Masih Mendiamkan

1598 Kata
Ketenangan seolah tak berhenti. Saat istirahat latihan, Anida tiba-tiba menghampiri mereka yang sedang duduk di bawah pohon sambil menunggu minuman yang dibelikan oleh Bisma. Tanpa bersalah apapun, gadis itu duduk di samping Hadwan sangat dekat. Apalagi lelaki itu terlihat biasa dengan kehadiran Anida. Bahkan, mengobrol dengan gadis itu seakan melupakan mereka bertiga. Perhatian dia pada kedua sejoli itu lama-lama teralihkan oleh ponsel yang bergetar di sampingnya, membuat Arisha mengangkat ponsel itu, melihat siapa gerangan yang menghubungi. Kalau operator, awas saja. Ternyata Gino. Lelaki itu menawari dia makanan. Katanya lelaki itu tengah ada di alun-alun dan rencananya, Gino mau mentraktir dia. Entah karena alasan apa. Ya mungkin pengen aja. Gino memberikan opsi, antara ingin dibawakan atau dimakan langsung di sana bersama Luiz dan Bisma. Dan tentu, Arisha akan memilih menghampiri mereka. Dia gerah kalau kelamaan di sini. Matahari mendadak di atas kepalanya. "Ar, rek ka mana?" Intan bertanya begitu dia berdiri. "Depan," jawabnya irit seraya meloncat dari tembok itu. Lalu, melenggang pergi keluar lapangan tanpa bicara lebih jelas. Intan sadar, akhir-akhir ini gadis itu menghindari perbincangan jika ada Hadwan. Dan akan lebih memilih bersama Gino daripada dengan mereka bertiga. Ini lagi, si Anida. Apa Arisha ... cemburu? Kalaupun cemburu adanya Anida di sini, terus alasan kemarin selalu mengabaikan Hadwan kenapa? "Iya, adiknya pemburu iblis itu udah ketemu tahu," jelas Anida saat Hadwan bertanya mengenai kelanjutan anime yang sempat mereka tonton, tapi terpotong oleh beberapa kejadian. Lupakan mereka berdua. Mari kita lihat Arisha yang sudah duduk menyapa ketiganya yang sudah memesan makanan. Pantas saja, Bisma sangat lama. Lah wong anaknya makan dulu. "Pantesan lama, Kak. Udah haus nunggu, eh anaknya malah nyantai di sini." Arisha menggerutu saat melihat Bisma yang makan bakso dengan lahap. "Sayang, Ar. Gino lagi jadi baik, mau traktir gue. Makanya nggak mau gue lewatin." Arisha hanya mendengus mendengar penjelasan Bisma barusan. Disusul oleh Luiz yang bercerita bahwa Gino itu sebenarnya pelit. Jadi, kalau Gino mau mentraktir mereka itu jangan disia-siakan. Katanya anugerah yang datang tiba-tiba. Entah karena apa Gino berubah, karena dari dulu pun, sebahagia apa saja lelaki itu, Gino akan tetap menjadi manusia paling pelit dalam hidup Luiz. Boro-boro membayarkan makanan. Bayar parkir hanya dua ribu saja harus diganti. "Gue lagi khilaf aja, makanya traktir kalian," kata Gino jutek membuat meja kotak itu terisi sumpah serapah untuk lelaki itu. Selang beberapa menit, makanan Arisha datang. Tentu seblak yang merahnya membuat Gino merinding. "Gue duluan, ya, kasihan anak-anak. Minuman kalian gue taro di sini," pamit Bisma sembari menyimpan botol air mineral di atas meja, kemudian beranjak dari sana selepas Luiz menimpali. "Kapan-kapan olahraga bareng mau nggak?" Luiz bertanya pada Arisha, membuat gadis itu mendongak seraya berpikir sejenak. Takut kalau Luiz mengajak dia olahraga voli. Oh no, dia tidak akan mau meskipun sekarang sudah lumayan bisa. Dia cuma bisa passing doang! "Tergantung jenis olahraganya aja, sih. Asal jangan bola besar, gue nggak suka." "Sepeda aja gimana? Lo masih punya, kan, Gin?" Luiz beralih pada Gino yang dari tadi melihat Arisha makan. Lelaki itu langsung menoleh kaget. "Ada." "Asal dijemput ... ya ayo." Arisha terkekeh di akhir kalimat. "Tapi gue ajak Intan sama Babang boleh?" "Boleh doooong. Kenapa nggak?" Luiz malah akan lebih senang. "Rumah lo di mana dulu? Eh malah kejauhan kan gempor kaki gue." "Baginda, nomor 2." Gino langsung menoleh mendengarnya, ekspresi dia kentara sekali kelihatan kaget. Seiring dengan Luiz yang tersenyum cerah. "Gue sama Gino di Ranca. Tetanggaan lah, itu!" Luiz hanya tinggal menyebrang jalan kalau seperti itu ceritanya. • Mereka bertiga memasuki lapangan masih dengan obrolan yang sama—membicarakan rencana main sepeda besok sore. Tangan ketiganya sama-sama memegang bendera dan satu botol minuman. Di luar obrolan itu, sebenarnya mata Arisha sesekali melirik pada Hadwan yang masih setia mengobrol dengan Anida. Ralat, dengan Babang dan Intan juga. Kalau dia ke sana, mending nanti. Biarkan mereka tenggelam dalam obrolannya. Begitupun dengan Arisha sendiri. Lalu, ketiganya itu duduk di kursi beton depan tiang bendera. "Gue curiga si Gino berubah karena biar kelihatan baik banget di depan lo, Ar!" sahut Luiz tiba-tiba membuat Gino memiting leher gadis itu seiring dengan Luiz yang berteriak kesakitan. "Gila aja lo kalo ngomong." "Eh, Ar. Coba lo lihat aja sendiri. Si Gino lagi suka sama lo tahu." Lagi-lagi Luiz bicara. Tentu dia akan menganggap ucapan tadi hanyalah sebatas guyonan gadis itu untuk menganggu Gino. "Ya nggak papa, sih, kalau suka. Wajar aja, gue nggak jelek-jelek amat." Arisha mengangkat kedua alisnya. Hal itu membuat keduanya tergelak. Ternyata Arisha narsis juga. "Tapi lo udah masuk nominasi beautiful." Gino berceletuk sambil terkekeh setelahnya. "Nggak kayak si Luiz. Dia ... rata-rata lah." "Heh, Gina!" teriak Luiz murka. "Awas siah sia ku aing mah, nggak bakal gue kasih jatah makan!" "Gino, anjir!" "Lo pantesnya dikasih nama Gina, bukan Gino. Melehoy!" Tangan Gino semakin erat di leher gadis itu sampai membuat Luiz makin memberontak. Kakinya bergerak tak tentu, dengan tubuh yang berusaha keluar dari lelaki itu. "Ar, ganteng kan gue!? Mana ada gue mirip cewek." Arisha hanya tertawa mendengarnya. "Mau juga lo digulung?" "IYAAA GANTENG." Arisha berteriak terpaksa. "Lo maksa bener sumpah!" Gino lagi-lagi hanya bisa tertawa. "Nggak papa maksa, asal dapet qualified ganteng dari lo." "s****n!" Luiz kembali berteriak. Kegaduhan mereka bertiga tak ayal membuat beberapa orang di sana menoleh, tetapi hanya sekilas, karena merasa biasa dengan keributan antara Gino dan Luiz. Justru perhatian mereka sempat tertuju pada Arisha yang sangat tumben, berbaur dengan kedua manusia itu tanpa seorang Intan, Babang, dan Hadwan. Alunan Bisma yang lekas menyuruh mereka untuk kembali latihan membuat sebuah barisan rapi terbuat di setiap ujung lapangan dengan menyerong. Di tiap sisinya ada dua barisan dengan masing-masing 4 orang. Arisha menyimpan bendera di tengah-tengah belt, antara belt dan rok. Lalu, mereka duduk bersila selepas ada instruksi dari ketua untuk melakukan yel-yel. Sampai alunan lagu kemenangan dari Via Vallen mengalun, semuanya kompak berdiri, menggerakkan tangan ke kanan dan kiri seiring jalan di tempat. Barisan yang terlalu dekat itu membuat tongkat Hadwan yang tidak tersimpan dengan baik di celananya, beradu dengan tongkat Arisha. Namun, gadis itu hanya mendengus kesal. Sampai gerakan melingkar, kalau saja dilihat dari atas, akan mirip seperti obat nyamuk, keduanya hampir terjungkal ke samping karena sempat bertubrukan sekilas. Huh, Arisha sangat ingin meneriaki lelaki itu. Ternyata mendiamkan Hadwan beberapa hari ini membuat mulutnya gatal untuk mengomel. Butuh waktu hampir setengah jam latihan dengan serius. Arisha menepi ke pinggir lapangan, lesehan di sana sambil mengatur napas. Lama-lama, ini bisa disebut olahraga. Capeknya minta ampun. Ditambah lapangan utama ini lumayan luas dan ada gerakan melingkarinya. Fix, bisa dipakai cara diet. "Lo abis dari alun-alun kagak bawain gue apa-apa gitu, Ar?" tanya Babang sembari duduk menselonjorkan kaki di depannya. "Lupa. Lo aja nggak nitip ini." Arisha menjawab dengan napas yang belum teratur. "Nggak pengertian itu teh!" Baru juga datang, Intan langsung kompor. Gadis itu menepuk pundaknya sekali sembari duduk di sampingnya, "Lo lagi kenapa atuh sama si Hadwan?" Arisha hanya mengangkat bahu tak acuh membalasnya. Lagipula dia mau jawab apa!? Gengsi dong kalau bilang. Dan sebaiknya, memang seperti ini saja dari dulu. Mereka tak usah menjadi partner di organisasi, Arisha tidak usah masuk English Club, dan tidak perlu marah pada Hadwan saat adegan pertama kali mereka bertemu. Kalau pun bisa, dia ingin mengubah plot kehidupan dari awal sampai tidak akan muncul perasaan asing ini, untuk pertama kalinya. "Lo tahu nggak?" Babang bertanya, pada apa yang tak perlu dijawab. Tentu dia tidak tahu! "Hadwan galau gara-gara lo. Dia cerita sama gue pas malem. Lihatin kamar lo mulu, padahal sebenarnya salah sasaran. Gue bilang aja kalau kamar Arisha udah pindah. Ya dia lihatin kamar nyokap lo yang pastinya masih kosong lah." "Mau nunggu sampe besok juga, lo nggak bakal muncul di sana." Bukan Babang namanya kalau tidak jahil kepada teman sebaya. "Lo jujur aja lagi kenapa. Kasihan anak orang lo jauhin terus." "Emang kenapa kalau gue menjauh? Bukannya bagus, ya, buat dia?" Babang menggeleng. "Nggak bagus buat orang yang lagi suka sama lo." Intan langsung melotot pada Babang, memberikan kode agar lelaki itu mencabut kembali ucapannya. "Maksudnya? Lo kalo ngomong yang jelas, kek, Bang." "Nggak, lupain." Arisha mendengus—sebenarnya, selain Hadwan, Babang adalah orang yang paling menyebalkan kedua di hidupnya—tanpa tahu kalau ada Hadwan yang memerhatikan dari ujung lapangan bersama Gino. Kedua lelaki itu sempat silih pandang, merasa bahwa objek yang mereka perhatikan ternyata sama. Sebelum akhirnya, Hadwan beranjak sambil mencabut bendera dari belakang celana dan berjalan ke arah sekretariat. • Arisha mengambil tas di sekre Pramuka. Di sana sudah sepi. Kalau sudah urusan pulang, mau siapapun pasti langsung giat. Setelah memasukan bendera dan tongkatnya langsung ke tas, sampai tongkat itu muncul sebagian di tengah-tengah tasnya, gadis itu melangkah ke gerbang. Berhubung Intan sudah pulang bersama Babang, dia jadi pulang sendirian. Oh, ralat, bersama Pak Endang. Beliau sudah sembuh katanya. "Lo pulang sama siapa?" Gino, lelaki itu muncul dari balik gerbang kecil samping sekre, menghadangnya. "Supir. Kenapa?" "Nggak, kali aja mau bareng sama ... gue?" "Nggak, nggak, nggak usah." Arisha menarik senyum simpul. "Kasihan Luiz." "Dih, asal lo tahu aja." Alis Arisha terangkat mendengarnya. "Dia ninggalin gue, pake motor. Katanya mau kumpul sama anak cewek doang." "Jadi, sebenarnya ... lo mau nebeng gitu?" Gino terkekeh membuat Arisha mengangguk paham beberapa kali. Gadis itu akhirnya mengizinkan Gino untuk pulang bersamanya, membuat kedua insan itu berjalan bersamaan keluar sekolah diselingi obrolan ringan. Mulai dari Gino yang cerita kalau Luiz itu makhluk paling menyebalkan sampai tentang Gino mengetahui Arisha pertama kali. Sebelum masuk mobil, begitu menoleh, dia sempat mendapati Hadwan yang berdiri kaku melihat mereka berdua dengan tatapan ... yang baru pertama kali Arisha lihat. "Ar?" "Ya?" Gadis itu lekas masuk di kursi belakang, sementara Gino di depan. Mobil melaju, seiring tangan Hadwan yang mengepal kuat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN