Begonya Hadwan

1518 Kata
Arisha mengirim pesan pada Hanum, kalau dia tidak bisa datang ke acara persiapan technical meeting. Kata gadis itu pun, Arisha memang tidak apa-apa kalau tidak datang juga. Lebih baik dia siapkan stamina dan mental, takut supaya pemateri tiba-tiba ada halangan lagi seperti waktu itu—kecelakaan—dan membuat dia kalang kabut mencari yang baru. Sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak datang. Dia tidak sakit dan tidak kenapa-kenapa. Tidak sedang menjauh dari Hadwan juga. Karena Arisha cuma bingung aja. Nanti, di sana dia mau mengerjakan apa, sedangkan tugas dia pun sudah selesai semuanya. Bisa, sih, membantu seksi lain yang belum. Namun, panitia sebanyak itu apakah masih akan kurang? Padahal menurut dia, panitianya kebanyakan. Harusnya, sih, bisa. Padahal fakta di lapangan, yang kerja kerja, yang tidak tidak. Jadinya menumpuk dan kurang efisien. Dan malah lebih lambat. "SHAAA." Hey, kenapa ada suara ibunya? "ARISHAAA." Benar! Itu suara ibunya. Senyum Arisha tertarik lebar, keluar dari kamar dan mendapati Lastri yang menyimpan barang di meja. "Bi, yang ini tolong beresin, ya. Kalo kotak itu jangan, buat Arisha." ART-nya itu mengangguk, lalu membereskan paper bag dan beberapa kotak putih gading. Gadis itu memeluk sang ibu dari belakang. "Ibu, kok, nggak kabarin aku coba kalau mau balik?" Lastri terkekeh, mengambil puding cokelat yang baru saja dia beli dan menggesernya supaya anak itu bisa melihatnya dengan jelas. "Tadi ibu lihat ada puding lagi promo gitu. Lumayan, buy 5 get 2. Mana gede-gede banget tuh." Arisha mengurai pelukan, duduk di meja makan dan membuka kotak puding itu. Di dalamnya ada lelehan cokelat dan cokelat yang dipotong tipis-tipis. Huh, sungguh menggoda mulutnya. "Nanti anterin makanan ke rumah Athalla kalau udah mood." Duh, ibunya maha pengertian sekali. "Abisin tuh semuanya sekalian." Lastri terkekeh saat melihat makan Arisha yang rakus, seolah tidak menemukan puding lima abad. "Nanti gendut." "Nggak papa, biar nggak ceking." Arisha mendengus mendengarnya. "Ibu ke kamar dulu. Capek, mau rebahan." Ibunya gaul. Arisha sampai tertawa dan mengangguk. Mengizinkan Lastri pergi. Dia melihat pintu kamar Lastri yang mulai tertutup rapat, sembari menampilkan sebuah senyum simpul. Sebelum akhirnya melahap puding itu ganas. "Ih, mauuuu." Intan yang tadinya melangkah pelan pun lekas berlari kecil sampai duduk di depan Arisha dan merebut paksa kotak itu. Gadis itu sampai cengo beberapa detik. Lalu, memberikan sendok kecil tadi. "Abis dari mana, Otan?" tanya Arisha sembari mengambil puding yang baru dan membukanya. "Abis keliling nyari makanan buat besok. Ekspetasi Babang terlalu tinggi. Jadinya—kok ada lagi?" Intan menatap kotak yang baru sebal, membuat Intan tertawa. "Udah, bekas gue lebih enak." Intan hanya mendengus mendengarnya. "Beli di mana? Tumben beli." Soalnya pakai kotak gitu. Mana estetik. Kalau Arisha yang buat paling pakai mangkok atau loyang. Topingnya pun nggak pelit. "Oleh-oleh dari ibu. Nggak tahu dari mana." "Hah, ibu Lo udah balik?" Arisha mengangguk. Sementara Intan tersenyum malu-malu. "Duh, calon mantu gue dah balik." "Mertua kali!" "Berarti lo mengakui dong, kalau gue calon Bang Fatur?" Intan mengangkat kedua alis beberapa kali. "Nggak, sih." Lagi-lagi Intan hanya bisa mendengus. "Hadwan tadi nyariin, kata lo mau balik lagi ke sekolah, eh nyatanya tidak." "Kapan? Gue nggak bilang gitu, kali. Fitnah tuh orang." Dia suka heran deh dengan Hadwan. "Eh, tahu nggak?" Arisha menggeleng dengan mulut penuh, "Hadwan ada di rumah Babang. Kayaknya abis berantem gitu deh sama nyokapnya. Soalnya tadi sempet balik." "Lo mau ke rumah Babang nggak?" tanya Arisha tiba-tiba. "Kenapa?" "Lo aja yang anterin oleh-oleh ke rumah dia. Gue ... gue ada les online." Arisha menutup kotak, menyimpannya di kulkas bersamaan dengan yang masih utuh. "Bisa, kan?" Intan mendongak, setelah berpikir beberapa saat. "Mending lo yang ke sana, Ar." "Buat? Bukannya sama aja, ya?" Arisha menaiki undakan anak tangga. "Temuin Hadwan misalnya? Mungkin dia butuh cerita." Intan tahu kalau Hadwan sering cerita padanya!? Ember tuh cowok. "Kalau nggak sama lo, siapa lagi?" "Babang masih ada." Arisha berbalik. "Pasti ada alasan dia nginap di sana." "Lo ngejauhin dia lagi? Nggak capek?" Arisha terdiam. Dia ... takut. Takut kalau sering bersama Hadwan akan membuat perasaannya semakin tidak tahu diri dan semakin menyalahi aturan. ••• "Bang, Tante ada?" Arisha sengaja hanya memunculkan diri di balik temboknya yang menjadi penghadang antara rumah dia dan Babang. Lelaki itu sedang duduk di kursi teras sambil main game. Terdengar dari kata doble kill dan sejenisnya. "Lagi keluar sama si kembar." Babang menjawab tanpa menoleh. Dia sempat melirik sekilas pada pintu rumah yang terbuka sedikit. Katanya ada Hadwan, kan? Mana? "Lo sendirian?" tanya Arisha lagi sambil meloncat naik ke tembok putih itu. "Hm, kenapa?" "Mau kasih oleh-oleh, sih, tadinya. Tapi nggak berani aja kalau kasih ke lo." Babang baru mendongak selepas mendengar kata oleh-oleh. Oleh-oleh di dalam benak Babang itu pasalnya pasti makanan. "Si aduh. Kasih gue aja, sini. Laper!" "Nanti lo abisin lagi, ah." Arisha kenapa tidak pernah percaya padanya, sih? Meskipun dia rakus, tapi masih bisa menyisakan kok. Iya, menyisakan bungkusnya maksudnya. "Abisin apa?" Hampir saja dia akan terjungkal kalau tidak berpegangan kuat pada tembok. Hadwan, lelaki itu tiba-tiba muncul dari balik pintu. Katanya sendirian, tapi ini laki kenapa di sini!? Mana sambil bawa skincare pula. Mau pamer? "Kepo amat." Arisha menjawab sembari menatap Hadwan sinis. "Dih, tanya doang." Lelaki itu duduk di kursi satunya, hampir menghadap Arisha jika saja dia menggeser lebih jauh. "Tante Lastri udah pulang, ya? Mobilnya tumben di depan?" Arisha berdeham. "Lupa kayaknya. Ibu langsung tiduran tadi. Kayaknya ketiduran." Dia beralih melihat Hadwan yang lagi pakai toner. Hampir saja dia mau melempar batu saat melihat pengaplikasian lelaki itu. Buset, Hadwan pakainya terlalu kebanyakan. "Lo lagi pengen glowing apa lagi pengen buat gue miskin?" Lihat, Babang aja sampai kaget melihatnya. Dan ... itu tuh skincare punya dia masalahnya. "Kan biar cepat glowing. Paham nggak lo?" Udah ngabisin, ngegas lagi. "GLOWING NGGAK, MISKIN IYA!" Arisha berteriak murka. Coba bayangkan, toner sebanyak itu sampe banjir itu muka. "Kompor banget hidup lo." "Ya bodo amat." Babang berdecak. Lalu menimpali, "Tadinya ... langit malam ini menjadi momen yang paling amat tenang di hidup gue. Terutama tidak adanya adik-adik k*****t. Lalu, sangat berubah drastis setelah kehadiran seorang dua manusia yang kerjaannya berantem kayak kucing sama anjing, tapi nyatanya kucing sama kucing yang saling—" "Bacot!" • "Arisha!" Arisha yang baru turun dari tangga lobby dengan baju batik corak cokelat dan navy, rok hitam, sepatu hitam full, itu pun mendadak berhenti. Lalu, menoleh pada lorong kelas dua belas. Itu ... Zikri, tapi nggak pake Daulay. "Lo bisa ngomong di sini nggak?" Arisha mengernyit. Maksudnya ngomong? Apaan dah? "Gue rekam maksudnya." "Untuk?" Zikri kelihatan gelagapan. "Kami mau ulangan." "Hah? Gimana-gimana? Terus ... hubungannya sama ... aku, apa?" Ya aneh gitu, kan? Yang ulangan kan mereka, bukan dia. Dan hubungan ulangan dengan rekaman suaranya apaan? "Nggak ada, sih. Tapi lo ngomong semangat aja, udah ngebantu banget." Terserah lah, Arisha lagi buru-buru pengen makan makanan panitia. Gadis itu bicara semangat yang ... err lembut banget di telinga Zikri. Pantas saja Jagat sampai susah melupakan gadis ini. Kalau Hadwan bisa mendengar suara hati Zikri saat ini, lelaki itu pasti langsung akan membongkar kebusukan Arisha. Padahal mah anaknya suka teriak. "Oke, makasih." Arisha hanya mengangguk, menggelengkan kepala bingung. Aneh. "Bocah prik." Arisha hanya bisa mendelik. Ini, kenapa suara Hadwan harus ada lagi di sekitarnya gitu, lho. Kenapa!? "Ngapain, sih, di sini? Anda siapa? Nyasar, ya, Mas?" tanya Arisha jijik seraya melangkah kemudian ke lab bahasa langsung. Lagipula sekarang dirinya kan dispen sampai jam pelajaran terakhir. "Kualat, sama calon ketua aja pura-pura nggak kenal." Hadwan menyusul Arisha sampai berjalan di samping gadis itu. Arisha hanya tertawa mendengarnya. Ketua? Belum tentu. Ya meksipun memang dia bisa saja kalah atau mendadak pindah lagi gitu? "Muka lo, pede banget." "Kepercayaan diri itu dibutuhkan untuk tetap bersyukur. Paham, tidak?" Arisha menggeleng remeh. Membuka sepatu dan melangkah ke sekretariat yang ada di dalam lab bahasa. "Makanan mana makanan?" Hadwan sungguh mewakilkan. Pasalnya, makanan paginya ayam kremes. Pilihan Babang memang tidak salah. Ya meskipun siangnya cuma air mineral doang sama kue basah dan sisa-sisa dari bekas TM. "Nih, makan dulu. Ar, lo juga makan dulu." Arisha mengangguk mendengar titah dari Hanum setelah menyimpan tas di samping Intan. Lalu, mengambil kotak nasi gambar ayam yang diberikan oleh Hadwan selepas duduk paling dekat dengan air. Biar gampang. "Arisan, Arisan." Arisha berdeham. "Apaan?" "Lo tahu nggak?" Arisha langsung menoleh dengan tatapan ternistakan. Ngomong apaan maksudnya manusia satu ini, pemirsa? Tidak jelas. "Ya nggak lah, Bege." Arisha menghela napas. "Lo ... kalau mau nanya tuh bisa nggak, sih, jangan setengah-setengah. Jangan ambigu, jangan ... ah, capek gue ngomong sama lo." Hadwan hanya tertawa mendengarnya. Lelaki itu menyebalkan parah. Sudah berapa dia bilang!? Hadwan tuh tetap menyebalkan. "Arisan, Arisan." Arisha baru aja mau makan. Dengan tampang tidak enaknya dia mau aja lagi menoleh. "Apaan lagi, Wawan!?" "Ayamnya tukeran." Hadwan mau mengambil ayamnya, tapi langsung dia jauhkan dari jangkauan lelaki itu. "Kenapa, sih? Bagus tuh, d**a. Lebih banyak daging." "Nggak, nggak boleh." "Kenapa?" "p***o anjir." Sejak kapan dia mau bicara pada lelaki modelan Hadwan? "Ini kotak nasi, kan, bukan tempat open?" Tahu, ah. Arisha pusing dengan Hadwan. Dia ingin pergi, tapi takut kalau acaranya mau mulai. Hadwan, dia capek. Serasa ingin melambaikan tangan ke kamera. "Begonya jangan dipelihara, ya, Wan. Jangan kelihatan banget, rangking pararel lo cuma nyogok."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN