Gino turun langsung di depan rumah. Jika dilihat dari luar, sudah bisa langsung ditebak kalau lelaki itu ... Sultan. Rumah di sebelahnya pun kebanyakan sama besarnya. Dan di sebelah rumah Gino itu, katanya rumah Luiz. Kalau mau main ke sini, Arisha tinggal masuk gerbang saja, tidak perlu takut kalau itu benar rumah Luiz atau bukan. Setelah mendengar ucapan hati-hati dan terima kasih dari Gino, mobil melaju seiring Arisha yang menutup kaca jendela.
"Temen barunya, Neng?"
Mendengar itu, Arisha menarik senyum simpul. "Iya, Pak."
Pak Endang hanya mengangguk beberapa kali. Arisha menyandarkan tubuh ke kursi, menelisik jalan raya yang lumayan ramai. Iya, ramai, tapi dia berasa dalam ruangan yang sepi, sempit. Mungkin kah ini yang dinamakan sendirian dalam keramaian?
"Pak, berhenti di mini market, ya."
"Siap, Neng."
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan plang mini market yang Arisha request. Sebelum turun, gadis itu memesan agar Pak Endang lebih dulu pulang. Dia sedang ingin berjalan kaki ke rumah, tentu sendirian untuk menenangkan pikiran. Ditambah cuaca yang mendung dan jalanan komplek yang tidak begitu ramai, tidak sama seperti di jalan raya tadi. Hanya ada beberapa orang yang hilir mudik di sini.
Arisha membuka pintu, tapi suara Pak Endang yang mengalun di telinganya membuat dia menoleh.
"Neng, kalau ada masalah jangan dipendam sendirian lagi."
Arisha hanya tersenyum, mengangguk. Lalu membuka pintu itu perlahan dan menutupnya lumayan keras. Sampai di dalam mini market, tentu tujuan pertama dia adalah yogurt dan cokelat.
Melihat es krim di pojok kanan, membuat ingatan Arisha melaju pada saat membelikan Hadwan es krim cokelat. Hey, kenapa dia harus mengingatnya!?
Kakinya seolah menentang pikiran kalau dia tidak boleh membelinya karena takut mengingat Hadwan lagi, tapi tangannya ikut berkhianat pula. Arisha mengambil es krim dengan wadah lumayan besar. Di papan harganya kelihatan kalau isi es krim itu ada tambahan cokelat keras lumayan banyak.
"Katanya es krim itu bisa bikin tenang." Tangannya membeku seketika di dalam wadah es krim itu. "Lo lagi nggak tenang?"
Arisha memilih berdeham, menutup wadah itu. Namun, ada sebuah gerakan tangan yang menahannya. Dia bisa melihat kalau Hadwan mengambil es krim yang sama sepertinya.
Tidak memedulikan itu, dia berjalan ke kasir.
"Sekalian, Mbak." Hadwan menyimpan uang seratus ribu dan es krim tadi. Kasir itu mengangguk.
"Ngapain, sih? Gue bisa sendiri."
"Jangan tolak rezeki."
"Tapi gue—"
Duar!
Petir yang menyambar tiba-tiba itu membuat Arisha terperanjat, membuat omongannya terhenti langsung. Dadanya seakan berdebar tak tentu arah.
"Kurang lima puluh ribu, Mas."
"H-hah?"
Memangnya harga es krim jadi naik berapa, sih!?
Hadwan gelagapan, mengambil uangnya kembali di saku celana. Abis dah uang bensin, ucapnya dalam hati. Arisha mengambil kantung plastik miliknya, memilih lekas keluar mini market. Dan dugaan Arisha benar. Hujan turun sangat deras. Tadinya dia ingin menerobos hujan itu, tapi Hadwan segera menarik tangan Arisha yang sudah terkena air hujan sebagian itu.
"Apa lagi!?" gertak Arisha tak suka. "Mau minta ganti? Belanja gue kemahalan?"
"Nggak, sinis banget." Arisha bergerak ungint menerobos hujan kembali, tapi Hadwan lagi-lagi menariknya membuat decakan sebal itu langsung keluar. Arisha menghadap Hadwan sepenuhnya tak suka. "Hujannya gede banget, nanti lo demam."
"Peduli apa lo? Terserah gue mau gimana aja."
Mata Hadwan memicing, berkacak pinggang menghadap Arisha, "Oke, fine, kalau lo lagi ada something di diri lo, Ar. Tapi jangan kayak gini."
"Kayak gini apa? Gue cuma pengen hujan-hujanan, sendiri. Gue cuma pengen nenangin diri doang!" Tangan Arisha mengepal, "Salah, Wan?"
"Lo abisin dulu es krimnya. Terserah kalau nanti mau tetap nerobos hujan."
Arisha berdecak, berjalan ke kursi kuning depan mini market membuat Hadwan tersenyum kecil. Lelaki itu menyusulnya, duduk di depan Arisha yang terpaksa membuka es krim itu. Sebenarnya, bukannya dia menurut pada Hadwan, tapi ... supaya Hadwan diam. Em, ralat, ditambah dia yang mendadak kelaparan.
"Lo marah sama gue karena apa?"
"Gue nggak marah."
Huh, sangat terlihat kalau sedang berbohong.
"Berarti boleh kalau gue nemenin lo hujan-hujanan?"
Arisha menoleh tak suka. Hujan-hujanan bersama Hadwan hanya akan membuat dia semakin tidak tenang.
"Gue lagi pengen jalan kaki."
"Gue ikut jalan kaki."
Gadis itu lebih memilih tidak berbicara apapun. Dia hanya melempar kotak es krim ke tong sampah, berjalan terburu-buru di paving. Tentu Hadwan mengikutinya, meninggalkan motornya di mini market tadi. Kalau saja Arisha tahu tentan hal ini, gadis itu pasti akan mengatai Hadwan bodoh karena memilih jalan kaki bersamanya. Lelaki itu mengizinkan air lebih deras mengenai pakaian yang tadinya sudah sedikit basah.
Tadi Hadwan memang sempat kehujanan sedikit membuat dia mampir ke mini market lebih dulu, tidak tahu kalau Arisha pun sedang di sana.
"Tenangin diri, emang perlu kayak gini?" tanya Hadwan selepas berpindah ke samping Arisha.
"Tergantung orangnya masing-masing."
Perubahan yang lumayan besar: Arisha mau menjawabnya lagi.
"Kenapa lo harus pas lagi hujan?"
"Lo pernah nonton Upin dan Ipin?" Mungkin akan terdengar random di telinga Hadwan saat Arisha bertanya seperti itu. "Opah pernah bilang: hujan itu Rahmat. Makanya gue milih situasi ini. Gue suka hujan."
"Gue nggak suka hujan." Hadwan menyahut setelahnya, berbanding terbalik dengan Arisha.
"Terus ngapain ikutin gue!?"
Galak lagi! Hadwan tuh beneran bingung, lho, jadinya.
"Pengen tahu, lo marah kenapa. Udah dua hari ini gue sadar kalau sikap lo beda banget."
Beda, ya? Ya emang. Ya tapi ... masa dia harus bilang menjauh karena takut Hadwan nyadar kalau dia menyukai lelaki itu!? Kalau dilihat dari tadi pagi, sepertinya Hadwan pun tidak sadar, kok, tentang perasaan s****n itu. Jadi, dia masih aman, kan?
"Lo menjauh, gue bingung harus cerita sama siapa. Karena cuma lo yang tahu detail. Mau ceritain sama Babang, tahu sendiri anak itu kayak gimana."
Oh, karena itu! Padahal dia kira ... mungkin tidak perlu dibicarakan.
"Gue lagi pengen berbaur aja sama yang lain. Skill gue mungkin masih dini, jadi ... kesannya nyuekin salah satu gitu."
Masuk akal tidak, sih? Duh, dia takut kalau misalnya Hadwan ternyata tidak percaya dengan alasan itu. Ya dia bingung mau ambil alasan yang mana.
"Lo nggak pinter bohong, sih, sebenarnya." Tuh, kan. Ucapan Hadwan yang awal saja sudah tidak meyakinkan. "Tapi oke lah, cukup masuk. Meskipun ... masih kelihatan bohongnya."
"Jangan ngomong juga dong kelihatan bohongnya."
Hadwan tertawa kecil. Jika bisa memilih, dia ingin tetap seperti ini. Mungkin memang menyalahi aturan di keluarganya, tapi ... Arisha lebih tenang. Entah adanya Hadwan atau memang karena hujan.
"Lo ... mau mampir dulu, barangkali?"
"Nggak, gue masih harus kumpulan di GOR."
Arisha mengangguk kaku. "Ya udah, gue ... masuk dulu."
"Iya, see you."
Arisha berbalik, melangkah lambat masuk pekarangan rumah. Tertinggal Hadwan yang melihat punggung kecil itu dengan senyum yang perlahan pudar.
"Maafin gue, Ar."
•
"Arisha buruaaaan!"
Schedule main sepeda sore hari itu harus tergantikan jadi pagi hari. Luiz dan Gino sudah nangkring di depan rumahnya dengan membawa masing-masing sepeda. Ah, iya, kelupaan. Tentu di sana juga ada Babang. Tadi, lelaki itu yang teriak sampai membuat Arisha dan Intan buru-buru ke gudang.
"Gue naik sepeda sama Babang aja," kata Intan saat sampai gudang dan melihat dua sepeda gunung yang berjejer rapi dan terlihat masih terawat. Dia juga tidak tahu siapa yang rawat, yang pasti bukan dia. Mungkin salah satu ART-nya.
Arisha menggaruk kepala, melihat sepeda Arshi yang ... memang tidak akan terpakai oleh gadis malang itu.
"Lo pake punya kakak gue aja."
"Nggak enak, lah. Gue izinnya gimana?" Intan menggigit bibir bawah, "Kalau dia teh datangin gue karena pakai barangnya gimana atuh?"
Arisha tertawa mendengar itu. "Nggak akan, Otan. Pake aja, nggak papa. Kakak gue pasti paham kalaupun tahu sepedanya dipinjem. Dia orang baik, kok. Dia nggak pelit orangnya. Kak Arshi malah suka kalau barangnya dipinjemin. Heran emang."
Di akhir kalimat, gadis itu tersenyum miris. Tanpa terasa kalau hidung dan matanya kian memanas kembali.
"Serius, nih?"
"Iyaaa."
"Ya udah, makasih atuh, yaaa."
Arisha hanya mengangguk, menaiki sepedanya disusul oleh gadis itu. Sampai di depan hadapan mereka, tentu yang akan protes lebih duluan adalah Babang. Kalau saja lelaki itu yang telat, pasti langsung melakukan pembelaan tanpa mau diprotes.
"Udaranya masih enak. Yuk!" Luiz mengayuh sepeda lebih dulu. Di sampingnya ada Gino yang tentu tidak akan ketinggalan dengan sifat jahil yang sudah mendarah daging. Sepeda lelaki itu sengaja ditabrakan ke sepeda Luiz, membuat Luiz teriak tak suka.
"Kita ke mana emang, eh?" Babang berteriak menghancurkan rencana Gino yang akan melakukan aksi jahilnya lagi.
"Alun-alun Sumedang!" Luiz yang paling semangat menjawab, membuat Babang mengetikan sesuatu di layar sana. Arisha hanya meliriknya sekilas, menyalip sepeda lelaki itu. Lalu, keempatnya itu berhenti tiba-tiba. Gino, mengajak balapan. Tentu Arisha akan menerimanya dengan suka hati.
Bukan hanya dia yang setuju, melainkan semuanya. Sampai Babang yang berhitung, tapi di hitungan ke dua, lelaki itu sudah melaju dengan gelak tawa.
"Heh, curang!" teriak Luiz sambil ikut mengayuh sepedanya lagi. Seiring dengan Arisha yang menyalip dengan mudah. Dulu, dia memang sering main sepeda tiap pulang ke sini. Di Jakarta pun sering sebenarnya, sih. Namun, hanya sendirian.
"BABANG, ADA BUBUR!" Sekarang Gino yang berteriak membuat lelaki itu langsung berhenti dan menoleh ke segala arah. Kalau urusan makan, Babang pasti akan langsung nomor satu. Begitu bisa menyalip Babang yang kebingungan, Gino tertawa puas sambil bilang, "TAPI BOONG. HAHA."
Babang mengumpat, melihat ke depan dan sudah melihat teman-temannya yang semakin menjauh dengan gelak tawa yang keras.
"ANJIR LU, GIN!"
Arisha yang paling tergelak di sini. Sampai di alun-alun, ternyata mereka sampai bersamaan. Hanya Babang yang ketinggalan di belakang. Awalnya sudah curang, sih!
"Heuh, nggak solidaritas. Masa temennya ditinggalin," gerutu Babang mendorong sepedanya pada mereka.
Luiz sampai terbatuk-batuk karena merasa kalau dia begitu puas akan jahilnya Gino kali ini. Begitupun dengan Intan. Bahkan, Arisha sampai langsung lesehan di tepi rumput. Ternyata lumayan capek.
"Gue beliin es cendol mau nggak?"
Babang langsung nengok. Ya jelas lah kalau dia ... sangat mau.
"MAU. LO HARUS BAYARIN, KARENA SEPUPU LO UDAH BIADAB SAMA GUE!" Urat leher Babang sampai keluar saat teriak seperti tadi.
Luiz mendengus. Jadi dia lagi yang kena. "Ya udah, iya."
Babang langsung paling semangat, memakai sepedanya ke arah tukang cendol yang memang sudah menarik perhatian sedari tadi. Saat yang lain memesan, Arisha hanya duduk di sepeda sambil melipat tangan di setang dan menempelkan dagu di sana. Tatapannya lurus pada bahu jalan dan pedagang yang lain. Sudah berapa lama dia tidak ke sini? Suasananya jadi lebih enak.
"Lo mau nggak?" Intan bertanya membuat dia mengangguk sekilas.
"Ngelamunin gue, yaaa?"
"Eh?"
Arisha terperanjat, langsung spontan menegakkan badan saat mendengar suara itu. Begitu mendongak, di hadapannya sudah ada Hadwan dengan ... tunggu, kenapa Hadwan juga ada di sini? Oke-oke, ini tempat umum. Tapi sepeda? Arisha merasa ada yang tidak beres.
"Gue yang ajak dia."
Babang ingin sekali dia tendang!