Sepasang Orang Asing

1518 Kata
Daksa Arisha melemah mendapati kebenaran ini. Kenapa harsa belum datang padanya? Baru pertama kali dia merasakan suka, tapi dipatahkan dalam sekejap mata. Kecewa? Jelas saja. Bahkan, atma ini sudah rapuh bersamaan dengan tetesan air hujan yang luruh. Aksanya menatap tajam Hadwan yang tengah membantu Arian untuk bangkit, apalagi mengingat lelaki itu tadi membentaknya seakan wajar dilakukan. Hati wanita berbeda, tidak semuanya sama. Dia paling lemah kalau sudah mendengar bentakan. Dan pada hari ini juga, Hadwan resmi menjadi laki-laki yang membuatnya patah untuk pertama kalinya. "Kalau lo berbuat kayak gini lagi sama Arian, gue enggak akan segan-segan untuk balas dendam!" gertak Hadwan. Tangan Arisha mengepal, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dia berlari sekuat tenaga membuat Hadwan menatap sendu punggung gadis itu. Lantas, beralih menuntun Arian yang sudah lemas untuk segera masuk ke dalam rumah. Tenaga Arisha memang besar, apalagi dia pernah menyambet juara pencak silat se-provinsi. Langkah Arisha memelan. Memeluk diri sendiri dengan segala pikiran yang membayang. Tumpahan cairan bening yang keluar untung saja termasarkan oleh hujan. Setidaknya dia tidak disangka sad girl oleh orang-orang. Mata bulat Arisha sesekali terpejam, menahan sesak dalam diri yang seakan enggan untuk menghilang. Kini, tinggal akara mengenai Hadwan yang hanya mampu Arisha saksikan. Apa yang selama ini dia rasakan ternyata malah menjadi boomerang tersendiri untuknya–menjadikan organ utuh harus terpecah belah hingga menyisakan serpihan. Entah memang bisa disembuhkan nantinya atau tidak. Dia ... takut. Takut kalau Hadwan sama dengan Arian. Dia pula merasa dikhianati oleh keadaan. Kenapa harus orang yang bersangkutan dengan Hadwan–cinta pertamanya? Ternyata benar kata sebagian orang, cinta pertama memang kerap gagal. Arisha menarik napasnya dalam, menendang air yang berkubang, kemudian mengepalkan tangan geram. Kacau, perasaannya sekarang. Rasa yang dia miliki, tidak datang pada orang yang tepat. Sesampai di rumah. Dia langsung memasuki kamar, tanpa mempedulikan pakaian yang sudah basah kuyup dan tidak beraturan. Jangan tanya lagi Lastri ada di mana, dia pasti masih di kantor dengan segudang pekerjaan. Saat dia kecewa dengan bentala, pada siapa dia menyender selain kasur? Barang itu paling mengerti dirinya daripada mamanya sendiri. Bahkan, Lastri terkadang lupa untuk pulang. Tidak heran kalau Arshi mencari pelarian. Dia sedikit menyesal telah pindah ke sini. Dia kira, Lastri akan kesepian karena tidak ada yang menemani. Namun, nyatanya dia yang merasa sendiri. Andai kalau dia masih di Jakarta, mungkin ada Fatur yang siap siaga. Arisha membanting tubuhnya ke pembaringan. Tidak mempedulikan akan ponsel yang sedari tadi bergetar. Dia hanya ingin menenangkan hatinya lebih dulu, mencoba menerima bahwa keesokan harinya dia harus menjauh dari Hadwan. Mukanya dia tenggelamkan pada bantal biru tersebut. Raungan demi raungan dan sesenggukan mengisi ruang yang sepi, menjadikan pelampiasan paling ampuh untuk menenangkan diri. Di sisi lain, Kailla mengobati luka Arian dengan penekanan yang kencang. Baru saja dia tinggalkan sebentar, anaknya ini sudah babak belur bagai orang sudah tawuran. "Habis berantem lagi!? Enggak ada kapoknya banget, sih, kamu. Kalau Arshi lihat ini, pasti udah habis kamu tuh." Arian menghela napas. Dia meringis ketika Kailla semakin kasar menekan kapas pada sudut bibirnya. "Aw. Pelan-pelan dong, Ma." Arian melirik Hadwan sekilas. Kailla mendelik dengan Hadwan yang berlalu dari ruang tamu itu, memasuki kamar dan mengambil gawai. Dilihatnya kontak Arisha, harusnya Hadwan sadar diri dari pertama kali ketika dia tahu siapa Arisha sebenarnya. Tanpa ragu, dia memblokir nomor Arisha. Mulai saat ini, dia harus mulai benar-benar mengikhlaskan partner tugasnya semasa di KIR itu. • Masalah kemarin masih saja menjadi suatu bayangan yang sulit untuk dilupakan dalam sekejap. Saking terus melamun, padahal dia dan Intan sedang berjalan menuju sekolah karena motor yang terparkir di Masjid Agung, membuat Intan mencepret lengan Arisha dengan karet yang sedari tadi dia pegang. Tadi dia nemu di motor, bekas praktek kimia. Tubuh Arisha sontak menjauh ke samping dengan mengusap lengan spontan. Melirih sakit, merasakan linu teramat dalam. "Duh! Psikotes banget jadi orang, sakit woy, Otan." Arisha mendelik. Intan tertawa tanpa beban sampai bahunya naik turun, bahkan tawanya sampai ngebug. "Psikopat, Bos. Lagian atuh lo mah melamun terus, kayak punya beban buat ngangkut mobil pakai punggung aja." Tidak mau kalah, dia malah menginjak sepatu Intan yang masih kinclong. "Widih, sepatu baru. Kenalan dulu lah." Intan mendorong tubuh Arisha untuk menjauh, tapi karena sikap keduanya yang jahil sambil jalan membuat Arisha tersengal kakinya sendiri hingga menabrak seseorang yang baru keluar dari koridor. Bruk! Berakhirlah keduanya yang terduduk di lantai secara paksa, menimbulkan sakit tak kasat mata. Membiru sudah. Bahkan, orang yang dia tabrak sampai mengenai pot bunga yang tertanam bunga mawar. "Duh, ada-ada aja kalau lagi patah hati nih." Arisha membersihkan tangannya yang terasa kotor. Ketika menengok, matanya mengerjap pelan. Aduh, kenapa harus Hadwan? Dia langsung berpaling, memilih melihat lantai yang lebih menarik. Lelaki itu menggerutu dalam hati, urat-urat lehernya keluar, linu menjalar begitu saja, kemudian dia menarik napas dalam. Tanpa memandang Arisha sedetik pun, Hadwan bangkit untuk pergi ke Sekre. Diliriknya sepatu Hadwan yang beringsut menjauh. Dia masih sangat asing dengan situasi ini. Rasanya sangat amat kehilangan meski nyatanya, dia sendiri pun yang ingin melakukan itu semua. Bibirnya melengkung, tatapannya kosong, dengan tangan yang beralih membenarkan kacamata. Intan menatap keduanya bergantian, kondisi terkini sepertinya sedang terjadi hal yang kurang baik. Tumben, Hadwan cuek. Wajahnya pun terkesan dingin. Intan jadi takut, padahal biasanya wajah Hadwan selengean. "Ngapain cuma lihat doang? Bantuin berdiri dong." Arisha mengangkat kedua tangannya. Masih dengan tatapan bingung, Intan membantu Arisha untuk berdiri. Langkah keduanya berangsur memasuki koridor kelas. "Kalian ada masalah?" Arisha hanya mengangkat bahu acuh. "Pantesan tadi ngelamun terus." "Nanti deh gue cerita, Tan. Ini terlalu mendadak dan menggetarkan jiwa raga." Pada akhirnya, Intan hanya mampu mengiyakan. Baru saja memasuki kelas, dia langsung disuguhkan dengan Angga dan Baim yang tengah joget di pojok kelas, Firda yang nyanyi dengan Erik yang memukul meja dan galon, dan sebagian lainnya main bekel di belakang–dekat rak literasi. Benar-benar absurd semua anak kelasnya. Ada ulangan mendadak baru tahu rasa. "Weh, ngapain masuk? Udah ada surat dispen tuh dari ekskul Pramuka," kata Babang yang baru saja hendak keluar seraya membawa dua bendera semapur. "Lah? Bukannya abis istirahat?" tanya Intan. Dia menggeser langkahnya untuk menyimpan tas di meja paling depan. Begitupun dengan Arisha. "Kurang update amat. Orang dari subuh juga udah dikasih tahu sama si Yoga." Biasalah. Mereka mana tahu soal info yang disebarkan pagi-pagi. Lah wong, keduanya jarang buka HP pada jam segitu. Arisha melirik Babang sekilas, mengambil bendera di kolong meja, kemudian membiarkan tangannya ditarik oleh Intan setelah menitipkan pekerjaan rumah pada Ela. "Nanti dispen sampai jam berapa?" tanya Intan lagi. Babang yang berada di depan mereka pun menoleh. "Sampai ashar. Pokoknya, hari ini harus udah matang banget supaya besok tinggal gladi bersih." Intan berdecak, "Atuh euy, tahu gitu mah tadi teh bawa minum yang banyak dari rumah." "Di kantin juga banyak." Arisha menimpali. Dia langsung mendapat sikutan di perutnya, membuat dia mengaduh pelan. "Di kantin mah harus bayar ai Arisha. Kalau bawa dari rumah kan gratis," jelasnya. Wanita yang terkenal dengan aksi hematnya itu semakin menarik Arisha untuk masuk ke dalam Sekre. "Lo tuh pelit atau hemat, sih?" Babang suka aneh dengan Intan. Padahal dia yang nantinya akan menikmati apa yang dia beli, tapi tetap saja pelit untuk diri sendiri. Babang beralih duduk di depan ruangan serba cokelat tersebut. Intan duduk di kursi depan printer, mengambil jatah makan untuk hari ini. Berbeda dengan dia yang mundur setelah melihat Hadwan tengah tertawa bersama Anida di dekat rak–di hadapan keduanya ada tab yang mengeluarkan suara kencang. Tangannya berkeringat dengan jantung yang berpacu lebih dari biasanya. Ketika Hadwan tidak sengaja meliriknya, Arisha pamit untuk pergi ke lapangan lebih awal pada Intan. "Ar, tunggu bentar atuh. Nanti lo sendirian di sana," cegah Intan. "Mumpung dikasih makan sama Pak Ketua. Mending sarapan dulu." "Enggak, lo aja. Tadi ... tadi udah sarapan di rumah kok." Segelas air minum juga mungkin termasuk sarapan, kan? Daripada dia di sini dan melihat wajah Hadwan terus. Bawaannya emosi dan sakit hati. Hadwan tahu, mana mungkin Arisha bisa sarapan di rumah. Jarak rumah dia ke sekolah saja lumayan jauh hingga tidak ada waktu untuk mengurusi makan. Apa yang selama ini dia amati pula, Arisha tipikal orang yang suka mual kalau makan makanan berat di pagi hari. Melihat Hadwan yang hendak beranjak, Anida menahan lengan lelaki itu. "Mau ke mana? Filmnya belum selesai lho. Ini lagi seru-serunya tahu, Had. Nanti si cowoknya bakal–" Omongan Anida terpotong begitu saja. "Ada panggilan alam. Sorry, An." Panggilan alam untuk mengalah maksudnya. Dia sadar diri kalau Arisha tengah menghindar. "Tapi, nanti kita lanjut nonton, kan?" Ada pancaran harap di mata Anida. "Yaelah, jangan maksa gitu lah, An. Kelihatan banget kalau Hadwan enggak tahan itu," komentar Gio–nampak tertarik dengan tingkah Anida. Arisha melirik Hadwan sekilas, masih dengan posisi yang sama–di tengah pintu keluar. "Apa, sih, lo? Orang Hadwan juga menikmati kok. Jangan ngadi-ngadi. Hadwan pasti iya-in ini." Gio mendelik. Anida kembali menatap manik cokelat tua milik Hadwan, tapi tangannya diturunkan dengan pelan. "Gue mau langsung ke lapangan, siapin sound sama Babang." Melihat Anida yang mencebik, Intan tertawa lepas, begitupun dengan Gio–merasa puas dengan penolakan halus Hadwan. Sebelum sepenuhnya keluar, keduanya silih menatap tajam satu sama lain, hingga Arisha memutuskan kontak tersebut. Menggeser tubuhnya mendekati Intan, mempersilakan Hadwan untuk pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN