Hadwan Lagi

1663 Kata
Tidak ada pergerakan lain selain diam. Hadwan terlalu niat dalam melamun. Entah apalagi peristiwa yang sudah terjadi, Hadwan terlihat sedang rapuh. Dia yang jelas-jelas duduk di depannya tak seperti Hadwan lihat. Lelaki itu seolah menganggap kalau ruangan ini kosong. Mungkin, hanya ada penghuni tetap lab bahasa—wanita yang suka duduk di pojok—yang tengah menemaninya. Saking sering menginap di sekolah, dia sampai hapal betul setiap penghuni di setiap ruangan. Kalau Arisha bertanya lagi saat ini, rasanya bukan waktu yang tepat. Ketahuilah, dia pun suka kesal kalau banyak orang yang tanya pada saat dia menangis. Mungkin itu salah satu alasan Arisha kenapa tidak mau memunculkan berlian bening itu di depan orang, termasuk papanya sendiri. Gadis itu hanya menyimpan paper bag di atas meja, samping laptop Hadwan. Kemudian bergegas berdiri karena masih ada kelas yang jelas-jelas kalau gurunya akan masuk dan termasuk salah satu guru killer di sini. Untung ganteng kalau kata Intan. "Arisan." Arisha kembali menoleh, menunduk melihat lelaki itu yang tak mau mendongak melihatnya. Namun, sepertinya Hadwan mulai sadar akan keberadaan Arisha. "Iya?" "Bisa duduk bentar?" Gadis itu hanya mengangguk sekilas, duduk kembali di tempat semula. Menit berlalu, tetapi Hadwan tetap diam dalam pikirannya sendiri. Hal itu membuat Arisha berdecak. Memangnya mau apa, sih, lelaki ini? "Lo ngerti nggak?" Arisha akhirnya kembali mendongak, "Gue masih ada kelaaaaas." "Gue nggak ngerti, gue lagi kenapa. Perselingkuhan ini ... udah biasa gue lihat, gue udah biasa mergokin beliau sama selingkuhan nya itu, tapi ... nggak tahu kenapa gue masih broken heart lihatnya." Selingkuh? Memang Hadwan punya pacar? Katanya tidak. Bagaimana, sih? Ah, iyaaa. Atau orang tuanya? Mengingat kalau Hadwan, tadi nyebutnya pakai beliau. Ck, lelaki itu kenapa harus cerita secara setengah-setengah dan membuatnya jadi banyak mikir!? "Lo ngomong sama orang yang salah." Mendengar itu, membuat Hadwan menoleh penasaran. "Gue lagi ngerasain itu juga, Wawan! Gue nggak tahu gue tuh kenapa sama dia. Dia tuh bikin kesel tiaaap hari, tapi akhir-akhir ini gue malah ... gue malah sering nyari dia. Gue makin nyaman dekat dia." Arisha cerita dadakan dengan wajah marah. Ya Hadwan takut lihatnya. Mimik wajah Arisha itu vibesnya orang mau ngajak bertarung di MMA. Gadis itu menggebrak meja sambil teriak,"JEBAKAN SYAITAN!" Napasnya memburu. Hadwan langsung mangap, memundurkan badan spontan melihatnya sambil mengelus d**a. Gila ini anak. Memangnya, Arisha suka seperti ini kalau curhat? Untung gadis itu tidak bawa golok atau benda tajam sejenisnya. "Sabar, Bu, sabar." Hadwan mengangkat kedua tangannya, menurunkannya beberapa kali seraya menyuruh Arisha untuk tarik napas dan membuangnya perlahan. Katanya supaya relax. "Lo kalo mau curhat ngedadak gini, bisa nggak, sih, jangan buat takut? Lagak lo kayak orang kesurupan!" Arisha hanya mendengus mendengarnya. Dia kesal lah sama setan, sama dirinya juga. Kenapa dia bisa kejebak seperti ini. Menyukai Hadwan benar-benar kesalahan, kan? Makanya dia bilang begitu. "Terserah, gue makin kesel sama lo." Gadis itu melempar tatapan membunuh. Duh, Hadwan mulai yakin, nih, kalau sebenarnya Arisha itu hanya mau memberitahu perihal perasaan sebenarnya. Orang yang Arisha maksud, pasti dirinya. Hm, jiwa over percaya diri Hadwan mulai kembali muncul rupanya. "Jangan-jangan lo sebetulnya lagi ngode gue, ini!" Hah? Apa katanya tadi mengirim kode? Huh, jelas tidak. Dia hanya ... tidak tahu. Yang jelas dalam pikirannya tadi, bahwa Hadwan pasti tidak akan merasa kalau orang yang Arisha bicarakan adalah lelaki itu. "Apaaa? Nggak. Kepedean." Arisha mendelik. "Dih, ngaku