Besoknya, lelaki itu benar-benar meminjamkan bendera semaphore padanya. Beruntungnya lagi, kedua tongkat itu sudah terpasang dengan kuat. Jadi, Arisha tidak perlu takut kalau tiba-tiba tali benderanya akan putus. Yang Arisha sayangkan, bukan Hadwan langsung yang memberikannya. Melainkan Babang. Huh, memang dia mengharapkan apa!?
"Ar!"
"Hah?"
Intan berdecak. Sedari tadi, dia terus memanggil gadis itu. Namun, lagi-lagi Arisha tetap terdiam dengan pikirannya itu. Masalahnya, guru kesenian sudah menyuruh Arisha untuk maju ke depan. Iya, di saat tes not balok seperti ini, dia masih sempat-sempatnya memikirkan lelaki itu. Mereka semua sedang di luar. Jadi, yang masuk ke dalam hanyalah orang yang dites saja.
"Udah giliran lo puguh, ih. Sampe dipanggil dari tadi sama Bu Eci. Lo kenapa, sih?"
Menggeleng pelan, Arisha beranjak dan masuk ke kelas, menyapa Bu Eci yang memainkan ponsel. Mungkin, terlalu lama menunggu juga.
"Maaf, Bu, lama."
"Nervous, ya?" Huh, syukurlah Bu Eci mengerti. Mana dia kurang dalam bidang kesenian. Boro-boro baca not balok dengan bagus, paham pun udah alhamdulillah banget.
Arisha mengangguk, tersenyum tipis. Lalu, terdengar alunan Bu Eci yang menyuruhnya memulai tes. Tiap tulisan not di papan tulis itu mendadak membuat dia pusing!
"Ketukannya harus 4 per 4, Bu?"
"Nggak, bebas aja, terserah kamu."
Tes dimulai, sepatu Arisha mengetuk senada ke lantai dengan suaranya. Meskipun diakhiri nada yang fals, setidaknya dia bisa baca sampai akhir meskipun dari tadi napasnya tidak teratur. Berterima kasih pada beliau, gadis itu keluar dari kelas dan duduk di hadapan Intan sambil bersandar pada tembok.
"Lagi banyak masalah?"
Lagi-lagi, Arisha menggeleng. "Nggak ada, sih. Hidup gue tetap datar."
Intan hanya menanggapinya sekilas sebelum bergabung latihan dengan anak lain yang masih jauh untuk masuk ke dalam. Nama Intan itu sebenarnya dari S, Shania Intan. Jadi, giliran dia masih sungguh sangaaat lama, karena di dalam masih kebagian anak absen lima, Ayang.
"Di dalam ada Bu Eci?" Bentar. Arisha sampai mendongak lebih dulu untuk melihat wajah yang barusan bertanya itu. Sebenarnya lelaki itu bukan hanya bertanya padanya saja, melainkan tertuju pada setiap anak yang duduk di lingkaran Arisha. Namun, kenapa mereka seolah menyuruh dia untuk menjawab. Yang lain cuma diem atau masih melanjutkan latihan, ya intinya mengabaikan Hadwan. Mau tidak mau dia harus mengangguk. "Oke, makasih."
"I ... ya."
Seiring dengan Hadwan yang membuka pintu dan izin ingin bicara pada beliau, mata Arisha selalu tak lepas dari ekspresi wajah lelaki itu. Humble, sih, emang kalau sama orang lain.
"Ar, anter ke kamar mandi, yuuuk." Ayang—gadis yang baru keluar itu langsung menghampirinya.
"Arishaaaa! Anter ke kamar mandi!"
"Hah? Ayo." Arisha menoleh kaget, berdiri dengan tergesa sampai lupa kalau di atasnya ada jendela yang sedang terbuka. Memalukan, berakhirlah dengan kepala dia yang menubruk jendela itu sampai terdengar jedug lumayan keras.
Kontan anak yang melihat itu meringis.
"Ar, masih inget nggak gue siapa?" Fikri mengacungkan tangan, kemudian menunjuk diri sendiri. Dikira dia langsung amnesia apa!? Paling kepalanya doang yang benjol karena ... rasanya lumayan sakit. Dan yang paling sakit itu, harga diri. Sakitnya tidak seberapa dari rasa malu itu, sungguh.
"Makanya jangan liatin gue mulu." Hadwan dengan segala rasa percaya dirinya, sungguh membakar diri Arisha!
Arisha hanya melengos, mengikuti langkah Ayang lekas menariknya. Lalu, memunculkan kepalan tangan pada Hadwan setelah cukup menjauh. Lelaki itu hanya memeletkan lidah, kembali ke koridor menuju kelasnya.
•
"Lo sama dia kenapa, sih? Ribuuut mulu. Hal kecil aja, jadinya jadi gede."
Ayang membiarkan tangannya teraliri air dari wastafel. Sementara Arisha hanya melihat kaca di depannya dengan tampang bingung. Ya gimana ya, sulit gitu untuk dijelaskan pada orang lain. Hadwan itu ... pokoknya sering banget ngajak dia bertengkar. Gimana dia tidak terpancing!?
"Biasanya, ya, Ar. Mereka yang kayak gitu, salah satunya sebenarnya .... "
Ayang menoleh, sengaja menggantungkan ucapan dia selanjutnya.
"Sebenarnya apa? Awas, lo, kalo ngaco."
Gadis itu menggeleng pelan. "Ada yang pengen cari perhatian."
"Maksudnya? Gimana-gimana?"
Arisha memutar tubuh, menghadap Ayang sepenuhnya. Cari perhatian? Oh, tentu bukan dia dong.
"Yang sering mancing siapa?" tanya Ayang melipat tangan depan d**a.
"HADWAN!"
"Ya biasa aja dong, bilangnya." Arisha terkekeh, menggaruk kepalanya, lalu menyandarkan tubuh pada tembok di belakang. "Ini si Hadwan pasti bukan cuma iseng buat lo marah terus, dong, Ar. Dia pasti punya sebab, kenapa dia kayak gitu."
"Sebabnya?"
"Deketin lo." Mata Arisha memicing. Mendekati dia? Tolong dong, kenapa banyak temannya yang malah membuat dia berharap berlebihan. Padahal tadinya tidak. "Coba aja lo pikir. Masa iya tiba-tiba aja baru kenal udah kayak gitu."
"Gue paham omongan lo, mungkin sebenarnya kayaknya nih, ya. Setiap cowok nggak gitu deh. Bisa aja mereka cuma iseng atau sikapnya emang kayak gitu."
Ayang berdecak, "Lo observasi deh sama diri sendiri. Emangnya Hadwan sering gitu ke yang lain?"
"Kadang iya, kadang nggak."
"Dan seringnya ke lo!"
"Nggak, bisa aja ... dia emang gitu di belakang."
Lagi-lagi Ayang berdecak. Temannya satu ini kepala batu. Tapi kan bisa saja kan, memang pikiran Ayang yang berlebih-lebihan? Dia juga sering menganggu Hadwan karena gabut, kok.
"Hadwan emang kayak gitu, kok, orangnya." Keduanya kompak menoleh pada perempuan yang baru keluar dari bilik toilet. Itu, Anida. Tumben ini anak mau ngomong sama dia. "Jangan terlalu berharap berlebihan, sama gue juga gitu, kok."
"Tapi sama Arisha sering perhatian. Contohnya waktu itu, rela dihukum demi dia. Hadwan kasih pinjem celana olahraganya ke Arisha."
Tunggu, kenapa Ayang bisa tahu woy!? Mata Arisha sampai melotot mendengarnya. Padahal, Ayang bilang seperti itu karena memang punya masalah pribadi dengan Anida. Lalu, dia yang kebawa. Ayang ingin menjadikan dia umpan untuk membuat Anida jengkel. Huh, makin rumit nanti.
"Sama gue juga gitu."
"Padahal mah nggak. Haha." Ayang tertawa renyah, membuat Anida mengepalkan tangan. Arisha. Ayang pasti kena hasut Arisha, kan? Semuanya saja udah, jadi berada di pihak Arisha. Dia? Tinggal sendirian. Entah pikiran Anida memang benar kalau dia merasa sendiri, atau memang hanya perasaan dia doang. "Lo cuma pengen buat Arisha sama Hadwan jauhan doang."
Mereka tuh bukannya ... pernah temenan dekat gitu, lho. Namun, kenapa malah bongkar-bongkaran di depan dia kayak gini, sih?
"Yang, udah." Arisha menarik tangan Ayang untuk segera menyingkir.
"Atau perlu gue juga bilang kalau lo punya rencana supaya mereka ... jadi saling benci."
"Udah, hey!"
Ayang hanya melihatnya sejenak. "Orang Cepu kayak dia pantes diginiin."
"Terserah lo." Anida berlalu dengan kesal, membuat Arisha hanya bisa menghela napas.
"Dia .... " Ayang menunjuk pintu keluar yang tadi Anida pakai, "Dia yang lapor sama kepsek waktu ada anak ekskul lo yang dibawa ke rumah sakit."
"Sama gue," lirih Ayang menyayangkan.
"Hah?"
"Mending ngomong sekarang, kan? Daripada lo tahu dari dia. Gue capek diancam tentang itu terus, Ar."
Iya, Arisha memahami itu. Dia hanya mengangguk kecil beberapa kali. Kalau di pihak dia, ya dia bisa memaafkan. Entah dengan yang lain, terutama Hadwan karena lelaki itu yang paling terancam. Tapi, kenapa bisa Anida berlaku seperti itu, yang bahkan bisa saja menyelakai orang yang Anida suka. Termasuk, diri Anida sendiri pun pasti akan kena tegur. Huh, ternyata gadis itu tipikal orang yang berpikir pendek.
"Sorry, ya, Ar. Gue mau kok ngelakuin apa aja, asal lo mau maafin gue."
"Masalah lo bukan menyangkut gue doang, Ay. Tapi gue pasti maafin lo, kok. Lo nggak perlu ngelakuin apa-apa. Denger lo mengakui aja, udah cukup bagi gue."
