Jika harus memilih, maka Arisha ingin mengulang waktu. Dia tidak telat sekolah memang, tapi dia telat sarapan karena berangkat bersama Hadwan adalah sebuah bencana. Jika saja, tadi dia lebih memilih nebeng pada si kembar, jelas kalau si kembar pun pasti mau ke rumah Hadwan dulu, mungkin dia masih bisa makan lebih dulu. Dan saat pelajaran kimia kali ini, tentu membuat tenggorokannya seret. Dia masih bisa menahan lapar, tapi untuk minum, tidak sama sekali. Baru kali ini dia berharap, semoga ada anak Paskibra yang jualan Danus.
Jam terasa lambat untuk hari ini. Penjelasan guru pun terkesan berbelit dan tidak masuk ke otaknya. Konsep termokimia sudah dia pahami sebenarnya, tapi saat guru tadi menjelaskan pembahasan soal dari LKS, entah kenapa sulit dimengerti. Butuh waktu lama untuk dia memahaminya. Mungkin, ya karena dia lapar dan kehausan.
"Pelajaran kita hari ini, di akhiri di sini saja." Bu Hetty merapikan bukunya, "Ah, iya. Untuk tugas, kerjakan di paket halaman 60. Minggu depan kita bahas sama-sama. Sistemnya maju ke depan satu-satu. Biar kelihatan, mana yang benar udah paham sama nggak."
"Yaaaah, Buuu." Tentu Upi akan menolak. Tolong, dia lemah dalam kimia.
"Jangan minder karena nilai kamu kecil terus. Harusnya jadikan pacuan supaya mau belajar."
"Iya, Buuuu." Upi hanya menjawab lesu. Hal itu mengundang tawa menyindir dari temannya yang lain. Setelah menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan muridnya, beliau lekas beranjak sampai tidak terlihat lagi.
"Danus nggak ke sini? Libur, apa, ya?" Arisha memasukkan buku ke tas sembari bertanya tanpa jeda, yang sempat membuat Intan melongo sejenak sebelum akhirnya memilih merapikan lebih dulu bukunya dan mengambil buku pelajaran lain.
"Danus saha ai maneh?"
"Paskib!"
Gadis itu akhirnya mengangguk kecil. "Bentar lagi, kali. Kelasnya Tasha masih ada guru kayaknya. Kenapa?"
"Nggak papa, tanya aja, sih."
Arisha hanya bisa menghela napas kemudian, melirik jam tangan gold rantai yang dia kenakan. Ah, iya, ngomong-ngomong tentang jam itu. Itu hadiah dari Lastri. Beliau sudah pulang tadi tengah malam buta, tapi hanya meninggalkan secarik kertas dan kotak jam sebagai permintaan maaf di atas meja depan televisi. Ibunya kembali berangkat sangat pagi-pagi, bahkan sebelum dia bangun. Sungguh menyakitkan.
"Nah, adanya anak PMR, tuh." Intan menunjuk kedatangan Hadwan dengan dagunya. Halah, Hadwan lagi. Kenapa mereka harus bertemu setiap hari, padahal tidak satu kelas?
"Kenapa, kenapa? Mau beli?" Lelaki itu menghampiri meja mereka dengan penuh harap. Bisa banget si Hadwan untuk membuat dia ingin menjahili lelaki itu. Terima kasih, Hadwan.
"Gimana? Beli nggak? Es tea mana bisa dapat di jam segini. Kantin emang ada, sih, tapi kalian mau ketahuan penjaga? Gue, sih, ogah, ya."
Oke, dia mengalah karena tenggorokan dia sudah kering dan konsentrasi dia pun perlahan pergi. Dia mengambil es tea rasa apel, lalu menoleh dulu ke belakang untuk menawari temannya sebelum membayar. Katanya dia yang traktir. Tentu kedua temannya itu tidak akan menolak, apalagi Intan yang doyan gratisan. Ngirit is my life, kalau kata Intan.
"Gue? Gue nggak ditraktir juga?" Babang tiba-tiba menghampiri meja mereka. Dia tidak terima dong, kalau dia sendiri tidak ikutan dibayarkan. Dan berakhirlah dengan semua kelas yang dia traktir karena si Hadwan! Iya, lelaki itu cari gara-gara kembali dengan bilang bahwa semuanya akan Arisha yang bayar, mereka bisa jajan sepuasnya. Mau di manapun dan kapanpun, Hadwan tetaplah Hadwan. Si biang onar dalam hidupnya.
"Oke, Wan. Lo masih menang. Lo masih bertahan di dalam nominasi makhluk Allah yang paling ngebuat gue istighfar terus. Nyebelin!"
Dan parahnya, Hadwan hanya tertawa. Memang itu lucu? Haha, tentu tidak. Masalahnya, dia tidak bawa uang lebih. Semua uangnya masih ada di ATM—mana kartu ATM dia ada di lemari. Dan dia hanya membawa uang pas untuk naik taxi dan makan di kantin. Itupun hanya lebih seribu. Lalu, sekarang habis hanya karena tidak mau melihat wajah kecewa mereka yang sudah terlampau bahagia. Rasanya jahat, jika harus membuat mereka jatuh begitu saja.
Mungkin ini hanyalah hal kecil, tapi begitu besar di mata Arisha. Perasaan orang lain, tak semudah itu untuk dihancurkan.
Selepas lelaki itu pergi, Arisha memejamkan mata tak kuasa.
"Sumpah, ya, Tan. Makhluk satu itu nyebelin parah."
"Udaaah, nanti lo makin tua marah terus, ih. Tuh, makin ada kerutan nanti!"
Dan Intan sama-sama menyebalkan baginya. Sabar, Arisha. Masih butuh dua tahun untuk dia di sini. Setelah itu, dia akan bebas dari Hadwan. Tidak mungkin, bukan, kalau mereka akan satu kota lagi? Menimbang kalau dia akan pergi sekolah sejauh mungkin. Ya, termasuk meninggalkan Intan dan semuanya. Kalau bisa, sih, Intan ikut dengannya.
•
Katanya, Hadwan ada di sekretariat PMR. Tadi dia lupa untuk mengembalikkan celana olahraga lelaki itu. s**l memang. Hari ini, setelah istirahat, waktu dia malah digunakan untuk menghampiri lelaki itu.
"Boleh bicara sebentar nggak?"
"Eh!" Ini, manusia ketiga setelah Arian yang selalu membuat dia pengen ngucap karena kedatangannya yang suka tiba-tiba. Lelaki itu mencegatnya di belokan koridor dan secara tak kasat mata langsung berdiri di depannya, membuat dia hampir terjungkal ke belakang saking terlampau kaget.
Kali ini, wajah Jagat tidak seperti biasanya. Slengean, kelihatan cari perhatian, dan iseng. Mimik wajahnya kentara sekali kalau serius. Jujur saja, hal itu membuat jantung dia berdegup dengan ritme lebih cepat.
"Bicara apa, Kak?" Arisha bertanya dengan penuh bingung. Jagat bicara seperti itu, terlihat karena ingin bicara serius. Toh, lelaki itu biasanya langsung asal mangap kalau bicara dengannya. Apalagi soal menggoda, lancar jaya.
Jagat menoleh ke sekitaran, memastikan kalau suasana tidak cukup ramai. Malu dong dia nanti. Dia hanya melihat Arian yang melipat tangan sambil mengangkat dagu, memberi dia arahan untuk lekas bicara, dengan Zikri yang bersandar pada tiang. Lelaki itu sama halnya, menyuruh Jagat untuk segera bicara.
Ya meksipun Arian kelihatan lagi mencari perhatian Arisha saat dulu, mau tidak mau dia paling setuju kalau Jagat akan melakukan ini. Toh, jawabannya tergantung Arisha, bukan? Dan dia tidak ada kehendak untuk melarang.
Dirinya pun belum tentu akan diterima dengan baik oleh gadis itu. Mengingat kalau hubungan mereka saat ini pun, sungguh di luar dugaan. Padahal, Arian yang menjauh. Karena Arisha tidak mungkin menjauhi lelaki itu. Justru dia akan senang jika Arian mau mendekatinya. Tentu, dia akan lebih mudah mencari kehidupan Arian dan Arshi.
"Kak Jagat?"
Lelaki dengan rambut ikal itu memusatkan pandangan pada Arisha kembali.
"Ini mungkin nggak penting buat lo, Arisha." Jagat menarik napasnya. Dia sudah tahu, kalau dia akan ditolak. Namun, jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Perutnya yang mules pun ingin sekali Jagat ajak bicara agar mau bekerja sama.
"Nggak penting? Maksudnya?" Cukup lama Jagat terdiam, membuat dia bertanya lebih dulu, kali saja Jagat langsung sadar mau bicara apa lagi.
"Lo udah tahu tentang perasaan gue. Ya ... iya, gue terlalu kelihatan lagi ngejar, lo. Tapi gue merasa harus nyatain ini langsung."
Dia tidak suka dengan Jagat. Ralat, bukan tidak suka, tapi biasa saja. Ilfeel pernah. Akan tetapi, ya hanya sesaat. Meksipun begitu, jantungnya tetap tak bisa Arisha kontrol. Dia bingung harus menjawab apa nantinya. Ditolak? Jelas. Memang mau apalagi? Diterima? Tentu jawabannya tidak. Meskipun Hadwan sekalipun, pasti akan dia tolak untuk saat ini. Umurnya belum cukup untuk ke langkah lebih serius. Ya kali dia mau nikah pas SMA. Yang ada, dia dikeluarkan dari sekolah, dong.
"Kak? Aku—"
"Gue sayang sama lo, Arisha." Badan Arisha mendadak jadi batu! Sumpah, dia kaget meskipun sebenarnya sudah tahu kalimat itu pasti akan dilontarkan oleh kakak kelasnya itu.
"Tapi, Kak, aku—"
Lagi-lagi Jagat memotong ucapannya.
"Gue suka sama lo dari awal kita ketemu, pas lo kasih tugas Arian yang jatuh. Sebut aja kalau gue ngerasain suka pas pandangan pertama." Arisha bingung mau menanggapi apa. "Gue suka semua hal tentang lo. Termasuk makan siomay. Tadinya gue nggak suka, tapi demi ngedeketin lo di kantin, gue jadi suka. Dan ternyata rasanya enak."
Arisha tersenyum aneh. Jagat ceritanya lagi nembak dia atau bahas siomay, sih?
"Makanya itu, meskipun gue ditolak, gue masih berterima kasih sama lo karena udah mengenalkan gue sama siomay yang nggak bisa gue lupain."
Dia ingin tertawa, tapi kasihan. Akhirnya, Arisha hanya bisa menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Mungkin, setelah ini, pas gue makan siomay tuh pasti inget lo terus. Gue pasti susah buat lupain lo. Tolong kasih gue satu cara buat move on dari lo, Arisha, tanpa ngelupain rasanya siomay."
Demi apapun, dia ingin tepuk jidat mendengarnya. Siomay sudah menjadi prioritas untuk Jagat.
"Jangan bayangin aku, Kak. Itu aja." Entah solusinya berhasil atau tidak, yang penting dia membuka suara supaya Jagat tidak naas banget.
"Kok kakak nangis? Takut ngelupain siomay-nya juga? Takut trauma sama siomay?"
Kok dia jadi ikut-ikutan, sih?
Wajah lugu Arisha membuat Jagat hampir saja ingin menyemburkan tawanya.
"Gue nggak nangis." Jagat mengusap setitik air mata yang keluar dari sudut mata. Lelaki itu bukannya bad boy, tapi kenapa hanya karena dia sampai nangis? Duh, dia jadi merasa bersalah.
"Tenang, tenang. Kalau ada ketemu Kak Jagat di kantin lagi, aku bakal menghindar biar kakak gampang buat move on."
Jagat terkekeh pedih. Malah makin sakit dengarnya. Arisha malah kelihatan senang mau menjauh darinya. Sungguh impresif.
"Iya, segitu doang bahasan gue tentang hati ini dan siomay."
"Iya."
Arisha mengangguk kaku, seiring dengan Jagat yang berjalan lesu ke arah dua temannya. Lho, dari tadi mereka di sana? Aish, kenapa harus diantar? Dia kira cuma cewek yang ke mana saja harus ditemani.
"Gimana, cinta lo diterima?" Pertanyaan Zikri sungguh bodoh! Tentu dia pasti akan ditolak, masih saja bertanya.
"Pertanyaan lo udah masuk retoris, Zik. Nggak perlu ada jawabannya, malah buat Jagat makin merenung."
"Ye, nggak termasuk itu mah, PEA!"
Jagat sedang tidak mau mendengar mereka debat hanya karena salah struktur kebahasaan editorial itu. Dia sedang ingin mendinginkan otak, membuat Jagat berlalu lesu dari keduanya.
"Kasihan, tapi kok ngakak," kata Arisha pelan sebelum berlalu kembali menuju sekretariat PMR. Katanya di sebelah UKS. Dan dia sudah dua kali ke UKS, tentu langsung ingat ruangannya.
Belum juga mau lurus ke tempat tujuan, gadis itu malah mundur kembali saat melihat Hadwan di lab bahasa yang tengah berhadapan di laptop. Meksipun lelaki itu membelakanginya, tapi dia masih cukup kenal betul mana yang Hadwan atau bukan.
Bergegas membuka sepatu dan menyimpannya di rak, gadis itu melangkah ke meja Hadwan. Namun, tunggu. Ada yang berbeda di sini. Dari pinggir saja, sudah kelihatan kalau Hadwan lagi melamun dengan air mata di sudut matanya. Berhubung dia penasaran, Arisha langsung duduk di depan lelaki itu yang memangku tangan. Ya, ternyata Hadwan menangis.
"Lo lagi nonton anime yang sad ending, ya?"