aja, Bestie." "NAJIS!" Gadis itu memilih berdiri, bergegas keluar ruangan dan memakai sepatu kembali. Huh, dia maluuuu. Kenapa Hadwan harus sadar, sih? Setelah ini dia harus pakai topeng atau kalau bisa, kabur dari hadapan lelaki itu. Ya, Arisha harus menghindar lebih dulu setelah ini sampai Hadwan lupa akan omongannya tadi. "Ngaku aja, looo." Hey, sejak kapan Hadwan ada di hadapannya!? "Lo ... euh!" Arisha menghentakkan kakinya ke lantai setelah memakai sepatunya, "Please, jangan jadi setan dulu. Gue mau ke kelas." Hadwan hanya mengangkat bahu sembari tersenyum mengejek. Iyuh, senyumnya sangat ingin membuat dia muntah darah! Sampai akhirnya, gadis itu berlari kecil membelah jalanan sembari menyumpahi dirinya sendiri. Sampai kelas, suasana hatinya semakin memanas melihat anak kelas yang gaduh. Ternyata guru yang kata Intan tampan itu belum datang. Syukurlah. "Intaaan." Arisha duduk di kursi. Menatap Intan yang sibuk main games Cooking Mama. Gadis itu hanya menoleh, mengangkat dagu sekali, sembari bertanya kenapa. Bukannya cerita, Arisha malah diam. Dia hanya bisa mengolah kata dalam hati, tidak bisa dikeluarkan dalam mulut. Perkataan itu seakan nyangkut di tenggorokan. "Apa, sih, nggak jelas da sumpah maneh mah!" "Tahu, ah, males." Intan lagi-lagi melengos, balik melihat layar HP. Sampai top up pesan muncul di atasnya, membuat dia menggulirkan layar ke aplikasi hijau itu, melihat grup ekskul Pramuka. Kak Ketuaaa: Lagi free nggak? Kumpulan bentar, yuk, abis pulang sekolah. • Dan berakhirlah dia yang duduk di lapangan untuk berkumpul. Katanya, kalau di lapangan utama, rasanya lebih sejuk. Lagipula ini hanya kumpulan santai. Ya dia nurut saja lah mau bagaimanapun. Gadis itu sengaja mengambil tempat di bawah pohon, sampai rela naik dua kursi beton supaya makin sejuk. Sementara Intan dan Babang, duduk di bawah tembok itu. "Sekalian aja naek pohon. Tanggu, Ar!" Gino berteriak sambil menghampirinya. "NANTI NGGAK KEDENGERAN." Padahal Gino sudah mulai duduk di sampingnya, meskipun dengan jarak yang lumayan jauh, tapi tetap saja gadis itu memilih opsi berteriak menjawabnya. "a***y, telinga gue langsung kena mental!" Babang ikutan teriak, melayangkan protes. Arisha hanya tergelak mendengarnya, lalu fokus melihat langkah anak lain yang kian berdatangan. Namun, yang paling mengusik matanya semakin tajam itu kedatangan Hadwan dengan Anida yang barengan. Dia panas? Haha, tentu tidak. Bodo amat! "Lo kapan, sih, pindah ke sini? Perasaan udah lama banget. Ya, nggak, sih?" Dia menoleh pada Gino yang bertanya barusan. "Nggak inget bulan kapan dan tanggal berapa, tapi pokoknya pas awal semester banget. Empat atau tiga bulan deh kayaknya." Gino mengangguk kecil. Lalu, terkekeh menggemaskan. "Masih bentar ternyata, berarti lo lumayan famous sampe gue ngerasa kenal lama banget." Hal itu membuat Arisha terkekeh. Famous apaan? Dia memang terkenal di sini? "Aksen lo gemes, gue suka gayanya." "Beda banget sama Luiz, kan?" Arisha mengangguk mendengarnya. Luiz itu meskipun pernah tinggal di Amerika dan Jepang lumayan lama, bahkan dari zigot—kata Luiz sendiri—tapi gaya bicaranya membuat orang tidak akan menyangka kalau Luiz itu anak pindahan dari negara keduanya. Sunda dia lumayan kental soalnya. "Dia udah dibiasain ngomong Sunda or Indo dari kecil tiap di rumah." "Oh, pantes." "Seru banget ngobrolnya." Keduanya menoleh pada Hadwan yang menghampiri keduanya, tapi tidak ikut naik. Lelaki itu hanya berdiri di depan Gino, melipat tangan ke tembok. Ya ... temboknya memang pendek, sih, hanya sebatas d**a Hadwan. "Iya lah, nggak kayak lagi sama lo, Wan!" jawab Gino tergelak. "s****n lo." Hadwan mendesis sinis. Sampai akhirnya melihat Arisha kembali yang justru mendadak menjadi pendiam dan memalingkan muka. Gadis ini kenapa coba? Biasanya paling bawel dari yang lain—entah Hadwan yang cuma lihat Arisha doang dan menganggap wanita lain yang lebih bawel itu cuma batu doang. "Sariawan lo, Ar? Pendiem banget." Arisha hanya mengangkat bahu tak acuh. Hal itu membuat Hadwan mengangkat kedua alisnya bertanya, menoleh pada Gino. Lelaki itu pun malah ikutan mengangkat bahu. Hadwan mendengus karenanya. "Arisha lagi badmood. Jangan diganggu." Intan yang masih sibuk main games masak itu pun memberitahu lumayan keras. Lah, bukannya saat bersama Gino, Arisha tadi ketawa? Kenapa giliran dia yang datang malah langsung bad mood gitu? Seburuk itu kah dia untuk menjadi perusak mood orang? Wuih, Hadwan merasa hebat. "Sama Gino, tadi nggak gitu!" Hadwan akhirnya melayangkan protes. "Muka lo nyeremin, sih. Nggak kayak gue, ganteng, buat tenang orang." Gino tersenyum miring sambil mengatakan itu. Hadwan lagi-lagi hanya bisa protes sebelum akhirnya disuruh diam lebih dulu oleh Bisma karena akan ada pengumuman. "Tadi pagi gue dapat info kalau penyambutan kepala sekolah baru sama pelepasan kepala sekolah lama mau diadain satu minggu lebih dua hari lagi gitu, kalau nggak salah. Ya intinya tanggal pas tanggal 25, hari Jumat." Semua mata langsung fokus pada Bisma yang duduk di undakan kursi beton tadi. "Jadi, tiap ekskul harus kasih persembahan di acara nanti. Yang nggak ikut ke ekskul lain, tolong wakilin Pramuka. Kita cuma butuh enam belas orang aja, lah, paling." "Yang bisa ikut, boleh langsung chat gue, ya. Mau gue buat absen biar pas latihan ketahuan siapa yang bolos," sambung Luiz yang duduk di sebelah Bisma itu. "Kita mau tampilin apa emang, Bus?" Bus itu panggilan akrab Bisma. Barusan Gan Gan yang tanya, teman seangkatan lelaki itu. "Joget semaphore. Mungkin, waktunya emang mepet, tapi kalau kita minta waktu dispen cuma bentar juga buat latihan kayaknya bisa optimal. Asal beneran serius aja pas lagi latihan, bukan melipir ke kantin!" balas Bisma mengedarkan pandangan. "Yes, dispen!" Tentu Intan akan senang. Apalagi joget bendera satu itu yang paling dia suka kalau ikutan Pramuka. "Lo ada benderanya?" Gino bertanya membuat dia menoleh. Huh, Hadwan makin panas lihatnya. Bisa dilihat kan, kalau sama dia mana mau jawab walau cuma hm doang. "Gue nggak punya benderanya. Punya, sih, sebenarnya. Tapi di Jakarta. Itu pun gue nggak inget disimpan di mana. Mungkin juga ketinggalan di apartemen dulu. Nggak tahu lah, nggak inget." Gino langsung masam. "Baru aja, gue mau pinjem. Barangkali lo punya dua pasang." "Boro-boro dua, Gin. Tongkatnya aja gue nggak punya." Babang langsung berdiri, menghadap pada keduanya sambil berkacak pinggang. "Jangan belagak miskin temen, ya, kalian pada." Alis Arisha terangkat. "Di sekolah ini banyak manusia. Kalian bisa pinjem. Si Fasya juga punya! Jangan dibawa ribet." "Oke, gue pinjem!" Gino lekas menyerobot. Lah dia bagaimana? "Ya ... ya udah lah, lo aja. Gue cari yang lain." "Fix, lo beneran baik kayak username lo," kata Gino terkekeh. Arisha hanya mendengus mendengar itu. Lagi-lagi username dia yang lupa diganti selepas menghubungi Hadwan dulu. "Lah, lo?" Babang malah bertanya. "b**o apa pikun, sih, lo? Katanya jangan dibawa ribet, jangan belagak miskin temen." Arisha menggerutu. Pertanyaan Babang sebenarnya cuma refleks doang. Sepupunya itu, suka sekali mementingkan orang lain lebih dulu daripada dirinya sendiri. Lama-lama, Babang yang ingin bilang kalau Arisha yang b**o. "Gue ada banyak, bekas si kakak." Tunggu, kenapa harus suara Hadwan yang muncul!? Memangnya tidak ada lagi gitu yang mau meminjamkan dia bendera beserta tongkatnya sekalian!?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN