Istriku Mengandung Cucuku (5)
(Aku rasa Harsa Ayah kandungnya)
POV Rivan
"Ah kelamaan mikir udah sini gua aja yang bikin minumannya"ucapku sambil merampas obat itu ditangan Harsa.
"Nih udah kasih..."ucapku sambil menyodorkan minuman itu.
"Tapi bang..."ucap Harsa dengan tangan gemetaran.
"Udah sana cepat"paksa ku.
Harsa melirik ku sekilas lalu berjalan menghampiri Alda yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Mah mau minuman gak" tawarnya pada Alda sementara aku hanya mengamati dari kejauhan.
"Buat mama Sa?" Tanya Alda.
Harsa hanya mengangguk pelan keringat dingin memenuhi keningnya padahal AC sedang menyala.
"Yaudah mama minum ya"ucap Alda.
Aku hanya diam sembari mengamati sekitar hatiku bersorak gembira sebentar lagi beban pikiranku akan hilang sudah.
"Ehh mah bentar...kayanya minum jus jam segini gak baik deh"cegah Harsa.
Harsa benar - benar bodoh apa yang telah ia lakukan awas saja.
"Lo kenapa ?" Tanya Alda heran.
"Kan mama lagi hamil jadi minumnya s**u ibu hamil aja ya mah"ucapnya gugup.
"Ohh kamu takut adek kamu kenapa - Napa , mama sampai lupa kalo mama lagi hamil"ucap Alda sambil tersenyum.
Harsa hanya tersenyum sembari berjalan pergi menuju dapur dan menumpahkan minuman itu diwestafel.
"Harsa Lo ngapain hah...?" Ucapku menghampirinya.
Harsa hanya terdiam sambil melirikku sekilas.
"Harsa Lo tau gak , itu gue beli mahal hanya agar rencana berjalan lancar"ucapku kesal.
"Nyawa lebih mahal bang gak bisa dibeli dengan harga berapapun"ucap Harsa .
"Harsa kayanya benar anak yang tengah Alda kandung itu adalah anak Lo , sebab Lo kayanya sayang banget "ucapku spontan yang membuat Harsa menoleh.
"Mau anakku atau bukan mereka gak berdosa bang jadi gak pantas diperlakukan begini"ucapnya sembari melangkah pergi.
***
Malam ini suasana cukup dingin otak ku benar - benar buntu aku selalu membayangkan indahnya tubuh Alda.
Entah kenapa banyak perempuan lain yang mau denganku tapi Alda lah yang paling cantik menurutku.
Aku melirik jam sekilas yang menunjukan pukul 10:30 rasanya aku tak tahan lagi aku segera berjalan menuju kamar Alda.
"Ah s**l pintunya dikunci..."umpatku saat sampai didepan pintu kamar mama Sambungku itu.
"Bang ngapain?" Tanya Harsa mengagetkan ku aku tau dia lah yang mengunci kamar Alda karena kelihatannya kamarnya dikunci dari luar.
"Harsa mana kuncinya?" Tanyaku .
"Kunci apa?" Tanya nya sambil tersenyum.
"Harsa jangan main - main sama Abang kamu"ucapku kesal.
"Udah bang sana tidur udah malam"ucapnya tersenyum sembari melangkah pergi.
"Harsa Abang lagi gak becanda ya" ucapku lagi.
"Aku juga gak becanda , oh ya ini..."ucapnya lagi sambil melempar amplop diwajahku.
"Apa ini?" Tanyaku heran sambil membuka Amplop itu ternyata isinya adalah uang.
"Untuk apa uang ini kenapa kamu kasih Abang?" Tanyaku heran.
"Itu buat ganti uang Abang yang habis buat beli obat penggugur kandungan"jawabnya dingin.
Aku hanya terdiam sambil melirik uang didalam amplop itu darimana Harsa dapat uang sebanyak ini.
***
"Alda..eh maksudnya Mama bisa bantu aku gak?" Ucapku pada Alda yang tangah mencuci piring.
"Bantu apa Rivan ?" Tanya nya balik.
"Beresin kamar aku dong?"pinta ku.
"Iya Van bentar habis mama cuci piring"ucapnya lembut.
Aneh rasanya jika punya mama sambung yang usianya lebih muda tapi ada untungnya juga sih.
Usiaku sekarang sudah 27 tahun lebih tua tiga tahun dari Alda sedangkan usia Harsa baru 19 tahun lebih muda lima tahun dari Alda.
"Yaudah mama beresin dulu ya" ucapnya lembut.
Aku hanya terdiam sambil mengikuti langkahnya.
"Ini gak berantakan Van apa yang mau mama beresin?" Tanya Alda saat masuk kedalam kamarku.
"mama beresin meja itu aja, aku kedapur sebentar " ucapku Lada hanya mengangguk sembari melangkah menuju meja dekat kasur.
Kalo malam tadi gak berhasil kali ini harus berhasil , batinku sembari mengaduk teh yang telah ku tambahkan obat tidur.
"Mah nih minum dulu ?" Ucapku berusaha bersikap lembut.
"Makasih ya Van " ucapnya sambil meminum minuman itu.
Aku mengangguk pelan sambil menunggu efek obat itu tak sabar rasanya.
"kepala mama pusing..." ucap Alda dengan bodohnya.
"Duduk aja dulu mah" tuturku sambil tersenyum puas.
Ketika Alda terduduk ditempat tidurku aku dengan pelan mendekatinya.
"Abang mau ngapain?" Ucap Harsa menarik bajuku.
"Lo ngapain dikamar gua?" Tanyaku balik.
"Mah kalo mama pusing sana ke kamar mama jangan disini"ucapnya Alda.
Harsa benar - benar bodoh aku menyesal telah mengajaknya bekerja sama.
"Iya"ucap Alda singkat sambil beranjak pergi.
"Harsa mau Lo apa sih?" Tanyaku frustasi.
Harsa tak menjawab ia langsung melangkah pergi.
***
"Abang gak habis pikir kenapa sih kamu melindungi mama"ucapku heran .
Harsa hanya tersenyum kecut.
"Apa Lo suka sama Alda?" Tuduhku.
"Enggak, gua gak suka sama Mama Alda"jawabnya cuek.
"Terus apa untungnya Lo melindungi perempuan kek gitu"ucapku kesal.
"Bang gua cuma mau bilang sebaiknya Lo berhenti menyakiti mama" ucap ya spontan.
"Iya tapi apa alasannya Harsa?" Tanyaku sambil meninggikan suaraku.
"Alasannya cuma satu karena mama lagi hamil"jawabnya sambil tersenyum.
"Harsa Lo benar - benar Gil* tau gak, buat apa sih peduli sama anak itu apa untungnya buat kita"ucapku emosi.
"Bang coba deh lu berpikir dewasa sedikit"ucapnya sambil berjalan pergi.
Aku sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran Harsa apa gunanya ia melindungi Alda kalo dia tidak menyukainya.
Dan kenapa dia begitu peduli dengan kehamilan Alda sedangkan dia Bukan Ayah bayi itu.
Bersambung-