Aku Takut Dia Bukan Adikku

828 Kata
Istriku Mengandung Cucuku (3) (Aku Takut Dia Bukan Adikku) POV Harsa Waktu menunjukan pukul 12:05 Malam, aku terbangun karena mendengar Suara desahan . Karena terlalu penasaran aku langsung mencari asal suara itu . Ternyata asal suara itu dari kamar mama , lantas siapa yang bersama mama dikamar itu sedangkan papa sedang bekerja . Sudah hampir setengah jam aku berdiri mengamati siapa yang ada didalam kamar . Sampai pintu kamar itu terbuka yang keluar adalah Bang Rivan. "Bang lo ngapain dikamar mama?" Tanyaku menghampirinya. "Harsa, lo ngapain disini?" Tanya nya balik dengan wajah tegang. "Gue lewat aja lo sendiri ngapain keluar dari kamar mama?"ucapku sambil menatapnya dengan tatapan heran. "Ah kaya gak tau aja"ucapnya santai sembari melangkah pergi. "Bang ini diluar perjanjian kita..!"ucapku sambil mengikutinya. "Perjanjian.."ucapnya heran sambil menghentikan langkah kakinya. "bang lo keterlaluan , kasian Mama "ucapku. "Kasian..Lo lucu banget si "ucapnya sambil tertawa. Aku hanya terdiam pikiranku kacau ternyata suara Desahan itu bang Rivanlah yang telah meniduri mama. "Harsa segala sesuatu yang menjatuhkan perempuan Gatal itu termasuk dalam rencana kita...paham"ucapnya sambil tersenyum. "Tapi kan bang mama lagi hamil"ucapku kesal. "Hamil, kenapa lo sayang sama anak itu?" Tanya nya heran. "Bukan gitu, maksudnya kalo nanti terjadi apa - apa nanti kita yang akan dapat masalah"ucapku . "Udah lo tenang aja selama masih ada abang kita aman - aman aja"ucapnya santai sembari melangkah pergi. "Bang, pokoknya gue gak mau tau lo jangan ngelakuin itu lagi"ucapku meninggikan suaraku. *** "Harsa...!!" Terdengar seseorang memanggilku. "Iya mah ada apa?" Tanyaku . Ternyata itu mama ketika mama menghampiriku pandanganku langsung tertuju pada lehernya banyak sekali tanda merah seperti bekas... "Harsa kamu ngapain disini?" Tanya nya sambil menutupi lehernya dengan tangan. "Aku lagi nyari handuk"ucapku berbohong. "Oh handuk ditaroh disini bukan dilaci"ucapnya sambil memperhatikanku. "Makasih mah"jawabku. Mama hanya membalas dengan senyuman andai dia tau kelakuanku pasti dia akan sangat benci padaku. "Mah leher mama kenapa?" Pertanyaan gila itu keluar begitu saja dari mulut bang Rivan bukan kah itu ulahnya. "Emm, anu digigit serangga"jawab mama gugup. "Yakin..atau mama selingkuh ya dibelakang papa " tuduhnya sambil tersenyum. "Enggak kok mama enggak selingkuhi papa"ucap mama . "Ah masa atau bayi yang lagi mama kandung bukan anak papa ya"ucap bang Rivan lagi. "Loh apaan sih bang gak jelas banget"ucapku kesal terlihat bang Rivan menatapku tak suka. "Ya kan bisa aja"ucapnya santai. Oh jadi ternyata itu fungsi dari kegiatannya malam tadi untuk menfitnah mama. "Harsa lo ngapain belain mama?" Ucap bang Rivan menatapku dengan tatapan tajam. "Gue gak belain mama gue cuma..."ucapku terputus saat mama menatapku ternyata perut mama sudah agak membuncit. "Ah lupain aja"Sambungku sembari melangkah pergi. *** "Mah aku boleh nanya"ucapku sambil menghampirinya mama yang tangah menyuci piring. "Boleh mau nanya apa?" Tanya nya sambil tersenyum. "Apa benar mama sedang mengandung anak papa atau..."ucapku tergantung. "Kenapa, apa kamu tidak percaya kalo ini adik kamu?" Tanya nya heran. "Enggak gitu kok , cuma nanya doang maaf ya mah " jawabku tersenyum. Aduh mama ini tidak paham - paham yang aku takutkan adalah bagaimana jika bayi itu bukan adik ku melainkan...Harsa begitu bodohnya engkau. "Kamu pasti punya alasan mengatakan hal seperti itu, coba katakan apa alasannya?"ucapnya sambil tersenyum. "Enggak ada kok mah lupain aja, oh ya kalo mama lagi tidur usahakan Pintu kamarnya dikunci ya mah "ucapku sambil menatapnya. Mama hanya mengangguk sembari tersenyum penuh makna yang membuatku makin merasa bersalah. "Sayang kamu lagi ngapain?"ucap papa menghampiri mama. "Mas manggil nya jangan kek gitu malu ada Harsa"tegur mama . "Yah gapapa dong yang, Harsa kamu gak masalah kan? "ucap papa sambil menatapku. "Oh ya sayang kamu udah makan belum kalo belum makan gih"ucap papa. "Gak nafsu mas bawaannya mual terus"ucap mama lesu. " Ya dipaksa dong sayang demi Dede"ucap papa sambil mengelus perut mama. Sungguh pemandangan yang sangat kubenci lagian papa ngapain sih bertingkah sok romantis di depanku bikin kesal saja. "Harsa kamu ngapain natap kita dengan tatapan kek gitu, kalo iri sana cari pacar"ucap papa dengan nada bercanda. "Enak aja iri , enggak lah pah" ucapku santai. "Mas bikinin bumbu rujak yah" ucap mama sambil menatap papa. "Loh emang buahnya ada?" Tanya papa heran. "Itu ada pohon mangga didepan , nanti mas panjat yah"ucap Mama lembut. "Oke " ucap papa sambil berjalan keluar rumah. Aku mengamati papa dari jendela dekat ruang tamu terlihat papa begitu sulit memanjat pohon itu mungkin karena faktor usia. "Pah bisa gak?" Tanya ku menghampiri papa. "Gak bisa Harsa licin"ucapnya . "Licin dari mana orang ini gak licin"ucapku sambil memperhatikan pohon mangga itu. "Iya tapi susah, pinggang papa sampai sakit"ucap papa. "Udah sini aku aja yang ambil"tutur ku. "Tapi Sa kalo istri ngidam itu biasanya suaminya yang ambilin"tolak papa. " Ya apa bedanya sih pah daripada papa jatuh "ucapku yakin. " Yaudah ambilkan ya Sa"ucap papa sambil berjalan menuju teras. *** "Nih pah" tuturku sambari menyodorkan buah mangga itu. "Makasih Sa, oh ya nanti kalo Mama nanya bilangnya papa yang ambil ya"ucap papa sembil berjalan masuk kedalam rumah. Kalo aku terus menerus melihat papa dan mama Sambungku itu bermesraan tentu bisa Gila aku. Bersambung-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN