Salah Tingkah

1601 Kata
Mungkin, bisa dibilang hari libur paling menyebalkan. Namun, ternyata kehadiran Hadwan tidak seburuk itu. Arisha dibawa terbang ke awan. Ya, awan. Dan belum Hadwan hempaskan kembali ke darat sampai sore ini. Siang tadi mereka sempat keliling mall sampai nonton bioskop dan tentunya pergi ke Gramedia. "Gila, lo? Senyum-senyum sendiri dari tadi." Oke, sifat lelaki itu kembali ke semula. Apa dia bilang, Hadwan tidak bisa menjadi lelaki romantis dengan waktu yang lebih lama. Keduanya sekarang mengarahkan sepeda ke komplek perumahan Arisha. Sementara yang lain sudah melaju di depan, dengan Gino dan Luiz yang sudah pulang duluan di belokan tadi. "IYA, GARA-GARA LO!" teriak Arisha menahan senyum, mengayuh sepeda lebih cepat membuat Hadwan bergerak menyusul. "LAH EMANG GUE ABIS NGAPAIN!?" Hadwan menarik sebuah senyum lebar seraya berteriak. Boleh kah dia langsung berharap, kalau sebenarnya ... ini adalah tanda kalau rasanya dibalas? Oke, mungkin pikiran Hadwan terlalu jauh. Meskipun sikap Arisha sekarang benar-benar baru pertama kali Hadwan lihat. Gadis itu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apa perlu, Hadwan kasih tes agar dia tahu perasaan Arisha sebenarnya? "Hey!" Sepeda keduanya kian melaju bersamaan, ternyata Hadwan mampu mengejarnya. Arisha menoleh. "APA!?" "Nggak, lo makin cantik kalo lagi salah tingkah." Arisha hanya memalingkan muka, mendelik. Padahal nyatanya, dia berusaha untuk tidak tersenyum di hadapan lelaki itu. "Gue potong tuh mulut kalau ngomong kayak tadi lagi!" "Gue cuma jujur doang. Salah?" Sebelum melaju kembali, Arisha mengangkat bahu tak acuh. "WOY. DITINGGALIN LAGI!" Hadwan tak mau kalah. Dia masih berusaha mengejar gadis itu, "KALAU SALAH TINGKAH, BIASA AJA KALI." "NAJIS, NGGAK JUGA." Di penghujung senja itu, keduanya memang tertawa bersama. Namun, juga silih menyembunyikan perasaan masing-masing bersamaan pula. ••• Hidupnya seolah tak dikasih jatah tanpa Hadwan. Mau di kelas, di sekretariat, di kantin, di tempat tongkrongan sekalipun, pasti ada saja sebuah kebetulan untuk mereka bertemu. Atau kadang kali dibuat rencana oleh sepupu biadabnya itu. Contohnya sekarang. Meskipun Arisha sedang free class dan sedang konser dadakan di depan kelasnya itu. Lebih tepatnya di lorong. Hadwan ada dong di kelasnya, tiba-tiba datang bersama Samsul dan Rendi. Katanya, kelas lelaki itu pun sedang kosong. Ya iya lah, lah wong guru sedang rapat semuanya. Ikhwan main cagon di dekat tiang, sementara Fikri main gitar dengan Babang. Yang nyanyi tentu semua anak kelas yang mendadak hijrah semuanya ke depan. Kalau kata Upi, anggap aja lagi kemping low budget. Lagu berdua bersamamu yang mendadak ngetrend di sekolahnya dari tadi pagi itu, langsung meracuni anak kelasnya juga sampai dinyanyikan dengan lantang. Yang untungnya, suara mereka masih enak. Namun, Hadwan yang paling terdengar suaranya. Entah telinganya yang pilih kasih. Begitu menyanyikan lirik lagunya yang pas, mungkin, dengan keadaan Hadwan. Lelaki itu melihatnya cukup lama. Ya meskipun memang sedang suka pada lelaki itu, risih aja gitu. Hal itu membuat Intan mendekatkan kepalanya dan membisikan sesuatu. "Ceritanya ... udah ada benih-benih asmara ini teh?" Arisha lekas mendorong kepala Intan menjauh. Dia masih bisa berusaha untuk menyembunyikannya. Tenang saja. "Apa, sih? Ngawur!" kata gadis dengan seragam rapi putih putih itu, tak suka. Oke, Arisha tenang. Jangan sampai wajahnya kelihatan malu-malu di depan mereka. "Gabut gak, sih, lama-lama?" Fikri berceletuk tiba-tiba saat acara nyanyi itu selesai. "Gue mah nggak, lo aja kali." Tentu Intan selalu berbeda pendapat dengan lelaki itu membuat Fikri mendengus mendengarnya. "TOD lagi viral di kelas sebelah. Kita kagak mau ngikut gitu?" Ulfah, gadis yang selalu tahu mengenai kelas lain dan membawa infonya pada mereka pun bertanya sampai hampir semuanya setuju dan sisanya kepaksa ikut. Arisha sudah punya strategi. Dia bakal pilih truth. Lagipula ini hanya permainan. Kalaupun nanti Arisha tidak jujur banget, ya tidak apa-apa mungkin. Lagipula, privasi tetaplah privasi. Yang paling giat ternyata Upi. Dia sampai mengambil tip ex di tasnya dan menaruhnya di tengah-tengah saat mereka sudah berpindah tempat ke halaman kelas, lesehan di rumput. "Kalau tutup yang putih ini nunjuk salah satu dari kita, berarti tandanya orang itu yang langsung pilih." Alat sekolah itu langsung berputar oleh Upi. Dan Arisha sangat berharap kalau tutup putih tersebut tidak mengarah padanya. Tolong, jangan. Aih, gadis itu harus menghela napas melihatnya. "Truth, cuma satu. Gue lagi sibuk, males ngomong," tekannya langsung supaya tidak semua anak yang tanya. Kan menyebalkan kalau seperti itu jadinya. "Bukan sibuk, lo so sibuk!" Upi pasti akan menyangkal. "Gue pengen tanya, gue pengen tanya!" Ela mengangkat tangan paling semangat seolah akan mendapat nilai lebih atas pertanyaannya itu. "Lo kenapa pindah ke sini? Jelas-jelas kalau di Jakarta, fasilitas sekolahnya pasti lebih bagus dan mendukung." Tubuh Arisha kian membeku, masuk ke dalam ruangan dingin yang membuatnya tidak bisa bergerak karena hanya bisa memeluk diri sendiri. Jika bergerak selangkah, akan semakin dingin. Dia melirik pada Hadwan yang menatapnya seolah berkata: bohong aja. Arisha tidak akan suka mengumbar keluarganya yang sudah retak pada orang yang belum terlalu dekat, meskipun teman kelas sekalipun. Karena kepala mereka berbeda, isinya pun beragam, tentu tak akan sama jalan pikirannya. Kalau dia jawab ingin menemani ibunya, pasti tanya memang ayahnya ke mana? "Ar?" Novi menyadarkan dengan menepuk bahu Arisha sekali. "Dia udah jodohnya si Hadwan aja. Jadi, harus ketemu. Bukannya jodoh bakal ketemu gimanapun caranya?" Intaaan! Kenapa harus itu juga alasannya!? "Alah, bacot lo. Emang Arisha tahu kalau Hadwan itu jodohnya? Dunia fiksi kali ah!" Samsul mendelik setelahnya, lalu mendengus. "Pengen kumpul sama keluarga." Arisha terkekeh kecil, "GUE KANGEN SAMA BABANG!" Babang langsung batuk mendengar jawaban itu. "Peres anjir." Tentu Arisha hanya tertawa mendengarnya. Setidaknya, dia masih bisa kasih alasan yang pastinya masuk akal. "Udah lah, skip." Hadwan memutar tip ex itu tanpa persetujuan yang lain. Sudah menyusup, tidak tahu diri lagi. Dan ... tunggu. Kenapa sekarang malah gilirannya!? "Barangkali Arisha yang punya dendam pribadi, mau kasih dare?" tawar Fikri sungguh mengerti dirinya sekali. Terima kasih, Fikri. Harus kah dia mengirim parsel lebaran ke lelaki itu sebagai tandanya? "Si b*****t, gue belum pilih, Malih!" teriak Hadwan tidak terima. Mentang-mentang dia beda jurusan. "Loh, nggak. Lo tadi milih dare." Babang bohong. Kapan dia ngomong!? "Mangap aja, tadi gue belum." Hadwan kembali menyangkal. "Ya udaaaah. Apaan?" Huh, Upi sangat pengertian padanya, tetapi lelaki itu langsung menjadi musuh Arisha! Upi tidak mendukungnya. "Ya truth lah." Strategi Arisha sepertinya sama dengan Hadwan. "Arisha? Mau bertanya, Nona?" Mendengar Ayang yang bertanya itu membuat Arisha tersenyum miring dengan Hadwan yang menelan Saliva. "Muka lo nggak enak, sumpah." "Nggak, deh, kalian aja." Untunglah Arisha masih bisa mengalah. Sekarang malah Intan yang rusuh. Oke, tidak ada pilihan orang yang benar. Intan dan Arisha sebelas dua belas masalahnya. Huh, kerja sama nih pasti. "Lo lagi suka sama cewek? Lebih ke yang lain gitu, lho." "b******k," gumam Hadwan mengacak rambutnya frustasi. Semakin yang lain mendesak, semakin jantung Hadwan maupun Arisha berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Dia melihat Arisha sekilas yang sempat melihat ke arahnya juga. "Ya ada." Shaaa, sumpah malu-maluin. Amankan jantung! pekik Arisha dalam hati. "Siapa?" Mata Hadwan memicing mendengar pertanyaan yang terlampau kompak. Yang benar saja, masa semua anak yang ikutan bertanya bersamaan. Memang sepenting itu? Mending kalau dia jujur langsung diterima dengan baik. Lah ini kalau menjauh? Membahayakan! "Pertanyaannya cuma satu, kan? Berati jadi dua dong!" "Pengecualian yang tadi, karena nggak lengkap!" Ayang berteriak paling tidak terima. Dia penasaran. Meskipun sebenarnya dia hanya menunggu nama Arisha keluar dari mulut lelaki itu. "Inisialnya aja gimana?" Kalau dia memberikan inisial, mungkin Arisha tidak akan terlampau peka banget. "Nama depannya apa?" Intan lagi-lagi mendesak, sampai memajukan duduknya. "Abjad pertama." Hah? Eh, tidaaaak. Anida pun bisa jadi. Ayang juga bisa jadi. Dia tidak boleh merasa percaya diri. "Belakangnya dong, belakangnya." Sekarang giliran Novi yang mendesak. Hadwan melirik Arisha sejenak. Sebelum akhirnya salah mengeja, "I." "I? i?" Ayang hanya ingin memastikan. Begonya, Hadwan mengangguk. Tuh, kan, bukan dirinya. A belakang I, siapa? Arshi!? Mengingat kalau nama itu pernah, ralat sering, disebut oleh orang tua Hadwan saat dia ke sana. Entah Arshi yang mana, dia akan tetap patah hati mendengarnya. • Awalnya, mereka senang karena bisa pulang sekolah lebih cepat. Ya, sekolah dibubarkan. Namun, sungguh disayangkan bagi sebagian orang. Hujan mengguyur deras. Angin kencang menerpa sampai beberapa pohon tumbang. Kilat mengerlap takut. Dan biasanya akan ada kabar kalau jalan menuju rumahnya longsor. Hm, biasalah. Arisha yang baru sampai sekretariat langsung berbalik lagi dan menepi ke kantin, walau sebagian badannya sudah kebasahan. Dia duduk di meja paling tengah, mengusap wajah. Untungnya dia belum mengirim pesan pada Pak Endang untuk menjemput. "Gantian, jangan ditolak." "H-hah?" Arisha mendongak, mendapati Hadwan yang tiba-tiba duduk di depannya sembari menyerahkan gelas. Warnanya aja cokelat. Sudah pasti itu minuman kesukaan Arisha. "Sorry, sengaja gue beliin yang anget biar nggak kedinginan." Arisha mengangkat alis, mengambil gelas tersebut. Namun, ucapan Hadwan selanjutnya malah membuat minuman itu keluar lagi ke meja. Jorooook! "Abisnya belum bisa meluk, sih." "Ngomong apa, sih, lo? Gaje." Arisha mengambil tisu, melapnya kencang seolah meja itu adalah muka Hadwan. Tadi ngomongnya lagi suka cewek lain, sekarang mau bawa dia lagi ke atas gitu? Huh, tidak bisa, Ferguso. Mungkin. "Bilang aja baper." Mata Arisha tidak sama lagi. Gadis itu memang tidak suka dengan pernyataan barusan. Kali ini, Hadwan mulai paham. Dia menjadi diam dan membiarkan Arisha sibuk dengan pacar lamanya, minuman cokelat. "Lo pernah nggak, sih, ngerasa takut kalau suatu saat nanti ... orang yang lo suka ternyata tahu mengenai masalah fatal di masa lalu lo, Arisan?" Arisha menggeleng. Dia tidak pernah berpikir sampai ke sana. Dan sepertinya, dia belum punya masalah yang memang fatal banget. Iya, sepertinya belum pernah. "Dan lo tahu nggak?" "Ya nggak lah, b**o!" Hadwan mendengus karenanya. "Gue lagi takutin itu. Kalau ada di posisi yang sama, lo bakal gimana?" "Gue tanya dulu, deh, sebelum itu." Arisha tersenyum miring, "Emangnya orang yang lo suka bakal suka balik, sampe lo ketakutan kayak gini?" "Ya ... nggak tahu." "Ya udah jangan pikirin yang nggak pasti. Nambah beban aja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN