Tugas Arisha benar-benar selesai untuk hari ini. Semua perwakilan peserta sudah masuk dan acara pun sudah mulai berjalan. Jadi, kali ini dia hanya duduk di kursi administrasi sambil melihat Hadwan yang memegang mic.
Bicara lelaki itu sebenarnya perlu diacungi jempol. Public speaking Hadwan itu bisa dibilang oke banget. Pronounce dia pun tidak diragukan lagi. Iya, Hadwan menjelaskan juklak juknis dan laporan kegiatan yang dibagi dua dengan ketua itu pakai bahasa Inggris. Sementara Hanum pakai Indonesia, menjelaskan yang Hadwan bicarakan.
"Arisha."
"Eh, Kak? Nggak di dalem?" Barusan itu Manda. Berhubung di dalam ada perwakilan satunya lagi dan dia duduk dekat pintu, gadis itu malah keluar dengan seorang lelaki.
"Aku butuh ngomong sesuatu sama kamu." Perkataan Manda itu membuat Arisha menekuk alisnya tajam. Nada bicara Manda terdengar sangat serius. "Tentang Arshi. Aku bawa seseorang, yang bisa menjawab penasaran kita selama ini."
"Oke, kita ngomong di belakang aja. Tapi bentar." Arisha menyuruh Intan untuk menggantikan dia lebih dulu di sini, jaga-jaga kalau sebenarnya ada lagi yang mau daftar.
"Jadi, gimana?" tanyanya saat mereka sudah sampai taman samping kesenian.
Manda menyenggol tangan Vilips sekali. Lelaki dengan seragam putih abu dengan wajah mirip artis t****k itu—Ryan—berdeham.
"Ceritanya gini. Waktu itu gue abis pulang sekolah, nih. Mau ke rumah ceritanya. Eh, gue liat si Arshi masuk gedung kosong gitu sama cowok. Kebetulan rumah gue deket banget ama tuh gedung."
Seorang Arshi tumben mau masuk ke gedung kosong bersama laki-laki. Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?
"Waktunya tiga atau dua Minggu sebelum kepergiannya dia. Gue nggak inget waktu pastinya. Tapi, beneran. Gue lihat dia ke sana," jelas Vilips kembali. Arisha mengangguk beberapa kali. Oke, dia sangat percaya.
"Kakak masih inget nggak ciri-cirinya gimana?"
"Cowoknya tinggi, agak berisi. Rambutnya, sih, item, pake seragam. Cuma gue nggak tahu model apaan tuh rambut."
"Ini?" Arisha memperlihatkan foto Arian yang sempat Novy kirimkan di grup chat mereka berempat beberapa hari yang lalu untuk menggoda Arisha yang terlihat renggang dengan lelaki itu.
"Gue nggak terlalu inget mukanya pas di depan, sih. Tapi kalo dari samping, gue inget dan foto itu emang mirip banget." Vilips meneliti foto yang mulai berganti dan menampakan seorang lelaki dari belakang, lalu bergeser kembali menjadi dari samping, itu Arian lagi pakai seragam. "Iya, dia!"
Yang terlihat oleh Manda adalah ... bahwa wajah Arisha langsung pias dan puas bersamaan. Arisha yang sudah curiga sejak awal dan mendadak oleng itu kali ini yakin kembali kalau istilah jangan menilai orang dari luarnya saja itu benar-benar terpakai.
"Kamu ... tahu dia?" tanya Manda tak yakin. Namun, anggukan dari Arisha membuat Manda terdiam. Apalagi penjelasan Arisha yang selanjutnya. Gila, sih, ini. Sebuah kebetulan yang menuntun pada takdir.
"Dia kakak kelas aku. Orang yang sering deketin aku, Kak." Ya, Arian sering mendekatinya kan dulu? Hanya terlihat di pemakaman Arshi padahal dia ingin bicara baik-baik pun lelaki itu selalu menghindar. Sebenarnya dari sana pun harusnya dia semakin curiga dengan tingkah lelaki itu. Dia kurang peka.
"Hah?"
Ya Manda kaget lah mendengarnya. Bisa-bisanya!
"Are you okay?" Manda memegang pundak Arisha saat gadis itu setia bergeming setelahnya. Ya aneh saja gitu. Ternyata orang sebaik itu, orang yang suka dibanggakan di manapun, ternyata cowok b******k yang telah merusak anak orang sampai bunuh diri.
Selain Hadwan, orang kedua yang dia benci kali ini ... jatuh pada Arian.
"I am okay, Kak." Namun, setelah itu, Arisha melepaskan tangan Manda dari pundaknya dan berlalu dari sana dengan begitu cepat. Manda hanya menghela napas melihatnya, seiring dengan Vilips yang cengo karena tidak tahu apa-apa.
"Adiknya Arshi cakep juga. Mirip lagi. Mereka kembar?"
Manda menggeleng, "No. Mereka berbanding terbalik. Hati-hati lu sama dia."
"Kenapa?" tanya Vilips sewot. Bilang saja kalau Manda melarang dia lagi untuk mendekati perempuan. Btw, mereka itu friendzone kurang lebih lima tahun.
"Galak." Manda berkata sebelum berlalu dari sana.
"Kak Jagat, Kak Arian mana?" tanyanya saat sampai di hadapan kelas lelaki itu.
Dengan napas berburu tak beraturan, pada akhirnya dia lebih memilih untuk melabrak Arian saat ini juga. Dia tidak peduli kalau saja akan dipanggil oleh BK jika keributan terjadi. Dia kepalang emosi dengan lelaki itu. Dia ingin segera memukulnya. Tangannya sungguh sudah gatal dan telah mengepal kuat dengan wajah memerah sampai Jagat yang baru keluar kelas gelagapan melihatnya.
Dia baru pertama kali melihat Arisha seperti ini. Dan untuk apa mencari sahabatnya di saat terlihat sedang marah seperti ini!? Huh, Arian habis cari gara-gara apa!?
Arisha berdecak. "Lama."
Dia menerobos kelas, tidak peduli lagi dengan sopan santun. Namun, kelas sepi. Hanya ada dua orang wanita yang sedang berkemas. Anak kelas dua belas ada acara apaan lagi, sih!?
"KAK! KAK ARIAN MANA!?"
"Tenang, tenang dulu." Jagat mengangkat kedua tangannya. Ternyata Arisha kalau marah serem juga. Biasanya, gadis itu suka terlihat kalem di mata Jagat.
"Nggak bisa. Kak Arian mana? Dia di mana!? Please, aku butuh banget samsak detik ini juga!"
Jagat semakin takut mendengarnya. "Dia lagi turnamen futsal. Di Cimalaka. Emang ada apa?"
SANGAT JAUH!
"KENAPA NGGAK NGOMONG, SIH, DARI TADI?"
Jagat melangkah mundur saat Arisha kembali turun dari kelasnya.
"ADA APA, ARISHA?"
Namun, gadis itu memilih untuk tidak menjawabnya dan berjalan lebih cepat ke belakang pekarangan sekolah untuk melampiaskan yang segera ingin dia keluarkan. Memukul tembok pun jadi. Yang penting emosinya tersalurkan. Dia juga tidak akan membuat tembok itu retak sehingga mengancam fasilitas sekolah. Ya, temboknya tidak retak. Tapi sekarang? Tangan Arisha yang mulai berdarah.
•
"Arishaaaa. Dari tadi dicariin, lo teh—"
Ucapan Intan itu terdiam kala melihat darah kering di tangan Arisha yang langsung gadis itu sembunyikan. Dari tadi siang dia memang sempat mencari gadis itu, tapi langsung kehalang beres-beres lab karena acara sudah selesai. Dan baru menemukan gadis itu pada sore hari ini.
"Tangan lo kenapa?" Intan berjongkok di hadapan gadis yang duduk sambil menunduk tadi. Namun, segera mendongak dengan senyum penuh kepalsuan. Kenapa Arisha selalu terlihat ingin kuat di hadapannya? Intan suka bingung. Padahal dia tahu kalau setiap malam, bahu Arisha bergetar hebat. Hanya saja dia hanya bisa diam dan memperhatikannya.
"Nggak papa. Emang kenapa?" Mata Intan memicing, berusaha menarik tangan Arisha, tapi tetap kalah. Tenaga Intan tidak sekuat gadis itu. Arisha hanya tersenyum geli melihatnya. "Gue lihat, ya, Ar. Tangan lo berdarah."
"Darah apa? Ngaco lo, ah."
Arisha lalu menarik kedua tangannya sampai terlihat di hadapan Intan sepenuhnya. Tunggu, tadi ada kok nada kering di sana. Terus sekarang ... darahnya pergi ke mana?
"Tadi gue lihat dengan jelas, lho. Gue bener-bener lihat ada darah kering, Arisha." Mata Intan berkaca-kaca. Arisha sungguh tidak tega melihatnya. "Lo teh terluka. Kenapa harus disembunyikan? Lo hapus, kan? Pake apa? Bawa apa, lo?"
"Nggak bawa apa-apa. Emang tangan gue nggak berdarah."
Padahal di belakangnya ada genangan air. Dia sempat menghapusnya dengan cepat dan berusaha tidak terlihat sedang melakukan apa-apa.
"Tapi lo nggak bisa bohong. Tangan lo lecet gini." Intan meraih tangan Arisha yang memang belum sempat gadis itu akali. Dia tidak bisa bohong lagi. "Lo abis ngapain? Berantem? Berantem sama siapa lagi atuh? Heran, padahal cewek, tapi senengnya pake otot."
"Berantem sama tembok."
Konyol. Intan sampai menggelengkan kepalanya beberapa kali. Lalu, mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang untuk membawakan obat merah dan kapas.
"Aneh, tembok aja diajak berantem. Padahal tembok itu cuma diem."
Arisha menatap kosong hamparan rumput di depannya. "Iya, selama ini temboknya emang diam, tapi padahal ... sebelum itu temboknya nggak diem, Tan. Dia berulah di belakang, lalu berlindung sama bata."
"Ngomong apa, sih? Nyindir, ya? Siapa orangnya?"
Arisha hanya tersenyum simpul. Belum waktunya dia memberitahu Intan.
"Siapa yang sakit?" Arisha menoleh ke samping, mendapati Hadwan dan Babang yang berjalan bersamaan sembari menggendong tas masing-masing. Kecuali Babang, dia dua. Tumben banget lelaki itu mau membawakan tasnya. Pamrih nih pasti. Ada maunya Babang ini.
"Buruan, deh, Wan maneh teh." Hadwan mendengus saat Intan merebut kotak P3K. Mengeluarkan obat merah dan mengobati luka Arisha.
"Kenapa tuh tangan? Jatoh?" Hadwan bersila di sampingnya, tapi menghadap Arisha. Sampai lelaki itu bisa melihat gadis itu dari samping.
"Itu, dia—"
"IYA, JATUH!" Arisha lekas menyela jawaban Intan, melotot setelahnya saat Intan mendongak menatapnya. Hadwan tidak boleh tahu. Dia bisa diledek.
"Makanya, kalau jalan tuh hati-hati. Apa gue bilang?" Hadwan memiringkan kepala, "jangan sambil mikirin gue terus. Ngerti? Ngeyel banget, tiap dibilangin. Susah banget gitu menghilangkan gue di ingatan lo? Terlalu indah, ya?"
Mata Arisha langsung mendelik, memukul lutut Hadwan dengan tangan satunya, meskipun setelah itu dia meringis tak kasat mata.
"Najis banget gue sama lo, Wan. Tolong banget, kalau ada, gue pengen beli tes narsis seseorang biar tahu kadar narsis lo seberapa sih."
Hadwan pura-pura marah. Dia malah menyentil jidatnya lumayan keras.
"KALAU TANGAN LO BERANI NYENTUH KULIT GUE DI BAGIAN MANAPUN, ABIS LO!" Mata Arisha menajam, tangannya bergerak menampar Hadwan sampai terdengar suara plak kecil. Tenang, tidak terlalu keras, kok. Padahal barusan tangan Arisha kena kulitnya. Apa bedanya!?
"Lo modus, ya? Niat hati pengen balas dendam, tapi sebenarnya biar modus aja sama gue."
Arisha sampai merinding dibuatnya. Setelah Intan menyelesaikan tugas yang gadis itu buat sendiri pun, tangan Arisha tetap tidak bisa diam meskipun kesakitan. Agenda hari ini, balik latihan di lapangan sampai mereka kompak ke sana. Namun, ternyata ... katanya libur dulu karena kelas dua belas pada ngilang, lagi nonton turnamen.
"Arisan." Sebelum berlalu dari lapangan menyusul Intan, Hadwan menghadangnya lebih dulu.
"Mama ... tanyain lo."
"Hm?" Kailla sedang kenapa? Atau dia ditandai untuk jadi calon mantu? Huh, semakin ngawur. Maklum, dia capek.
"Jangan ham hem, ham hem doang!" Hadwan melayangkan protes.
"Ya terus?"
"Dia ngajak lo makan di rumah, sama .... "
"Sama?"
"Sama gue. Tumben, kan?"