Kejujuran

1550 Kata
Menyusul Arian sepertinya bukan waktu yang tepat. Lelaki itu pasti di lapangan, kan? Memukul Arian di sana hanya akan membuat suasana gaduh. Hal itu membuat dia memilih untuk tetap ikut dengan Hadwan ke rumahnya lebih dulu, melupakan seonggok kemarahan pada Arian. Meskipun sebenarnya dia tidak tahan lagi ingin menghajar lelaki itu. Namun, kalau dengan tiba-tiba dia datang ke sana dan masuk lapangan, orang lain akan silih bertanya dan mencari penyebabnya. Sekolah ini sudah semacam anak lambe turah yang bisa dengan mudah menemukan apapun. Dan datangnya dia ke rumah semoga pilihan yang tepat, lalu bisa mendamaikan Hadwan dengan mamanya sendiri. "Emang tadinya lo nggak pernah gini, Wan? Sama mantan-mantan lo gitu? Ya ... kali aja, lo juga dulu sering disuruh nyokap lo buat ajak cewek yang ... em, dekat sama anaknya." Gadis itu sekarang tengah berada di boncengan lelaki itu. Entah setan apa yang masuk ke dalam tubuhnya sampai dia mau naik motor Hadwan. Dan dia sungguh penasaran dengan ini. Mamanya Hadwan mengajak dia pada Hadwan langsung. Kan dia jadi percaya diri berlebihan, merasa sudah direstui, padahal belum punya hubungan apa-apa. "GUE NGGAK PUNYA MANTAN." Hadwan berkata lantang. Sontak membuatnya tertawa. Seorang Hadwan yang sering mengumbar perhatian dan gombalan pada banyak wanita, tidak mungkin berkata jujur jika dia tanya seperti itu. "Bohong lo keliatan. Haha." Hadwan berdecih mendengarnya. Memangnya Arisha punya keahlian membaca kisahnya? Dia sungguh berbicara dengan jujur. Meskipun pernah menyukai wanita lain, ya dia memang tidak pernah sampai ke tahap yang namanya pacaran, dia juga kan normal. "Sama mantan emang nggak pernah, oke nggak punya mantan. Tapi sama cewek lain pernah, kan?" Arisha terdengar semakin menuntut, membuat Hadwan tersenyum geli. Dia seakan tengah ditanyai oleh pacar yang tengah cemburu tidak jelas. Maksudnya, cewek yang sedang overthinking. "Nggak. Lo doang." "Arshi?" "Dia datang bukan sama gue lah. Kami berbeda." Oh, mungkin Arshi yang dimaksud Kailla waktu lalu itu sebenarnya teman kakaknya Hadwan. Arisha langsung diam selepas mendengarnya. Menghirup sebuah kenyataan bahwa dia memang salah tingkah. Jadi, dia wanita pertama? Sampai tak terasa kalau bibirnya sudah menampakkan sebuah senyum lebar yang tertahan. "Dih, salting lo?" "Apaaa? Nggak. Geer banget." Arisha mendelik. Meskipun begitu, senyum gadis itu tidak bisa membohongi Hadwan sama sekali. Setidaknya, dia merasa tenang jika melihat Arisha seperti ini. Menggemaskan. Dia semakin ingin membuat gadis itu menjadi sering salah tingkah karenanya. "Lo gemes." "Hah?" Tawa Hadwan menguara setelahnya. Sampai dia mencebik kesal. s****n si Hadwan. Dia tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Dan Hadwan bisa melihat itu dengan jelas dari kaca spion. Sampai akhirnya tiba di rumah Hadwan pun, Arisha sudah cukup bisa untuk bisa berbicara dengan timbal balik jika berhadapan dengan mama lelaki itu. "Kakaknya Hadwan menang lomba. Jadi, mama masak banyak. Sengaja, buat syukuran." Dalam hati Hadwan, tetap menggerutu. Meskipun sebenarnya dia bangga kalau kakaknya menang. Namun, apakah pernah seperti ini jika Hadwan yang meraih prestasi? Jawabannya tentu tidak. Juara di mana-mana tetap tak membuat Kailla melirik selamanya padanya. Arisha tersenyum tipis, "Wah, selamat, Tan." Arisha melirik Hadwan yang mukanya sudah terlihat risih. Lalu duduk di meja makan selepas Kailla menyuruhnya. "Om ke mana, Tante?" tanyanya mencairkan suasana, padahal sudah tahu kalau pria itu berada di luar negara. "Mama aja, jangan Tante." Kailla duduk di depannya, seolah perkataan tadi bukanlah hal penting untuk Arisha. Mama? "Om itu lagi pergi ke luar negeri. Ah, iya, kamu nitip apa? Besok om pulang, lho." Anaknya tidak ditawari gitu? Oh, atau mungkin sudah oleh Mario. Namun, kenapa muka Hadwan sungguh tidak ramah? "Nggak usah, Tante—mama." Arisha tersenyum tak enak. Kalau saja Tio yang tanya, dia pasti sudah minta segala macam. Sampai Tio sering bilang, "Nggak sekalian beli aja tokonya?" "Ma, Hadwan ma—" Pendengaran Arisha seakan mendadak tuli. Tunggu, kenapa ada suara lelaki itu di sini? Ada hubungan apa antara dia dengan Hadwan? Dan bilang ... ma. "Itu si kakak." Arisha menoleh cepat pada tangga, melihat Arian yang terdiam membatu di sana. Tatapan mata Arisha menajam melihat itu. Kakak? Hadwan adiknya Arian? Tatapan Arisha pada Hadwan itu seolah menjadi gumpalan kerikil yang menerjangnya ribuan kali. "Kak Arian ... kakaknya Hadwan, Ma?" Arisha menoleh pada Kailla. Dia sungguh berharap kalau jawabannya tidak, meskipun tidak akan mendapatkan jawaban itu. Jelas, Arian memanggil Kailla dengan mama. "Iya." Napasnya seakan berhenti setelah itu. • "Kak?" Arian menyimpan piring, tak menoleh sama sekali. "Hukuman apa yang pantas buat kamu, selain kena hantam?" "Kita bicarain dengan kepala dingin. Oke? Gue nggak mau nyokap gue denger." Gara-gara itulah mereka berada di taman dekat rumah Hadwan. Tangannya sudah mengepal sejak tadi, untuk sekadar duduk pun Arisha tak bisa, tetapi masih ingin mendengar penjelasan lelaki itu. Hadwan tidak ikut, karena Arian melarangnya. Padahal lelaki itu bersembunyi di balik tembok rumah Tegar. Iya, tamannya di samping rumah Tegar soalnya. "Lo maunya gimana?" Arisha menoleh, tersenyum miring. "Mukul kamu." "Aku udah tahu! kamu ... kamu yang hamilin kakak aku." d**a Arisha sesak mendengar ucapan dirinya sendiri. "Lo salah paham. Iya, waktu itu ... gue emang ke makam Arshi. Gue jadi sering ngehindari lo juga dari awal lo tanya tentang Arshi. Tapi bukan gue yang lakuin itu." Arisha menyilangkan tangan depan d**a, menatap Arian jahat. Dia sungguh tidak percaya. Sudah jelas kalau saksi matanya ada. Kurang apalagi? "Mau ngeles apa lagi, Kak? Saksi mata udah ada. Dia udah lihat kakak masuk sana sama Kak Arshi. MAU NGELAK APA LAGI, HAH!?" Arian tidak tega melihat air mata Arisha yang perlahan lagi akan tumpah. Sudah jelas kalau gadis itu sudah menahan amarah dari tadi, dan menjadi sebuah bom yang sebentar lagi akan meledak. "APA!?" Arisha semakin meraung tertahan. Hadwan jelas sakit mendengarnya. Baru kali ini dia melihat Arisha semarah itu. "IYA, GUE YANG HAMILIN DIA. TERUS LO MAU APA? PUKUL GUE? NGGAK AKAN BUKAN ARSHI BALIK. DIA UDAH MATI. PERCUMA, ARISHA." Bugh! Kepalan tangan Arisha akhirnya bisa mendarat di wajah mulus Arian dengan keras sampai lelaki itu terjungkal ke belakang. "GILA. b******k. JAHAT. KAKAK NGGAK MIKIR?" Arisha menatap lekat Arian yang kembali berdiri sembari mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar. "GIMANA KISAH SETELAH KALIAN NGELAKUIN ITU!? PUNYA OTAK NGGAK? PAKE. GIMANA SI CEWEK NANGGUNG BEBAN. MIKIR? NGGAK, KAN?" "Yang namanya napsu, nggak bisa mikir sehat dulu." Arisha tertawa remeh. "Salahin napsu? Jadi cowok, harusnya bisa jaga. Meskipun nggak bisa jaga ceweknya, ya minimal jaga diri sendiri lah, jangan sampe NGELAKUIN kayak gitu." "SAYANG, KAN SAMA DIA!?" Arisha semakin mendekat dengan tangan masih mengepal kuat. Arian hanya melihatnya miris sekilas. Lelaki itu mengangguk. "b**o. KAMU NGGAK SAYANG SAMA KAK ARSHI. KALAU SAYANG, NGGAK AKAN NGERUSAK. APALAGI SAMPAI CEWEKNYA BUNUH DIRI. PUAS, YA, DENGERNYA?" "Gue juga nggak bisa kehilangan dia. Gue nggak berpikir sampai ... Arshi bunuh diri. Oke, gue ngaku gue emang salah—" "SALAH BESAR." Arisha memotongnya. "Tapi gue nyesel." "Dan gara-gara kakak, semua impian aku rusak. Semua impian kakak aku rusak. Seneng dengernya?" Arisha semakin terisak. Gadis itu mengusap air mata yang semakin terjun dengan deras. Dia baru pertama kali menangis seperti ini di hadapan orang lain. Dan rasanya memalukan, tapi air mata itu tidak bisa dia tahan. "NGGAK, GUE NGGAK SENENG SAMA SEKALI DENGERNYA." Arian menghela napas. "Justru gue pengen menebus kesalahan gue sama dia dengan deketin lo. Gue mau ada buat lo, nemenin biar nggak kesepian kayak dia. Dan ternyata nggak semudah itu. Lo lebih deket sama adek gue." Adek. Dadanya semakin sesak mendengarnya. Hadwan, kenapa harus Hadwan. Kenapa harus orang yang sering membuatnya salah tingkah yang bersangkutan dengan masalah ini? Dia bukan hanya benci pada Arian, dia semakin membenci Hadwan atas sikap kakaknya. Kalau Arian saja begitu, Hadwan pun tak akan jauh beda, kan? Harusnya dia sadar sedari awal, jika Hadwan hanya berniat buruk padanya. Hadwan tidak benar-benar tulus setiap membantu dan menghibur dirinya. Hadwan penuh kepalsuan. "Kamu bangsat." "Iya, emang gue b*****t. Terserah mau lo katain apa. Tapi ... please, maafin gue. Meskipun lo pengen mengajukan syarat nggak papa, asal lo bisa terima maaf gue, Arisha." Arisha tiba-tiba tertawa sumbang. Jujur, Hadwan ingin sekali pergi ke sana. Namun, ini masalah mereka berdua. Dia ingin menghapus air mata gadis itu jika bisa. Hadwan sungguh tidak tega melihatnya. "MAAF KAKAK NGGAK AKAN MEMBUAT KEHIDUPAN AKU MEMBAIK LAGI SEPERTI SEMULA." Arisha semakin membabi buta. Gadis itu semakin memukul Arian tidak beraturan. Dan Arian hanya pasrah menerimanya. Dia merasa wajar jika Arisha melakukan ini. Dia pantas diperlakukan seperti itu oleh Arisha, karena memang bersalah. "COBA, BISA NGGAK BUAT KAK ARSHI KEMBALI? NGGAK, KAN? MAU SAMPAI KAKAK BERTEKUK LUTUT DAN NGELAKUIN APAPUN, AKU NGGAK AKAN MAAFIN. NGGAK IKHLAS." Arian menarik napas banyak-banyak. Semua badannya langsung terasa linu bukan main. Dia menatap manik mata Arisha yang penuh luka. Tanpa terasa kalau setetes air mata dirinya pun ikut terjatuh. Dia seperti melihat Arshi di mata itu. Mata mereka sama. Dan setiap Arisha menangis, dia semakin melihat Arshi di dalamnya. Ada sebuah setitik penasaran dalam diri Arisha kala melihat air mata lelaki itu saat menatapnya. Namun, harus tertimbun oleh sakit yang lain. Bagaimana kalau ibu, Fatur, dan Tio tahu? Mereka pasti akan marah besar juga. Lalu, kecewa pada kakaknya. "KENAPA KAMU NGGAK IKUTAN MATI AJA, BIAR SETIMPAL!" Arisha lagi-lagi membabi buta. "ARISHA!" Hadwan berlari dari balik tembok, menghalangi gadis itu untuk tidak berbuat nekat kembali. Dia menarik Arisha untuk diam, tapi tetap tidak bisa, sampai akhirnya Hadwan hanya bisa mendorong gadis itu sampai mundur beberapa langkah. "UDAH. DIEM, b**o. LO MAU BUNUH KAKAK GUE!?" Hadwan ... membentaknya? "Lo berdua gila." "LO NGGAK MANUSIAWI."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN