Menghindar

1681 Kata
Bertemu dengan Hadwan untuk pertama kali di rumah sepupunya, tak pernah Arisha terka selama ini. Tadi dia dan Intan diundang untuk makan malam di rumah lelaki itu. Tak enak hati jika Arisha harus menolaknya. Meskipun dia enggan kalau ada Hadwan di sana, takut kalau mereka malah bertengkar. Atau Babang yang menggodanya dan langsung diketahui oleh bunda lelaki itu, lalu cerita pada ibu. "Hai." "Hah?" Mendengar sapaan dari Hadwan membuat Arisha menganga beberapa saat. Hai katanya? Terdengar kaku dari mulut lelaki itu. Sekarang mereka berdua sedang duduk di ruang keluarga. Ya, mereka ditinggalkan. Intan sedang di kamar si kembar. Babang tentu menyicipi makanan yang Bibi buat dan bundanya. Hanya ada siaran televisi yang sedari tadi terdengar jalan yang menayangkan film kartun Upin dan Ipin. "Wan," panggil Arisha pelan. Dia tidak berani untuk menoleh pada lelaki yang sedari tadi memperhatikannya itu. Padahal tayangan di sana lebih seru dari pada dirinya. Maaf, Tante Tiana. Dia harus menggerutu dalam hati, kenapa Tiana tidak cepat datang. "Apa?" "Makasih." "Sans." Keduanya kembali larut dalam pikiran masing-masing. Arisha yang ingin segera makan dan pulang, lalu Hadwan yang ingin lama-lama di sini. Mungkin, malam ini menjadi rekor untuk keduanya karena tidak—ralat, belum—bertengkar selama sepuluh menit. "Lo juga mau bantu gue nggak?" Mendengar pertanyaan Hadwan barusan, Arisha resmi menoleh. Tindakan itu seperti lambat di mata Hadwan. Oke, ini hiperbola. Namun, malam ini, Arisha memang terlihat lebih kalem. "Bantu apa?" "Ambil buku catatan di rumah. Lo yang masuk, gue tunggu di luar." Entah alasan Hadwan apa, dia tidak ingin bertanya lebih lanjut. Yang Arisha lakukan hanyalah mengangguk kecil, menyetujui permintaan lelaki itu. Sampai selang satu menit, Tiana datang membawa makanan ke meja yang berada di belakang sofa ruang keluarga itu, hanya tersekat oleh rak cokelat tinggi menjulang. "Makan dulu, Sha, Had." Tania berteriak sangat melengking. "Iya, Tante," kata Arisha seraya melangkah ke meja duluan. Meninggalkan Hadwan yang menarik sudut bibirnya, lalu menyusul langkah gadis itu. Dia sengaja mengambil duduk di depan Arisha. "Susah banget disuruh turun kalau mereka bertiga udah nyatu." Terdengar gerutuan lelaki itu dengan suara derap yang turun dari tangga. Arisha hanya menoleh sekilas, lalu menerima piring dari Tiana. "Tapi mau kan turun?" Tiana bertanya sembari duduk di samping Arisha. "Mau, sebentar lagi katanya." Babang duduk di dekat Hadwan. Meja makan itu berbentuk kotak yang lumayan besar, membuat Arisha lumayan susah untuk mengambil lauk pauk. Dia pendek, maaf. "Pendek, sih!" ejek Hadwan mengambilkan ayam goreng serundeng di dekatnya, lalu diletakkan di piring Arisha. Mata gadis itu melotot. "Songong, mentang-mentang tumbuh ke atas." "Daripada lo. Tumbuh ke atas nggak, tumbuh ke samping juga nggak." Ya related, sih. Namun, setidaknya dia masih tinggi jika harus dibandingkan dengan teman sekelasnya yang lain. Hadwan saja yang tingginya kebangetan. "Nggak di sekolah, di luar, di rumah gue, berantem terus." Babang bersungut-sungut. Hal itu membuat Tiana yang sedang membawa nasi menoleh sejenak. "Oh, udah akrab, ya? Tante kira cuma kenal karena satu sekolah aja." A-akrab? Tidak sama sekali! "Nggak, kok, Tan. Nggak akrab. Dia aja yang sok akrab." Hadwan sungguh membuat dia ingin melemparnya pakai sendal jepit. "Dih, lo tuh." "Udaaah, makan-makan." Peringatan tante Tiana itu membuat Arisha menatap Hadwan dengan penuh ancaman, tapi lelaki itu malah bersikap santai, merasa tidak takut sama sekali. Kedatangan Intan dan si kembar menambah dia semakin ingin berteriak! Apa-apaan, dia dijodohkan dengan Hadwan! Iyuh, menggelikan. Katanya, muka dia dan Hadwan itu lumayan mirip. Padahal tidak, bukan? Hadwan cowok, sementara dia cewek. "Jangan ngomong gitu, Tan. Nanti Arisan baper." Hadwan kembali mengejek, semakin membuat kepala Arisha berasap. "Mata lo!" "Kenapa mata gue?" "Tan, nyebelin banget, kan, orangnya? Hadwan tuh nggak sebaik itu." Tiana hanya tergelak mendengar aduan keponakannya itu. "Bisa banget fitnah gue terus." Hadwan memberontak. "Terserah gue." "Terserah gue." Hadwan lagi-lagi meledek. s**l, dia jadi tidak napsu makan untuk saat ini. Tidak tahu kalau sudah sampai rumah. • Dia kira, Hadwan tidak akan sepagi ini menyuruh dia ke rumahnya. Lelaki itu sudah duduk manis di pekarangan rumah Arisha dengan motor besar yang kerap Hadwan pakai. Berhubung Pak Endang pun masih sakit dan motornya yang masih di bengkel, mau tidak mau, dia harus berangkat bersama lelaki itu. Jangan tanyakan Intan. Tentu gadis itu pasti akan berangkat bersama Babang. "Awas, lo, kalo ngerem mendadak. Gue tonjok!" "Iya iya, galak bener, Mbak." Arisha hanya mendengus sinis, kemudian naik ke motor lelaki itu yang joknya sungguh sering membuat p****t Arisha kebas. "Maju, nih." "Iyaaa." Motor Hadwan membelah jalanan komplek. Di setiap sisi jalan pasti ada saja yang lewat. Hal itu membuat Arisha membuang muka tiap kali berpapasan. Dia takut ketahuan. Ya meskipun, Dion pasti akan melaporkannya pada Tio. Ah, iya! Dia melupakan para bodyguard-nya! Huh. "Kenapa, sih, lo? Nggak bisa diem banget elah." "Lo diem, deh, Wan. Udah, fokus aja bawa motor." Hadwan mendelik karena gadis itu. Sampai akhirnya, motor Hadwan berhenti tepat di depan gerbang rumah. "Buku apaan?" tanyanya selepas turun. "Buku catatan ekonomi. Warna sampulnya cokelat. Kalo nggak salah, gue simpan di atas meja belajar." Arisha berdecak. Hadwan tidak jelas saat memberikan instruksi. "Dih, lo ngomongnya pake kalo nggak salah—nggak meyakinkan banget, Wan." Arisha tidak salah bukan? "Ya mana gue inget, buku itu udah gue tinggalin lama banget. Udah udah, buruan sana. Waktu kita cuma dikit." Hadwan benar-benar rese. Lelali itu malah semakin nyolot dan menyuruh dia segera masuk. Katanya, meskipun ada mamanya Hadwan sekalipun, Arisha harus membantu Kailla karena mamanya itu ... sama sekali tidak tahu tentang dirinya. Ya dia juga sama padahal. Dan katanya Mama Hadwan itu tidak teliti, itu yang membuat Arisha mengalah. "Waktu kita cuma dikit, tapi dirinya sendiri—" "Jangan ngedumel terus, buruan." Katanya takut ada keamanan OSIS yang jaga di depan gerbang. Walaupun mereka datang satu menit lebih awal, pasti masih ditulis di buku hitam. Hey, itu sungguh tidak adil bagi Arisha. Satu menit pun belum termasuk waktu telat. "Ih, rese banget. Bawel." "Nggak sadar diri, lo yang bawel." Arisha hanya melengos. Wajahnya yang kemerahan itu tak kuasa membuat Hadwan tersenyum. Akhir-akhir ini, dia cukup sadar diri, kalau sering menarik sudut bibir kala bersama Arisha. Entah karena apa, kelakuan gadis itu selalu gemas di matanya. , "Halo, Tante." Kepalanya mengangguk sekali menemui Kailla yang menyiram tanaman depan rumah. Dan kenapa, sih, Hadwan harus menunggu di depan gerbang? Tertutup tembok pula. Lelaki itu terlalu kontras sedang menjauhi ibunya sendiri. "Eh, Arisha." Wanita dengan setelan daster itu mematikan kerang, lalu melempar selang ke bawah, baru menghampiri Arisha yang tersenyum dan lekas mengecup punggung tangan. "Ada apa? Cari Hadwan, ya?" Arisha melirik lebih dulu ke gerbang, "Nggak, Tan. Aku mau ambil buku ekonomi Hadwan aja." "Duh, mana Tante nggak tahu lagi dia taruh bukunya di mana. Hadwan itu jorok, sering naruh barang di mana aja. Nggak kayak kakaknya. Wajar, sih, kakaknya kan perempuan." Oh, Hadwan punya kakak perempuan ternyata. "Bentar, ya, Tante cariin. Kamu masuk dulu." "Iya, Tante." Arisha mengekor di belakang. "Mau aku bantu, Tan?" "Boleh." Akhirnya, dia ikut menaiki tangga dan masuk ke kamar lelaki itu. Tembok kamar Hadwan yang berwarna hitam sungguh membuat matanya terganggu, mungkin karena habis menemui ruangan di rumah ini yang dominan putih. Meskipun dia suka juga warna hitam, kalau kondisi rumahnya putih begini, ya mau tidak mau dia harus sadar diri. "Katanya, bukunya disimpan di atas meja belajar, Tan." Pemberitahuan dari Arisha sama sekali tidak berguna. Di meja belajar itu kosong! Hadwan ini bagaimana, sih? "Kosong gini. Hadwan yang bilang?" Arisha mengangguk, "jangan terlalu percaya sama dia." Lagi-lagi, Arisha hanya bisa mengangguk. Saat Kailla menggeledah rak di kiri, dia malah mencari di tumpukan buku Hadwan yang lain. Ya meskipun cuma komik, kali saja nyempil di sana. Tuh, kan bener. Arisha menariknya. "Udah ketemu, Tan. Maaf, jadi ngerepotin." "Iya, nggak papa." Keduanya keluar dari kamar lelaki itu. Demi apapun, dia malu pada Kailla. Kalau saja Hadwan tidak membantunya menyangkut Pak Lukman, dia sungguh tidak mau tersangkut dalam masalah si Hadwan itu. "Katanya ... kamu suka sakit, ya, kalau haid?" "Oh, iya, Tante." Bagaimana mungkin Kailla bisa mengetahuinya? Apa mungkin, kalau Hadwan menceritakan dia padanya? "Tunggu, Tante punya sesuatu untuk kamu." Wanita setengah baya yang masih terlihat ayu itu mengambil paper bag yang memang sudah dia siapkan dari tadi pagi. Tadinya mau menitipkan, tapi orangnya malah keburu pergi dan dia lupa juga sebenarnya. "Diminum tiap hari, ya." "Duh, Tan. Makin ngerepotin," kata Arisha tak enak sembari menerima paper bag cokelat itu. "Nggak, kok. Itu jamu buatan tante. Pasti enak, kok." "Iya, Tante. Terima kasih." Arisha menelan Saliva lebih dulu, "Aku pamit, ya, Tan." "Tante anterin ke depan." Sebuah anggukan hanya bisa Arisha lakukan. Kailla benar-benar mengantar dia sampai dekat tanaman tadi, agak jauh dari teras memang. Namun, tenang saja, Hadwan tidak akan kelihatan. "Kamu berangkat sama siapa?" "Sama SOPIR, Tan." Arisha tersenyum dalam hati. "Oh, hati-hati." "Pamit, ya, Tan." Kailla tersenyum kembali sembari menjawab, "Iya." Lalu, dia berlari kecil keluar gerbang. Namun, hey, Hadwan ke mana? Tidak mungkin, kan, kalau lelaki itu meninggalkan dia di sini? Sungguh tidak manusiawi. Terus dia harus berangkat naik apa? Dia tidak tahu daerah sekitaran sini. Hadwan benar-benar jahat. Satu pop up pesan muncul di ponsel yang Arisha pegang, bersamaan dengan suara notifikasi yang sudah dia setel. Itu, Hadwan. Wawan: Lo lurus aja ke arah kita berangkat tadi. Gue di warung, laper. "Allahuakbar." Ya, dia akhirnya berjalan kaki sampai menemukan warung lumayan besar. Di depannya ada Hadwan yang terlihat sedang minum kopi hitam. Lekas saja Arisha menghampiri lelaki itu dengan mulut komat-kamit menahan kesal. "Kenapa, lo, Arisan? Baca mantra?" Arisha tidak menimpali, dia hanya duduk di depan Hadwan dengan wajah yang sungguh tidak bersahabat. "Ketemu?" Tangan gadis itu mengepal. "KETEMU. TAPI PETUNJUK LO TADI BENERAN NGGAK GUNA. GUE SAMA TANTE KAILLA HARUS CARI LAGI YANG NGGAK PASTI." "Kan gue bilang kayaknya, ya nggak pasti beneran di sana." Iya, sih. Hadwan tidak sepenuhnya salah, tapi otaknya yang salah! "Kenapa nggak lo cari sendiri? Pake menghindar ke sini lagi. Lo tuh, ya, mau masuk rumah aja kayak mau dimasukin ke ruangan berapi tahu, nggak!?" Arisha mendelik dibuatnya. "Lo nggak akan ngerti. Rumah lo seenggaknya masih nyaman. Sementara gue nggak." Arisha lekas menoleh, melihat tatapan itu, entah kenapa membuat dirinya merasa bersalah. Harusnya Hadwan, bukan, yang merasa bersalah padanya? Hati dia mulai tidak beres.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN