyata lelaki itu semakin melaju saat menyadari tatapan itu.
"Tadinya cuma jarak kita doang, ya, yang deket. Ternyata jarak pun pergi, makin mengikis dan gak tahu kapan bakal balik lagi atau nggak."