"Lo beda banget sama Anida."
"Iya lah, jiwa gue sama dia aja beda. Muka kita beda—"
"Ar, maksudnya gue bukan gitu!"
"Iya, iyaaa. Udah yuk, balik. Nanti si Intan nyari lagi."
Ayang hanya bisa tersenyum, melihat pugung Arisha yang berjalan lebih jauh.
•
Sore ini, mengharuskan Arisha latihan di lapangan utama biar lebih luas. Dan tentu saja, dia harus bertemu lagi dengan Hadwan. Dia sebenarnya bukan lagi salah tingkah atau marah gitu lho dengan lelaki itu. Dirinya sendiri yang salah masalahnya. Dia ... gengsi kalau ketemu Hadwan. Padahal bisa saja, omongan di lab bahasa waktu itu, hanya Hadwan anggap sebagai candaan semata. Duh, apa dia yang terlalu negatif memikirkan itu, ya?
Sikap Hadwan pun biasa saja kok tadi.
"Dia punya utang berapa dah, Tan? Dari tadi ngelamun mulu." Hadwan yang duduk berhadapan dengan Intan sambil menekuk kaki itu bertanya. Babang—lelaki yang duduk di samping Intan sambil memainkan tongkat bendera itu pun mengangkat bahu acuh.
"Utang kompleknya kali." Babang tentu akan menceletuk asal. Lalu, melongokkan kepalanya guna melihat Arisha yang bersandar ke tembok, menekuk kaki seperti Hadwan sambil memegang Bendera sampai tergantung di depannya. "Beb!"
"Apaan?" tanya Arisha sembari menoleh.
"Lagi haus lo?"
"Nggak, gue lagi pengen horisontal body battery—saving more aja, sih."
Hadwan mendengus mendengarnya. Gaya-gaya ini anak. "Anjayani, bilang rebahan doang ribet amat."
"Ginoooo!"
Alis Hadwan menekuk. Lho, biasanya Arisha suka langsung ngegas kan? Ini malah, melihatnya pun tidak mau. Dia lagi salah apaan, sih? Dari kemarin, Arisha menghindar dari dia terus. Namun, harusnya Hadwan senang, kan? Kenapa dia malah ... agak ada yang kurang gitu. Apalagi saat Arisha gencar mengobrol dengan Gino dan Luiz.
Gadis itu bahkan langsung berdiri, menghampiri kedua manusia yang baru datang itu, terus duduk di samping Luiz.
"Tumben lo nyapa duluan," kata Gino terkekeh."Ada maunya ini pasti."
"Kunaon? Aya naon, Sister?" Itu Luiz yang bertanya sambil menepuk bahunya satu kali.
"Nggak ada apa-apa, beneran. Di sana mode nggak enak nyender. Di sini enak, mulus." Arisha terkekeh pelan, benar-benar bersandar ke tembok belakangnya. Namun, keenakan dia itu harus terenggut oleh sound yang sudah datang yang dibawa oleh Bisma. Huh, menyebalkan. Hal itu membuat mereka bergegas berbaris di lapangan. Dia tadinya mengambil baris di tengah, tapi si Bisma ini rewel. Jadi, lelaki itu memindahkan dia ke belakang. Katanya dia lumayan tinggi dari semua wanita yang lain. Jadilah dia di sana.
Saat Arisha berbalik, hendak bertukar dengan Intan, ternyata ... di sebelah Intan itu ternyata tempatnya Hadwan. Ya Allah, kenapa bisa kayak gini!?
"Halo, Arisan."
Arisha hanya diam, tak memberikan balasan apapun walau hanya dengan mimik wajah atau sekadar decakan sebal seperti biasa. Dih, Hadwan dikacangi.
Bisma berdiri di kursi beton atas lebih dulu, kemudian memberikan arahan gerakan mereka. Sampai akhirnya, mereka semua memilih duduk karena terlalu lama. Hampir setengah jam berlalu dengan gerakan yang masih belum fix, akhirnya percobaan dimulai. Katanya gerakan awal itu masih sama seperti tahun lalu. Ya dia mana tahu lah.
Latihan awalnya berjalan lancar. Arisha ikutan yel-yel meskipun terlihat masih menghapal. Itupun dia meniru yang lain. Mereka berjalan nyerong, lurus, persis seperti baris berbaris. Sampai di tempat semula, bendera digerakan ke depan dengan menyilang sekuat tenaga. Naasnya, ketenangan latihan langsung berakhir. Tongkat dia patah! Hal itu langsung membuat Arisha buyar.
Di tengah-tengah mereka yang masih latihan gerakan jalan di tempat dengan bendera seperti tadi, Hadwan ikutan berhenti melihat keadaan tongkat Arisha yang sungguh miris.
Hadwan tiba-tiba merebut satu tongkat itu yang patah, mengganti dengan milik Hadwan sendiri. Lagi, Hadwan seperti tidak pernah melakukan apa-apa barusan. Lelaki itu langsung bergerak bebas kembali.