Istriku Mengandung Cucuku (7)
(Ada apa dengan Harsa)
POV Alda
Waktu berjalan begitu cepat kini usia kehamilanku menginjak 8 bulan aku sungguh tidak sabar menanti kelahiran si kembar , namun tak bisa aku pungkiri ada dititik keraguan dihatiku entah apa itu.
Akhir - akhir ini aku merasa ada yang berbeda dengan sikap Harsa , ia menjadi lebih cuek dan dingin.
"Sayang kamu kenapa ngelamun?" Ucap Mas Hendra mengagetkanku dari lamunanku.
"Ehh enggak kok, oh ya mas udah pulang ya" ucapku sambil mencium tangannya.
"Iya" ucapnya singkat sambil duduk disampingku.
"Harsa...!!" Panggil Mas Hendra.
" Kenapa?" Jawab Harsa sambil menghentikan langkahnya.
"Sini dulu bentar papa mau minta tolong" pinta Mas Hendra sambil mengeluarkan sesuatu dari tas kerjanya.
" Mau minta tolong apa?" Tanya Harsa dengan ekspresi datar.
"Tolong kamu bacakan ini , tadi papa sudah buka pas dikantor tapi papa tidak bisa membacanya kerena tulisannya terlalu kecil dan banyak menggunakan simbol"jelas mas Hendra sambil menyodorkan Amplop putih.
"Apa itu pah?" Tanya Harsa.
"Hasil tes kemarin baru keluar tadi"jawab mas Hendra.
"Ha_sil Tes kemarin...mana sini aku lihat"ucapnya semangat sambil duduk didekat mas Hendra.
Ketika Harsa membacanya matanya membulat sempurna sambil menatap aku dan mas Hendra dengan tatapan aneh.
"Kenapa Sa apa ada masalah cepat bacakan"pinta Mas Hendra.
"Hasilnya bagus kok pah, gak ada Masalah apa pun , lagian papa kenapa sih tes kesuburan emang kita bukan anak papa "ucap Harsa spontan.
"Gak gitu Harsa ,bagus kalo baik - baik saja , om Riko teman papa pernah bilang kalo semakin bertambahnya usia pria maka semakin lemah kualitas Sperm* yang dihasilkannya, jadi papa iseng untuk mencobanya"ucap Mas Hendra.
"Lemah belum tentu tidak bisa kan pah" Ucap Harsa spontan.
Mas Hendra hanya mengangguk sembari menatapku.
"Yaudah sini kertasnya..!!" Ucap mas Hendra sambil menyodorkan tangan.
"Aku aja yang simpan pah" tutur Harsa.
"Buat apa kamu?" Tanya mas Hendra heran begitu pun denganku.
"Ya gak ada , kali aja aku mau kesana nanti biar ada alamatnya" jawabnya.
"Mau ngapain kamu kesana?" Tanya mas Hendra lagi.
"Tes DNA...!!" Jawab Harsa spontan yang membuat aku dan mas Hendra menoleh kearahnya.
"Tes DNA buat apa Harsa kan sudah papa bilang ini tidak ada sangkut pautnya , kalian itu anak kandung papa"jelas mas Hendra.
"Ya enggak gitu...ah pokoknya begitulah" ucap Harsa gugup.
"Yaudah terserah kamu saja" ucap mas Hendra sambil berjalan pergi.
Tes DNA apa Harsa ragu kalo dia itu anak kandung mas Hendra.
"Harsa kamu kenapa?" Tanyaku sambil menatapnya.
Harsa hanya menatapku lalu mengalihkan pandangan sembari melipat kertas itu.
"Kamu ada masalah, cerita sama mama" tuturku sambil tersenyum.
"Enggak kok cuma pusing aja dengan tugas kuliah"ucapnya tak bersemangat.
"Kenapa akhir - akhir ini mama merasa kamu seperti menjauhi mama ada apa?" Tanyaku hati - hati.
"Mama kenapa sih setuju sama keputusan papa"setelah lama terdiam akhirnya ia berbicara.
"Ohh kamu kurang setuju ya sama keputusan papa" tebak ku.
"Ya gak setujulah..,masa anak kembar mau dipisahkan dimana akal sehat mereka" bentaknya .
"Tante kamu tidak akan mengambilnya dia hanya mau merawatnya sementara sebagai pancingan agar bisa hamil" jelasku.
"Itu kan menurut mama, belum tentu sama dengan pemikiran mereka"ucapnya lagi.
"Tapi memang begitu rencananya Harsa.."ucapku .
"Ibu mana yang tega memberikan anak nya sendiri kepada orang lain, coba mama lihat ibu diluar sana yang rela hidup susah asalkan selalu bersama anak - anaknya" tuturnya dengan ekspresi sulit dijelaskan.
Ucapan Harsa memang benar mau bagaimana pun mereka adalah tanggung jawabku tak seharusnya aku melepas tanggung jawab itu.
"Tapi mama tidak bisa melawan keputusan papa Harsa..." Bela ku.
"Yaudah terserah mama saja , untuk apa aku berbicara jika tidak ada yang mau mendengarkan" ucap Harsa sambil berjalan pergi terlihat sekali kemarahan di matanya.
***
Aku memasuki kamarku dengan langkah tidak semangat sungguh perkataan Harsa barusan mengusik pikiranku.
"Sayang kamu kenapa kok sedih?" Tanya mas Hendra.
"Kayanya Harsa kurang setuju deh mas dengan keputusan kita"ucapku sambil menatap mas Hendra.
"Emang dia bilang apa?" Tanya nya lagi.
"Dia bilang keputusan itu salah bahkan dia bilang kalo aku bukanlah ibu yang baik" jelasku.
"Kenapa dia bilang begitu?" Tanya nya lagi aku hanya menggeleng pelan.
"Sudah kamu jangan terlalu dipikirkan" ucap mas Hendra sambil mengelus rambutku.
***
"Harsa kamu lagi ngapain ?" Tanyaku saat melihat pagi - pagi Harsa sudah berada didapur.
Harsa tak menjawab hanya melengos pergi seperti tak mendengarkan padahal aku tau dia mendengar apa yang aku katakan.
"Harsa kamu mau mama buatkan minuman" tawarku berusaha bersikap baik agar dia tidak salah paham.
"Tidak usah aku bisa urus diriku sendiri , kamu urus saja mereka " jawabnya ketus aku tau dia sedang marah terdengar dari cara berbicaranya tidak biasa dia memanggil dengan sebutan Kamu.
"Bukan begitu maksud mama, yaudah kalo kamu butuh apa - apa bilang aja ya sama mama" ucapku sambil tersenyum.
Harsa tak begitu menanggapi ia langsung berjalan pergi tanpa membalas ucapanku.
"Alda kamu dimana?" Teriak mas Hendra.
"Aku disini mas" jawabku.
"Ngapain disini?" Tanya nya sambari menghampiriku.
"Enggak kok, oh ya aku boleh nanya gak mas" ucapku sambil menatapnya.
"Nanya apa?" Ucapnya.
"Harsa dari kapan pakai kalung itu mas, dan apa benar kalung itu dari kamu?" Tanyaku .
"Iya kalung itu dari mas , Harsa memakai kalung itu dari usia 14 tahun emang kenapa?" Tanya nya balik.
"Apa Rivan juga punya kalung yang sama dengan Harsa mas?" Tanyaku lagi.
Mas Hendra menggeleng sembari menatapku dengan tatapan heran.
Jadi hanya Harsa yang punya kalung yang begitu mirip dengan kalung laki - laki itu tapi bagaimana dengan parfum Rivan apa hanya kebetulan.
Apa memang Harsa lah orang yang telah memperkos* ku?.
Bersambung-